Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.
Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.
Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.
Sialan emang.
Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.
Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Kencan Pertama Rasa Pare
Begitu acara makan malam selesai dan orang tua kami sibuk merencanakan tanggal kencan pertama dengan antusiasme setara panitia OSIS mau bikin pensi, gue langsung menarik Kian ke teras samping.
Malam makin dingin, tapi tatapan mata kita berdua jauh lebih membekukan.
"Lu kesambet setan mana, sih?" semprot gue langsung, melipat tangan di dada. "Kian, lu gila ya? Ini nikah, bukan daftar ulang ekskul Pramuka! Kenapa lu main setuju-setuju aja?!"
Kian bersandar santai di pilar teras, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ekspresi dinginnya dari meja makan tadi udah berganti jadi cengiran tengil yang paling bikin gue pengen melempar dia pakai pot bunga.
"Kenapa? Ya karena gue mau," jawabnya enteng.
"Alasan lu apa?!"
"Alasan gue?" Kian memajukan wajahnya sedikit, menatap gue tepat di mata. "Harga diri gue terluka, Ra. Lu nolak gue di depan orang tua kita seolah-olah gue ini kotoran ayam yang gak sengaja keinjak sandal lu. Emang gue seburuk itu sampai lu nolak tanpa mikir dua kali?"
"Ya iyalah!" seru gue, reflek menunjuk mukanya. "Lu itu playboy! Minggu lalu lu jalan sama pacar lu yang mahasiswi hukum, kemarin lusa gue ngeliat lu meluk cewek di kafe! Terus sekarang lu mau nikah sama gue? Lu cuma mau jadiin pernikahan ini tameng kan, biar hidup lu tetap bebas dan lu bisa terus main cewek tanpa dikejar-kejar pertanyaan 'kapan nikah' dari Tante Maya?!"
Kian terdiam sebentar. Ada kilat aneh di matanya pas gue nyebut kejadian di kafe kemarin, tapi itu cuma bertahan sedetik sebelum dia terkekeh pelan.
"Ooh... jadi lu mikir gue terima ini cuma buat pelarian?" Kian mendekat satu langkah. Jarak kami sekarang dekat banget, sampai gue bisa mencium wangi parfume woody khas dia yang sialnya wangi banget. "Gini ya, Elora. Kita dikasih waktu enam bulan sama orang tua kita. Enam bulan buat PDKT resmi. Kalau dalam enam bulan lu tetap gak mau, ya udah, kita batal. Tapi selama enam bulan ini, lu harus jalanin peran lu."
"Peran apa?"
"Peran jadi calon istri gue," bisik Kian di dekat telinga gue, nadanya jahil tapi berhasil bikin bulu kuduk gue berdiri dan jantung gue loncat marathon. "Siap-siap aja, Ra. Gue bakal bikin lu menyesal pernah nolak gue."
Sialan. Cowok ini bener-bener dendam cuma gara-gara gengsinya tercoreng!
Hari pertama dari masa percobaan enam bulan itu dimulai dengan musibah di Minggu pagi.
Jam delapan pagi, HP gue berbunyi nyaring. Begitu gue angkat dengan suara khas orang baru bangun tidur, suara Mama langsung menggelegar di seberang telepon.
"Elora! Kamu belum bangun?! Kian udah nungguin di depan rumah dari sepuluh menit yang lalu! Dia mau ngajak kamu kencan pertama!"
Gue langsung melompat dari kasur. "Hah?! Kencan apa—"
"Gak ada alasan! Cepat mandi, pakai baju yang cantik! Jangan sampai Mama lihat kamu keluar cuma pakai kaus partai dan celana training bolong!"
Klek.
Telepon dimatikan sepihak.
Dengan panik dan serangkaian sumpah serapah untuk Kian di dalam hati, gue mandi kilat lima menit dan asal nyomot baju. Begitu gue turun ke lantai bawah, gue melihat Kian sedang duduk manis di sofa tamu, menyesap teh hangat sambil ngobrol akrab sama Papa. Dia pakai kaus hitam polos dan jaket denim. Ganteng, rapi, dan terlihat sangat sangat berniat untuk mengacak-acak ketenangan hidup gue.
