Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Viie27

Sinopsis

Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.

Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.

Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.

Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.

Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.

Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 31

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Bab 31 — Gadis yang Mirip Clara

Mata gadis di dalam kapsul itu terbuka sepenuhnya.

Clara tidak bergerak.

Untuk beberapa detik, ia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas.

Tatapan gadis itu begitu tenang.

Namun ada sesuatu yang aneh.

Mata itu…

sangat mirip dengannya.

Bentuk wajahnya.

Garis rahangnya.

Bahkan tatapan tajam yang kini diarahkan kepadanya.

Semuanya membuat Clara merasa sedang melihat dirinya sendiri di sebuah cermin.

“Tidak mungkin…”

Suara Clara bergetar.

Fedro berdiri di sampingnya.

“Clara, jangan mendekat.”

Clara tidak mendengarnya.

Ia justru melangkah maju.

Satu langkah.

Kemudian satu langkah lagi.

“Siapa dia?”

Tidak ada yang menjawab.

Clara menoleh kepada Adrian.

“Ayah.”

Adrian menatapnya.

“Jawab aku.”

Adrian menghela napas panjang.

“Dia adalah bagian dari alasan kenapa kau ada di dunia ini.”

Clara mengerutkan kening.

“Bukan itu yang kutanyakan.”

Ia menunjuk kapsul.

“Siapa dia?”

Adrian diam.

Amara akhirnya berbicara.

“Namanya…”

Suaranya tertahan.

“Celia.”

Clara membeku.

“Celia?”

Amara mengangguk.

“Celia Evellyn.”

Clara menatap gadis di dalam kapsul.

“Dia keluarga kita?”

Amara tidak langsung menjawab.

Rafael menatap Amara.

“Jangan sembunyikan lagi.”

Amara memejamkan mata.

“Ya.”

Clara semakin mendekat.

“Siapa dia bagiku?”

Amara membuka matanya.

“Adikmu.”

Clara terdiam.

“Apa?”

“Celia adalah adik kandungmu.”

Suasana menjadi sunyi.

Clara menatap kapsul itu tanpa berkedip.

“Tidak.”

Amara mengangguk perlahan.

“Dia lahir sebelum Aria.”

Clara mundur satu langkah.

“Tapi selama ini aku tidak pernah tahu ada Celia.”

“Karena dia tidak pernah tercatat sebagai bagian dari keluarga.”

“Kenapa?”

Amara menunduk.

“Karena sejak lahir dia sudah menjadi bagian dari E-17.”

Clara menatap Adrian.

“Dan Ayah membiarkan itu?”

Adrian terdiam.

“Jawab!”

“Aku tidak membiarkannya.”

Nada suara Adrian terdengar berat.

“Aku berusaha menghentikan mereka.”

“Siapa?”

“Orang-orang yang menjalankan proyek itu.”

Clara mengepalkan tangan.

“Siapa mereka?”

Adrian belum sempat menjawab ketika suara mesin terdengar.

BIP.

BIP.

BIP.

Lampu di sekitar kapsul menyala.

Kemudian terdengar suara otomatis.

“Subjek C-02 mengalami peningkatan kesadaran.”

Raka langsung menatap komputer.

“Ini bukan sistem lama.”

Clara menoleh.

“Maksudmu?”

“Sistemnya masih aktif.”

Raka mengetik cepat.

“Dan seseorang baru saja mengaktifkannya dari luar.”

Fedro mengerutkan kening.

“Dari luar ruangan?”

Raka mengangguk.

“Bukan hanya itu.”

Ia menunjukkan layar.

“Ada koneksi jarak jauh.”

Adrian langsung berubah serius.

“Mereka menemukan kita.”

“Siapa?” tanya Rafael.

Adrian tidak menjawab.

Tiba-tiba—

DUK!

Suara benturan terdengar dari lantai atas.

Semua menoleh.

Raka segera mematikan layar.

“Berapa orang?” tanya Fedro.

“Belum tahu.”

Rafael menatap tangga.

“Kalau mereka sudah masuk rumah…”

Adrian memotong.

“Bukan mereka yang harus kalian takutkan.”

Clara menatapnya.

“Lalu siapa?”

Adrian menunjuk kapsul.

“Dia.”

Clara menoleh.

“Apa?”

