Indonesia
NovelToon NovelToon
BESAN ADALAH MAUT

BESAN ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.

Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.

Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?

Karena terkadang, **besan adalah maut**.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Tatapan Saat Makan Siang

Setelah urusan memilih dan membeli kain selesai, mereka bertiga kembali menuju mobil. Beberapa kantong berisi kain dan perlengkapan seragam sudah memenuhi bagasi. Pratiwi tampak puas. Sejak keluar dari toko tadi, mulutnya tak berhenti membicarakan rencana seragam keluarga yang menurutnya akan membuat suasana pernikahan Raka dan Kania semakin meriah.

Mereka kemudian mencari tempat makan untuk mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan.

Begitu duduk di meja makan, suasana yang awalnya biasa saja perlahan terasa berbeda bagi Mellisa.

Ia duduk berhadapan dengan Handoko. Sementara Pratiwi duduk di samping suaminya, sibuk membuka daftar menu dan sesekali mengajak Mellisa berdiskusi tentang makanan yang akan mereka pesan.

"Jeng Mellisa, mau makan apa? Di sini katanya ikan bakarnya enak."

"Terserah Mbak Tiwi saja. Aku ikut."

"Kalau begitu kita pesan ikan bakar sama sayur asem. Pi, kamu mau apa?"

Handoko yang sejak tadi memegang menu hanya mengangguk. "Saya ikut kalian saja."

Namun bukan menu makanan yang membuat pikirannya benar-benar sibuk. Sesekali, ketika Pratiwi sedang asyik bercerita atau memanggil pelayan, pandangan Handoko diam-diam beralih kepada Mellisa.

Tatapan itu terlalu lembut untuk sekadar tatapan seorang teman lama. Ada kerinduan yang sulit disembunyikan di sana.

Mellisa yang beberapa kali menangkap tatapan tersebut buru-buru mengalihkan pandangan. Ia pura-pura memperhatikan gelas di hadapannya, memainkan ujung sendok, atau menanggapi pembicaraan Pratiwi meskipun pikirannya sendiri terasa tidak tenang.

Ia tahu Handoko sedang menatapnya. Dan yang lebih membuatnya gugup, ia tahu persis arti tatapan itu. Tatapan yang dulu begitu sering diberikan kepadanya. Tatapan yang pernah membuatnya merasa menjadi perempuan paling istimewa di dunia.

"Jeng Mellisa."

Mellisa tersentak kecil. "Hm.."

"Kenapa melamun?" tanya Pratiwi sambil tersenyum.

"Enggak. Cuma agak capek."

"Oh, iya. Tadi muter tokonya lumayan lama."

Pratiwi kembali melanjutkan ceritanya tanpa sedikit pun menyadari kegugupan yang terjadi di seberang meja.

Sementara Handoko menunduk, berusaha menyembunyikan senyum tipis yang nyaris muncul di sudut bibirnya.

Entah kenapa, berada sedekat itu dengan Mellisa setelah sekian lama membuat perasaan yang selama ini ia tekan kembali muncul ke permukaan.

Padahal di sampingnya ada Pratiwi. Istrinya.

Perempuan yang sama sekali tidak tahu bahwa lelaki yang duduk di sebelahnya sedang berusaha menahan perasaan terhadap seseorang dari masa lalunya.

Makanan datang. Pratiwi langsung sibuk membagi lauk dan memastikan Mellisa mendapatkan bagian yang cukup.

"Jeng, ini ikannya buat Jeng aja. Jangan sedikit-sedikit makannya. Dari tadi Jeng cuma makan nasi."

"Iya, Mbak."

Handoko memperhatikan itu dalam diam. Kemudian, ketika Pratiwi sedang sibuk kan saydh #b#mbal ke piringnya sendiri, mata Handoko kembali bertemu dengan mata Mellisa.

Kali ini lebih lama. Mellisa segera menunduk.

Ada senyum kecil yang nyaris tak terlihat di wajahnya, tetapi juga ada kegelisahan yang semakin sulit ia sembunyikan.

Handoko menarik napas pelan. Ia tahu dirinya seharusnya berhenti. Namun semakin ia berusaha menjaga jarak, semakin kuat pula dorongan untuk kembali mendekati perempuan yang pernah mengisi bagian terbesar dalam hidupnya itu.

Sementara Pratiwi tetap menjadi Pratiwi yang sama—ramah, banyak bicara, dan sama sekali tidak curiga.

