Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Senyap Sebelum Musim Gugur
Pesan misterius di atas gumpalan kain hitam membuat kewaspadaan di Akademi Sihir Grandoria meningkat dua kali lipat. Latihan Tim Vanguard yang tadinya berfokus pada penguasaan mantra dasar kini beralih sepenuhnya ke strategi simulasi pertahanan wilayah skala besar.
Musim gugur perlahan mulai menyapa. Dedaunan emas di area perbukitan akademi berjatuhan, diterpa angin sejuk yang membawa ketenangan semu. Namun di bawah tanah, di balik dinding batu Menara Bayangan, suara benturan energi sihir tak pernah padam.
Monica berdiri di tengah arena latihan, memegang tongkat safirnya yang menyala keemasan. Di sekelilingnya, empat bayangan simulasi sihir menyerang dari berbagai sudut secara bersamaan.
Brak!
Dengan gerakan cepat, Monica menghentakkan tongkatnya ke tanah. "Arcana Domain: Celestial Sanctum!" Kubah cahaya emas murni langsung merekah, memantalkan seluruh serangan bayangan simulasi tersebut sekaligus menyembuhkan luka-luka gores di lengan Reno dan Kazuma yang sedang berlatih di sisinya.
"Peningkatan waktu reaksi yang luar biasa, Monica," puji Kazuma seraya menyapu keringat di dahinya. "Kubah cahayamu kini mengembang dua kali lebih cepat daripada saat kita di Distrik Barat."
"Kita tidak boleh lengah sedikit pun," sahut Monica seraya membetulkan kuncir kuda rambut hitamnya. "Musuh tahu kita bisa menetralkan Miasma mereka. Saat mereka menyerang nanti, mereka pasti membawa sesuatu yang lebih buruk."
Elena yang sedang menajamkan penglihatannya dari atas pilar batu melompat turun dengan mulus. "Danis bilang, patroli di sekitar garis perbatasan ibu kota mulai menemukan kejanggalan baru. Hewan-hewan hutan tidak lagi melarikan diri, melainkan membeku seperti patung batu."
"Penyegelan sihir jiwa..." gumam Kepala Sekolah Alaric yang mendadak muncul dari balik bayangan pintu arena. Wajah tua sang kepala sekolah tampak kian serius. "Ordo Umbra tidak hanya mengumpulkan Miasma, tetapi juga memanen energi kehidupan dari makhluk sekitar untuk mempercepat proses pemulihan naga hitam mereka."
Reno mengepalkan tangannya kuat-kuat, membuat armor emas terbarunya berdentang nyaring. "Artinya, wanita bertopeng perak itu sedang mengulur waktu sampai naganya benar-benar pulih seratus persen?"
"Tepat sekali," jawab Alaric. "Dan berdasarkan pergerakan bintang serta pendaran sihir kuno, puncak gerhana bulan merah akan terjadi beberapa minggu lagi. Saat itulah batas portal Ordo Umbra berada pada titik terlemahnya."
Monica melangkah ke depan, menatap Kepala Sekolah Alaric dengan mata biru yang memancarkan keteguhan.
"Berapa lama waktu yang kita miliki sebelum fenomena bulan merah itu tiba, Kepala Sekolah?" tanya Monica tegas.
"Empat minggu," jawab Alaric pelan. "Empat minggu untuk memastikan kalian tidak hanya siap bertarung, tetapi juga siap untuk mematahkan ritual pemanggilan mereka secara permanen."
Monica menoleh ke arah empat rekannya. Reno, Kazuma, Elena, dan Danis mengangguk serempak dengan tatapan penuh keyakinan. Tidak ada rasa takut di mata mereka, hanya ada tekad bulat untuk melindungi akademi dan seluruh kehidupan di kerajaan ini.
"Empat minggu," bisik Monica seraya menggenggam tongkat safirnya erat-erat. "Kita manfaatkan setiap detiknya."
Di balik ketenangan musim gugur yang melingkupi Akademi Grandoria, Tim Vanguard terus menggembleng fisik dan sihir mereka hingga batas terujung.