“Kalau sistem gagal mengendalikan kesadarannya, Celia bisa menjadi sangat berbahaya.”

Amara langsung menatap Adrian.

“Jangan.”

“Amara, kau tahu aku benar.”

“Aku tidak mau Clara mendengarnya.”

Clara menatap ibunya.

“Aku berhak tahu.”

Amara terdiam.

Adrian melanjutkan.

“Celia bukan seperti kalian.”

“Lalu seperti apa?”

“Dia adalah subjek pertama yang berhasil dikembangkan E-17.”

Clara mengerutkan kening.

“Dikembangkan?”

“E-17 mencoba menciptakan manusia dengan kemampuan fisik dan mental yang jauh melampaui manusia biasa.”

Clara terdiam.

Raka menatap layar.

“Jadi selama ini…”

“Ya,” jawab Adrian.

“E-17 bukan penelitian biasa.”

Fedro mengepalkan tangannya.

“Dan aku?”

Adrian menatap Fedro.

“Kau berbeda.”

“Kenapa?”

“Karena kau bukan diciptakan.”

Adrian berhenti.

“Kau dipilih.”

Fedro terdiam.

“Dipilih untuk apa?”

“Menjadi pasangan C-01.”

Clara langsung menatapnya.

“C-01 adalah aku.”

Adrian mengangguk.

“Ya.”

“Dan F-09 adalah Fedro.”

“Benar.”

Clara menatap suaminya.

“Jadi sejak awal…”

Ia menarik napas.

“Pertemuan kita sudah direncanakan?”

Adrian tidak menyangkal.

“Secara tidak langsung.”

Clara merasa dadanya sesak.

“Tidak.”

Fedro menatap Clara.

“Clara…”

“Aku tidak mau.”

Clara menggeleng.

“Aku tidak mau percaya bahwa semua yang terjadi dalam hidupku sudah diatur seseorang.”

Fedro mendekat.

“Tidak semua.”

Clara menatapnya.

“Apa maksudmu?”

Fedro menggenggam tangannya.

“Mungkin mereka bisa mempertemukan kita.”

“Tapi mereka tidak bisa memaksa kita saling mencintai.”

Clara terdiam.

Fedro menatapnya.

“Perasaanku kepadamu adalah milikku.”

Clara menatap mata Fedro.

Untuk sesaat, seluruh suara di ruangan itu seperti menghilang.

Namun tiba-tiba—

KRAK!

Kapsul kaca bergetar.

Clara langsung menoleh.

Celia membuka matanya lebih lebar.

Kemudian tangannya bergerak.

Amara menahan napas.

“Tidak…”

Celia perlahan menekan telapak tangannya ke kaca.

BIP!

Sistem berbunyi keras.

“Kesadaran subjek meningkat.”

Raka berlari menuju panel kontrol.

“Aku harus menghentikan sistem.”

“Bisa?”

“Tidak tahu.”

Raka mengetik beberapa kode.

Layar berubah merah.

“AKSES DITOLAK.”

Raka mengumpat pelan.

“Siapa yang mengunci sistem?”

Adrian menjawab,

“Penciptanya.”

Rafael menatapnya.

“Dia masih hidup?”

Adrian mengangguk.

“Ya.”

Clara langsung bertanya,

“Siapa?”

Adrian belum menjawab.

Tiba-tiba suara dari speaker terdengar.

Suara pria yang sama seperti sebelumnya.

“Adrian.”

Semua membeku.

Adrian menatap speaker.

“Kau.”

Suara itu tertawa kecil.

“Aku sudah menunggu terlalu lama.”

Clara menatap ke sekeliling.

“Siapa dia?”

Adrian tidak menjawab.

Suara itu kembali terdengar.

“Clara…”

Clara menegang.

“Ya?”

“Apakah kau ingin mengetahui siapa sebenarnya dirimu?”

Clara tidak menjawab.

“Kalau begitu lihatlah adikmu.”

Celia tiba-tiba membuka mulut.

Suara kecil keluar.

“Kak…”

Clara membeku.

Itu adalah suara seorang gadis.

Pelan.

Lemah.

Namun jelas.

Clara mendekati kapsul.

“Celia?”

Gadis itu menatapnya.

“Kak Clara…”

Air mata Clara langsung mengalir.

“Kau mengenalku?”

