Indonesia
NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21

Waktu bergulir dengan kecepatan yang tidak wajar di dalam rumah kolonial itu. Hanya dalam hitungan minggu, perut rata Cindy telah berubah drastis menjadi sebuah bulatan besar yang kentara di balik daster-daster longgarnya. Janin peri setengah manusia itu tumbuh dengan menyerap energi gaib Damian dan kehangatan metabolisme Cindy secara konstan, membuat perutnya membesar seolah usia kandungannya sudah menginjak angka tujuh bulan manusia.

Perubahan kilat ini tak pelak membuat Damian bertransformasi menjadi sosok yang seratus kali lipat lebih protektif bahkan cenderung obsesif. Pangeran Belanda itu tidak lagi membiarkan Cindy menyentuh kompor atau melangkah ke halaman belakang sedikit pun. Pintu dan jendela rumah telah dikunci rapat oleh segel es gaibnya, memastikan tidak ada bau kehidupan dari rahim Cindy yang tercium oleh mahluk-mahluk kelaparan di rawa seberang.

Sore itu, Cindy sedang duduk bersandar di atas ranjang jati mereka, mencoba meluruskan kakinya yang mulai sering membengkak. Napasnya sedikit terengah karena beban di perutnya yang terasa kian berat.

"Damian... nggghhh, pegal sekali," keluh Cindy lirih, jemari hangatnya mengusap permukaan perutnya yang membulat kencang. Di dalam sana, ia bisa merasakan ada kepakan-kepakan halus yang asing, bukan tendangan kaki bayi manusia, melainkan sapuan lembut dari sepasang sayap gaib kecil yang mulai tumbuh.

Sreeek...

Dari balik kegelapan sudut kamar, Damian langsung muncul menjelma. Pria itu kini selalu mengenakan kemeja sutra hitamnya yang longgar, memancarkan hawa sejuk yang konstan untuk meredam rasa gerah luar biasa yang sering melanda tubuh manusia Cindy akibat kehamilan gaib ini.

Damian berlutut di tepi ranjang. Tanpa suara, tangan panjangnya yang sewarna porselen merayap ke bawah selimut, meraih pergelangan kaki Cindy yang membengkak lalu mulai memijatnya dengan gerakan yang teramat lembut dan cermat.

"Apakah ini sedikit mengurangi rasa sakitmu, mijn liefde?" tanya Damian rendah. Suara serak basahnya bergetar lembut, menatap lekat-lekat wajah Cindy yang tampak kelelahan namun tetap memancarkan kecantikan murni seorang ibu.

"Emmmhh... iya, enak banget, Damian. Hawa dingin tanganmu pas banget buat kakiku yang panas," desah Cindy pasrah, kepalanya bersandar pada tumpukan bantal di belakangnya. "Tapi dia... hari ini aktif banget di dalam. Rasanya geli, seperti ada yang mengepak-ngepak di dekat rahimku."

Mendengar hal itu, Damian menghentikan pijatannya sejenak. Ia merangkak naik ke atas kasur, mengukung tubuh mungil Cindy dengan proteksi mutlak sebelum menempelkan telinga dan telapak tangan pucatnya tepat di atas perut besar Cindy.

Begitu kulit dingin Damian menyentuh perut hangat itu, denyut gaib di dalam rahim Cindy seketika merespons. Pendar cahaya keemasan dan biru muda samar-samar berpendar menembus kulit perut Cindy, memancarkan kehangatan mistis yang membuat Damian memejamkan matanya laksana pria yang paling bahagia di dunia.

"Dia mengenali ayahnya, Cindy," bisik Damian dengan nada yang teramat posesif namun sarat akan kelembutan abadi. "Jantung manusianya berdetak sangat kuat, tetapi aliran energi es saya juga mengalir lancar di dalam nadinya. Dia tumbuh dengan sempurna."

Cindy tersenyum manis, tangannya bergerak mengelus rambut hitam lebat Damian yang bersandar di perutnya. "Damian, menurutmu... kapan dia akan lahir? Ini baru berjalan tiga minggu sejak kedatangan Ki Renggo, tapi perutku sudah seberat ini. Aku takut kalau tiba-tiba ketubanku pecah saat kamu sedang tidak ada di kamar."

Damian mendongak, menatap tepat ke dalam manik mata rubah Cindy. Kilatan hitam pekat yang penuh kuasa dominan menyala di sepasang mata birunya.

"Saya tidak akan pernah meninggalkan sisi ranjang ini, Cindy. Tidak untuk satu detik pun," tekan Damian dengan suara berat yang mengikat kesadaran gadis itu. "Renggo memperkirakan dalam satu atau dua minggu lagi, struktur gaibnya akan matang sepenuhnya. Dan saat hari itu tiba, saya sendiri yang akan menyambut mahluk cantik kita keluar ke dunia ini."

Damian memajukan wajahnya, mengecup lembut bibir tipis Cindy yang basah, lalu turun memberikan lumatan-lumatan penenang di leher jenjang kekasihnya, menguapkan seluruh rasa takut manusia Cindy ke dalam lautan cinta dan hawa mistis yang mengunci kamar kolonial mereka sore itu.

