Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.
Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.
"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."
"Saya siap."
"Aku ingin kau menghamili istriku."
“….”
Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.
Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07. Jenara Elendria
Dhana merasakan alarm bahaya dalam kepalanya berbunyi semakin keras. Tidak ada yang sederhana di dalam dunia Reval Arsenalio…. tidak pernah. Jika seorang mafia sekelas Reval meminta hal seperti ini, pasti ada alasan yang jauh lebih besar daripada sekadar memiliki keturunan. Dan Dhana yakin, alasan itu belum diungkapkan.
Dan dari kalimat yang Reval lontarkan, Dhana bisa menyimpulkan bahwa pria itu sedang tidak menunggu penolakan tetapi kepastian dari jawaban yang akan ia berikan. Sejak awal Reval memang tidak ingin memberinya kesempatan untuk menolak perintah tersebut.
Sikap diam Dhana, rupanya diartikan sebagai kebimbangan dan keraguan oleh Reval. Tentu saja, diantara calon kandidat orang kepercayaannya di masa depan tugas yang Dhana terima sangat jauh berbeda dengan yang lainnya. Namun, keturunan dari rahim wanita yang menjadi istri sahnya yang terus di desak oleh kakeknya juga tidak bisa ia abaikan terus menerus.
“Jika dia berani menolaknya, maka aku tidak akan segan membuatnya menutup mulut selamanya,” ucap Reval dalam hati sembari menyiapkan senjata dibalik jas mahalnya.
Gerakan itu langsung disadari oleh Dhana, tetapi ia berusaha tetap dan tenang. Hatinya memang sangat enggan menerima perintah tersebut, namun untuk sekarang ia tidak mempunyai pilihan lain. Misinya selama empat tahun bahkan belum mendapat kemajuan apapun, kini nyawanya malah menjadi taruhan jika menolak tugas tak masuk akal itu.
“Sepertinya sejak awal aku memang sudah tidak memiliki pilihan selain menerima tugas tak masuk akal ini,” batin Dhana sedikit putus asa.
“Apa jawabanmu?” tanya Reval setelah beberapa menit berlalu, membiarkan Dhana sedikit mempertimbangkan pilihannya.
“Tentu saja saya menerimanya, Tuan. Jika itu bisa membuat anda merasa lebih yakin menjadikan saya sebagai salah satu orang terpercaya di sisi anda.” Dhana segera menjawabnya dengan mantap, meski hatinya mengatakan yang sebaliknya.
“Bagus…. Hahahaaa, Rea memang tidak pernah salah dalam menilai seseorang,” ujar Reval dengan penuh kepuasan dengan jawaban yang Dhana berikan.
“Gila! Bagaimana bisa dia terlihat sangat bahagia saat aku menyetujui untuk menghamili istrinya sendiri. Meski pernikahan itu hanya sebuah perjodohan, bukankah wanita itu masih tetap istri sahnya?” Dhana hanya bisa menggerutu di dalam hatinya melihat sikap Reval yang begitu tidak peduli terhadap istrinya.
“Kalau begitu pergilah ke alamat yang akan aku kirimkan padamu. Kau akan menemui istriku untuk perkenalan sebelum kalian melakukannya, bukan?”
“Baik, Tuan! Saya mengerti.” Mau tidak mau Dhana harus mengikuti perintahnya.
Malam semakin larut ketika Dhana meninggalkan ruangan tersebut. Di koridor panjang yang sepi, langkahnya akhirnya melambat. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun penyamarannya, ia merasa benar-benar kehilangan pijakan.
Penyelundupan senjata? Sudah biasa. Operasi rahasia? Sudah biasa. Menyusup ke organisasi kriminal? Itulah pekerjaannya.
Namun ini... sesuatu yang sama sekali tidak pernah masuk dalam skenario mana pun. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa hal seperti ini akan ia alami saat menjalani misi penting negara yang sudah ia lewati selama empat tahun. Ingin rasanya ingin mundur dan menyerah, tetapi masa empat tahun penyamarannya membuat Dhana tetap berusaha bertahan.
Saat sedang berpikir, langkahnya terhenti. Di ujung koridor berdiri seorang wanita. Gaun panjang berwarna biru tua. Rambut hitam yang terurai rapi. Dan mata yang sama persis dengan foto yang baru saja ia lihat beberapa menit lalu.
