Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Dalam Novel Psikopat Tampan

Tersesat Dalam Novel Psikopat Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dark Romance / Psikopat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

"S-sakit... hmph... sakit..." rintih Estella pasrah.

Air matanya terus mengalir deras membasahi pipinya yang lebam, bercampur dengan debu dan noda darah yang kental. Cambukan itu tidak berhenti hanya pada tebasan pertama. Pria paruh baya yang diliputi kegelapan murka itu kembali mengayunkan cambuk bergeriginya secara bertubi-tubi tanpa ampun!

CRAAAKK! CRAAAKK!

"AAAKHHH!"

Setiap ayunan besi tajam itu mendarat, kulit mulus di lengan, paha, hingga punggung Estella terkoyak parah. Darah segar menyembur berhamburan, merembes cepat membasahi kain gaunnya hingga berubah warna menjadi merah pekat. Rasa sakit membakar yang teramat sangat menyengat seluruh saraf tubuhnya, membuat kesadarannya perlahan terkikis dan kepalanya terasa berputar hebat.

Di tengah rasa pusing dan napasnya yang makin menyempit, Estella memejamkan matanya rapat-rapt.

Kalau gue mati sekarang... bisik Estella dalam hati dengan sisa-sisa kesadarannya yang makin menipis, ...semoga gue bisa balik lagi ke dunia nyata. Gue udah capek disiksa begini...

Perlahan tapi pasti, pandangan mata Estella memburuk, hingga kelopak matanya tertutup sepenuhnya dan tubuhnya ambruk terkulai lemas di atas semen yang dipenuhi genangan darahnya sendiri.

Tiba-tiba—

BRAAANGGGG!

Pintu besi raksasa gudang tua itu terhantam keras hingga terlepas dari engselnya dan tumbang menghantam lantai! Debu dan asap tebal membumbung tinggi di ambang pintu, mengejutkan seluruh isi ruangan.

Di balik asap temaram, berdiri Edwin dengan saku jasnya yang rapi, memegang pistol berperedam suara yang masih mengepulkan asap. Namun, sosok yang melangkah keluar dari belakang tubuh Edwin-lah yang membawa atmosfer maut sejati.

Lucian Voss.

Pria itu melangkah masuk dengan tenang. Namun, begitu iris mata sehitam jelaganya menangkap pemandangan di tengah ruangan melihat tubuh ringkih Estella yang terbaring tak berdaya dengan pakaian terkoyak, darah berhamburan, dan luka-luka goresan dalam di sekujur tubuhnya langkah kaki Lucian terhenti seketika.

DEG.

Sebuah desiran aneh sebuah getaran asing yang sangat kuat dan tidak pernah ia rasakan sepanjang hidupnya—mendadak menghantam bagian terdalam dada Lucian. Rasa panas yang membakar bercampur dengan gejolak murka murni merayap cepat menyelimuti seluruh jiwanya. Memories masa kecil tentang kalung silver liontin bintang dan kehangatan gadis enam tahun di bawah pohon beringin seolah meledak di dalam kepalanya.

Seketika itu juga, aura di sekeliling Lucian berubah total.

Hawa dingin yang membekukan mendadak menguasai seluruh ruangan gudang tua tersebut. Wajah tampan Lucian tidak lagi menunjukkan ekspresi datar biasa, melainkan tatapan mata seorang iblis pembunuh yang murkanya telah dibangunkan. Rahangnya mengeras rapat, dan sorot matanya mengunci pria pemegang cambuk itu dengan niat membunuh paling pekat yang pernah ia pancarkan.

"Si-siapa kalian?!" gertak bos itu panik, memegang cambuknya dengan tangan yang mendadak gemetaran hebat saat merasakan dorongan intimidasi yang begitu kuat. "Berani-beraninya kalian mengganggu—"

Lucian tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dengan gerakan yang teramat cepat bagaikan bayangan malam, ia menarik dua pisau berburu bermata ganda dari balik jasnya.

Malam itu, di dalam gudang tua yang terisolasi, perburuan sang Vex Noir bukan lagi sekadar tugas atau permainan rutin melainkan sebuah pembalasan dendam atas darah yang telah ditumpahkan.