"Pagi, Calon istri," sapa Kian tanpa dosa begitu melihat gue turun.
Gue hampir tersedak ludah sendiri. "Gak usah panggil gitu, geli!"
"Loh, kan latihan," sahut Kian santai, lalu pamit ke orang tua gue sambil mencium tangan mereka sopan banget. Aktingnya bener-bener dapat nilai seratus.
Di dalam mobil Kian, suasananya canggung luar biasa. Gue menyilangkan tangan di dada, menatap lurus ke kaca depan.
"Kita mau ke mana?" tanya gue ketus.
"Ke pasar kaget," jawab Kian asal.
"Kian!"
"Ya lagian lu galak amat dari tadi. Kita mau sarapan, Ra. Lu belum makan kan?" Kian menjalankan mobilnya membelah jalanan pagi.
Akhirnya kita sampai di sebuah warung bubur ayam langganan kami sejak SMA. Tempatnya ramai, tapi untungnya masih ada satu meja kosong di pojok. Kami duduk berhadapan.
Satu hal tentang Kian, dia tahu persis selera gue. Tanpa perlu gue minta, dia memesan dua mangkok bubur. Pas buburnya datang, dengan refleks yang udah terlatih bertahun-tahun sebagai sahabat, Kian mengambil mangkok gue. Dia memisahkan daun seledri satu per satu karena dia tahu gue benci seledri, lalu menambahkan dua sendok sambal dan kecap manis secukupnya.
Setelah selesai, dia menggeser mangkok itu ke depan gue. "Nih."
Gue mematung melihat mangkok bubur di depan gue. Perlakuan kecil yang biasa dia lakukan ini mendadak terasa beda banget sekarang. Dada gue rasanya mencelos.
Kenapa sih dia harus perhatian banget kalau cuma mau main-main?
"Makasih," gumam gue pelan, lalu mulai mengaduk bubur gue.
Kian sendiri mulai memakan buburnya yang... dihancurkan sampai bentuknya tidak estetis sama sekali. Typical Kian.
"Ra," panggil Kian di tengah-tengah kunyahannya.
"Apa?"
"Cewek di kafe kemarin lusa itu..." Kian menggantung kalimatnya, menatap gue penuh selidik. "Lu merhatiin gue banget ya kemarin? Sampai tahu gue meluk dia?"
Tangan gue yang lagi memegang sendok seketika membeku. Waduh. Skakmat.
Gue mencoba memasang raut muka secuek mungkin, walau dalam hati udah panik setengah mati. "Gak sengaja lewat aja. Lagian lu gak tahu tempat banget, meluk-meluk cewek di tempat umum."
Kian tersenyum tipis, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Dia itu buk—"
BZZZZT! BZZZZT!
HP Kian yang ada di atas meja mendadak bergetar. Di layarnya, muncul nama pemanggil, Vanya. Cewek cantik berambut gelombang yang kemarin sore ngobrol mesra sama Kian di kafe.
Kian melirik HP-nya, lalu melirik gue. Gue langsung memalingkan wajah, pura-pura sibuk mengunyah bubur dan menatap jalanan di luar warung. Tuh kan. Baru juga jam sembilan pagi di kencan pertama, ceweknya udah nyariin.
Kian menggeser tombol hijau, menggeser HP itu ke telinganya.
"Ya, Van?" kata Kian dengan nada suara yang mendadak lembut. "Gue lagi di luar... Sama Elora... Nanti gue kabarin lagi ya."
Kian mematikan teleponnya.
Suasana di meja makan kami yang tadi sempat agak hangat, mendadak langsung anjlok terjun bebas ke titik beku. Rasa bubur ayam di mulut gue langsung berubah jadi kayak rasa pare. Pahit.
Gue menaruh sendok, menyapu bibir pakai tisu, lalu menatap Kian dengan senyum paling plastik yang pernah gue buat dalam hidup gue.
"Panggilan dari pacar lu ya?" tanya gue tenang, menahan sesak di dada yang rasanya mau meledak. "Kalau ada urusan, anterin gue pulang aja sekarang, Ki. Gak usah dipaksa kencannya."
To be continued..