Celia mengangguk.

“Sejak dulu.”

Clara menempelkan tangannya pada kaca.

“Apa yang terjadi padamu?”

Celia menatap ke arah Adrian.

Kemudian kembali kepada Clara.

“Mereka menyakitiku.”

Adrian menunduk.

Amara menangis.

“Maafkan Mami…”

Celia menatap Amara.

“Mami tidak salah.”

Amara menangis semakin keras.

“Seharusnya Mami membawamu pergi.”

“Mami mencoba.”

Celia tersenyum tipis.

“Tapi Mami gagal.”

Clara menoleh kepada Amara.

“Mami mencoba menyelamatkannya?”

Amara mengangguk.

“Berkali-kali.”

“Kenapa aku tidak pernah tahu?”

“Karena setelah kejadian itu, ingatanmu dihapus.”

Clara menatap Celia.

“Berapa lama kau berada di sana?”

Celia tidak menjawab.

Adrian yang menjawab.

“Empat belas tahun.”

Clara membeku.

“Empat belas tahun?”

“Dia tidak pernah meninggalkan kapsul itu.”

Clara mengepalkan tangan.

“Kenapa?”

Adrian menatapnya.

“Karena tubuhnya tidak bisa bertahan di luar.”

Celia tersenyum kecil.

“Sekarang aku bisa.”

Raka langsung menatap monitor.

“Tidak!”

Clara terkejut.

“Apa?”

“Detak jantungnya meningkat.”

Lampu kapsul berkedip.

Celia menatap Clara.

“Kak…”

“Ya?”

“Buka.”

Clara menatap Adrian.

“Bisa?”

Adrian menggeleng.

“Tidak aman.”

“Dia meminta kita membukanya.”

“Clara, dengarkan aku.”

Adrian mendekat.

“Kalau kapsul dibuka tanpa persiapan, dia bisa kehilangan kesadaran.”

Celia tiba-tiba berteriak.

“BUKA!”

Semua tersentak.

Kapsul bergetar semakin keras.

Raka berteriak,

“Sistem akan gagal!”

Fedro langsung menarik Clara mundur.

“Clara, mundur!”

Namun Clara tidak mau.

“Tidak!”

Ia menatap Celia.

“Dia adikku.”

Fedro menatapnya.

“Kita akan menyelamatkannya.”

Clara mengangguk.

Raka berusaha membuka sistem secara manual.

Tiba-tiba pintu di belakang mereka dihantam.

BRAK!

Semua menoleh.

Pintu hampir terbuka.

Raka berteriak,

“Mereka sudah sampai!”

Rafael mengambil posisi di depan.

“Bawa Clara dan Celia keluar.”

Adrian menggeleng.

“Tidak ada jalan keluar.”

“Kenapa?”

“Karena ruangan ini hanya punya satu pintu.”

BRAK!

Pintu kembali dihantam.

Clara menatap Fedro.

“Kalau mereka masuk?”

Fedro berdiri di sampingnya.

“Kita hadapi bersama.”

Clara mengangguk.

Kemudian suara Celia terdengar.

“Kak…”

Clara menoleh.

“Ya?”

“Jangan lawan mereka.”

“Kenapa?”

Celia menatap layar kecil di samping kapsul.

“Mereka tidak datang untuk membunuh kita.”

Clara mengerutkan kening.

“Lalu?”

Celia menatapnya.

“Mereka datang untuk mengambilku.”

Pintu akhirnya terbuka.

Beberapa pria berpakaian hitam muncul.

Raka bersiap.

Namun sebelum terjadi apa pun, suara dari speaker kembali terdengar.

“Jangan sentuh mereka.”

Semua berhenti.

Seorang pria di depan mereka menurunkan tangannya.

Clara menatapnya.

“Siapa kalian?”

Tidak ada jawaban.

Kemudian pria itu berkata,

“Kami datang membawa pesan.”

“Dari siapa?”

“Dari orang yang menciptakan E-17.”

Clara menatap Adrian.

“Ayah…”

Adrian terlihat sangat serius.

Pria itu mengeluarkan sebuah kartu.

Ia meletakkannya di lantai.

“Pesannya sederhana.”

Clara mengambil kartu tersebut.

Di sana tertulis:

DATANG KE TEMPAT AWAL.

