Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.

Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Embun pagi masih bergayut di ujung dedaunan pohon nangka saat mentari terbit menyinari perbukitan Bandung. Di dapur rumah panggung, aroma harum bumbu kacang yang digoreng garing menyeruak hangat, berpadu dengan wangi teh melati yang baru diseduh.

​Kinanti berdiri di depan meja kayu, mengiris timun dengan telaten. Di sampingnya, Arka yang mengenakan kaus polos santai sedang sibuk menata mangkuk-mangkuk cilok. Raut wajahnya penuh kedamaian, matanya berbinar hangat setiap kali melirik sang istri. Tidak ada sedikit pun jejak dari pembantaian senyap di jurang timur malam tadi.

​"Mas Arka," panggil Kinanti tiba-tiba, menghentikan irisan pisau di atas papan pemotong.

​Arka menoleh dengan senyum polosnya yang selalu meluluhkan hati. "Iya, Sayang? Ada yang kurang bumbunya?"

​Kinanti menatap Arka agak lama. Ada kerutan halus di dahinya. "Kemarin malam... Kin sempat terbangun sebentar pas subuh. Mas Arka nggak ada di samping Kin. Terus pas Mas balik, tangan Mas baunya wangi sabun mangga banget, tapi bajunya dingin."

​KRELEK...

​Jantung Arka berdesir pelan, namun penguasaan dirinya yang sempurna tidak membiarkan raut wajahnya berubah sedikit pun. Ia terkekeh manis, melangkah mendekat lalu melingkarkan tangannya di pinggang Kinanti dari belakang, menumpukan dagunya di bahu sang istri.

​"Oh, itu... Mas ke kamar mandi belakang, Sayang. Perut Mas agak mules sedikit semalam, terus sekalian cuci tangan pakai sabun mangga kesukaan Kinanti biar segara," sahut Arka beralasan dengan suara lembut yang begitu menenangkan. "Kinanti kesepian ya pas bangun nggak ada Mas?"

​Pipi Kinanti mendadak merona merah. Ia mengelus lengan Arka yang melingkar di perutnya, rasa curiganya menguap begitu saja digantikan perasaan hangat. "Hiiih, Mas Arka nih... bikin malu aja. Kin cuma nanya tahu!"

​"Kan Mas cuma memastikan kalau istri Mas ini kangen," goda Arka seraya mengecup pipi Kinanti gemas, membuat Kinanti tertawa kecil memukul pelan lengan suaminya.

​CEKREK...

​Sementara itu, beberapa ratus meter dari permukiman desa, di dalam gubuk pengintai The White Dragon, atmosfer taktis terasa begitu intens.

​Sarah yang tampil rapi seperti biasa dengan kemeja biru navy ala pramugari dan rok span taktisnya sedang bolak-balik di depan papan strategi. Rambut sanggulnya tetap tegak sempurna meski ia sudah bekerja sepanjang malam.

​"Lingga! Lihat ini!" cerocos Sarah cerewet sambil menunjuk foto satelit yang baru diunduh di laptopnya. "Galuh memang sudah mundur dari perbatasan, tapi dia menyebarkan umpan baru! Ada tiga kelompok pemburu bayaran kelas menengah dari luar negeri yang baru saja mendarat di Jakarta dan sekarang bergerak ke arah Bandung lewat jalur darat!"

​Lingga yang sedang menyandarkan badannya di sudut ruangan sambil merapikan rambut mullet-nya hanya menguap pelan. Pria itu menyunggingkan senyum santai, lalu berjalan mendekati Sarah dari belakang dan melingkarkan tangannya di pinggang sang kekasih.

​"Aduh, Kanjeng Ratu cerewet banget pagi-pagi," goda Lingga berbisik di telinga Sarah, membuat wanita itu meloncat kaget. "Mereka cuma kroco-kroco yang pancingan Galuh, Sayang. Nggak bakal bisa menembus ring-2."

​"Lingga! Lepasin! Ini lagi mode siaga!" omel Sarah gemas seraya menepis tangan Lingga, walau mukanya memerah merona. "Kamu itu santai banget sih! Kalau salah satu dari mereka ada yang lolos sampai ke pasar desa gimana?!"

​"Nggak bakal lolos, Sayangku," balas Lingga mantap. Ia meraih jemari Sarah, mengecupnya lembut untuk meredakan ketegangan kekasihnya. "Anak-anak The White Dragon sudah memblokir semua akses masuk jalan tikus. Dan Bos Arka sudah kasih instruksi: bersihkan sebelum Nyonya Kinanti keluar rumah."

​SREK... SREK...

​Siang harinya, Arka mendorong gerobak ciloknya menyusuri jalanan gang desa. Di sampingnya, Kinanti berjalan riang sambil membawa tas belanjaan kain berisi bahan baku tambahan.

​Namun di ujung persimpangan gang, mata tajam Arka menyapu sosok pria asing berjaket tebal yang berdiri berpura-pura menanyakan arah pada warga lokal. Dari postur dan cara berdirinya, Arka tahu pria itu adalah salah satu pemburu bayaran perintis yang baru tiba.

​'Masih ada lalat yang lolos,' batin Arka dingin.

​"Kinanti," panggil Arka dengan suara amat lembut.

​"Iya, Mas?"

​"Kinanti duluan ya ke warung Bu Tejo. Mas mau mampir sebentar ke tambal ban depan, roda gerobaknya agak gembos sedikit," ujar Arka penuh senyum hangat.

​"Oh, ya udah. Kin tunggu di warung Bu Tejo ya, Mas!" sahut Kinanti polos tanpa curiga, lalu melangkah riang meninggalkan Arka.

