Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Perubahan Elden
Arven masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tidak lepas dari Mireya yang sedang mencangkul di kejauhan.
“Jadi selama aku pergi, dia terus melakukan itu?”
Pak Can mengangguk. “Hampir setiap hari, Tuan.”
“Hampir?”
“Kalau hujan terlalu deras, Nyonya biasanya tidak pergi ke kebun. Tetapi selain itu, bahkan ketika matahari bersinar dengan sangat terik, beliau selalu keluar bersama Tuan Muda Elden.”
Arven mengernyit. “Setiap hari?”
“Iya.”
Arven kembali melihat ke arah kebun.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat beberapa bagian lahan yang sebelumnya dipenuhi tanaman liar kini sudah jauh lebih rapi.
Ia bahkan tidak menyadari perubahan itu. Selama beberapa minggu terakhir, pikirannya terlalu dipenuhi urusan tanah di provinsi lain.
Namun, ternyata selama ia pergi, rumahnya justru mengalami perubahan yang cukup besar.
“Dia mengerjakan semuanya sendiri?”
“Tepat sekali, Tuan.”
“Kenapa dia tidak meminta pekerja yang ada untuk membantunya?”
Pak Can tersenyum tipis. “Nyonya bilang ingin mengenal tanahnya sendiri terlebih dahulu.”
Arven mengulangnya kembali dalam pikiran.
'Tanahnya sendiri?'
Perkataan itu membuatnya sedikit heran.
Mireya datang ke rumah ini sebagai seseorang yang akan mengurus Elden. Bukan sebagai pengelola perkebunan. Namun, perempuan itu justru malah menghabiskan waktunya di lahan terbengkalai.
"Bagaimana Elden? Tanyanya memastikan keadaan putranya yang setiap hari dibawa keluar di bawah teriknya matahari.
"Dia baik-baik saja, Tuan. Bahkam, sekarang setiap makan, dia begitu lahap. Mungkin karena energinya sudah terkuras seharian main," terang Pak Can.
“Dia tidak mengeluh?”
“Tidak pernah.”
“Tidak pernah?” Arven cukup terkejut mendengar kabar putranya sampai begitu berubah.
"Benar, Tuan. Hanya saja saat ini kulit putra Anda sedikit merah," ucapnya menahan senyum.
"Lalu bagaimana dengan dia?" Arven hanya memberi kode dengan gerakan kepala.
"Nyonya Mireya, Tuan?" tanya Pak Can memastikan.
"Hmmm ..."
“Sesekali Nyonya hanya mengeluh pegal.”
Arven melirik Pak Can. “Pegal? Apa perlu diantar ke dokter?”
Pak Can hampir tersenyum.
“Kalau hanya karena mengeluh pegal dibawa ke dokter, mungkin Nyonya tak akan pernah keluar untuk bekerja lagi, Tuan."
Arven tidak menjawab. Pandangan keduanya kembali tertuju pada kebun. Mireya baru saja berhenti mencangkul.
Ia menyandarkan kedua tangannya pada gagang cangkul sambil menarik napas panjang.
Elden berlari menghampirinya. Anak itu mengatakan sesuatu. Mireya kemudian mengusap kepala Elden.
Beberapa detik kemudian, keduanya tertawa.
Arven memperhatikan pemandangan itu dengan tatapan sulit dibaca.
“Sekarang Elden tampak berbeda sekali,” gumamnya pelan.
Pak Can langsung memahami maksudnya. “Benar sekali, Tuan. Elden sudah jauh berbeda.”
“Seberapa jauh?”
“Anda lihat sendiri bukan? Dulu bahkan dia sulit diajak keluar rumah.”
Arven mengangguk. Ia tahu hal itu. Sudah bertahun-tahun berbagai cara dilakukan untuk membuat Elden mau berinteraksi dengan orang lain.
Namun anak itu selalu menolak.
“Sekarang?” Pak Can menunjuk ke arah kebun. “Sekarang Elden bangun pagi hanya untuk mengajak Nyonya berkebun.”
Wajah Arven kembali mengernyit. “Setiap pagi?”
“Bahkan kalau Nyonya masih di kamar mandi, Tuan Muda akan menunggu di depan pintu.”
Alis Arven sedikit terangkat. “Menunggu?”
“Iya.” Pak Can menahan tawa ketika mengingatnya.
“Pernah suatu pagi Nyonya sedang mandi agak lama. Tuan Muda duduk di depan kamar sambil membawa boneka gajahnya.”
Arven menatapnya. “Lalu?”
“Katanya, ‘Ibu lama sekali.’”
Arven sedikit mengembuskan napas. Entah kenapa, mendengar cerita itu membuatnya merasa sedikit aneh.
Dulu Elden hanya mencarinya. Sekarang anak itu justru menunggu Mireya.
“Selain berkebun, apa yang mereka lakukan?”
“Banyak.”
“Contohnya?”
Pak Can mulai menghitung dengan jari. “Bermain di kebun. Mencari serangga. Mengumpulkan batu. Menanam bibit. Kadang Nyonya membacakan cerita.”
Arven mengangguk pelan.
Pak Can tersenyum melihat reaksi Arven. "Tidak hanya itu, Tuan. Sekarang Elden pun sudah mau mencoba makan sayur meskipun sedikit."
“Kok bisa?”
“Soalnya, Nyonya sangat keras soal sayur.”
Arven menatap Pak Can. “Keras? Apa yang dia lakukan pada anakku?”
*bersambung*
Siapa yang nggak bakalan pangling coba?
Ditunggu cerita selanjutnya
ini cerita tee realistis yg pernah aku baca di sepanjang baca pernovelan si.
kenapa?
karena untuk bahagia itu sebenarnya sederhana.
kita ga perlu merubah orang lain atau memaksa keadaan yg penuh problematika biar lepas dr masa lalu.
cukup jadi diri sendiri dan merubah mindset kita sendiri si.
terimakasih atas cerita indah nya Thor.
mungkin Se savage aku mesti belajar jadi orang woles yaa🤣🤣
kalau aku udah bertanduk itu...
tapi ga bikin puas ya
kalau begini mereka yg malu sendiri
Sekarang kalau mereka tahu Mireya hamil....bakalan heboh.
kira² gmn reaksi keluarga mantan jika tau mireya hamil?
bahagia itu sederhana ya ven
gaya hidup lu yg dulu,yg bebas bisa ga ngasih kebahagiaan kyk gini?