SENDIRIAN.

BAWA C-01 DAN F-09.

Di bagian bawah terdapat satu nama.

Clara membaca nama itu perlahan.

“Dr. Vincent…”

Adrian langsung membeku.

Rafael menatapnya.

“Dia masih hidup?”

Adrian tidak menjawab.

Namun ekspresinya sudah cukup menjadi jawaban.

Clara menatap Adrian.

“Siapa Vincent?”

Adrian menarik napas panjang.

“Orang yang membangun E-17.”

Clara menatap kartu tersebut.

“Dan dia ingin aku datang?”

“Ya.”

“Kenapa?”

Adrian menatap Celia.

“Karena dia membutuhkanmu.”

Clara mengerutkan kening.

“Untuk apa?”

Adrian tidak langsung menjawab.

Kemudian terdengar suara dari kapsul.

Celia berbisik,

“Untuk membangunkan C-03.”

Clara membeku.

“C-03?”

Celia mengangguk.

“Dia masih tidur.”

Fedro menatap layar.

“Berapa banyak subjek?”

Celia menatapnya.

“Bukan tiga.”

Semua terdiam.

Celia melanjutkan dengan suara pelan.

“Ada tujuh belas.”

Clara merasa seluruh tubuhnya dingin.

“Tujuh belas?”

Celia mengangguk.

“Dan kalian…”

Tatapannya berpindah kepada Clara dan Fedro.

“…adalah dua subjek terakhir yang belum menyadari kemampuan kalian.”

Fedro menegang.

“Kemampuan?”

Celia tersenyum tipis.

“Suatu hari nanti kalian akan mengingatnya.”

Tiba-tiba seluruh ruangan bergetar.

Lampu padam.

Kemudian satu per satu kapsul lain yang tersembunyi di balik dinding mulai menyala.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Clara menatap sekeliling dengan mata membesar.

Di balik kaca-kaca gelap itu…

terdapat sosok-sosok lain.

Manusia.

Anak-anak.

Remaja.

Dan orang dewasa.

Semuanya berada dalam kapsul.

Raka berbisik,

“Ya Tuhan…”

Rafael menatap Adrian.

“Berapa lama kau menyimpan tempat ini?”

Adrian menjawab dengan suara berat.

“Aku tidak menyimpannya.”

“Lalu?”

“Aku juga baru mengetahui bahwa tempat ini masih aktif.”

Clara menatap puluhan kapsul tersebut.

Kemudian layar utama menyala.

Satu tulisan muncul:

E-17 — GENERASI KEDUA

Di bawahnya:

SUBJEK C-01 — CLARA

SUBJEK C-02 — CELIA

SUBJEK F-09 — FEDRO

Kemudian muncul satu baris terakhir.

SUBJEK C-03 — ALENA.

Clara membeku.

“Alena?”

Celia menatap Clara.

“Dia bukan korban.”

Clara menatapnya.

“Maksudmu?”

Celia tersenyum sedih.

“Alena adalah kunci.”

Sebelum Clara sempat bertanya lebih jauh, layar berubah.

Sebuah pesan muncul.

ALENA AKAN BANGUN DALAM 60 MENIT.

Clara menahan napas.

Kemudian hitungan mundur dimulai.

59:59

59:58

Fedro menatap Clara.

“Kita harus menemukan Alena.”

Clara mengangguk.

Namun sebelum mereka bergerak, suara Dr. Vincent terdengar dari speaker.

“Selamat datang kembali, C-01.”

Clara menatap layar.

Suara itu melanjutkan.

“Sekarang kau akhirnya tahu…”

“Bahwa kau tidak pernah menjadi gadis biasa.”

Clara menggenggam tangan Fedro.

Tatapannya berubah tegas.

“Kalau begitu…”

Ia menatap seluruh ruangan.

“Sekarang aku akan mencari tahu siapa sebenarnya aku.”

Dan untuk pertama kalinya sejak semua rahasia itu terbuka…

Clara tidak lagi merasa takut.

Ia siap menghadapi E-17.

Namun satu pertanyaan masih menghantui pikirannya.

Mengapa Dr. Vincent membutuhkan Clara dan Fedro untuk membangunkan Alena?

Dan yang lebih mengerikan…

apa yang akan terjadi ketika Alena terbangun?

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!