When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.
Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.
Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Sertifikat dan Intan yang Tertidur di Balik Es
Seminggu setelah insiden tumpahnya botol tinta di meja makan yang berhasil membatalkan proyek investasi bodong Count Malakor, suasana di Kediaman Rosenberg terasa jauh lebih tenang.
Kirana—yang kini sudah makin menyatu dengan nama Evelyn—menghabiskan siang harinya di ruang keluarga.
Evelyn duduk bersandar di sofa, sementara Julian duduk di seberang meja, berselonjor sambil mengutak-atik kompas miliknya.
"Semua dana kas yang tadinya mau dipakai Papa buat Oakhaven sekarang ngendap aman di bank pusat," ujar Julian pelan, matanya tak lepas dari jarum kompas.
"Papa masih mikir-mikir mau diputar ke mana lagi uang itu. Dan Count Malakor? Dengar-dengar dia kelimpungan cari pembeli baru karena bunga pinjamannya sudah membengkak."
Evelyn menyunggingkan senyum tipis, menyesap cangkir tehnya.
"Baguslah. Biar dia pusing sendiri sama jebakan yang dia buat," celetuk Evelyn santai. Jarinya menunjuk salah satu berkas yang tergeletak di tumpukan paling bawah. "Kak, coba ambilin sertifikat yang itu."
Julian mendongak, meraih berkas yang ditunjuk adiknya. Keningnya berkerut tajam saat membaca baris-baris kalimat di lembaran tersebut.
"Lembah Frostpeak?" Julian mengernyitkan dahi. "Ini kan tanah tambang tua di perbatasan wilayah Obsidian yang sudah ditutup lima belas tahun lalu, Lyn. Pemilik aslinya Viscount Haddon—bangsawan bangkrut yang kerjaannya main judi di kota bawah. Buat apa kamu ngumpulin sertifikat tanah terlantar begini?"
Evelyn memajukan badannya sedikit, mengambil sertifikat itu dari tangan Julian.
Lembah Frostpeak.
Di dalam novel The Crown of Fallen Stars, daerah ini merupakan tempat di mana sang antagonis utama—Duke Cassian von Obsidian—secara tidak sengaja menemukan cadangan kristal mana tingkat tinggi jenis Luminite dua tahun dari sekarang.
Penemuan itu membuat kekuatan militer dan ekonomi wilayah Utara melesat gila-gilaan, hingga membuat Istana ketakutan setengah mati dan makin gencar merencanakan penghancuran Cassian.
Tapi saat ini, dua tahun sebelum Cassian menyadari potensi tanah itu, Frostpeak masih dianggap sebagai "sampah" bernilai rendah.
Lahan berbatu terjal, tertutup es abadi, dan dianggap sudah habis isi tambangnya.
"Viscount Haddon mau menjual tanah ini seharga berapa, Kak?" tanya Evelyn.
"Harganya murah banget, hampir kayak harga tanah kosong di pinggiran desa," sahut Julian sambil memutar-mutar kompasnya. "Cuma sekitar lima ratus koin emas. Viscount Haddon butuh uang cepat buat bayar utang judi minggu ini. Tapi ya itu tadi... tanahnya nggak ada gunanya. Isinya cuma batu granit keras sama es tebal. Dulu pernah digali sampai kedalaman lima puluh meter, hasilnya nihil, cuma batu kosong."
"Itu karena mereka cuma menggali di sisi Selatan lembah," potong Evelyn cepat.
"Mereka Nggak pernah cek sisi Utara yang tertutup runtuhan tebing es."
Julian menatap adiknya, menghentikan gerakan jemarinya di atas kompas. "Kamu... dari mana bisa seyakin itu? Jangan bilang kamu dapet mimpi ajaib lagi?"
Evelyn terkekeh halus, memiringkan kepalanya dengan raut wajah pura-pura misterius. "Sebut saja firasat seorang gadis yang banyak baca buku geologi tua. Kak Julian percaya Nggak sama Evelyn?"
