Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rastadira
POV F
Motor melaju pelan saat menyusuri Jalan Ciliwung. Berusaha menebak kemana Dira melangkah seusainya dari kantor. Mata ini tak berhenti memandang sekeliling, berharap sosok yang selama ini kucari hadir di pelupuk mata. Iya, aku mencarinya dan mungkin saja kedatangannya kali ini juga karena ingin menemuiku. Aku sangat siap menghadapi resikonya, barangkali Dira akan menyeretku ke kantor polisi atau bahkan membunuhku pun aku siap.
Aku menghentikan motorku, mengistirahatkan mataku yang sedari tadi fokus di jalan mencari Dira. Kuhela nafas dalam-dalam, teringat peristiwa yang mengharuskanku untuk menyakitinya. Oh tidak, mana mungkin aku sengaja menyakitinya, semua diluar kendaliku, dan kini aku mencarinya meminta hukuman yang paling pantas untukku.
Sayup kudengar suara dari sebuah masjid, sholat Jumat akan berlangsung beberapa menit lagi. Gegas aku menyalakan motor dan mengarahkan motorku ke arah selatan, menuju masjid untuk menunaikan sholat jumat terlebih dulu sebelum mencari Dira kembali.
Kulirik sebuah taman di sisi kiri jalan, Taman Bungkul namanya. Mendadak ingatanku berkelana ke masa lalu, beberapa tahun silam, saat aku dekat dengan seorang gadis tapi malah tertarik dengan pesona Rastadira.
Entah apa yang spesial dari Dira, tapi kala itu aku rela menyempatkan waktu untuknya di tengah sibukku. Meski selalu ada gadis yang dekat denganku, tapi itu semua tidak membuatku lengah memperhatikan segala yang disukai Dira.
Siomay Bandung lengkap dengan pare pahit, es teh manis dengan es batu yang melimpah, rujak manis tanpa tahu goreng, bakso yang dikucuri jeruk nipis, juga oil control film yang selalu ada di dompetnya. Seringkali kulirik Dira menepuk wajahnya dengan lembaran oil control tersebut dan seketika itu pula wajahnya terlihat segar dari sebelumnya.
Tunggu, jangan-jangan Dira memang berada di taman ini. Aku membelokkan setirku ke kiri, tepatnya ke Jalan Progo yang berada di sisi kiri Taman Bungkul. Aku berhenti di depan penjual rujak manis. Mataku memandang ke area tempat duduk yang melingkar, suasana disana cukup lengang karena dua puluh menit lagi sholat Jumat dimulai. Ada beberapa perempuan yang duduk disana, ku urutkan wajah mereka satu persatu, namun ternyata Dira tidak ada disana. Kusapu kembali pandanganku, dan terhenti di sebuah bangku yang terletak di dekat mobil donor darah. Senyumku terkembang, ada Dira disana. Meski penampilannya jauh berbeda tapi aku masih mengenali wajahnya.
Terima kasih Tuhan, gumamku dalam hati. Aku berjanji akan menebus semua kesalahanku dengan cara apapun yang dikehendaki Dira. Yang jelas aku sangat bersyukur karena benar-benar melihatnya siang ini.
Sayangnya aku tak punya banyak waktu untuk menemui Dira karena waktu sholat Jumat semakin dekat. Kuputuskan untuk menghampiri penjual rujak manis dan meminta tolong padanya untuk mengawasi Dira. Kulipatkan selembar uang merah pada wanita paruh baya itu, dan memohon supaya ia bersedia membantuku. Setelah wanita itu mengiyakan permintaanku, barulah aku pergi sejenak ke sebuah masjid besar yang ada di dekat Taman Bungkul.
Satu jam kemudian aku sudah kembali ke taman. Kuhampiri ibu penjual rujak manis, menanyakan keberadaan Dira karena kulihat ia tidak duduk di tempat yang kulihat tadi.
“Mbaknya ke mushola, Mas. Ini tadi mbaknya titip rujaknya ditaruh sini dulu, nanti diambil.” Jawab si ibu ramah ketika aku menanyakan keberadaan Dira. Ibu penjual rujak juga menerangkan bahwa uang yang kuberikan tadi ditukar dengan beberapa porsi rujak manis dan diberikan ke orang-orang yang ada di pelataran taman, termasuk Dira. Supaya tidak kentara kalau sedang mengawasi seseorang, katanya. Aku mengangguk, salut dengan inisiatifnya.