Jenara Elendria, istri Reval. Tatapan mereka bertemu. Hanya sesaat, namun ada sesuatu yang aneh. Karena alih-alih terlihat terkejut melihat salah satu anak buah suaminya berada di sana, wanita itu justru memandangnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Seolah... ia sudah mengetahui percakapan yang baru saja terjadi. Dan yang lebih mengejutkan lagi… tidak ada kemarahan di matanya. Tidak ada rasa malu. Tidak ada penolakan. Yang ada hanya kelelahan, kelelahan seseorang yang telah terlalu lama hidup dalam permainan yang tidak pernah ia pilih sendiri.
"Jadi..." suara Jenara terdengar pelan. "...akhirnya Reval memilihmu."
Jantung Dhana berdetak lebih keras. Karena kalimat itu hanya memiliki satu arti. Wanita itu sudah tahu. Dan kemungkinan besar... ia juga menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada yang terlihat.
“Nyonya….” Entah mengapa Dhana spontan mengatakan itu.
Namun, Jenara memilih mengabaikannya dan berjalan melewatinya begitu saja. Dan anehnya, tanpa sadar tatapan Dhana terus tertuju pada sosok wanita itu. Ia bahkan sampai berbalik dan terus memperhatikan Jenara sampai wanita itu menghilang dibalik pintu ruangan dimana Reval masih berada di dalamnya.
“Astaga! Ada apa denganku? Kenapa aku terus menatapnya seperti itu?” gumamnya begitu tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.
“Kasihan sekali. wanita secantik dan seanggun itu malah diabaikan, bahkan dipaksa mengandung anak pria lain oleh suaminya sendiri.” Dan lagi-lagi tanpa sadar Dhana mulai berempati dengan wanita itu.
“Haish, sial! Haruskah aku juga mengasihani diriku sendiri, karena akulah yang menjadi pria itu,” sambungnya terdengar hampir sangat putus asa.
Langkah Jenara menggema pelan di lorong panjang rumah yang selama lima tahun tak pernah benar-benar ia anggap sebagai rumah. Tanpa peduli dengan tatapan Dhana yang masih tertuju ke arahnya.
Setiap pijakannya terasa berat. Selama ini ia memilih diam. Memilih menerima. Memilih mengubur segala luka yang ditorehkan Reval satu demi satu. Diabaikan, tidak pernah disentuh dengan kasih sayang. Tidak pernah diajak berbicara sebagai seorang istri. Keberadaannya tak lebih dari bayangan yang mengisi sudut rumah mewah itu.
Lima tahun pernikahan mereka berjalan tanpa kehangatan, tanpa cinta, bahkan tanpa penghormatan. Dan Jenara sanggup bertahan. Ia selalu berkata pada dirinya sendiri bahwa mungkin suatu hari nanti semuanya akan berubah. Namun hari ini... harapan terakhir itu ikut mati.
...****************...
Pintu ruang kerja Reval didorong terbuka tanpa mengetuk. Reval mengangkat kepala dari berkas-berkas di mejanya. Wajahnya tetap datar seolah kedatangan Jenara bukan sesuatu yang penting.
"Kau masuk tanpa izin."
Jenara menatapnya tajam. "Aku baru saja mendengar sesuatu."
Reval menutup map di hadapannya. "Lalu?"
"Dengar-dengar kau ingin menyuruhku tidur dan mengandung anak dari pria lain."
Tak ada keterkejutan di wajah lelaki itu. Tak ada penyangkalan. Hanya keheningan beberapa detik yang justru menjadi jawaban paling menyakitkan.
"Jadi itu benar."
"Iya."
Satu kata, pendek dan dingin seolah yang mereka bicarakan hanyalah urusan bisnis.
Napas Jenara memburu. "Bagaimana bisa kau menganggap itu hal yang wajar?"
"Itu keputusan yang paling efisien."
"Efisien?" Jenara tertawa pelan, tawanya pecah bersama air mata yang mulai menggenang. "Aku ini istrimu, Reval. Bukan aset perusahaan yang bisa kau pindahkan sesuka hati."
"Kau tetap istriku."
"Tidak ada suami yang meminta istrinya mengandung anak dari pria lain."
Reval bersandar tenang. "Ada keadaan yang menuntut."
"Tidak." Suara Jenara meninggi. "Tidak ada keadaan apa pun yang membenarkan itu!"
Bersambung….