"Gak nyangka ya, besanku orang Sunda," katanya tiba-tiba sambil terkekeh. "Padahal kita berdua asli suku Jawa."

Mellisa tersenyum. "Iya. Moga aja cocok dan mereka bisa beradaptasi."

"Pasti cocoklah. Apalagi Kania itu anaknya supel. Raka juga enggak susah bergaul. Lagipula zaman sekarang sudah enggak zaman memikirkan suku segala."

"Iya, betul."

Pratiwi mengangguk mantap. "Nanti kalau sudah jadi keluarga, kita juga harus sering-sering ketemu. Biar enggak cuma jadi besan di acara pernikahan saja."

Mellisa tersenyum mendengar ucapan itu. "Senang juga punya besan seperti Mbak Tiwi."

"Ah, kamu ini. Kita kan sudah seperti saudara. Tapi kalau kamu lagi ada masalah, lagi galau mikirin sesuatu, kamu bisa temuin aku. Aku kan psikolog. Konsultasi buat calon besan, gratis."

Mellisa tersenyum "Wah asyik ni."

"Tenang, rahasia terjaga, Jeng. Aku seorang professional, apa yang diceritakan klien, terjaga rahasianya. Papinya aja gak pernah tahu, apa curhatan klienku."

"Wah hebat dong, sangat profesional."

Pratiwi mengangguk sambil tersenyum "harus itu."

Handoko kembali menatap Mellisa. Kali ini Pratiwi sedang sibuk bercerita kepada pelayan mengenai pesanan tambahan, sehingga tak melihatnya.

Tatapan Handoko membuat senyum Mellisa perlahan memudar. Ada masa lalu yang tiba-tiba terasa begitu dekat. Dan ada perasaan yang seharusnya sudah mati, tetapi ternyata hanya tertidur.

Mereka sama-sama tahu. Mereka sedang duduk di meja yang sama, menikmati makan siang bersama seorang perempuan yang tidak menyadari bahwa dua orang di hadapannya sedang berusaha keras menyembunyikan sebuah cerita lama.

Acara makan siang akhirnya selesai. Setelah memastikan semua pesanan sudah beres, Handoko segera mengambil dompet dan berjalan menuju kasir. Ia membayar seluruh makanan yang mereka pesan, sementara Pratiwi dan Mellisa menunggu di dekat meja.

"Sudah, ayo kita pulang!" ujar Handoko setelah kembali.

Pratiwi baru saja hendak mengambil tasnya ketika tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Oh, tunggu Pi, Mami ke toilet dulu."

Handoko yang sudah bersiap melangkah mendadak berhenti. "Ya sudah, kita tunggu aja di sini."

Pratiwi menggeleng. "Gak usah. Kalian sambil jalan aja ke parkiran. Mami sebentar."

Tanpa menunggu jawaban, Pratiwi segera berbalik menuju toilet. Dan begitu sosoknya menghilang di balik pintu, senyum Handoko perlahan mengembang.

Ada kesempatan yang tidak pernah ia rencanakan, tetapi tiba-tiba saja datang di hadapannya.

Kini hanya ada dia dan Mellisa.

Mellisa yang menyadari perubahan ekspresi Handoko langsung merasa tidak nyaman. Ia meraih tasnya dan berniat berjalan lebih dulu.

Namun suara Handoko menghentikan langkahnya.

"Mel."

Mellisa menoleh. Handoko menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Tatapan yang sejak tadi ia sembunyikan di hadapan Pratiwi kini seolah tak ingin lagi ditahannya.

Tatapan penuh kerinduan. Tatapan seorang lelaki yang merasa seakan kembali menemukan bagian dirinya yang pernah hilang.

Mellisa menelan ludah. "Kenapa, Mas?"

Handoko melangkah mendekat. "Besok aku jemput kamu di kantor, ya!"

Mellisa mengernyit. "Jemput?"

"Iya." Senyum Handoko semakin lebar. "Aku mau makan siang berdua aja sama kamu."

Jantung Mellisa berdegup lebih cepat. "Tapi, Mas..."

"Gak usah menolak, Mel."

Nada suara Handoko terdengar begitu yakin, seolah ia sudah mengetahui jawaban Mellisa bahkan sebelum perempuan itu mengatakannya.

"Aku tahu kamu juga mau lebih lama berdua-duaan sama aku, kan?"

