Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Dianggap Pencuri Pula

"Ambil saja," jawab Sion dingin.

Sean dan Shia langsung berlari dengan penuh semangat. Biarlah Papahnya menjadi sok kaya, ‘kan masih ada Kakek Buyut yang mengikuti dan memperhatikan mereka di sana. Kesempatan langka membeli banyak mainan, jangan sampai di sia-siakan begitu saja.

"Yang ini!"

"Yang itu!"

"Sean mau robot!"

"Shia mau boneka!"

"Dan yang itu!"

"Dan yang itu juga!"

Para pegawai toko hanya bisa tersenyum kaku sambil mengikuti kedua anak kecil tersebut. Sementara Sion? Dia berdiri diam. Tangannya perlahan masuk ke saku celana. Tatapannya menyapu seluruh toko. Beberapa pegawai yang mengenalnya langsung menegakkan tubuh.

Mereka tahu siapa pria itu, Cassion Zayn Maximillian. Putra pewaris keluarga Maximillian. Pria yang namanya bahkan cukup untuk membuat banyak orang memilih menundukkan kepala.

Namun hari ini, pria tersebut justru sedang berdiri di sebuah toko mainan karena dua anak kecil yang baru ditemuinya beberapa jam lalu. Dan yang lebih ironis... Kedua anak itu bahkan masih menganggapnya gelandangan.

Raina menghampiri Sion. "Sepertinya mereka cukup menyukai mainan."

"Mm."

"Sepertinya juga mereka akan membuatmu bangkrut."

Sion menoleh, tatapannya dingin. "Aku pemilik mall ini. Apa kau lupa itu?"

Raina menggigit bibir. "Benar juga."

“Mereka sangat mirip denganmu.” Kata Sion tiba-tiba, “… sangat suka menghabiskan uangku.”

Mendengar itu, Raina bersiap melayangkan protes. Namun, Kakek Edwin yang mendengar percakapan itu tertawa kecil dan berkata, "Biarkan saja. Lagipula, kita masih punya waktu sebelum pergi ke mansion. Raina, jika kau membutuhkan sesuatu ambil saja sesukamu."

“Tidak perlu, Kek! Aku takut menghabiskan uangnya. Dia ‘kan sangat perhitungan dengan uang receh,” tolak Raina sembari menyindir keras ucapan Sion sebelumnya.

Kakek Edwin tidak berpendapat lagi dan membiarkan keduanya saling berdebat, hingga akhirnya Sion lebih dulu memilih diam. Kakek Edwin memang sengaja meminta Sion membawa Raina dan kedua cucunya mampir ke mall terlebih dahulu. Karena para pelayan di mansion utama kediaman Maximillian membutuhkan waktu untuk mempersiapkan dua kamar baru untuk Sean dan Shia.

Sion dan Kakek Edwin tidak ingin kedua anak itu datang dan melihat kamar kosong. Maka, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mansion utama yang biasanya terasa seperti benteng dingin sedang dibuat lebih hidup. Kamar anak laki-laki dan kamar anak perempuan. Mainan, pakaian, tempat tidur, buku-buku dan bahkan sebuah ruang bermain sedang dipersiapkan.

Sementara itu, di mall, Sean dan Shia masih belum selesai. Setelah hampir satu jam, beberapa pengawal akhirnya dipanggil untuk membawa begitu banyak kantong belanja hingga mereka sendiri kesulitan berjalan.

Sion memandang semuanya. "Sudah?"

Sean menggeleng. "Belum."

Shia ikut menggeleng. "Masih ada satu."

Sion menghela napas pelan. "Ambil."

Beberapa menit kemudian, Sean dan Shia akhirnya memilih mainan terakhir. Sion mengambil beberapa kotak mainan dari tangan pegawai. Tanpa berkata apa-apa, dia berjalan begitu saja melewati kasir. Sean dan Shia saling pandang, kemudian mengikuti Sion.

Namun, baru beberapa langkah... "Papah!"

Sion berhenti, perlahan ia menoleh. Tatapannya jatuh kepada kedua anak kembarnya yang menatapnya dengan raut wajah yang sulit diartikan oleh Sion sebagai pria yang tiba-tiba saja menjadi seorang ayah.

Sean berlari kecil mendekat. "Papah mau ke mana?"

Sion terdiam sesaat. "Tentu saja pulang. Kalian sudah selesai, bukan?"

Sean menunjuk barang-barang di tangan Sion. "Oh, itu…."

Shia ikut mendekat. Keduanya kemudian saling berbisik. Dari raut wajah keduanya, sepertinya itu adalah pembicaraan yang begitu serius. Disaat Sion sedang kebingungan, Raina dan Kakek Edwin sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Kek, lihatlah! Sebentar lagi akan ada drama yang sangat menarik,” bisik Raina.

Dan benar saja, Sion mengangkat sebelah alis. "Ada apa?"

Sean memandang Sion dengan wajah sangat serius. "Papah..."

"Ya?"

"Kalau Papah tidak punya uang..." Sion diam, menunggu kalimat selanjutnya yang akan putranya katakan. "...jangan mencuri, ya."

Sunyi… seketika seluruh dunia seperti berhenti bergerak. Sion menatap Sean, dan begitu sebaliknya Sean menatap balik. Ayah dan anak laki-lakinya itu saling melempar pandangan satu sama lain, seolah sedang saling berkomunikasi.

