Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Seserahan dan Belanja Besar
"Iya. Saya bersedia menikah dengan Mayor."
Ratih menutup menu dengan bunyi keras. "Wahyu, kamu dengar sendiri. Jangan sampai Bram mengaku salah dengar besok."
"Saya dengar jelas, Bu," jawab Wahyu sambil tersenyum lebar.
Bram tetap menatap Laras. "Kamu masih boleh berubah pikiran sebelum akad."
"Mayor juga."
"Saya tidak biasa menarik ucapan."
"Saya juga tidak."
Untuk sesaat, mereka seperti dua orang yang sedang menandatangani perjanjian kerja, bukan rencana pernikahan. Namun ketika pelayan meletakkan empat mangkuk soto di meja, Ratih menyelipkan tangannya ke tangan Laras dan senyumnya menghangatkan suasana.
"Mulai sekarang, jangan panggil saya Ibu Ratih terus. Panggil Bunda kalau kamu sudah nyaman."
Laras belum sanggup mengucapkannya. Kata itu terlalu dekat dengan kerinduan kepada ibu yang sudah lama meninggal. Ratih tidak memaksa. Ia hanya menepuk punggung tangan Laras satu kali.
Keesokan harinya, halaman kos Laras dipenuhi kotak.
Wahyu dan dua prajurit menurunkan koper baru, seperangkat perlengkapan salat, kain batik, kebaya sederhana, makanan, serta beberapa kotak kebutuhan rumah tangga. Ratih datang di belakang mereka sambil membawa nampan tertutup kain merah marun.
Pemilik kos dan dua penyewa lain mengintip dari teras.
"Bu, ini terlalu banyak," kata Laras.
"Yang terlalu banyak itu kalau Bunda membawa satu toko." Ratih duduk di kursi plastik. "Ini seserahan. Tidak semuanya wajib, tapi Bunda ingin menyambutmu dengan pantas."
Bram masuk membawa map dokumen. Seragamnya telah berganti pakaian sipil gelap, tetapi caranya berdiri tetap membuat halaman sempit itu terasa seperti ruang briefing.
"Berkas izin dari satuan sedang diproses," katanya. "Pemeriksaan administrasi dan data sipilmu sudah dimulai dengan persetujuanmu. KUA memberi beberapa pilihan jadwal setelah semuanya lengkap."
Laras menerima map tersebut. Setiap dokumen tersusun dengan penanda kecil: identitas, status cerai, surat kesehatan, persetujuan komandan, dan formulir KUA.
"Mayor menyiapkan semua ini semalam?"
"Wahyu yang berlari ke mana-mana."
"Komandan yang membuat daftar sampai tengah malam," sela Wahyu.
Bram meliriknya. Wahyu langsung sibuk memindahkan kotak kosong.
Ratih membuka kain merah marun. Di atas nampan terletak mahar berupa emas sederhana dan sejumlah uang yang tertulis jelas nilainya.
"Kamu boleh menyebutkan mahar lain," kata Bram. "Ini belum final."
Laras menatap benda-benda itu. Nilainya pantas tanpa terasa seperti harga yang dipasang pada dirinya.
"Ini cukup. Saya tidak ingin pernikahan dimulai dengan utang atau pertunjukan."
"Tidak ada utang," jawab Bram. "Dan tidak ada yang akan menggunakan mahar untuk menuntut sesuatu darimu."
Pemilik kos berdeham dari pintu. "Maaf, Pak. Saya cuma mau memastikan. Ini benar calon suami Mbak Laras?"
Bram menoleh tanpa ragu. "Benar. Laras calon istri saya."
Kalimat itu diucapkan biasa saja, tetapi dua penyewa di belakang pemilik kos langsung saling sikut. Kabar bahwa perempuan yang baru bercerai akan menikah dengan seorang mayor pasti menyebar sebelum siang.
Laras seharusnya merasa risih. Anehya, ia justru merasakan perlindungan dalam pengakuan terbuka tersebut. Tidak ada hubungan yang disembunyikan, tidak ada perempuan lain yang harus pura-pura tak terlihat.
Setelah dokumen diperiksa, Ratih membawa Laras ke pusat perbelanjaan kecil di kota. Ia menolak ketika Bram menawarkan sopir.
"Kamu ikut," perintah Ratih. "Calon istrimu yang akan memakai barangnya. Jangan cuma bisa tanda tangan."
Bram akhirnya mendorong keranjang belanja di belakang mereka.
Ratih memilih seprai, handuk, pakaian kerja lapangan, sepatu bot, kotak obat, dan perlengkapan dapur. Setiap kali Laras mengembalikan barang karena melihat harga, Ratih memasukkannya lagi.
"Saya masih punya pakaian."
"Pakaianmu cocok untuk klinik kecil, bukan mengejar sapi di padang."
