Indonesia
NovelToon NovelToon
Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.

Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.

Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.

Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.

Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.

Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31: Ketika Kebohongan Berbuah Kebohongan Lain

Di dalam kamar hotel, Azka keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk. Ia berpura-pura seperti orang menggigil kedinginan. Visha pun protes, “Mandinya pakai air hangat kok kamu masih kedinginan begitu?”

Merespon ucapan istrinya, Azka menjelaskan ia juga tidak mengerti. Ia tetap meringkuk, menggetarkan badan supaya terlihat seperti orang yang menggigil tak terkendali.

“Ya sudah, tunggu.. Aku pesankan teh hangat dulu,” ujar Visha berjalan menuju meja telepon hotel.

Ia mengambil kertas karton berisi daftar menu, melihat-lihat sebentar lalu menekan nomor pada tombol telepon. Tak berapa lama, ia memesan teh hangat, beberapa makanan berat dan minuman berupa jus buah.

Setelahnya, ia menutup telepon.

“Aku kira mau pesan teh hangat saja, ternyata banyak juga orderanmu,” sindir Azka sambil tertawa kecil.

“Tidak boleh? Kan semua untuk kamu juga.”

Visha melangkah ke sudut ruangan dan mulai meraih koper milik Azka tergeletak rapi di pojok. Gerakannya ringan tampak alami, seperti istri yang sekedar ingin membantu membereskan barang suaminya. Tapi bagi Azka, detik itu terasa seperti jantung berhenti sesaat.

Resleting koper ditarik oleh Visha perlahan. Azka serasa ingin menghentikan, tapi ia tahu tidak boleh dilakukan.

Panik mulai merayap di matanya. Keringat dingin muncul di pelipis bersatu dengan air bekas mandi. Sorotnya tak lepas dari tangan Visha bergerak membuka koper, seolah satu inci resleting bergeser bisa mengubah segalanya.

Untung saja Visha tidak menyadari apapun. Ia menutupnya kembali dan langsung mengambil koper miliknya yang berada tidak jauh dari situ. Ia membuka lalu meraih handuk berwarna coklat.

“Aku mandi dulu ya, kalau pegawai hotel datang, suruh taruh saja di meja,” pesan Visha.

“Yah. Aku mau mandi lagi dong!” goda Azka.

Visha hanya melirik tajam suaminya sebentar, tidak ingin terlalu menanggapi.

***

Makanan telah siap, Visha juga sudah rapi mengenakan piyama. Ia terlihat sangat menawan dengan busana seperti ini. Tapi Azka seperti tidak terpesona. Sejenak, ia bahkan membandingkan dengan Kayla yang menurutnya lebih menawan.

“Aku makan bubur?” tanya Azka cemberut.

“Kamu masih sakit, sabar sedikit dong. Katanya bukan anak kecil,” canda Visha tapi tegas.

Dengan terpaksa, Azka makan bubur itu. Ia merasa menyesal karena berpura-pura sakit. Kalau bisa memutar waktu, ia akan mencari alasan lain.

Akibat dari berpura-pura sakit, semuanya jadi berantakan. Andai saja ia tidak bersandiwara sakit, Visha tidak akan menyusul.

“Minum lagi, mumpung masih hangat,” kata Visha sambil menyodorkan secangkir air teh.

Azka menurut, menghabiskan teh tersebut.

“Perut aku jadi kembung sekarang,” keluh Azka.

Bukannya merespon, Visha justru teringat soal urusan kantor yang Azka tinggalkan. “Eh iya, bagaimana dengan pekerjaanmu?”

Azka menjadi kikuk, tapi untungnya ia berhasil mengendalikan keadaan. Ia memberitahu semua sudah diambil alih oleh Noval.  Ternyata jawaban itu membuat Visha kesal.

“Nah, itu baru benar. Kamu punya Noval sebagai asisten yang seharusnya sudah bisa handle masalah-masalah seperti ini. Kamu tidak perlu turun langsung, kecuali memang ada kepentingan yang butuh otoritas lebih. Masa cuma menyerahkan laporan saja, kamu harus terbang jauh-jauh kesini,” keluh Visha.

“Apalagi kamu kondisinya juga baru sembuh dari sakit parah. Kalau ada apa-apa gimana? Memangnya kantor mau tanggung jawab?”

Berusaha membela Noval yang sebenarnya tidak salah apa-apa, Azka menjelaskan laporan kali ini diminta langsung oleh direksi.

“Aku kan sudah jelaskan masalahnya ke kamu,” ungkap Azka.

Melanjutkan kebohongan, Azka mengatakan bahwa Noval sudah menawarkan diri menjadi perwakilan dari kantor cabang. Ia juga mengkhawatirkan kesehatannya, tapi dewan direksi menolak. Mereka ingin menerima laporan dari Azka secara langsung.

“Mereka punya sesuatu yang perlu dibicarakan sama aku,” jelas Azka.

“Sesuatu? Ada apa?” tanya Visha penasaran.

Azka menyadari telah salah bicara. Ia kini harus mengarang cerita baru lagi diantara sekian banyak kebohongan yang sudah diucapkan.

“Masih rahasia,” dalih Azka menghindar.

“Oh sekarang jadi kita main rahasia-rahasiaan ya? Sejak kapan kita tidak terbuka satu sama lain?” cecar Visha.