Shia kemudian mengangguk dengan sangat yakin.

"Iya, Papah. Jangan mencuri."

Sion masih diam, hingga beberapa detik berlalu. Tidak ada yang berani bergerak. Tidak ada yang berani bicara. Bahkan para pengawal Sion yang biasanya berdiri seperti patung pun menundukkan kepala, tetapi bahu mereka bergetar. Sementara Raina menutup mulutnya rapat-rapat. Wajahnya memerah karena menahan tawa. Kakek Edwin? Ia sudah tidak sanggup menahan diri.

"HAHAHAHA!" Tawa keras sang kakek akhirnya pecah.

"Astaga!"

Sion perlahan memejamkan mata. Entah mengapa hari ini terasa jauh lebih melelahkan daripada menghadapi puluhan musuh. Beberapa jam lalu dia dianggap gelandangan yang tidak memiliki rumah. Sekarang? Ia malah dianggap sebagai pencuri di Mall miliknya sendiri. Dan yang menuduhnya adalah kedua anaknya sendiri.

Sion membuka mata kembali. Dia menatap Sean, kemudian beralih pada Shia. "Aku bukan pencuri."

Sean mengangguk. "Kalau begitu bayar."

Sion terdiam. "Memangnya kalian pikir aku tidak bisa membayarnya?"

Shia menunjuk kasir. "Kalau tidak punya uang, bilang saja. Biar Kakek Buyut yang membayarnya."

Sion benar-benar kehilangan kata-kata, sampai Raina akhirnya tidak mampu menahan tawanya lagi. "Hahahaaa, Maaf..."

Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Maaf, Sion. Aku benar-benar... hahahaa."

Kakek Edwin menepuk bahu Sion sambil masih tertawa. "Sudahlah, cucuku. Anggap saja ini pengalaman."

"Pengalaman apa?"

"Pengalaman pertama kali menjadi ayah."

Sion menatap sang kakek datar. Kakek Edwin justru semakin tertawa. Karena untuk pertama kalinya, ia melihat ada yang berbeda dengan ekspresi cucunya. Sion yang biasanya selalu bersikap dingin tak tersentuh, rupanya bisa merasa kesal juga. Di sisi lain, Sean dan Shia masih terlihat serius. Keduanya masih belum mengerti, kalau mereka sedang salah paham tentang Papahnya sendiri.

Sean menarik tangan Sion. "Papah."

"Apa lagi?"

"Kalau Papah punya uang..."

"Ya?"

"Beli yang itu juga." Sean menunjuk sebuah robot besar.

Shia ikut menunjuk boneka di sebelahnya. "Dan Shia mau yang itu."

Sion menatap dua mainan tersebut. Lalu menatap kedua anaknya dan berkata, "Ambil ‘lah!"

"Benarkah?"

"Ya."

Keduanya bersorak bahagia. "Yay!"

Sion menghela napas. Kemudian dia memberikan kartu hitamnya kepada pegawai kasir. Pegawai Kasir itu pun seketika panik, karena bagaimana pun juga toko itu merupakan salah satu milik Sion. Dan tidak seharusnya pria itu membayar barang miliknya sendiri.

“Tuan, ini sungguh tidak perlu. Anda tidak perlu membayarnya,” ujar Pegawai kasir itu gugup setengah mati.

“Aku harus tetap bayar, jika tidak… kedua bocah ini akan menganggap aku sebagai pencuri di sini.”

Sion bicara dengan penuh penekanan, sehingga mau tidak mau pegawai kasir itu menerima kartu hitam unlimited itu dan menggeseknya untuk pembayaran.

Bersambung….

1
Budhe Satryo
rayna jngan terkena jebakan kamu harus bisa nglawan Calista ma anak"nya
Sri Yatun
kalo tau rencana mau menyingkirkan dan membunuhnya bakal kamu yg d usir kemungkinan besar kamu yg mati duluan ibu tiri dan saudara tiri
Budhe Satryo
makin seruuu crtanya
Budhe Satryo
misi perang dimulai rayna
Budhe Satryo
keluarga bahagia❤️❤️❤️
Budhe Satryo
adiknya yg selama ini menjadi pendukung setia rayna
Budhe Satryo
gpp salah paham dulu biar makin cinta
Budhe Satryo
misi Lum dimulai lho ...dah panas az Calista ni
Budhe Satryo
good rayna biar papah si kembar ush Dewe 😄😄😄
Budhe Satryo
moga rayna TDK mudah dijebak
Budhe Satryo
waspada rayna musuh dpn mata
Budhe Satryo
wah bisa jadi kerja sama dngn Calista tu sih laura
Budhe Satryo
akhirnya Sion bisa takluk dngn si kembar 😍😍😍
Budhe Satryo
y ampun pemilik dianggap gelandangan 🤣🤣🤣
Budhe Satryo
misi dimulai si kembar 😄😄😄
Budhe Satryo
mungkin Calista dan lea yg JD musuh dlm selimut
Budhe Satryo
bibit mafia emang g ad obat 🤣
Budhe Satryo
duo s JD pembela mamanya donk
Budhe Satryo
mulai seruuu ni 😊😊😊😍😍😍
Budhe Satryo
moga tidak JD menikah dngn laura
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!