"Saya bisa membeli sendiri setelah bekerja."
"Kalau begitu anggap ini pinjaman kasih sayang. Bayarnya dengan makan bersama kalau Bunda datang."
Di bagian pakaian kerja, Bram mengambil jaket lapangan warna khaki. Ia tidak langsung memberikannya, hanya membandingkan ukuran pada label dengan bahu Laras dari jarak sopan.
"Yang ini," katanya kepada penjaga toko.
"Kok Mayor tahu ukuran saya?"
"Jaketmu kemarin tertinggal di peternakan. Ukurannya tertera di kerah."
Laras baru ingat jaket yang dilemparkannya ke wajah domba. "Mayor mengambilnya?"
"Pak Yohanes menitipkan lewat Wahyu. Sudah dicuci."
Perhatian kecil itu membuatnya diam. Bram tidak mengatakan sesuatu yang manis, tetapi ia melihat barang yang terlupakan Laras bahkan di tengah kekacauan.
Ratih menyembunyikan senyum sambil pura-pura memilih sabun.
Di toko perlengkapan pertanian, Laras berhenti di depan kotak alat veteriner. Stetoskop lamanya masih bagus, tetapi sarung tangan panjang, termometer digital, tali penahan, disinfektan, dan tas lapangan miliknya tertinggal di Jawa.
"Masukkan semuanya," kata Bram.
Laras menggeleng. "Peralatan kerja tanggung jawab saya."
"Kamu belum menerima gaji di sini."
"Saya masih punya tabungan. Kalau Mayor membayar seluruh alat kerja saya, nanti catatan keuangan kita sudah berat sebelah sebelum akad."
Bram menatap keranjang, lalu mengambil dua lembar nota kosong dari meja kasir. "Kita pisahkan. Peralatan pribadi kamu bayar. Kotak P3K rumah dan sepatu keselamatan saya bayar karena dipakai untuk kebutuhan bersama."
Laras mempertimbangkan pembagian itu, kemudian mengangguk. "Adil."
Ratih memperhatikan mereka bergantian. "Kalian bahkan belum menikah, tapi sudah berdebat seperti auditor."
"Bukan berdebat, Bunda," kata Bram.
"Ini negosiasi," sambung Laras pada saat yang sama.
Mereka saling menoleh. Ratih tertawa begitu keras sampai penjaga toko ikut tersenyum.
Saat membayar, Laras menyimpan notanya dalam map kecil. Bram tidak mengejek kebiasaannya. Ia justru menyerahkan nota bagiannya tanpa diminta, sebuah tindakan sederhana yang menunjukkan bahwa lelaki itu mengingat syarat yang mereka sepakati di rumah makan.
Mereka makan siang di warung dalam pusat belanja. Laras sempat hendak membayar bagiannya sendiri, tetapi Bram menahan tangannya sebelum dompet itu terbuka.
"Hari ini bagian saya. Nanti kita buat catatan setelah menikah."
"Saya akan mengingat jumlahnya."
"Saya yakin."
Pada perjalanan pulang, mobil membawa begitu banyak kotak hingga Wahyu kesulitan melihat kaca belakang. Ratih duduk di samping Laras, bercerita tentang rumah dinas yang perlu dibersihkan dan dapur yang nyaris tidak pernah dipakai Bram.
"Dia hidup dari makanan kantin," keluhnya. "Kalau kamu sibuk bekerja, biarkan saja. Jangan merasa harus memasak setiap hari."
Laras menoleh. "Bunda tidak keberatan?"
Kata itu keluar tanpa direncanakan.
Ratih langsung terdiam. Matanya memerah, lalu ia menggenggam tangan Laras dengan kedua tangan.
"Tidak keberatan sama sekali, Nak."
Bram yang duduk di depan memandang mereka melalui kaca tengah. Tatapannya melembut sesaat.
Mobil baru melewati jalan menuju peternakan ketika seorang pria melambai liar dari tepi jalan. Wahyu mengerem. Pak Yohanes berlari mendekat dengan baju penuh debu.
"Bu drh.!"
Laras membuka jendela. "Ada apa, Pak?"
"Ternaknya makin parah. Bukan cuma tiga ekor. Dua kandang mulai gelisah dan ada yang demam." Napas Pak Yohanes memburu. "Tolong ikut saya sekarang."
Laras menatap Bram. Belum sempat ia menjelaskan, laki-laki itu sudah membuka pintu mobil.
"Wahyu antar Bunda dan barang-barang ke kos. Saya ikut Laras ke peternakan."
Pak Yohanes berbalik menuju mobil bak terbuka. Dari arah padang, suara kawanan ternak terdengar riuh, jauh lebih gaduh daripada kemarin.
Laras meraih tas dokumennya dan turun.
Pernikahannya belum dimulai, tetapi ujian pertama sudah menunggu di kandang isolasi.