Indonesia
NovelToon NovelToon
SESALMU YANG TERLAMBAT

SESALMU YANG TERLAMBAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama Yang Dilarang disebut

Beberapa hari setelah rapat dengan pihak Andalan Sejahtera, kesibukan proyek kerja sama semakin meningkat. Laras mendapati dirinya semakin sering berkomunikasi langsung dengan pihak Bagas melalui email dan telepon, membahas detail-detail teknis yang memerlukan koordinasi intensif antara kedua perusahaan.

"Larasati, terima kasih sudah kirim data revisi anggarannya," suara Bagas terdengar ramah di telepon suatu siang. "Cepat sekali responnya, biasanya butuh waktu lebih lama untuk dapat data selengkap ini."

"Sama-sama, Pak. Saya usahakan secepat mungkin karena tau proyek ini penting untuk kedua perusahaan."

"Kalau boleh saya bilang, Anda ini beda dari staf-staf lain yang biasa saya temui. Lebih teliti, lebih responsif."

Laras tersenyum kecil mendengar pujian itu, meski berusaha menjaga profesionalisme. "Terima kasih, Pak. Saya cuma coba kerja sebaik mungkin."

"Kapan-kapan, kalau ada waktu luang, boleh nggak saya traktir makan siang? Sebagai ucapan terima kasih atas kerja samanya selama ini."

Pertanyaan itu sedikit mengejutkan Laras, namun nada suara Bagas terdengar tulus tanpa maksud tersembunyi yang mencurigakan. "Saya rasa itu nggak masalah, Pak. Tapi mungkin lebih baik kalau melibatkan tim juga, biar lebih profesional."

"Tentu saja," Bagas tertawa kecil, seolah memahami kehati-hatian Laras. "Saya akan atur waktu yang pas untuk tim kedua perusahaan."

Percakapan itu berakhir dengan nada yang menyenangkan, meninggalkan perasaan hangat yang tidak biasa dirasakan Laras sejak kembali bekerja di Jakarta. Berbeda dengan tekanan dan kedinginan yang selalu ia terima dari Raka, interaksi dengan Bagas terasa jauh lebih ringan, lebih manusiawi.

Namun kehangatan itu tidak berlangsung lama. Sore harinya, Raka kembali memanggil Laras ke ruang kerjanya, kali ini dengan alasan yang jelas-jelas dibuat-buat.

"Saya dengar kamu sering komunikasi langsung dengan pihak Andalan Sejahtera," kata Raka tanpa basa-basi begitu Laras masuk ke ruangannya.

"Iya, Pak. Itu memang bagian dari tugas saya untuk koordinasi proyek."

"Mulai sekarang, semua komunikasi dengan pihak eksternal harus melalui saya dulu. Nggak boleh langsung."

Laras mengerutkan kening, bingung dengan perubahan kebijakan mendadak itu. "Tapi Pak, biasanya staf pemasaran memang berkomunikasi langsung dengan klien untuk hal-hal teknis. Kalau semua harus lewat Bapak dulu, prosesnya bisa jadi lebih lambat."

"Saya nggak minta pendapat kamu," potong Raka tajam. "Saya kasih instruksi, kamu ikuti."

Nada suara itu membuat Laras terdiam sesaat, namun kali ini ia memutuskan untuk tidak langsung mengalah begitu saja. "Boleh saya tau alasannya, Pak? Supaya saya bisa jelaskan juga ke pihak Andalan Sejahtera kalau nanti mereka nanya kenapa prosesnya berubah."

Raka menatapnya tajam, rahangnya mengeras. "Kamu nggak perlu tau alasannya. Cukup ikuti instruksi."

"Baik, Pak," jawab Laras akhirnya, meski dengan nada yang menunjukkan ketidakpuasan yang jelas.

Ia hendak berbalik pergi, namun suara Raka kembali terdengar, kali ini dengan pertanyaan yang sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan.

"Direktur Andalan Sejahtera itu... dia sering hubungi kamu?"

Pertanyaan itu membuat Laras berhenti, menoleh dengan ekspresi bingung. "Itu bagian dari koordinasi proyek, Pak. Kenapa Bapak tanya?"

"Nggak," Raka cepat-cepat menjawab, menyadari kesalahannya sendiri. "Cuma mastiin semua komunikasi bisnis berjalan sesuai prosedur."

Laras menatap Raka lama, mencoba membaca ekspresi yang tersembunyi di balik kata-kata itu. Ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang terasa lebih personal dari sekadar urusan prosedur perusahaan, namun ia memilih untuk tidak mengejar lebih jauh.

"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi."

Ia keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk, sebuah kecurigaan mulai tumbuh di benaknya—kecurigaan bahwa kebijakan baru ini, dan pertanyaan aneh tentang Bagas, mungkin memiliki motif yang jauh lebih personal daripada yang mau diakui Raka.

