sebuah kisah yang sangat menyentuh namun juga menyakitkan tapi tetap dijalani dengan cara yang kadang sulit untuk di terima. Akankah antara Aira dan Ridwan sanggup menjalani? dan bagaimana dengan Zaki. Apakah yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli Zarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31 memutuskan pergi
Kini Zaki telah tenang di tempat peristirahatannya yang terakhir. Hari - hari yang di lalui Aira kini terasa sepi. Tidak ada lagi panggilan sayang yang ia dengar setiap hari.
Kini yang ia lakukan hanya duduk melamun tanpa teman. Begitu juga dengan mertuanya yang masih dalam suasana berduka atas meninggalnya sang anak.
Hari ini Aira akan pergi dari tempat mertuanya. Ia pun mengumpulkan semua kenangannya bersama Zaki.
Air matanya pun masih belum berhenti mengalir di pipinya. Ibu Hasna bersama suami sedang duduk di ruang tamu sedangkan Aira berada di kamar Zaki.
seminggu berlalu setelah kepergian Zaki dengan berat hati Aira juga harus pergi.
Aira mendorong kopernya dari kamar Zaki. Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya menuju pintu. Aira meminda setiap sudut dengan matanya.
"Mas, aku pergi, terimakasih atas cinta yang kau berikan padaku selama beberapa bulan kita bersama" . Aira pun menyeka air matanya yang mengalir di pipinya.
Bunyi koper Aira terdengar oleh mertuanya. Mertuanya mencari sumber bunyi itu ternyata Aira sudah siap untuk pergi dari rumah suaminya.
Ibu mertuanya menghampiri dirinya.
"Sayang, kamu mau kemana ? "
"Maafkan Aira ayah ibu. Aira mau pergi . Karena ini bukan rumah Aira. Disini Aira cuma menantu dan di tambah lagi Aira tidak mempunyai anak bersama mas Zaki jadi Aira tidak sepatutnya bertahan disini" .
"Nanti setelah ini Aira akan mengunjungi ibu dan ayah dan mas Zaki juga".
" Kalau kamu pergi kamu mau tinggal dimana ? Ayah dan ibumu belum tentu menerima kamu kembali nak. Dan saat ini juga ayah dan ibumu tidak pernah ada di saat kamu ingin bersandar padanya" .
"Entah lah Bu saat ini Aira ingin pergi sejauh mungkin untuk menata hidup Aira kembali" .
"Aira mohon sama ibu jangan halangi Aira pergi" . Aira meraih tangan mertuanya untuk berpamitan.
"Assalamualaikum ayah ibu, Aira pergi" .
Setelah Aira pergi kini tinggal ibu Hasna dan suaminya.
Rumah terasa begitu sunyi. Ditambah lagi Aira juga sudah pergi.
"Mas, saat ini kita hanya berdua saja. Apa yang harus kita lakukan saat ini. Zaki anak kita juga sudah pergi untuk selamanya" .
"Entahlah Hasna aku pun merasa tidak tentu arah. Seandainya kita tahu dari awal kalau Zaki sakit mungkin dia akan bersama kita " .
"Dulu kita terlalu sibuk mengurus bisnis keluarga. Sehingga lupa akan anak kita" .
"Mas semuanya sudah ada yang mengaturnya. Yang terjadi saat ini semuanya sudah kehendak Allah SWT" .
"Jadi yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah mendoakan anak kita semoga ia tidak merasakan sakit lagi" .
Hmmm... Kamu benar Hasna.
Sementara itu Aira. Sebelum ia pergi jauh ia pun mengunjungi makam Zaki.
Aira pun mendoakan Zaki sekaligus untuk berpamitan.
" Mas, hari ini aku akan pergi. Aku harap kamu baik-baik disana ya. Kamu akan selalu ada di bagian hatiku yang paling dalam. Saat ini aku telah ikhlaskan semua yang terjadi dalam hidupku".
Aku tidak pernah menyesal karena telah mengenalmu. Cuma yang aku sesali kita bersama hanya sebentar saja. Aku belum pernah memelukmu erat-erat dalam tidurku. Sekarang kamu telah pergi meninggalkan aku selamanya.
Cukup lama Aira berada di makam Zaki. Ia memandangi nisan Zaki sangat lama . Hingga terasa kini sore hari .
Aira pun beranjak meninggalkan makam Zaki. Perlahan-lahan ia pun meninggalkan tempat pemakaman umum dan melanjutkan langkah kakinya yang terasa begitu berat.
salam DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS 🙏🏻🤭