Sementara kehidupan di dalam rumah kolonial kuno itu semakin terisolasi oleh sekat-sekat mistis, di sebuah kedai kopi modern yang bising di kawasan Jakarta Selatan, realita dunia luar mulai bergerak mendekat.

Mahen duduk berhadapan dengan seorang pria paruh baya bertubuh tegap yang mengenakan kemeja batik katun rapi. Pria itu adalah Pramono, salah satu paman kandung Cindy dari pihak mendiang ayahnya yang sudah bertahun-tahun menetap dan bekerja di ibu kota. Di atas meja kayu, dua cangkir kopi yang mulai mendingin dan beberapa lembar berkas cetak dokumen jurnalisme berserakan, terabaikan begitu saja karena topik pembicaraan mereka yang mendadak berubah menjadi sangat serius.

Pramono mengerutkan dahi dalam-dalam, menatap Mahen dengan pandangan menyelidik. "Jadi kamu beneran ngerasa ada yang gak beres sama keponakan saya, Hen? Maksud kamu, dia sengaja mutus kontak sama orang luar?"

Mahen mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi besi. Wajahnya tampak didera rasa cemas yang sudah ia pendam selama beberapa minggu terakhir. Ia meraba ponselnya di atas meja, lalu menggeser layar untuk menunjukkan riwayat obrolan WhatsApp kepada Pramono.

"Bukan cuma ngerasa lagi, Om Pram. Ini udah gak wajar," kata Mahen sambil menunjuk deretan gelembung pesan yang didominasi oleh warnanya sendiri. "Lihat sendiri deh. Cindy itu sekarang cuma mau bales kalau chat-nya menyangkut urusan pekerjaan atau pengiriman dokumen video hasil kontennya. Itu pun balesnya singkat banget, cuma kata 'oke', 'sudah dikirim', atau 'siap'. Selebihnya? Kalau saya nanya kabar, nanya aktivitas dia di rumah, atau sekadar basa-basi... chat saya cuma centang satu abu-abu. Berminggu-minggu, Om."

Pramono memakai kacamata bacanya, menatap layar ponsel Mahen dengan saksama. "Loh, tapi statusnya ini... kadang kelihatan online gak?"

"Nah! Itu dia yang bikin saya makin bingung dan khawatir Om," potong Mahen dengan nada suara yang sedikit diturunkan, cemas terdengar oleh pengunjung meja sebelah. "Di aplikasi itu, kadang statusnya tertulis online. Tapi begitu saya coba telepon biasa atau telepon lewat aplikasi, statusnya cuma 'Memanggil', bukan 'Berdering'. Dan kalaupun sekali waktu statusnya 'Berdering', gak pernah diangkat sama sekali sampai mati sendiri. Seolah-olah Cindy sengaja pasang tembok pembatas, sengaja menjauh dari semua orang."

Pramono melepas kacamatanya, lalu mengusap wajahnya yang mulai dihiasi kerutan usia. Guratan kekhawatiran yang sangat kentara kini tercetak jelas di wajah pria paruh baya itu. "Aneh ya... Padahal setahu saya, Cindy itu anaknya meskipun kuper, dia gak pernah secuek ini sama temen kerja. Apalagi sama kamu yang udah sering bantu dia di Jogja."

Pramono terdiam sejenak, menatap ke luar jendela kedai kopi yang menampilkan kemacetan kota Jakarta. Pikirannya melayang pada keponakannya yang sebatang kara di Jogja.

"Jujur ya, Hen... saya juga ngerasa bersalah," bisik Pramono dengan suara agak berat. "Sudah hampir dua tahun ini saya gak sempet nengok dia ke Jogja. Kesibukan proyek di Jakarta bener-bener nyita waktu. Paling cuma kirim uang bulanan, dan dia selalu bilang 'baik-baik saja'. Tapi denger penuturan kamu barusan... hati saya jadi gak tenang. Gimana kalau dia depresi? Atau gimana kalau ada orang jahat yang manfaatin dia di rumah besar peninggalan ayahnya itu?"

Mahen mengangguk setuju. "Itu dia yang saya takutin, Om. Rumah itu besar banget, dan posisinya agak terisolasi di dekat area rawa. Tetangganya juga jarang."

Pramono mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja, menimbang-nimbang jadwal kerjanya dengan cepat sebelum akhirnya mengambil keputusan tegas. "Begini saja, Hen. Kebetulan dua minggu lagi, tepatnya hari Minggu depan di bulan ini, saya ada jadwal dinas dan urusan bisnis dari kantor ke Yogyakarta. Agendanya cuma tiga hari."

Pramono menatap Mahen dengan mata yang menuntut kepastian. "Begitu urusan kantor saya selesai di sana, saya putuskan untuk langsung mampir ke rumah Cindy. Saya mau cek langsung keadaannya. Saya mau lihat dengan mata kepala saya sendiri, apa yang sebenarnya terjadi dengan keponakan saya itu."

"Baguslah kalau begitu, Om Pram," sahut Mahen dengan helaan napas lega, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya, ada firasat buruk yang mendadak berdesir kencang, seolah-olah kunjungan sang paman ke rumah kolonial itu nanti akan membentur sesuatu yang sangat mengerikan dan di luar batas nalar manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!