Mellisa terdiam. Ada bagian dari dirinya yang ingin menyangkal. Ingin mengatakan bahwa semua itu sudah berlalu dan mereka tidak seharusnya kembali membuka pintu yang sudah lama tertutup.

Tetapi tatapan Handoko membuat pertahanannya goyah.

"Tapi, Mas..." Mellisa akhirnya berkata lirih. "Kasihan Mbak Tiwi."

Handoko terdiam sejenak. Kemudian ia tersenyum tipis. "Asal gak tahu aja, gak masalah, kan?"

Mellisa langsung menatapnya. "Mas..."

"Tidak ada yang tahu."

"Tapi..."

Handoko kembali mendekat sedikit. Tidak sampai menyentuhnya, tetapi cukup untuk membuat Mellisa semakin gugup.

"Mel," katanya pelan, "aku tahu kamu masih sayang sama aku."

Mellisa membeku. Kalimat itu seperti menariknya kembali ke masa lalu. Masa ketika panggilan "Mel" dari mulut lelaki itu mampu membuat hatinya berdebar hanya dalam sekejap.

Handoko menatap matanya dalam-dalam. "Aku pun sama." Mellisa menunduk. Rasa bersalah kembali menghantam dadanya.

Di dalam restoran yang sama, hanya beberapa meter dari tempat mereka berdiri, Pratiwi sedang berada di toilet—wanita yang sejak tadi begitu tulus memperlakukannya sebagai saudara.

Wanita yang bahkan tidak tahu bahwa suaminya kini sedang menghidupkan kembali perasaan lama di hadapannya.

"Mas, kita gak boleh begini." Namun suaranya terlalu lemah untuk terdengar sebagai penolakan.

Handoko hanya tersenyum. Dan kini, sejak mereka bertemu kembali, ia sama sekali tidak berusaha menyembunyikan apa yang ia rasakan.

Sementara dari kejauhan, suara langkah kaki mulai terdengar. Pratiwi mungkin akan segera kembali.

Mellisa buru-buru mengalihkan pandangan, sedangkan Handoko kembali memasang wajah tenangnya—seolah tak pernah terjadi apa-apa.

1
Oma Gavin
lanjutkan dan jgn melek mata' kalian berdua kan lagi jatuh cinta jadi masing" buta dengan kebahagiaan anak" kalian tetaplah edan jgn sadar
sutiasih kasih: sadarnya nnti aj... klo sdh di hadpkn dgn khilangan dan kehancuran keluarga....
tak ada lgi jln pulang dri petualangan nafsu yg sesat....
🙄🙄
total 1 replies
sutiasih kasih
gmn klo smpe km tau knyataannya wi.... suamimu sdh main gila dgn calon besanmu....
Jamayah Tambi
Depan isteri kau boleh buat Handoko.Kalau ketahuan macam mana.Tak ke merusak hubungn anak2 kamu nanti
Jamayah Tambi
Masalah manusia ialah otak sihat kalah dgn hati yg bercelaru
Jamayah Tambi
Menikah kerana tanggungjawab, bukan cinta kerana hati masing2 mencintai yg lain
Jamayah Tambi
Kacau ni kerana cinta lama
Jamayah Tambi
Kan dah kata salah faham.Dapat pulak ART dungu
Jamayah Tambi
ART Yg bodoh jawab call dari Mellusa mengatakan Handoka melamar kekasih hati.Dah agak dah mesti salah faham.
Jamayah Tambi
Tak salah faham ke ni
Jamayah Tambi
Mesti suami Mellisa selingkuh
Jamayah Tambi
Bahaya ni ,bila lelaki berjumpa semula dgn cinta pertama
Oma Gavin
wed .. wes .. angel musuh wong tuwo ora duwe isin yg ada seperti puber kedua 😅
Oma Gavin
drama perselingkuhan dimulai dari sekarang ngga mikir anak . mereka masing" yg akan nikah udah ketutup sama cinta pertama yg blm kelar
Oma Gavin
intinya sudah pada tua dan mau jadi besan tolong dijaga kehormatan diri masing" jgn merasa kayak abg mau clbk ingat umur
Oma Gavin
ngga bisa dibayangin kalau ada di dunia nyata bukannya mikir gimana anaknya bisa bahagia dgn pernikahan nya malah mengenang mantan sampai segitunya
Dew666
💜
Oma Gavin
berarti yg berkhianat pertama kali handoko dong jgn salahin mellisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!