Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman tersembunyi

Angin sore berhembus dingin dan sejuk, menyapu hamparan perkebunan teh yang hijau membentang luas sejauh mata memandang, bergulir lembut bagaikan ombak samudera. Di antara rimbunan daun itu, suara bisik‑bisik perlahan terbawa tiupan angin, bergerak dari satu rumah ke rumah lain di seluruh penjuru kampung, menyebar cepat tanpa bisa dihalangi.

Kabar tentang kedekatan Mawar dan Gala kini sudah tersebar bagai kilat, persis seperti asap tipis yang tertiup angin kencang, tak ada satu orang pun yang tahu dari mana dan siapa yang pertama kali membawanya, namun dalam sekejap saja hal itu sudah menjadi pembicaraan hangat di setiap beranda rumah, di sudut warung kopi, maupun di sepanjang jalan setapak yang dilalui warga. Bagi penduduk kampung yang hidup dengan kebiasaan mengurusi urusan orang lain, kisah ini hanya memiliki satu kesimpulan yang dianggap sudah pasti kebenarannya.

"Gala itu kan pemuda miskin, tak punya harta benda, tak punya kedudukan. Pasti dia mendekati Mawar hanya demi kekayaan dan kemewahan keluarga gadis itu saja. Tak ada alasan lain selain itu," ujar seorang wanita paruh baya yang dikenal seluruh kampung sebagai biang gosip.

"Lihat saja nanti, begitu dia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, dia pasti akan meninggalkan Mawar begitu saja," sahut seorang nenek tua sambil menunjuk ke arah perkebunan itu dengan ujung dagunya. Pendengar lain di sekitar mereka pun mengangguk setuju, menambahkan berbagai dugaan dan prasangka buruk masing‑masing, meski tak satu pun di antara mereka yang benar‑benar tahu isi hati, niat, maupun perasaan kedua pemuda pemudi itu.

Di bawah rindangnya pohon beringin tua yang berdiri kokoh di pinggir bukit, Mawar bersandar lemas namun tenang di bahu sang kekasih. Rambut hitam panjangnya tergerai dan berkibar tertiup angin, matanya menatap lurus ke arah bukit‑bukit berliku yang dimiliki sepenuhnya oleh keluarganya. Di sana, tanaman teh tumbuh subur, rapi, dan terlihat begitu megah, menjadi simbol kemakmuran, kekayaan, serta kemewahan yang membuat seluruh penduduk kampung memandang keluarga Mawar dengan rasa hormat.

Gala meremas pelan jemari Mawar, membiarkan kehangatan tangannya meresap masuk, lalu suaranya terdengar lembut namun tegas dan mantap di tengah desir angin yang berhembus.

"Mawar, aku sudah mengirim pesan dan meminta tolong pamanku yang tinggal di kota untuk mencarikan pekerjaan yang cocok untukku. Kabar baiknya, dia bersedia membantu dan sudah menemukan tempat yang pas. Lusa aku harus berangkat ke sana."

Mawar mendongak perlahan, wajahnya yang semula teduh dan penuh kerinduan kini berbinar antusias. Gadis itu menegakkan badannya sedikit, namun tak melepaskan genggaman tangan sang kekasih yang saling mengait erat.

"Baguslah, Gala! Aku sangat senang mendengarnya. Aku juga sudah berpikir mencari pekerjaan. Kalau kita berjuang berdua, saling menguatkan dan saling membantu, rasanya beban seberat apa pun pasti akan terasa lebih ringan dan lebih mudah dilalui," ucap Mawar penuh semangat.

Namun keraguan dan kekhawatiran masih membayangi sorot mata Gala. Ia menatap dalam‑dalam manik mata gadis di hadapannya, seolah ingin memastikan ketulusan di sana, lalu menghela napas panjang dan pelan.

"Tapi Mawar… sekuat apa pun kita bekerja keras, hasilnya tak akan pernah bisa menyamai kekayaan yang selama ini kamu nikmati sejak lahir. Apa kamu benar‑benar rela meninggalkan semua itu? Apa kamu yakin sanggup hidup sederhana bersamaku?"

Pertanyaan itu menggantung lama di udara, seolah angin pun berhenti berhembus sejenak menanti jawaban. Mawar terdiam sekejap, menatap ke arah hamparan kebun teh yang terlihat begitu indah dari kejauhan, lalu senyum tipis namun getir dan penuh kepahitan terukir di bibirnya. Ia mengalihkan pandangan kembali ke arah Gala.

"Gala, apa yang terlihat oleh mata orang luar seringkali tidak sama dengan kenyataan sesungguhnya," ucap Mawar pelan namun suaranya bergetar menahan emosi yang selama ini dipendam.

