Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Dimas mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Ada dorongan besar dalam dirinya untuk membantah. Untuk mengatakan bahwa Tira tidak boleh pergi setelah delapan tahun. Untuk meminta perempuan itu membatalkan akad, bahkan kalau perlu memohon kepada orang tuanya. Tetapi di ujung ruangan, ayah Tira berdiri dengan wajah tenang. Tidak mengatakan apa-apa, tetapi jelas tidak akan membiarkan putrinya diganggu. Dimas tahu kalau ia memaksa, tidak akan ada lagi percakapan baik-baik. “Kamu benar-benar yakin?” tanyanya akhirnya.
Tira mengangguk. “Yakin.”
“Kamu mencintai dia?”
Pertanyaan itu membuat Tira diam sebentar. “Aku sedang belajar.”
Dimas tertawa pendek, pahit. “Jadi kamu menikah dengan orang yang belum kamu cintai?”
“Setidaknya dia datang ketika aku membutuhkan kepastian.”
Dimas terdiam. Ia ingin marah, tetapi tidak punya alasan. Tira tidak sedang memilih lelaki lain untuk menyakitinya. Ia hanya memilih seseorang yang berani memberikan apa yang selama ini dimintanya. “Kalau begitu...” Dimas menarik napas. “Aku pergi.” Ia berbalik. Baru dua langkah, ia berhenti dan menoleh sekali lagi. “Aku benar-benar mencintaimu, Tir.”
Tira tidak menjawab. Bukan karena tidak mendengar. Justru karena ia mendengar dengan sangat jelas. Dimas akhirnya berjalan keluar. Ayah Tira ikut berdiri di dekat pintu sampai lelaki itu benar-benar pergi dari halaman. Setelah suara mobil Dimas menghilang, rumah kembali sunyi.
Ayahnya menutup pintu, kemudian menatap Tira. “Kamu yakin?”
Tira mengangguk. “Yakin, Yah.”
“Tidak ada sedikit pun keinginan untuk mengejarnya?”
Tira menggeleng. “Tidak.”
Ayahnya duduk, lalu menunjuk kursi di sebelahnya. Tira ikut duduk. “Ayah cuma takut kamu sedang mengambil keputusan karena marah."
“Bukan karena marah, Yah.” Tira menggeleng lagi. “Tira sudah capek.” Ia menatap kedua tangannya sendiri. “Delapan tahun itu lama, Yah. Kalau hubungan ini memang punya tujuan, seharusnya dari dulu kami sudah membicarakannya dengan serius.”
“Lalu sekarang?”
“Sekarang Tira sudah tahu jawabannya.” Tira tersenyum kecil. “Aku terlalu bodoh kalau masih bertahan di sisi Dimas hanya karena sudah delapan tahun bersamanya.”
“Hubungan tanpa tujuan itu mungkin bisa dijalani kalau dua-duanya memang nyaman. Tapi kalau salah satunya ingin kepastian, sementara yang satu terus meminta waktu, yang sakit cuma orang yang menunggu.” Suaranya mulai bergetar. “Aku sudah jadi orang itu terlalu lama.”
Ayahnya memandang putrinya dengan mata yang teduh. “Kamu tidak bodoh karena pernah bertahan.”
“Tapi aku bodoh kalau terus bertahan setelah tahu kenyataannya.” Tira menarik napas. “Aku tidak tahu apakah aku akan mencintai Fahri seperti aku mencintai Dimas. Aku nggak bisa janji soal itu. Tapi aku tahu satu hal. Aku mau mencoba. Dengan sungguh-sungguh.” Ia menatap ayahnya. “Aku nggak mau menikah sambil masih berharap Dimas kembali. Aku juga nggak mau menjadikan Fahri korban dari masa lalu aku.”
"Ayah harap kamu dan Fahri bahagia, Tir." ada begitu besar harapan tersirat dari kata-kata yang barusan ayahnya ucapkan.
"InshaAllah Yah, ayah doakan saja ya. Tira sangat yakin, Fahri bisa membuat Tira bahagia. Meski belum bisa mencintainya, Tira optimis padanya. Entah kenapa, interaksi kami membuat Tira penuh harapan."
Ayahnya tersenyum. “Kalau begitu, jangan bawa masa lalu itu ke rumahmu nanti ya, Nak.”