Selang 10 menit terdengar suara yang tak asing bagiku. Suara itu berasal dari tempat ibu penjual rujak. Aku menoleh, mendadak tubuhku terpaku. Aku melihatnya, dan mungkin beberapa detik lagi aku akan mendapati hal yang menegangkan.
“Dira.” Kuberanikan diri memanggilnya. Aku sudah mencarinya selama ini, jadi sudah lama juga aku persiapkan diri menghadapi reaksinya.
Mata itu membulat. Kupastikan Dira terkejut dengan kehadiranku saat ini, dan tanpa kusangka ia menghampiriku.
Dunia terasa berhenti berputar saat ini, ia bergeming dengan tatapan kecewa luar biasa, sedang aku masih terus berdiri di hadapannya bersiap menerima apapun yang akan dilakukan Dira. Tubuh Dira gemetar, tangannya mengepal, matanya berkaca-kaca, aku tak kuasa menyaksikannya seperti itu namun aku sendiri tak memiliki nyali untuk berkata-kata.
“Kita perlu bicara.” Hanya kalimat itu yang berani kuucapkan. Dira mengangguk pelan lalu berjalan mendahuluiku.
Kupandang perempuan ayu yang duduk di sebelahku. Nafasnya masih memburu, ada gemuruh hebat dalam hatinya yang seakan ingin keluar. Kupejamkan mata sebentar untuk mengatur nafas dan menata kata-kata yang paling pas sebagai pembuka.
“Apa kabar, Ra?” Singkat, dan terdengar sangat bodoh di telinga Dira sampai ia harus menoleh dan berekspresi kurang ramah. Tak sampai disitu, ia pun menggeser tempat duduknya supaya ada jarak diantara kami.
“Sudah lama aku cari kamu. Sampai-sampai...”
“Mau apa cari aku?” potong Dira tegas.
Aku menelan ludah, bingung akan menjawab apa karena aku yakin Dira tahu maksudku.
“Aku.. Aku minta maaf untuk kejadian waktu itu, Ra. Aku nggak nyangka kalau akan menyakiti kamu.” Kulirik Dira yang kini sudah terlihat lebih tenang, tapi pandangannya tetap kosong menatap pelataran taman.
“Aku menyesal karena sudah menenggak minuman itu dan berujung menyakiti kamu. Maaf, Ra..” sambungku. Lidahku kelu melihat setitik air jatuh dari matanya, aku benar-benar menyesal.
“Seharusnya kamu bisa membunuh atau menyeretku ke polisi saat itu, Ra. Aku pantas mendapatkan itu.” Ucapku lirih.
“Lalu Mas pikir aku pantas dapat predikat pembunuh ketika aku berhasil membunuh Mas saat itu?” Tanyanya tegas.
“Bukan begitu, Ra. Aku merasa bersalah karena sudah bersikap lancang ke kamu malam itu.”
“Nggak hanya lancang, tapi Mas sudah merusak semuanya. Mas sudah menghancurkan semua, semuanya!” Tangisnya meledak, Ya Tuhan bodohnya aku karena membuatnya seterluka ini.
“Katakan sama aku, Ra, apa yang sekiranya bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku?” Aku siap menerima sanksi apapun dari Dira, ingin sekali aku tawarkan diri untuk menikahinya tapi tidak mungkin aku ucapkan mengingat statusnya yang sudah bersuami.
Dira bergeming dan aku semakin salah tingkah.
“Kamu benar, Mas. Harusnya aku jebloskan kamu ke penjara.” Ucapnya tanpa memandang ke arahku.
“Kalau begitu, saat ini pun aku siap menerima laporan kamu, Ra.” Sahutku cepat.
“Tapi dengan begitu orang pun jadi tahu kalau Dira diperkosa kakak iparnya, dan akan banyak yang terluka. Keluargamu, keluargaku, banyak orang yang akan membahasku dimana-mana, mengucilkanku, menganggapku murahan dan lain sebagainya.” Terangnya, air matanya jatuh cukup deras, suaranya pun mulai mengecil menahan isak.
“Lalu, Farhan juga akan semakin membenciku.” Air matanya jatuh semakin deras saat nama adikku disebut.