Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Alya menyandarkan tubuhnya di dinding kamar yang dingin.
Di atas kasur busa yang sederhana, Alisya tertidur sangat lelap dengan memeluk erat boneka kelinci lusuh kesayangannya.
Layar ponsel memancarkan sinar. Sebuah pesan singkat dari Leon, tangan kanannya di organisasi bawah tanah, baru saja masuk.
[Madam, kami sudah menghancurkan bisnisnya.]
Alya menatap pesan itu tanpa ekspresi berlebihan. Jarinya mengetik di layar ponselnya untuk membalas pesan tersebut.
"Bagus sekali, terima kasih atas kerja keras kalian semua," kata Alya dalam ketikan balasan pesan tersebut.
Hanya dalam hitungan detik, balasan berikutnya langsung muncul di layar.
[Madam, kapan Anda kembali? Kami semua menunggu kepulangan Anda.]
Alya menghentikan jemarinya sejenak. Matanya beralih menatap wajah polos Alisya yang bernapas teratur.
Bayangan ketakutan dan air mata Alisya saat diabaikan oleh Andi tadi siang kembali berputar di ingatannya.
Alya menghela napas panjang, mengusap layar ponselnya dengan lembut.
"Saat ini belum lagi, ada putri kecilku yang polos yang harus kujaga. Dia masih terlalu dini untuk mengetahui dunia hitam," kata Alya lagi melalui pesan singkatnya.
Di ujung saluran sana, Leon sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya mengirimkan balasan penuh penghormatan.
[Baiklah Madam, jika itu keputusan Anda. Kami akan selalu menjaga Anda dan Putri Kecil dari jauh.]
Alya mematikan layar ponsel itu dan menyimpannya kembali ke dalam kotak rahasia di balik lemari.
...*****...
Pagi yang cerah mendadak mencekam ketika suara decitan rem mobil terdengar sangat keras di gang sempit tempat Alya tinggal.
Sebuah mobil sedan tua yang penyok di beberapa bagian berhenti paksa di depan pintu kontrakan Alya.
Pintu mobil terbuka kasar. Andi keluar dari mobil dengan penampilan yang sangat berantakan.
Kemeja mewahnya kini kusut, rambutnya acak-acakan, dan matanya merah menyala akibat kurang tidur berhari-hari.
Gedor! Gedor! Gedor!
"Alya! Keluar kamu, Alya!" teriak Andi histeris sambil menggedor pintu kayu kontrakan Alya tanpa aturan. "Alya! Keluar!"
Pintu terbuka perlahan. Alya berdiri di ambang pintu dengan pakaian sederhananya.
Wajahnya sangat tenang, berbanding balik dengan Andi yang tampak seperti orang gila.
Alya berdiri di ambang pintu rumah kontrakannya.
"Ada apa, Andi?" tanya Alya datar. Suaranya terdengar dingin.
"Aku ke sini datang untuk menagih utangmu!" kata Andi dengan suara sedikit keras.
"Utang? Utang apa?" tanya Alya tak mengerti, alisnya terangkat tipis.
"Utang selama aku memberimu makan! Semua keperluanmu menjadi istriku! Aku ingin kau mengembalikan semuanya!" kata Andi dengan suara meninggi, tidak peduli beberapa tetangga mulai melongok dari balik jendela mereka.
Alya menyipitkan mata, sebuah kekehan hampa hampir terlepas dari bibirnya. "Ha? Mengembalikan semuanya? Apa maksudmu?" tanya Alya.
"Ya, apa kau pikir selama kita menikah aku tidak menghitung semuanya? Makananmu, pakaianmu, tempat tinggalmu, kau pikir semua itu gratis?! Aku membutuhkan uang saat ini, dan kau harus membayar semua apa yang telah aku berikan padamu, termasuk uang kau melahirkan dan membesarkan Alisya!" kata Andi, melontarkan kata-kata penuh keputusasaan itu tanpa rasa malu sedikit pun.
Alya mematung. Untuk sepersekian detik, ia tidak percaya ada manusia yang sanggup merendahkan dirinya sendiri hingga sejauh ini.
Rasa terkejut itu dengan cepat mencair, berganti menjadi muak yang teramat sangat.
"Uang melahirkan?" bisik Alya. Suaranya tidak keras, tetapi begitu pekat akan bahaya. "Kau menagih biaya melahirkan anakmu sendiri, Andi?"