Tira mengangguk. “Iya, Yah.” Ia berdiri dan kembali ke kamarnya. Di depan pintu, langkahnya sempat berhenti. Ada sedikit rasa sakit yang tertinggal. Bagaimanapun juga, Dimas pernah menjadi bagian terbesar dalam hidupnya. Tetapi Tira tidak lagi ingin mempertanyakan apakah keputusan ini benar atau salah. Ia sudah memilih. Dan kali ini, ia ingin menghormati pilihannya sendiri. Dua hari lagi, seorang lelaki akan mengucapkan akad untuknya. Lelaki itu bukan Dimas. Anehnya, untuk pertama kalinya Tira tidak merasa perlu meminta maaf kepada masa lalu karena memilih masa depan.
***
Hari itu, pakaian pengantin Tira akhirnya tiba di rumah. Sebuah kotak besar dibawa masuk ke kamar, dibungkus rapi dengan kain pelindung agar tidak kusut.
Sejak pagi, Tira sudah tahu bahwa hari ini adalah fitting terakhir untuk baju resepsi, sementara baju akad sudah lebih dulu jadinya. Setelah ini, tidak ada lagi alasan untuk mengatakan bahwa pernikahan itu masih jauh.
Sebulan yang lalu, ia masih hanya melihat rancangan pakaian itu di layar ponselnya. Kini, pakaian tersebut benar-benar ada di hadapannya. Pakaian pengantin adat Minang yang ia pilih sendiri untuk resepsi. Kain dengan warna yang elegan, sulaman yang rumit, dan perlengkapan kepala yang kelak akan membuatnya tampak seperti seorang perempuan yang benar-benar telah memasuki kehidupan baru.
Tira berdiri di depan cermin setelah mengenakannya. Tangannya perlahan menyentuh bagian kain di dadanya. Ia terdiam. Tidak ada senyum seperti yang seharusnya dimiliki seorang calon pengantin. Tidak ada kegembiraan yang meledak-ledak. Hanya sepasang mata yang perlahan dipenuhi air.
“Cantik sekali, Nak,” kata ibunya dari belakang.
Tira tidak menjawab. Ia terus menatap bayangannya sendiri. Perempuan di cermin itu adalah dirinya, tetapi entah mengapa terasa seperti orang lain. Dua puluh enam tahun. Sebentar lagi menikah. Sebentar lagi menjadi istri Fahri. Sebentar lagi ia akan dipanggil istri orang, bukan lagi perempuan yang selama delapan tahun menunggu seseorang menepati janji.
Air mata pertama jatuh. Tira segera mengusapnya, takut mengenai riasan percobaan yang sudah dipasang. Namun semakin ia berusaha menahannya, semakin air matanya mengalir.
“Kenapa menangis?” tanya ibunya pelan.
Tira tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Bun.”
“Takut?”
Tira menggeleng. “Bukan.” Ia kembali menatap cermin. “Aku cuma baru sadar... sebentar lagi aku benar-benar jadi istri orang.”
Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa sesak. Selama ini ia tahu dirinya akan menikah. Ia tahu tanggalnya. Ia tahu siapa laki-laki yang akan menjadi suaminya. Ia tahu gedung resepsinya sudah dipesan. Ia bahkan sudah memilih pakaian pengantin ini. Tetapi hari ini, ketika kain itu melekat di tubuhnya, semuanya terasa nyata. Pernikahan itu bukan lagi rencana. Bukan lagi ancaman kepada Dimas. Bukan lagi cara untuk memaksa laki-laki yang telah delapan tahun bersamanya memberikan kepastian. Pernikahan itu benar-benar akan terjadi.
Dalam beberapa jam, ia akan duduk di samping Fahri sebagai seorang istri. Ia akan mengucapkan akad. Ia akan menerima tangan laki-laki lain. Dan setelah itu, hidupnya akan berubah untuk selamanya.
Tira memejamkan mata. Dalam gelap, wajah Dimas justru muncul. Wajah laki-laki yang telah mengisi sebagian besar masa mudanya. Wajah yang dahulu membuatnya malu-malu ketika pertama kali menerima cinta. Wajah yang menemaninya melewati masa kuliah. Wajah yang selama bertahun-tahun selalu ia yakini akan menjadi wajah suaminya. Delapan tahun. Bukan delapan hari. Bukan delapan bulan. Delapan tahun. “Aku pernah menunggu kamu sampai selama ini, Dim,” bisiknya hampir tak terdengar. “Kenapa baru sekarang aku merasa takut meninggalkan semuanya?”