Indonesia
NovelToon NovelToon
Tak Lagi Mencintaimu

Tak Lagi Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Pelakor jahat / Tamat
Popularitas:485.4k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.

‎Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.

‎Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.

‎"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

‎Mendengar pertanyaan itu, jantung Amelia seketika berdegup kencang. Tangannya yang tadi mengusap punggung Raga terhenti sejenak, namun dengan sigap ia segera menutupi kegelisahannya dengan raut wajah yang terlihat terkejut dan tersinggung.

‎‎Ia melepaskan pelukannya sedikit, menatap Raga dengan mata terbelalak seolah merasa difitnah.

‎‎"Mas bicara apa sih? Kenapa menuduhku begitu?" jawabnya dengan suara sedikit meninggi, lalu perlahan melembut kembali nadanya. "Untuk apa aku mengirimkan hal memalukan itu padanya? Kalau aku yang melakukannya, bukannya justru merusak citra kita? Kalau sampai video itu tersebar luas, nama Mas juga yang akan tercemar, dan posisiku pun tidak akan aman. Apakah aku sebodoh itu?"

‎‎Amelia meraih tangan Raga, memegangnya erat-erat dengan tatapan yang terlihat tulus dan terluka.

‎‎"Mas, kalau aku ingin memisahkan kalian, caranya pun tidak akan sebodoh itu. Mungkin saja mba Risa yang sudah menyuruh orang untuk memata-matai kita karena dia saat itu sudah mulai curiga dengan hubungan kita,"

‎‎Raga menatap wajah Amelia lekat-lekat, berusaha membaca apakah ada kebohongan di balik matanya.

‎‎"Tapi tidak ada orang yang tahu kamu ikut aku pergi dinas saat itu. Bahkan kunci kamar pun hanya ada di tangan kita berdua. Kalau bukan kamu yang mengaturnya, lalu siapa lagi yang bisa menempatkan kamera tanpa kita sadari?"

‎‎Amelia menelan ludah, jantungnya makin berdebar kencang namun ia berusaha tetap tenang. Matanya berkaca-kaca seolah benar-benar tersinggung oleh tuduhan itu.

‎‎"Mas... sungguh aku tidak tahu apa-apa!" suaranya bergetar, ia menundukkan wajah seolah menahan air mata. "Mungkin saja ada sistem keamanan hotel yang merekam secara otomatis, lalu ada karyawan yang berniat jahat menjual rekamannya? Atau mungkin ada orang yang membenci kita berdua dan sengaja mengikuti kemanapun kita pergi? Dunia ini luas, Mas, siapapun bisa melakukannya untuk mengambil keuntungan."

‎‎Ia kembali mendekat, tangannya kini memegang lengan Raga dengan lembut namun memohon.

‎‎"Aku tidak mungkin dengan sengaja membongkar hubungan gelap kita pada mba Risa meskipun aku sangat mencintaimu, Mas. Aku tidak mungkin sejahat itu. Mungkin memang sudah waktunya saja mba Risa tahu semuanya, supaya kita juga tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi."

‎‎Raga terdiam. Logikanya berkata bahwa Amelia punya alasan kuat untuk tidak melakukannya. Namun nalurinya masih merasa ada yang janggal. Ada bagian dari penjelasan itu yang terasa seperti dipaksakan.

‎‎"Baiklah, untuk saat ini aku percaya kata-katamu," ucapnya akhirnya, meski nada bicaranya tidak sepenuhnya meyakinkan. "Tapi ingat satu hal, Mel. Kalau nanti aku tahu ada kebohongan yang kamu sembunyikan, jangan harap aku akan tetap bersikap baik padamu. Kepercayaanku ini tidak akan bertahan selamanya."

‎‎Amelia mengangguk cepat, menyembunyikan senyum lega di balik wajahnya yang masih terlihat sedih. Ia bersandar kembali di dada Raga, memeluk pinggangnya erat-erat.

‎‎"Wanita sialan itu... sudah meminta cerai tapi masih saja menganggu ketenanganku. Kenapa pula Mas Raga harus menolak bercerai dan ingin mempertahankannya. Jelas-jelas dia hanya wanita mandul yang tidak berguna!"