Berikut adalah lanjutan cerita dari Episode 14 dengan alur yang lebih panjang, mendalam, dan penuh ketegangan untuk membawa cerita ke babak berikutnya:
Keheningan yang mencekam kembali melingkupi tempat itu setelah ledakan cahaya tadi mereda. Debu-debu halus masih melayang di udara, memantulkan sisa-sisa energi spiritual yang terpancar dari pertarungan sengit sebelumnya.
Napas semua orang terdengar berat, terengah-engah menahan rasa lelah yang luar biasa.
Namun, belum sempat mereka menarik napas lega, tanah di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar hebat. Retakan-retakan kecil mulai menjalar di permukaan lantai batu, memancarkan cahaya keunguan yang asing dan berbau belerang.
"Ini belum selesai..." bisik seorang anggota kelompok sambil mengepalkan tangan yang mulai gemetar, berusaha menyeimbangkan posisinya. "Energi ini... jauh lebih pekat dari yang tadi!"
Dari tengah retakan tanah, asap hitam tebal meluncur naik ke udara, membumbung tinggi dan perlahan memadat membentuk sesosok bayangan raksasa. Sosok itu tidak memiliki wajah yang jelas, hanya sepasang mata merah menyala yang menatap dingin ke arah mereka semua. Aura tekanan mental (killing intent) yang dipancarkannya begitu kuat hingga membuat udara di sekitar terasa berat untuk dihirup.
Langkah kaki terdengar dari balik asap tersebut. Bukan hanya sosok raksasa itu saja, tetapi beberapa pengawal berzirah hitam yang membawa senjata panjang ikut melangkah keluar secara perlahan.
"Kalian kira berhasil menghancurkan inti energi kami hanya dengan menumbangkan penjaga gerbang?" sebuah suara berat dan serak bergema dari balik kegelapan, menggoyahkan mental siapa pun yang mendengarnya. "Itu hanyalah fondasi luar. Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai."
Mendengar hal itu, pemimpin kelompok langsung melangkah maju ke depan, menyilangkan pedangnya untuk melindungi rekan-rekannya yang sudah terluka. Meskipun fisiknya sudah mencapai batas, sorot matanya tetap tajam penuh keberanian.
"Tahan posisi kalian!" teriak sang pemimpin kepada timnya. "Jangan biarkan aura mereka mempengaruhi pikiran kalian! Pasang formasi bertahan dan fokus pada pergerakan musuh!"
Salah satu anggota yang bertugas sebagai ahli strategi cepat-cepat memeriksa gulungan pemetaan energi di tangannya. Matanya membelalak kaget ketika melihat kompas spiritualnya berputar liar tanpa arah.
"Bahaya! Titik reaksi energi di tempat ini terkunci! Kita tidak bisa menggunakan jurus teleportasi atau melarikan diri untuk sementara waktu!" teriaknya memberi peringatan.
Musuh tidak memberi mereka waktu untuk berdiskusi lebih jauh. Dengan satu kibasan tangan dari sosok misterius tersebut, puluhan pengawal berzirah hitam langsung melesat maju dengan kecepatan luar biasa, membelah kabut dan mengarahkan serangan mematikan secara bersamaan.
Bentrokan senjata kembali pecah. Dentingan besi dan percikan api memenuhi kegelapan malam. Setiap tebasan pedang dan tinju energi saling beradu, menciptakan gelombang kejutan yang meruntuhkan sisa-sisa bangunan kuno di sekeliling mereka.
Di tengah kekacauan itu, sang pemimpin menyadari sesuatu yang aneh. Musuh tidak berniat membunuh mereka seketika, melainkan mengulur waktu hingga ritual di balik gerbang utama selesai secara sempurna. Jika pintu gerbang itu benar-benar terbuka lebar, bencana yang jauh lebih besar akan menimpa dunia luar.
"Kita harus membagi tim!" tegas sang pemimpin sambil menangkis tebasan tombak musuh. "Sebagian bertahan di sini untuk menahan pasukan zirah, dan sisanya ikut aku menerobos langsung ke inti ritual sebelum semuanya terlambat!"
Keputusan sulit harus diambil dalam hitungan detik. Di antara rasa lelah yang menusuk hingga ke tulang dan ancaman bahaya yang kian nyata, mereka harus mempertaruhkan segalanya di sisa pertempuran ini...