​Begitu Kinanti berbelok di tikungan, senyum manis di wajah Arka meluruh seketika. Matanya berganti menjadi kilatan kegelapan yang mematikan. Dengan langkah senyap bagai hantu, Arka menyelinap ke gang sempit di belakang pria asing tersebut.

​CTAK!

​Hanya dalam satu ketukan jari di titik saraf belakang telinga, pria asing itu langsung roboh tanpa sempat mengeluarkan suara sedikit pun. Arka menangkap tubuh musuh dengan sigap, menyandarkannya di balik tembok tumpukan kayu bakar seolah sedang tertidur.

​SREK...

​Arka menyapu jemarinya, merapikan kausnya, lalu kembali mendorong gerobak ciloknya menuju warung Bu Tejo dengan senyum polos paling manis di dunia siap menyambut sang istri yang sedang menunggunya.

WUSSS...

​Angin siang berembus agak kencang memindahkan aroma tanah kering di persimpangan gang. Di balik tumpukan kayu bakar tempat Arka mendudukkan pemburu bayaran yang baru saja dilumpuhkannya, suasana tampak tenang seolah tak terjadi apa pun.

​CEKREK...

​Dari dahan pohon beringin tua yang tak jauh dari lokasi, Lingga melompat turun dengan gerakan amat ringan. Gaya rambut mullet-nya yang khas sedikit berantakan tertiup angin. Dengan santai, Lingga menyeret tubuh musuh yang sudah tak sadarkan diri itu ke dalam bagasi mobil van kamuflase The White Dragon yang terparkir rapi.

​"Bersih, Bos," bisik Lingga lewat radio kom internal mikro di telinganya.

​"Singkirkan sampai ke luar wilayah perbatasan. Jangan tinggalkan jejak sekecil apa pun," balas suara Arka melalui nada datar berfrekuensi khusus, sebelum sinyalnya mati total.

​Sementara itu, di dalam mobil van pengintai yang bergerak perlahan menyisir perbatasan luar desa, Sarah sibuk memeriksa monitor pemantau. Penampilannya tetap konsisten rapi berkelas kemeja biru navy ala pramugari dan rok span taktis meski ia harus mengendalikan perangkat intelijen bergerak di dalam ruangan sempit.

​"Lingga! Kenapa kamu lama banget di persimpangan tadi?!" cerocos Sarah cerewet begitu Lingga masuk dan duduk di kursi pengemudi. Jemarinya sibuk mengetik di atas papan ketik taktis. "Itu ada dua mobil sewaan yang terdeteksi masuk dari jalur Bandung Barat! Galuh benar-benar sengaja memakai umpan bertahap buat menguras fokus kita!"

​Lingga terkekeh santai. Pria itu mengacak pelan rambut mullet-nya, lalu menjangkau tangan Sarah dan menggenggamnya hangat di atas meja kontrol.

​"Sayangku yang cantik... kamu ini kalau lagi panik makin cerewet ya," goda Lingga seraya menyunggingkan senyum menggodanya. "Umpan atau bukan, Bos Arka sudah perintahkan ring-2 untuk sapu bersih. Kamu tinggal koordinasikan titik interseptnya, biar aku sama tim lapangan yang eksekusi."

​Sarah mendelik gemas, menepis pelan tangan Lingga walau raut wajahnya yang tegang perlahan luluh. "Bukan begitu, Lingga! Aku cuma nggak mau ada satu pun pemburu bayaran yang sempat melihat muka Nyonya Kinanti! Galuh itu sangat licik, dia sengaja bikin kita sibuk di luar supaya punya celah memotret target!"

​"Nggak akan ada yang bisa ambil foto atau mendekat, Sarah. Percaya sama aku dan Bos Arka," jawab Lingga tegas namun lembut, menyenggol bahu kekasihnya dengan tatapan penuh kepastian.

​SREK... SREK...

​Di depan warung Bu Tejo, Arka sudah kembali berdiri santai di samping gerobak ciloknya. Raut wajahnya penuh ketenangan hangat. Saat Kinanti keluar sambil membawa kantong belanjaan berisi bumbu dapur tambahan, Arka menyambutnya dengan uluran tangan sigap untuk membawakan tas tersebut.

​"Udah selesai belanjanya, Sayang?" tanya Arka manis, mengumbar senyum polos yang meluluhkan hati.

​Kinanti tersenyum lebar, menyerahkan kantong belanjaannya pada sang suami. "Udah, Mas! Eh, roda gerobaknya tadi kenapa? Masih bisa jalan?"

​"Cuma kurang angin sedikit kok, udah Mas pompa tadi," sahut Arka berbohong secara sempurna tanpa ada sedikit pun jeda atau kebingungan di matanya. "Yuk, kita lanjut jalan jualan lagi. Nanti kalau bumbunya habis awal, kita bisa pulang lebih cepat buat santai di rumah."

​"Asyik! Yuk, Mas!" jawab Kinanti gembira, menyusupkan jemarinya ke sela-sela jemari Arka dan menggenggamnya erat.

​Saat mereka berdua berjalan menyusuri jalanan desa yang hangat dan tenang, jauh di perbukitan luar, Galuh berdiri tegap di atas tebing batu sambil meneropong dari kejauhan. Pria berpostur tegap dan rapi itu menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin seraya menyesap rokoknya secara santai.

​"Sungguh benteng yang luar biasa, Arka..." gumam Galuh pelan, menghembuskan asap rokoknya ke udara malam yang mulai mendekat. "Kamu membantai semua orang di balik bayangan hanya demi menjaga senyuman wanita itu. Tapi mari kita lihat... seberapa lama kamu bisa menyembunyikan wujud aslimu ketika ancaman yang datang bukan lagi pemburu amatir."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!