Indonesia
NovelToon NovelToon
Cici, Aku Suamimu

Cici, Aku Suamimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / CEO / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Aluna Senja

Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?

Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.

Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.

"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"

Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.

Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—

Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2

Untuk Apa Mengganggunya

"Jam tangan mahal, mobil baru, sekarang cincin berlian. Gaji ilustrator memang sebesar itu?"

Suara Wawan meluncur melewati meja-meja Studio Nebula saat sebagian karyawan baru kembali dari makan siang. Ia bersandar pada penyekat meja Keira seolah sedang bercanda, tetapi matanya tertancap pada cincin di tangan perempuan itu.

Bella yang duduk di seberang langsung melepas earphone. "Pak Wawan, ada yang bisa dibantu?"

"Aku sedang ngobrol dengan Mbak Keira." Wawan tersenyum. "Atau sekarang harus kupanggil Nyonya?"

Beberapa kepala menoleh. Keira menyimpan pena digitalnya, lalu mengaktifkan perekam suara di ponsel tanpa menyembunyikan gerakannya.

"Ulangi pertanyaanmu," katanya.

Senyum Wawan menegang. "Lho, kenapa direkam? Aku cuma penasaran."

"Tadi kau bertanya apakah gajiku cukup untuk membeli barang-barangku. Jelaskan maksudmu supaya tidak ada salah paham."

"Mbak Keira terlalu serius. Orang kantor juga sering lihat ada mobil yang menjemputmu." Ia mengangkat bahu, makin berani karena ada penonton. "Kalau memang ada sponsor, ya tidak usah malu. Sekarang banyak perempuan mandiri dengan definisi mandiri masing-masing."

Tawa pendek terdengar dari ujung ruangan, lalu mati saat Keira menatap ke sana.

Keira membuka laci dan mengeluarkan map tipis. Ia mengambil salinan tanda terima cincin yang belum sempat dibawa pulang, lalu meletakkannya di meja dengan sisi angka menghadap Wawan.

"Cincin ini dipilih dan dibayar bersama suamiku. Mobilku dibeli atas namaku. Orang yang kadang menjemputku adalah sopir keluarga." Suaranya tidak tinggi, tetapi cukup jelas untuk seluruh ruangan. "Sekarang, di depan semua orang yang mendengar insinuasimu, katakan siapa sponsor yang kau maksud."

Wawan melihat angka pada tanda terima dan menelan ludah. "Aku tidak bilang kau dipelihara siapa-siapa."

"Rekamannya berkata lain."

"Bercanda saja tidak boleh?"

"Boleh. Aku juga boleh mengirim candaan ini ke HR."

Bella berdiri di samping Keira. "Aku bersedia jadi saksi. Pak Wawan sudah beberapa kali mengomentari pakaian dan tubuh Mbak Keira."

Wawan menatap Bella tajam. "Jangan ikut campur."

"Itu ancaman juga? Bagus, tambah jelas rekamannya," balas Bella.

Pintu ruang produksi terbuka. Steven Kurnia berdiri di sana bersama Bu Ranti dari bagian sumber daya manusia yang kebetulan sedang melakukan kunjungan. Wajah Steven tidak menunjukkan humor sedikit pun.

"Pak Wawan, ikut saya. Sekarang."

Keira tidak mengejar kemenangan dengan komentar lain. Ia memasukkan kembali tanda terima ke map, menghentikan rekaman, lalu duduk. Telapak tangannya dingin, tetapi garis di tabletnya tetap lurus saat ia kembali bekerja.

Ponselnya bergetar.

Nathan: Kau belum menjawab jam pulangmu.

Keira: Sedang ada masalah kecil di kantor.

Tiga titik muncul begitu cepat.

Nathan: Masalah apa?

Keira memotret layar perekam, lalu mengirim ringkasan satu kalimat. Nathan menelepon kurang dari lima detik kemudian.

"Aku baik-baik saja," kata Keira sebelum ia sempat bicara.

"Namanya siapa?"

"Nathan."

"Aku cuma bertanya."

"Dengan nada orang yang sedang membuka daftar target. HR sudah menangani. Aku punya rekaman dan saksi."

Hening singkat terdengar dari seberang. Suara pendingin ruangan Amerika mendesis tipis.

"Bagus," katanya akhirnya. "Kirim salinan rekamannya ke penyimpanan lain. Jangan hanya di ponsel."

"Sudah."

"Dan kau tidak bertanya kapan aku pulang."

Keira memejamkan mata sebentar. Di tengah perkara Wawan, laki-laki itu masih sempat kembali pada keluhannya sendiri. "Kapan kau pulang?"

