Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16

Sang Pangeran Pulang

Arkana pulang menjelang siang dengan kemeja hitam dan bau rokok yang menempel kuat.

Aku tertidur di kursi dekat jendela. Ketika membuka mata, dia berdiri di ambang ruang musik. Bekas tamparanku masih samar di pipinya.

"Kau menunggu?" tanyanya.

"Tidak."

"Tentu."

Dia meletakkan ponselku yang jatuh di lantai ke atas meja, lalu pergi tanpa membahas pertengkaran, ciuman, atau pengakuan yang hanya kukatakan kepada matahari pagi.

Selama beberapa hari berikutnya, Arkana kembali menjaga jarak.

Tidak ada sentuhan di tangga. Tidak ada pertanyaan tentang Reza. Dia pulang larut, makan di kantor, dan mengirim semua pesan melalui Bi Sum.

Bekas luka di sisinya membuatnya belum boleh bekerja sepanjang hari, tetapi dia tetap menghindari ruang yang kutempati. Bahkan jadwal fisioterapi dipindahkan ke jam kuliahku agar kami tidak perlu bertemu.

Aku mendapatkan apa yang kuinginkan.

Rasanya lebih buruk daripada yang kubayangkan.

***

"Kamu yang menampar, kamu juga yang sedih ketika dia menjauh," kata Mbak Tania.

Aku duduk di ruang rias Club Aurora dengan segelas minuman ringan. Klub mulai ramai di luar. Musik rendah membuat meja bergetar.

"Aku tidak sedih."

"Matamu bengkak."

"Kurang tidur."

"Karena menunggu dia pulang."

Aku meneguk minuman. "Kenapa aku cerita kepadamu kalau semua jawabannya sudah kamu tentukan?"

"Karena kamu tahu jawabanku benar."

Pintu ruang rias terbuka. Seorang staf memanggil Mbak Tania karena ada masalah jadwal penampil. Dia menyuruhku menunggu, lalu bergegas keluar.

Aku tidak menunggu.

Di lorong menuju ruang VIP, kulihat Arkana.

Dia duduk di sofa dengan seorang perempuan muda bergaun putih. Rambut perempuan itu panjang dan wajahnya tampak polos. Ketika dia tertawa, tangannya menyentuh lengan Arkana.

Arkana tidak menepisnya.

Dadaku terasa ditusuk.

Bayu berdiri di dekat bar. Begitu melihatku, dia langsung berjalan mendekat.

"Jangan membuat kesimpulan."

"Aku tidak peduli."

"Wajahmu bilang sebaliknya."

Aku mengambil segelas minuman dari baki pelayan. Bayu menahannya.

"Itu bukan jus."

"Aku sudah dewasa."

"Pernyataan yang selalu muncul sebelum keputusan bodoh."

Aku merampas gelas dan meminumnya. Cairan itu membakar tenggorokan. Air mata langsung keluar, entah karena alkohol atau pemandangan di ruang VIP.

Arkana menoleh.

Tatapan kami bertemu.

Dia tidak berdiri.

Bagus.

Kalau dia bisa duduk bersama perempuan lain setelah menciumku, aku juga bisa memilih siapa pun.

Seorang pria muda berdiri sendirian di ujung bar. Jasnya rapi, posturnya tegap, dan wajahnya tampak asing sekaligus menenangkan. Aku berjalan ke arahnya dengan langkah yang mulai ringan karena minuman.

"Datang sendiri?" tanyaku.

Dia menatapku, terkejut. "Laras?"

Aku mengerutkan kening. "Kita saling kenal?"

Pria itu tersenyum perlahan. "Kau masih memeluk lutut ketika hujan?"

Suara di klub menghilang.

Hanya satu orang yang mengetahui malam ketika aku bersembunyi di sudut kamar panti, satu orang yang membagi telur rebus agar aku percaya makanan itu aman.

"Siapa kau?"

"Aku pernah berjanji akan kembali."

Gelas terlepas dari tanganku.

"Kak Gilang?"

"Iya, Laras."

Aku memeluknya.

Delapan tahun menunggu pecah menjadi tangis yang tidak bisa kutahan. Gilang memegang bahuku dengan hati-hati, seolah aku masih anak kecil yang mudah terluka.

"Kau pulang," kataku di antara isak. "Kau benar-benar pulang."

"Maaf terlambat. Ada program terakhir yang harus kuselesaikan."

"Aku pikir kau lupa."

"Tidak pernah."

Tangannya mengusap punggungku. Pelukan itu hangat, aman, dan tidak membuatku takut pada diri sendiri.

