"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenanga diam
"Energinya dia paksa kaluar untuk menekan rambut yang ada di tengkuk kamu kang" ucap Kalia menyalurkan energinya agar Harsya segera sadar bahkan Hamka memberikan minyak kayu putih ke badan Hamka karena di sana juga udaranya dingin.
"Aku tidak tahu kalau rambut itu akan membahayakan aku, pantas saja saat berkelahi dengan Karman dulu, dia terus mengincar tengkuk ku" ungkap Gatra
"Dia pasti di beri tahu Dahlia, syukurnya sekarang dia sudah lupa semuanya" ucap Kalia
"Harsya punya kemampuan melihat organ dalam manusia Om, semalam juga Kenanga di cabut jarum yang menancap di lehernya" jawab Hamka
"Eunghh.."
"Harysa kamu tidak apa apa?" tanya Hamka khawatir
"Halsya lapal" jawabnya polos membuat semuanya lega karena itu artinya Harsya baik baik saja, mereka langsung memberikan Harysa makan terlebih dahulu, sambil menunggu kondisinya lebih baik.
"Terima kasih karena membantu Om" ungkap Gatra
"Kak Jaka dan Ayu akan sedih kalau sampai Om Gatla pelgi" jawab Harsya
Hamka akhirnya pamit karena jam sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh pagi, jadi dia dan kedua anak anak itu harus segera kembali ke rumah Sagara.
Saat sampai, dia langsung memasukkan Ikan Ikan yang mereka tangkap ke dalam plastik, memberikan itu pada Langit agar tidak mati di jalan karena jaraknya lumayan jauh. Para pekerja yang Kemarin membawa mereka juga sudah siap di depan halaman rumah Sagara bersama Panca, Mahira, Prama, Widia, Dirman dan Fatih.
"Sudah siap?" tanya Hamka yang akan memakai motor Lintang, sementara Langit, Sagara dan Miqdad menggunakan motor pekerja yang mereka bawa untuk mengantar mereka ke kampung mahoni kemarin.
"Sudah" jawab semuanya
"Mahira, kalau kamu ingin menelepon Daddy dan mommy, kamu minta Hamka bawa kamu ke dalam, dia katanya punya tempat yang punya sinyal banyak" ungkap Miqdad merasa berat harus meninggalkan putrinya itu.
"Iya dad, nanti Mahira juga akan ke kota sebulan sekali, mas Panca yang akan antar langsung" jawab Mahira
"Memang sudah seharusnya begitu kan" ucap Langit dan Panca mengangguk
"Ini ada makanan untuk di perjalanan" ucap Panca dan Dirman memberikan tiga kantung berisi makanan yang mereka buat di rumah
"Terima kasih, kami akan memakannya di resort nanti" ucap Sagara
"Titip Mahira, kalian harus rajin melihatnya ke rumah Panca" ucap Miqdad
"Siap Opa" jawab Liam dan Lintang
"Ayo, sebelum hujan, sepertinya akan gerimis" ucap Langit
"Ayo" jawab Sagara dan semuanya mulai naik ke motor masing masing
"Dadah kak Kenanga, Kak Mahira, kak Widia dan kak Laily" ucap Zeeshan dan Harsya melambaikan tangannya, mereka duduk di depan karena Hamka tidak mau mengambil resiko kedua anak itu di culik jin kalau duduk di belakang.
"Hamka Lo nggak ribet bawa anak anak di depan dua duanya?" tanya Lintang khawatir
"Nggak, gue bisa, kalau buat mereka gue tahan meski pegal" jawab Hamka mengecup kedua anak itu
"Fatih nanti main ke sana ya" ucap Zeeshan
"Iya, nanti Fatih ikut Mbah Panca dan Mbah Mahila ke kota" jawab Fatih
"Udah jadi Mbah aja anak gue bang" keluh Miqdad
"Namanya juga tetua kampung, ya di panggil Mbah" jawab Sagara
Mereka berangkat, Dirman dan yang lain juga langsung ke sekolah karena mereka hari akan melakukan tes pertama pada anak anak yang sekolah di sana kecuali Cecep, karena dia baru dua hari masuk ke sekolah itu.
"Gue pikir kak Panca akan sabar nunggu setidaknya seminggu atau sebulan, tapi Lo lihat, dia sama aja kaya kucing yang di kasih ikan salmon" bisik Lintang menunjuk cara berjalan Mahira yang terlihat kesulitan dan di bantu Panca dengan terus di gandeng perlahan.
Panca sebenarnya sudah berusaha bertahan tidak menyentuh Mahira untuk setidaknya satu bulan, tapi karena dia seorang lelaki dewasa yang normal, di tambah cara tidur Mahira yang terbiasa memeluk guling tapi di kamar Panca tidak ada, jadilah Mahira memeluk Panca yang sejak malam pesta selesai terus menahan perang batinnya untuk tidak melakukan itu pada Mahira. Meski ujung ujungnya dia kalah dengan godaan di depannya yang bernama Mahira.
"Sama kaya Lo" ledek Liam
"Gue masih mending bang, sebulan" gerutu Lintang membuat Dirman yang ada di belakang mereka terkekeh.
"Ko Kenanga diam? Biasanya Kenanga paling bawel" ucap Prama
"Dia sedang jadi anak baik kak" jawab Liam
"Mmmm!" pekik Kenanga
"Kamu tidak apa apa kan?" tanya Liam khawatir karena memang Kenanga tidak mengeluarkan suaranya sejak bangun tidur tadi subuh.
"Hmmm" Kenanga hanya menggelengkan kepalanya saja sambil menggandeng Liam agar terus berjalan
"Kak Kenanga mungkin belum gosok gigi" ledek Fatih
"Aa!" bentak Kenanga ketus
"Mulai galaknya datang lagi" ledek Lintang
"Sayang kamu bisa jalan tidak, ayo aku gendong?" tanya Lintang karena Laily juga berjalan perlahan.
"Pegal, kaki Laily sedikit kebas karena dingin" jawab Laily
"Sini aku gendong saja, kasihan kamu bawa anak kita pasti berat"
Plak.
"Hamilnya baru dua bulan Lintang, baru sebesar biji salak" gerutu Liam menggeplak kepala Lintang
"Bilang saja iri" sinis Lintang menggendong Laily
"Pak, nanti Laily di bawa ke kampung mahoni saja pak, dia rumah juga malah di tempeli Lintang terus" ucap Liam
"Itu bawaan bayi bang"
"Modus Lo itu mah, bukan bawaan bayi, emang Lo nya aja yang manja" sinis Liam
"Sudah, ayo cepat jalan lagi, Mahira harus segera istirahat, dia ingin duduk" panggil Panca yang sudah lumayan jauh dari mereka di depan.
"Itu juga gara gara kak Panca, gendong saja Mahira nya kak" jawab Liam
"Malah jadi gendong gendongan ini, ayo Fatir, kita juga jangan kalah" ajak Dirman
"Ayo pak LT" jawab Fatir senang akan naik ke punggung Dirman tapi di dahului Kenanga.
"Kak Kenanga!" Kesal Fatir menghentakkan kakinya
Liam langsung memisahkan mereka dengan menggendong Kenanga agar Fatir tidak menangis, meski bibirnya masih belum mau bicara tapi tetap saja Perkelahian dengan Fatih tidak dia lupakan.