Pria pemegang cambuk itu menggerakkan lengannya, mengayunkan besi bergerigi itu ke arah kepala Lucian dengan kalap. "Mati kau!" teriaknya histeris, berusaha menutupi rasa takut yang mencengkeram dadanya.

Namun, sebelum cambuk itu sempat membelah udara, Lucian bergerak jauh lebih cepat. Bagaikan bayangan maut yang tak kasat mata, ia mencengkeram pergelangan tangan pria itu di udara, lalu memutarnya ke arah berlawanan hingga bunyi gemertak tulang yang patah terdengar menggelegar di dalam gudang.

KREK!

"AAAGHHH!" Jeritan pria itu belum selesai ketika Lucian mendaratkan tendangan keras tepat di dadanya, menghempaskan tubuhnya menghantam tiang besi hingga muntah darah.

Tanpa memberi celah untuk bernapas, Lucian melangkah maju. Matanya yang gelap memancarkan murka murni. Ia mencengkeram kerah baju pria itu, mengangkatnya, lalu menghantamkan wajahnya ke dinding semen berulang kali. Baku hantam membabi buta terjadi tanpa sedikit pun emosi di wajah Lucian—hanya ada ketenangan mematikan yang jauh lebih mengerikan dari kemarahan biasa. Pukulan demi pukulan mendarat telak, mematahkan rahang, meremukkan tulang rusuk, dan membuat darah menyembur membasahi wajah serta kemeja hitam Lucian.

Hanya dalam hitungan detik, sang bos terkapar tak berdaya di atas lantai kotor. Tubuhnya bersimbah darah, terkulai kaku tanpa ada pergerakan lagi selain hembusan napas parau yang amat tipis.

Edwin melangkah maju dengan tenang, menodongkan senjata ke arah sisa-sisa anak buah yang ketakutan setengah mati, lalu mengurus tubuh pria yang sudah tak berdaya itu. "Saya yang akan mengurusnya, Tuan Lucian," bisik Edwin profesional.

Lucian tidak menjawab. Pria itu menyapu darah dari sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu memutar tubuhnya perlahan.

Sorot matanya jatuh pada sosok Estella yang terbaring kaku di tengah genangan darahnya sendiri. Gaun indah gadis itu telah robek-robek, kulit mulusnya dipenuhi garis-garis luka merah yang menganga, dan wajah yang biasanya selalu dihiasi senyum nekat serta ocehan absurd itu kini pucat pasi bagaikan mayat.

Lucian berjalan mendekat. Setiap langkah kakinya terasa seberat timah.

Ia menundukkan tubuhnya, berlutut di samping Estella. Tangan besarnya yang gemetaran—sebuah reaksi ganjil yang tidak pernah dialami oleh seorang eksekutor dingin seperti Vex Noir—perlahan menyusup ke bawah punggung dan lekukan lutut Estella, mengangkat tubuh ringkih dan dingin itu ke dalam dekapannya.

Saat wajah Estella menyandar lemas di dadanya, getaran aneh yang teramat asing dan menyesakkan kembali menghantam dada Lucian. Hatinya berontak tajam, menolak keras pemandangan gadis berisik ini terdiam tanpa nyawa. Gadis yang beberapa jam lalu masih menggombalinya dengan percaya diri, kini terkulai tak berdaya hanya karena goresan manusia tak berguna.

Lucian mendekatkan wajahnya ke telinga Estella yang dingin.

"Kau..." desis Lucian teramat pelan, deep voice-nya bergetar halus—sebuah nada yang begitu berbeda dari biasanya, menyembunyikan rasa panik dan tak terima yang sangat dalam, yang bahkan tak disadari oleh dirinya sendiri maupun Edwin di belakangnya. "...tidak boleh mati sebelum aku yang menyuruhmu."

1
putmelyana
bodoh banget ceweknya orang MH ngejauh dari kematian malah ngedeketin udah tau dia psikopat malah deketin. orang mh kabur nikmati karena transmigrasi jadi kaya malah jadi babu
putmelyana
apasih karakter ceweknya sikapnya berlebihan banget gajelas.
Alissia
up thor🤭🤭
Alia Chans
Hadir Thor, saling support💪/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!