"Kalau ditanya karena kupaksa, jawabannya tidak menyenangkan."

"Kalau begitu jangan jawab."

Nathan mengembuskan napas yang terdengar seperti tawa tertahan. "Aku sedang membereskan tim. Tidak lama."

"Baik. Kerjakan dulu."

"Ci."

Keira menunggu.

"Jangan biarkan laki-laki itu mendekatimu lagi."

"Aku bisa menjaga diri."

"Aku tahu. Tetap saja aku tidak suka."

Panggilan berakhir setelah Keira berjanji mengirim pesan saat pulang. Bella, yang berpura-pura membaca layar sejak tadi, memiringkan kursi.

"Programmer-mu galak juga."

"Dia hanya kurang tidur."

Satu jam kemudian, notifikasi grup kantor muncul bertubi-tubi. Steven mengumumkan Wawan diberhentikan efektif hari itu juga karena pelanggaran kode etik, intimidasi saksi, dan catatan pengaduan serupa yang selama ini tak pernah disatukan.

Bu Ranti juga mengirim surel pribadi kepada Keira. Rekamannya telah diterima sebagai bukti, Bella tercatat sebagai saksi, dan perusahaan menjamin Wawan tidak boleh memasuki gedung tanpa pendamping keamanan. Dua pekerja magang yang pernah diam kini ikut membuat laporan. Keira membalas singkat bahwa ia bersedia memberikan keterangan tertulis, tetapi menolak namanya dipakai untuk bahan publikasi perusahaan. Ia ingin perlindungan, bukan panggung.

Saat petugas keamanan mengantar Wawan mengambil barang, laki-laki itu mencoba menatapnya. Keira tidak berpaling, juga tidak tersenyum. Ia hanya menutup map kerja sampai Wawan menunduk lebih dahulu dan berjalan keluar.

Lalu seseorang mengunggah tangkapan layar status Wawan ke X. Sebelum dipanggil HR, ia rupanya sempat menulis bahwa seorang ilustrator perempuan naik kelas setelah mendapat suami kaya. Pengguna lain menemukan komentar lamanya yang merendahkan pekerja magang. Dalam dua puluh menit, namanya mulai disebut di beberapa akun komunitas pekerja kreatif.

Bella menutup mulut. "Ini sudah viral."

"Terlalu cepat," gumam Keira.

PHK itu masuk akal. Catatan pengaduannya nyata. Namun penyebaran ke circle industri, munculnya tiga kesaksian lama sekaligus, dan surel peringatan yang kabarnya sudah diterima dua perusahaan lain terasa seperti rangkaian yang disusun tangan tak terlihat.

Keira membuka profil Wawan. Sebuah unggahan permintaan maaf baru saja muncul, kemudian akunnya menghilang.

Ia tidak merasa kasihan. Wawan memilih mempermalukannya di depan orang banyak. Konsekuensinya pantas. Yang membuat tengkuknya dingin adalah cara jalan keluar selalu dibersihkan sebelum ia meminta.

Dua belas tahun terakhir, setiap laki-laki yang terlalu gigih mendekatinya akan mendadak mundur. Ada yang dipindahkan kantor. Ada yang keluarganya menerima rekaman utang judi. Ada pula yang meminta maaf tanpa pernah menjelaskan apa yang terjadi.

Semua jejak mengarah pada satu orang.

Fabian Wijaya.

Ko Fabian tidak pernah mengaku. Ia hanya akan tersenyum, menuangkan teh, lalu berkata Keira terlalu baik untuk lelaki yang salah.

Beberapa hari ini Keira bisa menjalani perjodohan dengan tenang karena Fabian sedang di luar Jakarta. Ia tahu ketenangan itu punya batas waktu.

Di Menara Kencana, lift pribadi berhenti di lantai tertinggi.

Fabian keluar dengan setelan abu-abu gelap. Sekretaris Mariana berdiri dari kursinya, tampak terkejut melihat CEO yang seharusnya baru pulang dua hari lagi.

"Pak Fabian, Bu Mariana sedang dalam rapat."

"Aku tahu."

Ia mengetuk sekali, lalu membuka pintu tanpa menunggu jawaban. Mariana sedang menandatangani dokumen. Perempuan itu tidak mengangkat kepala sampai Fabian berdiri tepat di depan meja.

"Kau pulang lebih cepat," katanya.

Fabian meletakkan ponselnya. Di layar terbuka foto Keira dan Nathan saat keluar dari kantor catatan sipil. Cincin ular di tangan Keira terlihat jelas.

"Ma," ucapnya lembut, "Keira menikah. Itu pengaturan Mama?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!