Arif Wicaksono, pewaris ilmu medis kuno dan ketua organisasi rahasia Biro Akasa, turun gunung hanya untuk dihina dan ditolak mentah-mentah saat menagih janji perjodohan dari Keluarga Baskoro. Namun, nasib justru membawanya bertunangan dengan Shinta Liem, gadis bawel berenergi Yin murni penawar racun di tubuhnya, sekaligus memulai perjalanannya membuat orang-orang sombong yang meremehkannya berlutut menangis darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Sinar matahari pagi kembali menyapa kediaman Keluarga Liem dengan hangat.
Arif meregangkan tubuhnya di atas kasur empuk dan menarik napas panjang.
Hawa panas di dadanya sudah benar-benar hilang berkat sentuhan Shinta kemarin siang.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya.
"Tuan Arif, sarapan sudah siap di bawah," panggil suara lembut Nana dari balik pintu.
"Ya, aku segera turun," jawab Arif beranjak dari kasurnya.
Dia mandi dengan cepat dan memakai pakaian kasual berupa kemeja putih lengan pendek dan celana jeans hitam.
Meski terlihat sederhana, pakaian mahal pilihan Shinta itu membuat tubuh tegap Arif terlihat sangat pas dan keren.
Tap. Tap. Tap.
Arif menuruni tangga dan berjalan menuju ruang makan keluarga.
Di sana sudah ada Surya Liem dan Nana yang sedang menikmati roti panggang mereka.
"Pagi Tuan Arif, bagaimana kondisi tubuh Anda hari ini?" sapa Surya Liem sambil tersenyum hangat.
"Sangat baik Tuan Surya, rasanya aku bisa menghancurkan batu karang dengan satu pukulan sekarang," canda Arif duduk di kursinya.
Nana menuangkan susu hangat ke dalam gelas kosong di depan Arif.
"Syukurlah kalau begitu, kami sangat khawatir melihat Anda hampir pingsan kemarin," ucap Nana lega.
Arif meminum susunya perlahan dan menatap bangku kosong di seberangnya.
Biasanya harimau betina itu sudah duduk di sana sambil memberikan tatapan membunuh padanya.
"Di mana Nona cerewet? Tumben sekali dia tidak ikut sarapan," tanya Arif menyadari ketidakhadiran Shinta.
Surya Liem menghela nafas panjang dan meletakkan rotinya ke atas piring.
"Anak itu sedang bersiap-siap untuk berangkat kuliah, jadwalnya hari ini cukup padat."
"Ngomong-ngomong soal kuliah, ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Tuan Arif," lanjut Surya Liem dengan nada serius.
Arif meletakkan gelasnya dan menatap pria paruh baya itu dengan saksama.
"Katakan saja, apa ada masalah lain selain Keluarga Baskoro?" tanya Arif langsung pada intinya.
"Ini tentang Shinta, akhir-akhir ini dia sering diganggu oleh seorang pemuda di kampusnya."
Surya Liem memijat pelipisnya seolah sedang memikirkan masalah yang cukup merepotkan.
"Pemuda itu bernama Reyhan, putra tunggal dari Keluarga Kusuma yang menguasai bisnis properti di Jakarta."
"Dia sangat terobsesi pada Shinta dan terus memaksakan kehendaknya."
"Saya takut dia menggunakan cara kotor karena Shinta selalu menolaknya mentah-mentah," jelas Surya Liem khawatir.
Arif menyeringai tipis mendengar cerita tersebut.
"Lalu apa hubungannya denganku? Kau mau aku mematahkan kaki pemuda bernama Reyhan itu?" tawar Arif santai.
Nana langsung tersedak teh yang sedang diminumnya mendengar tawaran brutal itu.
Uhuk. Uhuk.
"Bukan begitu Tuan Arif, kita tidak bisa sembarangan memukul anak orang di lingkungan kampus," tegur Nana mengelap mulutnya.
"Kami ingin Tuan Arif ikut mendaftar sebagai mahasiswa di Universitas Mahkota untuk menemani Shinta."
Surya Liem menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan putri sulungnya.
"Benar Tuan Arif, lagipula Anda butuh berada di dekat Shinta setiap saat untuk menekan Racun Api itu kan?"