Malam itu, Laras kembali menelepon Sari, menceritakan kejadian aneh yang baru saja ia alami.

"Dia nanya soal Pak Bagas?" Sari terdengar terkejut di seberang telepon. "Laras, itu kedengerannya kayak cemburu, lho."

"Cemburu? Raka udah nggak peduli sama aku, Sari. Dia bahkan bilang aku cuma bawahan, nggak lebih."

"Tapi kelakuannya nggak konsisten sama kata-katanya. Kalau dia beneran nggak peduli, kenapa dia repot-repot bikin kebijakan aneh kayak gitu, terus nanya-nanya soal direktur lain yang deket sama kamu?"

Laras terdiam, memikirkan kemungkinan itu dengan perasaan campur aduk. "Aku nggak mau berharap macam-macam, Sari. Terlalu sakit kalau ternyata aku salah paham lagi."

"Aku ngerti," Sari menjawab lembut. "Tapi kamu juga harus mikirin diri kamu sendiri, Laras. Kalau memang ada orang lain yang bisa bikin kamu bahagia tanpa drama kayak gini, kenapa nggak dicoba aja?"

"Maksud kamu, Pak Bagas?"

"Kenapa nggak? Dari cerita kamu, dia kedengerannya orang baik. Perhatian, sopan, nggak maksa. Beda banget sama sikap Raka yang bikin kamu capek terus."

Laras terdiam lama, memikirkan kata-kata sahabatnya itu. Ada benarnya juga—interaksi dengan Bagas selalu membawa perasaan ringan dan nyaman, jauh berbeda dengan tekanan yang terus-menerus ia rasakan setiap kali berhadapan dengan Raka.

"Aku belum kepikiran sejauh itu, Sari. Lagipula, ini masih hubungan kerja."

"Ya udah, nggak usah dipikirin terlalu jauh sekarang. Yang penting, kamu jaga diri kamu sendiri. Jangan biarkan Raka terus-terusan bikin kamu capek secara emosional."

Percakapan itu berakhir dengan Laras yang merasa sedikit lebih tenang, meski pikirannya masih dipenuhi berbagai pertanyaan tentang arah hubungan kerja yang semakin rumit ini.

Di sisi lain kota, Raka duduk sendirian di ruang kerjanya yang sudah sepi, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam namun ia masih enggan pulang. Pikirannya terus-menerus kembali pada percakapan singkat dengan Laras sore tadi, pada nama Bagas yang entah kenapa begitu mengganggu pikirannya sejak pertemuan rapat beberapa hari lalu.

Kenapa aku peduli soal ini? batinnya frustrasi, menatap layar laptop yang sudah lama tidak ia sentuh. Dia bukan siapa-siapa buat aku sekarang. Cuma staf biasa.

Namun semakin ia mencoba meyakinkan diri sendiri, semakin jelas pula bahwa perasaan yang ia rasakan jauh dari kata "biasa". Ia teringat kembali pada masa lalu, pada janji-janji yang pernah ia ucapkan kepada Laras bertahun-tahun lalu, pada kehangatan yang dulu begitu mudah ia rasakan setiap kali berada di dekat gadis itu.

Ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk dari salah satu rekan bisnisnya yang kebetulan juga mengenal Bagas secara personal.

"Eh, denger-denger si Bagas dari Andalan Sejahtera lagi PDKT sama staf lo ya? Doi emang tipikal yang serius kalau udah naksir orang."

Pesan itu membuat dada Raka terasa sesak seketika, kemarahan dan kecemburuan bercampur menjadi satu tanpa bisa ia kendalikan sepenuhnya. Ia mengetik balasan singkat, nadanya jauh lebih tajam dari yang seharusnya diperlukan untuk sekadar obrolan santai.

"Itu urusan pribadi dia. Nggak ada hubungannya sama saya."

Namun kata-kata itu terasa hampa bahkan bagi dirinya sendiri. Ia menatap ponselnya lama, dadanya dipenuhi gejolak emosi yang sulit ia pahami sepenuhnya—kemarahan yang seharusnya sudah lama padam, kini justru menyala kembali dengan kekuatan yang jauh lebih besar, dipicu oleh kemungkinan bahwa Laras, wanita yang selama ini ia yakini sebagai bagian dari masa lalu yang harus dilupakan, kini mungkin akan menemukan kebahagiaan baru bersama orang lain—kebahagiaan yang, entah kenapa, terasa begitu menyakitkan untuk ia bayangkan, meski logikanya sendiri menolak untuk mengakui alasan di balik rasa sakit itu.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak lima tahun terakhir, Raka mendapati dirinya benar-benar bingung dengan apa yang sebenarnya ia inginkan—apakah benar-benar ingin melupakan Laras sepenuhnya, ataukah jauh di dalam hatinya, ia masih berharap ada kesempatan kedua yang, tanpa ia sadari, mungkin sudah terlambat untuk diraih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!