Menghela nafas panjang. Azka memikirkan apa yang akan dikatakan olehnya. Ia kemudian kepikiran tentang Bimo, direksi yang bermasalah dengan Kayla. Rupanya Azka pernah punya masalah dengan Bimo di masa lalu.

“Kamu ingat dengan Pak Bimo? Direksi di kantor pusat yang dulu pernah konflik sama aku,” ungkap Azka.

“Inget dong, bagaimana aku bisa lupa nama itu. Gara-gara dia, hidup kita jadi terdampar jauh dari ibukota,” Visha kesal.

Azka sedikit terkejut karena tidak menyangka Visha akan mengatakan hal seperti itu. Setelah sekian lama, ternyata istrinya masih menaruh dendam kepada Bimo.

“Kenapa dia?” tanya Visha lagi.

“Direksi memanggil aku karena mereka sudah merasa tidak tahan dengan kelakuan dia.”

Belum mengerti konteks obrolan, Visha kembali bertanya, “Lalu apa hubungannya sama kamu?”

Azka memberitahu ia mendapatkan tugas untuk mengungkap semua penyimpangan Bimo selama ini. Visha masih belum bisa memahami tentang apa kaitan Azka menyangkut hal tersebut. Ia menilai bahwa sebelumnya, Azka dipaksa menjalankan kantor cabang di daerah atas perintah dari Bimo.

Hal itu dilakukan karena Azka sempat memiliki konflik besar dengan Bimo. Meskipun kalau dilihat secara rasional, Azka berada di pihak yang benar, tapi tetap saja Azka harus terlempar keluar dari kantor pusat.

Dari sini bisa terlihat jelas Azka tidak memiliki kemampuan yang dianggap mampu melawan Bimo.

“Lalu para direksi yang posisinya berada di atas, minta bantuan kamu? Ada apa sebenarnya Azka? Jujur sama aku,” kata Visha mendadak panik mengetahui ada yang tidak beres.

“Dulu kamu sendiri bilang kalau Pak Bimo orang yang sangat berbahaya. Makanya kamu terima dipindahkan ke kantor cabang. Sekarang tiba-tiba kamu ngomong mau melawan Pak Bimo?”

Belum selesai, ia masih melanjutkan kalimatnya.

“Pantas saja kamu sakit, pasti kamu stres. Aku yakin masih ada yang kamu sembunyikan, makanya sampai sakit begini,” sambungnya berspekulasi.

Azka tidak menduga jawabannya akan membuat Visha bereaksi sampai seperti ini. Tadinya ia hanya ingin seru-seruan saja teringat cerita dari Kayla di pesawat.

Meletakkan bubur di atas meja, ia memeluk Visha dengan erat. “Kamu tenang saja, semua masih dalam kendaliku,” ucap Azka sambil mengusap punggung Visha pelan.

Ia memberi penjelasan bahwa direksi akan bertanggung jawab. Mereka menjamin keselamatannya.

“Jadi mereka hanya minta data penyimpangan yang masih aku simpan. Mereka tidak akan menyebutkan namaku, mereka sudah berjanji sama aku,” jelas Azka lagi.

Dalam hatinya berkata, “Kebohongan apa lagi yang aku ucapkan kali ini!”

Ia meminta agar Visha tidak terlalu memikirkannya. Ia berjanji permasalahan soal Bimo akan segera berakhir.

“Kita mungkin bisa kembali ke ibukota. Bukankah itu yang kamu inginkan selama ini?” kata Azka menenangkan.

“Benarkah? Bisa begitu?” tanya Visha.

Azka yang sudah terlanjur berucap, hanya bisa mengiyakan. Ia menyadari sudah terlalu jauh menebar kebohongan, tapi ia seperti ketagihan melakukannya. Terdapat kepuasan tersendiri, meskipun hanya kepalsuan, ia merasa seperti mendapat kepuasan.

***

Waktu berlalu hingga mereka kini terbaring di atas ranjang, bersebelahan. Obrolan malam pun berlangsung.

“Bagaimana kondisimu sekarang?” tanya Visha.

Azka menoleh, lalu menjawab, “Sudah lebih baik. Sepertinya aku sakit hanya karena rindu sama kamu.”

Mereka pun tertawa karena sama-sama geli mendengarnya. “Sudah lama ya kita tidak begini,” ucap Visha.

“Berlebihan deh, aku kan berangkat baru kemarin,” jawab Azka.

Visha kemudian menjelaskan bahwa ketidakhadiran Azka yang walau hanya satu hari, terasa lama baginya.

“Aku juga heran kenapa bisa seperti itu,” kata Visha yang menghentikan kalimat karena terkejut Azka mendekat.

Tiba-tiba saja Azka mencium pipi Visha, memegang tangannya, melempar senyum. “Selamat ulang tahun ya, semoga panjang umur, sehat selalu, semakin sayang sama aku. Mudah-mudahan semua impianmu bisa terwujud,” kata Azka.

Menyadari bahwa waktu sudah tepat tengah malam.

Visha membalas ucapan selamat dari Azka yang terdengar sangat romantis dengan mendorongnya.

Ia kemudian berguling, duduk tepat di atas perut Azka.

“Makasih ya,” ucapnya yang kemudian langsung mencium bibir Azka. Mereka pun melakukan kewajibannya masing-masing.

1
Storyginal Finger
sangat bagus
Nanda Jambi
kenangan terindah pasti ada dalam setiap ingatan terdalam
Storyginal Finger: sepakat 😍👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!