Julian menghela napas panjang, meraup wajahnya dengan sebelah tangan. Ia ingat betul bagaimana minggu lalu "firasat" adiknya berhasil menyelamatkan keluarga dari kehancuran ekonomi Oakhaven.
"Kakak selalu percaya sama kamu, Lyn," kata Julian serius. "Tapi kalau kita beli tanah ini atas nama keluarga Rosenberg, Papa pasti curiga. Beliau bakal tanya buat apa kita buang uang buat tanah terlantar di wilayah Utara."
"Makanya kita beli pakai Perusahaan Asteria," bisik Evelyn sambil menyunggingkan senyum licik. "Anak perusahaan rahasia yang kemarin kita bahas. Minta utusan kepercayaan Kakak beli sertifikat itu dari Viscount Haddon hari ini juga. Cash."
"Oke," Julian mengangguk cepat. "Terus setelah tanah itu resmi jadi milik Asteria, mau dikemanakan?"
"Kirim tim penggali rahasia dari Pasukan kakak," instruksi Evelyn, jarinya mengetuk-ketuk denah Frostpeak di atas meja.
"Minta mereka sewa alat bor sihir berat. Cari tebing sisi Utara yang ada ukiran batu berbentuk cakar serigala. Suruh mereka bor miring sejauh delapan puluh meter ke bawah."
"Delapan puluh meter?" Julian melotot kecil.
"Itu dalam banget, Lyn. Biaya sewa alat bor sihirnya bisa dua kali lipat dari harga tanahnya!"
"Lakukan saja, Kak. Evelyn jamin... biaya sewa itu nggak bakal ada artinya dibanding apa yang bakal kita temukan di bawah sana," balas Evelyn mantap.
Julian menatap adiknya selama beberapa detik sebelum akhirnya berdiri tegak. "Baik. Kakak berangkat ke kota bawah sekarang buat nemuin pengacara Asteria dan ngatur pembelian dari Viscount Haddon. Kamu istirahat sana."
"Siap!" jawab Evelyn riang.
Tiga hari berlalu dengan ketegangan yang tersembunyi di balik keheningan Kediaman Rosenberg.
Sore itu, salju tipis mulai turun membasahi pelataran taman. Evelyn sedang duduk di dekat perapian kamarnya, ditemani Duchess Eleanor yang sibuk merajut syal baru.
Pintu kamar mendadak terdorong agak keras. Julian melangkah masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu—hal yang sangat tidak biasa bagi ksatria yang sangat menjunjung sopan santun itu.
"Julian? Ada apa? Kok mukamu pucat begitu?" tanya Eleanor heran, menghentikan rajutannya.
Wajah Julian memang tampak sedikit pucat, napasnya agak terengah seolah-olah ia baru saja berlari menaiki ribuan anak tangga.
Matanya menatap Evelyn dengan pandangan yang sulit diartikan—perpaduan antara syok berat, takjub, dan rasa tidak percaya yang luar biasa.
"Ma... Julian mau pinjam Evelyn sebentar ke ruang baca," ujar Julian dengan suara yang sedikit bergetar. "Ada... ada hal penting soal laporan buku yang harus kami diskusikan."
Eleanor mengernyitkan dahi. "Hal penting apa sampai kamu masuk tanpa permisi begitu? Baiklah, jalannya pelan-pelan!"
"Iya, Ma!"
Julian dengan cepat memegang lengan Evelyn, lalu menuntunnya keluar kamar menuju ruang kerja pribadi Julian di ujung koridor sayap timur.
Begitu pintu ruang kerja dikunci dari dalam, Julian langsung menarik napas panjang.
Ia berjalan tergesa-gesa ke meja kerjanya, mengambil sebuah kotak besi kecil berukir segel sihir pelindung, lalu meletakkannya di atas meja tepat di depan Evelyn.
"Lyn... kamu harus lihat ini sendiri," bisik Julian, suaranya serak.
Jemari Julian yang agak gemetar membuka kait besi kotak tersebut.