"Dari luar, memang kami tampak bahagia . Semua orang mengira kami punya segalanya, hidup berkecukupan, tanpa kekurangan apa pun. Tapi sejak Ayah meninggal dunia setahun silam, semuanya berubah drastis. Tak ada satu pun orang yang tahu bahwa kami terjerat hutang yang menumpuk, hutang yang ditinggalkan Ayah terus bertambah besar bunganya. Kalau kami tak bisa melunasi tepat waktu, rumah besar ini dan seluruh perkebunan teh yang luas ini akan disita oleh bank, dan kami akan terusir tak punya tempat tinggal."

Mawar mengeratkan genggamannya, rasa sakit dan takut yang selama ini ia simpan rapat sendirian akhirnya tumpah keluar. Ia tak pernah menceritakan rahasia kelam dan berat itu kepada siapa pun, sampai hari ini, hanya kepada Gala, satu‑satunya orang yang ia percaya sepenuh hati, satu‑satunya tempat ia merasa aman.

Gala diam sejenak, rasa haru bercampur dengan rasa marah melihat beban berat yang selama ini dipikul sang kekasih sendirian di balik wajah tenangnya. Ia mendekap bahu Mawar lebih erat, menatapnya dengan ketulusan yang terlihat jelas berkilauan di matanya.

"Terima kasih sudah berani berbagi bebanmu padaku, Mawar. Terima kasih sudah mempercayaiku. Aku janji, setelah kita menikah nanti, aku akan bekerja siang malam, tak akan kenal lelah, menjaga dan membahagiakanmu, apa pun yang terjadi, apa pun pengorbanannya. Aku tak akan membiarkanmu menderita sendirian lagi."

Sebagai jawaban, Mawar melingkarkan lengannya ke leher Gala, membenamkan wajahnya di dada bidang pemuda itu, mencari rasa aman dan perlindungan yang tak pernah ia temukan di tempat lain, bahkan di rumahnya sendiri. Keheningan manis dan hangat menyelimuti beberapa saat, sampai akhirnya Mawar melepaskan pelukan perlahan dan menatap lurus ke arah mata Gala.

"Gala, sebelum kamu berangkat ke kota… bagaimana kalau kita bertunangan lebih dulu? Sebagai tanda janji kita, supaya hati kita lebih tenang dan yakin," kata Mawar tiba‑tiba namun mantap, penuh keyakinan. Ia merogoh saku baju panjangnya, mengeluarkan segepok uang yang sudah dibungkus rapi dengan kain katun bersih. "Ini sedikit tabungan yang aku kumpulkan perlahan selama ini dari uang sakuku. Pakailah untuk membeli cincin sederhana saja, cukup untuk menjadi tanda janji suci kita berdua."

Gala menatap uang itu dengan mata berkaca‑kaca, ia mengangguk pelan, menerima pemberian itu dengan hati yang terasa penuh dan bergetar haru.

"Baiklah, Mawar. Aku anggap ini sebagai amanah sekaligus hutang. Nanti, begitu aku berhasil, punya pekerjaan tetap dan penghasilan sendiri, aku akan menggantinya berkali‑kali lipat, dan akan membelikanmu cincin yang paling indah di dunia."

Di kejauhan, tersembunyi di balik rimbunan semak teh yang lebat dan tinggi, sepasang mata gelap dan tajam menyaksikan segalanya dengan senyum miring yang mengerikan dan penuh niat buruk. Itu Pak Darmo, salah satu pekerja kebun yang sudah lama memendam dendam kepada keluarga Mawar, terutama kepada almarhum ayah gadis itu.

Setelah mengambil beberapa foto Gala dan Mawar, pria itu menyembunyikan kembali ponselnya ke dalam saku, menyeringai lebar hingga menampakkan gigi yang tak rapi dan berwarna kekuningan. Bayangan niat buruk dan rencana jahat berputar cepat di kepalanya.

"Siapa sangka? Putri keluarga yang dijunjung tinggi, dianggap paling terhormat, paling sopan dan suci di kampung ini, ternyata kelakuannya begitu bebas dan tak tahu malu," gumam pria itu setengah berbisik, seolah berbicara pada angin sore yang berhembus lewat.

"Foto‑foto ini pasti bakal laku mahal. Aku bisa dapat banyak uang sekaligus membalas sakit hati lama yang sudah tertahan bertahun‑tahun. Tunggu saja, sebentar lagi semua orang di kampung ini akan tahu kelakuan asli keluarga itu. Nama baik mereka akan hancur lebur, sama seperti dulu mereka menghancurkan hidupku."

Angin kembali berhembus melewati perkebunan teh, membawa bau tanah basah dan aroma daun teh yang segar dan menenangkan, namun kini terselip ancaman gelap dan bahaya tak kasat mata yang mulai mengintai dari balik pepohonan.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!