Aku mundur sedikit untuk melihatnya. Bocah kurus yang pernah dihantam Jagal kini memiliki bahu lebar dan bekas luka kecil di alis. Namun matanya tetap sama, tenang dan sabar.

"Ke mana saja kau selama ini?"

"Singapura, London, lalu beberapa kota lain. Sekolah bisnis, bahasa, dan pelatihan yang menurut Bos perlu."

"Arkana tidak pernah memberitahuku."

"Dia meminta aku fokus sampai selesai."

"Dan sekarang?"

Gilang mengeluarkan kartu nama. Di bawah namanya tertulis direktur strategi Wardhana Group.

"Aku pulang untuk membantu mengelola bisnis legal Bos. Katanya suatu hari aku harus cukup mampu mengambil alih semuanya."

Aku memegang kartu itu dengan kedua tangan. Arkana bukan hanya menepati janji pendidikan. Dia mempersiapkan Gilang menjadi penerus kerajaan bisnisnya.

"Apa yang paling kauinginkan?" tanyaku, teringat perjanjian lama.

Gilang menatapku. "Aku ingin memastikan kau tidak perlu takut lagi."

Jawaban itu membuat mataku kembali panas.

Mbak Tania muncul di samping kami dan menyerahkan tisu. "Kalau mau reuni sambil menangis, setidaknya jangan di dekat pecahan gelas."

Bayu ikut mendekat, menepuk bahu Gilang. "Anak kurus itu akhirnya jadi manusia juga."

"Terima kasih atas sambutan hangatnya, Bang Bayu."

"Jangan formal. Aku jadi merasa tua."

Untuk beberapa detik, kebahagiaan sederhana mengelilingi kami. Lalu perempuan bergaun putih tertawa di ruang VIP, dan aku teringat pria yang sedari tadi mengawasi setiap sentuhan kami.

Bunyi kaca pecah terdengar dari ruang VIP.

Arkana berdiri. Gelas di tangannya telah hancur. Darah tipis mengalir di telapak, tetapi dia tidak melihatnya.

Perempuan bergaun putih mencoba menyentuh lengannya. Arkana menepis tanpa menoleh.

Dia berjalan ke arah kami.

Gilang melepaskan pelukan, tetapi tetap berdiri di sisiku. "Bos."

"Kau pulang tanpa melapor."

"Pesawat mendarat sore tadi. Bang Bayu meminta saya datang ke sini."

Bayu pura-pura sibuk menatap langit-langit.

"Aku ingin membuat kejutan," katanya.

"Kau berhasil."

Nada Arkana membuat senyum Bayu hilang.

Aku menggenggam lengan Gilang. "Kak Gilang baru tiba. Jangan mulai menginterogasinya."

Mata Arkana turun ke tanganku.

"Lepaskan."

"Tidak."

"Laras," Gilang berkata lembut, "tidak apa-apa."

"Aku bilang lepaskan dia," ulang Arkana.

"Aku bukan bawahanmu."

Arkana mencengkeram pergelangan tanganku. Tidak cukup keras untuk melukai, tetapi mustahil dilepaskan.

Gilang bergerak. "Bos, tangannya."

"Jangan ikut campur."

"Saya akan ikut campur kalau Laras kesakitan."

Keheningan menyebar di sekitar bar. Beberapa tamu mulai memperhatikan. Mbak Tania kembali dari lorong dan langsung mendekat.

"Laras ikut aku ke belakang," katanya.

"Dia pulang denganku," jawab Arkana.

"Aku tidak mau."

Arkana menunduk ke wajahku. "Kau mabuk."

"Karena melihatmu dengan perempuan lain. Puas?"

Pengakuan itu keluar terlalu keras.

Mata Arkana berkilat. "Jadi kau cemburu."

"Aku muak."

"Kita bicara di rumah."

Dia mengangkat tubuhku ke dalam pelukan sebelum aku sempat melawan. Aku memukul bahunya, tetapi luka tembaknya membuatku menahan tenaga.

"Turunkan aku!"

Arkana terus berjalan.

Di belakang kami, Gilang mengikuti sampai pintu utama. "Bos!"

Arkana berhenti dan menoleh.

"Selamat datang kembali," katanya dingin. "Besok datang ke Menara Arkana. Kita akan membahas pekerjaanmu."

Lalu dia membawaku keluar, meninggalkan sang pangeran di bawah lampu Club Aurora dan memasukkanku ke mobil serigala yang sedang murka, tanpa memberiku kesempatan memilih di antara keduanya pada malam yang seharusnya menjadi bahagia kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!