Begitu tutup kotak terangkat, cahaya biru keemasan yang menyilaukan langsung memancar keluar!
Di dalam kotak itu, sebuah bongkahan kristal berukuran sebesar genggaman tangan.
Kristal itu bening bagai kaca, namun di dalamnya tampak gumpalan energi sihir murni bergelombang seperti cairan emas yang menari-nari.
Udaranya terasa begitu hangat dan menenangkan, seketika mengusir rasa dingin angin Utara yang menempel di jendela.
Evelyn menahan napasnya.
Kristal Luminite Murni.
Jenis kristal mana paling langka dan paling dicari di seluruh benua—sumber energi yang kapasitas penyimpanannya seratus kali lipat lebih stabil dan lebih tahan lama dibanding kristal mana biasa.
"Tim penggali Pasukan Shadow baru saja kembali sejam lalu," ucap Julian dengan suara yang masih bergetar hebat. Ia menatap kristal itu lalu beralih menatap Evelyn dengan mata membelalak. "Mereka bor di titik yang kamu minta... di kedalaman tujuh puluh delapan meter. Ksatria bilang... di bawah sana bukan cuma ada bongkahan kecil. Ada gua raksasa yang seluruh dinding dan langit-langitnya dipenuhi urat kristal seperti ini!"
Evelyn menyunggingkan senyum tipis, merasa sangat puas.
"Berapa estimasi nilainya, Kak?" tanya Evelyn tenang, jemarinya terulur menyentuh permukaan kristal yang terasa hangat di kulitnya.
Julian menelan ludah dengan susah payah. "Satu bongkahan kecil seperti ini di pasar gelap harganya bisa mencapai ribuan koin emas. Kalau seluruh isi gua itu dikuras... nilainya nggak bisa dihitung pakai uang lagi, Lyn. Perusahaan Asteria... secara teknis baru saja jadi salah satu entitas paling kaya di seluruh Kekaisaran!"
Julian mendudukkan dirinya di kursi samping meja, memegangi kepalanya yang terasa pusing karena kejutan besar ini.
"Kamu... kamu benar-benar luar biasa, Evelyn," gumam Julian, menatap adiknya.
"Kalau Viscount Haddon atau orang-orang Istana tahu tanah terlantar lima ratus koin emas itu menyimpan harta sebesar ini... mereka bisa gila tujuh turunan!"
"Makanya, tanah itu nggak boleh dijual ke siapa pun," tegas Evelyn.
"Tutup area pertambangan itu dengan mantra penyamar sihir. Ekstraksi kristalnya dilakukan secara berkala dan sangat rahasia lewat jalur Asteria."
"Siap," jawab Julian.
"Lalu... apa langkah kita selanjutnya? Dengan aset sebesar ini di tangan Asteria, kita bisa beli separuh kota."
Evelyn menyandarkan punggungnya di kursi, menatap keluar jendela tempat salju mulai turun makin lebat.
Di dalam ingatannya, peta politik novel mulai bergeser.
Penguasa wilayah Utara—Duke Cassian von Obsidian—saat ini sedang kelimpungan mencari sumber energi baru untuk bertahan dari musim dingin ekstrem yang akan tiba.
Di novel asli, Cassian terpaksa melakukan kompromi politik yang merugikan dengan Istana demi mendapatkan pasokan kristal murah.
Tapi sekarang? Pemilik tambang kristal terbesar di Utara bukan lagi tanah tak bertuan, melainkan milik Perusahaan Asteria—alias milik Evelyn Rosenberg dari balik layar.
"Simpan kristal ini baik-baik, Kak," bisik Evelyn. "Dalam waktu dekat... kita bakal melakukan transaksi bisnis pertama kita dengan sang penguasa Utara."
Julian mengangkat alisnya. "Maksudmu... Duke Cassian?"
"Siapa lagi?" Evelyn tersenyum tipis. "Pria itu butuh energi kita, dan kita butuh pengaruh militernya buat menekan posisi Istana. Saatnya mempertemukan dua kekuatan besar kan?"
semangat nulisnya 💪