"Jika Anda menjadi mahasiswa di sana, Anda bisa melindunginya sekaligus menjaga kondisi tubuh Anda sendiri," bujuk Surya Liem.
Arif terdiam sejenak mencerna tawaran tersebut.
Masuk akal juga, pikirnya, dia tidak mungkin terus-terusan mengurung diri di rumah menunggu Shinta pulang.
Kalau Racun Apinya tiba-tiba kumat di siang hari saat Shinta di kampus, dia bisa mati kepanasan di jalan.
"Ide yang bagus, aku setuju," jawab Arif mengangguk pelan.
Tepat setelah Arif menyetujui hal itu, suara langkah kaki terburu-buru terdengar dari arah tangga.
Tap. Tap. Tap.
Shinta berlari turun dengan memakai kemeja flanel kebesaran dan celana jeans yang sangat modis.
Rambut panjangnya diikat ekor kuda membuatnya terlihat sangat segar dan cantik.
"Ayah! Kak Nana! Apa maksudnya menyuruh udik ini ikut kuliah bersamaku?!" teriak Shinta memprotes keras.
Gadis itu berdiri di depan meja makan dengan wajah memerah karena marah.
Dia rupanya menguping pembicaraan mereka dari tangga.
"Shinta, jaga bicaramu. Tuan Arif akan menjagamu dari gangguan Reyhan di kampus," tegur Surya Liem tegas.
"Aku tidak butuh dijaga! Aku bisa mengurus Reyhan sendiri!" bantah Shinta menghentakkan kakinya.
"Lagi pula kalau teman-temanku tahu aku membawa cowok kampung ke kampus, mau ditaruh di mana wajahku?!" keluh Shinta gengsi.
Arif menopang dagunya dengan tangan dan menatap Shinta dengan pandangan mengejek.
"Siapa yang mau menjagamu? Aku cuma mau kuliah untuk mencari gadis yang lebih manis darimu," goda Arif santai.
Shinta langsung melotot mendengar ucapan menyebalkan itu.
Entah kenapa ada sedikit rasa tidak terima di hatinya saat Arif bilang ingin mencari gadis lain.
"Cih! Silakan saja cari kalau ada yang mau dengan gembel sepertimu!" cibir Shinta membuang muka.
"Sudah cukup perdebatan ini, keputusan Ayah sudah final," potong Surya Liem tidak mau dibantah.
"Segala urusan administrasi pendaftaran Tuan Arif sudah diurus oleh orang suruhan Ayah tadi pagi."
"Hari ini kalian berdua harus berangkat bersama menggunakan satu mobil," perintah Surya Liem mutlak.
Shinta membuka mulutnya ingin protes lagi, tapi melihat tatapan tajam ayahnya, dia hanya bisa pasrah.
Gadis itu menarik kursi dengan kasar dan duduk untuk memakan sarapannya dengan wajah ditekuk.
Brak.
"Menyebalkan sekali, pagi-pagi moodku sudah dihancurkan oleh si udik mesum ini," gerutu Shinta mengunyah rotinya dengan ganas.
Satu jam kemudian, sebuah mobil sport mewah berwarna putih melaju membelah jalanan Jakarta.
Brummm.
Arif duduk di kursi penumpang dengan sangat santai menikmati pemandangan gedung bertingkat.
Di sebelahnya, Shinta menyetir mobil dengan wajah yang masih cemberut sejak dari rumah.
"Nanti kalau kita sudah sampai di kampus, kau jangan jalan berdekatan denganku," ancam Shinta tanpa menoleh.
"Anggap saja kita tidak saling kenal, mengerti?" lanjut gadis itu dengan nada judes.
Arif hanya bersenandung kecil mengabaikan ancaman tersebut.
"Kalau Racun Apiku kumat di tengah lapangan kampus, aku akan langsung memelukmu di depan semua teman-temanmu," ancam balik Arif dengan senyum miring.
Ckittt.
Shinta nyaris menginjak rem mendadak saking kagetnya mendengar ancaman gila itu.
"Kau benar-benar tidak waras ya! Beraninya kau mengancamku begitu!" teriak Shinta panik.
"Makanya jadilah anak yang ngocehnya dikurangi sedikit Nona cerewet," balas Arif tertawa pelan.
Mobil sport mewah itu akhirnya berbelok memasuki gerbang Universitas Mahkota yang sangat megah.