-

-

-

‎Menjelang tengah hari, suasana kantor mulai lengang. Sebagian besar karyawan sudah beranjak meninggalkan meja kerja mereka untuk pergi ke kantin atau mencari tempat makan di luar. Namun, Risa masih duduk tegak di tempatnya, matanya tetap tertuju pada sketsa di atas kertas, sesekali menggaris atau mengubah sedikit detail desainnya. Ia terlalu fokus hingga tidak menyadari waktu sudah menunjukkan pukul satu siang.

‎‎Regan berjalan melewati depan ruang divisi desain bersama Pak Dwi, manajer operasionalnya, sambil sesekali mengangguk mendengarkan laporan mengenai proyek baru yang sedang berjalan. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sosok yang masih asyik bekerja seorang diri.

‎‎Regan berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah manajer di sampingnya. "Kita lanjutkan saja urusannya nanti sore. Silakan pergi duluan."

‎‎"Baik, Pak Regan," jawab Pak Dwi sopan, lalu melanjutkan langkahnya menjauh.

‎‎Setelah itu, Regan melangkah perlahan mendekati meja Risa. Ia tidak langsung menyapa, hanya berdiri di samping dengan tenang, mengamati sejenak pekerjaan yang sedang dikerjakan wanita itu.

‎‎Beberapa detik berlalu hingga Risa menyadari kehadiran seseorang didekatnya. Risa terkejut, ia segera mengangkat wajah dan tertegun melihat Regan berdiri disamping mejanya. Dengan segera, ia menutup buku sketsanya dan berdiri.

‎‎"Selamat siang, Pak Regan," sapa Risa sopan.

‎‎"Sudah jam makan siang. Kenapa masih duduk disini?" tanya Regan singkat.

‎‎Risa sedikit gugup, lalu menjawab dengan jujur, "Maaf, Pak. Saya terlalu fokus mengerjakan sketsa ini sampai tidak sadar waktu. Sebentar lagi saya selesai, lalu saya akan makan."

‎‎Regan melirik sekilas ke arah lembaran sketsa yang baru saja ditutup itu, lalu kembali menatap wajah Risa yang tampak sedikit canggung.

‎‎"Sebentar lagi? Kalau dibiarkan, nanti kamu lupa lagi dan terus bekerja sampai sore," ucapnya nya pelan namun pasti. "Bereskan dulu barang-barangmu, setelah itu ikut saya makan siang di luar."

‎‎Risa tertegun sejenak, matanya sedikit melebar mendengar ajakan itu. Ia tidak menyangka sang direktur utama akan mengajaknya makan bersama di hari pertamanya bekerja. Namun melihat nada bicara Regan yang tegas tapi tidak memaksa, ia segera mengangguk patuh.

‎‎"Baik, Pak. Sebentar... saya akan bereskan dulu,"

‎Risa segera merapikan barang-barang di mejanya. Dalam waktu kurang dari dua menit, meja kerjanya sudah kembali bersih dan tertata sempurna.

‎‎Keduanya melangkah keluar ruangan, menyusuri lorong kantor yang mulai kembali ramai oleh karyawan yang baru selesai makan. Beberapa orang melirik dengan rasa penasaran, melihat direktur utama berjalan berdampingan dengan staf baru di hari pertamanya. Namun Regan berjalan santai tanpa menghiraukan pandangan itu, sementara Risa tetap menjaga sikap dan fokus pada langkahnya.

‎‎Sesampainya di tempat parkir, Regan membukakan pintu penumpang mobil, "Silakan masuk."

‎‎"Terima kasih, Pak," jawab Risa sopan, lalu duduk dengan hati-hati. Begitu ia nyaman, Regan berjalan mengitari mobil dan masuk ke sisi pengemudi, lalu menyalakan mesin dan melaju perlahan keluar dari area kantor.

‎‎Mobil melaju sekitar lima belas menit menuju sebuah restoran. Mereka turun dan masuk ke dalam. Pelayan segera menyambut dan mengantar mereka ke meja di sudut ruangan, sedikit terpisah dari pengunjung lain. Begitu duduk, Regan menyerahkan daftar menu.

‎‎"Pesan saja apa yang kamu suka, jangan sungkan. Anggap saja ini bagian dari penyesuaian diri, bukan rapat kerja," ucapnya dengan nada yang jauh lebih santai dibanding saat di kantor.

‎‎Risa mengangguk, lalu memilih hidangan kesukaannya. Setelah pesanan dicatat dan pelayan pergi, suasana menjadi lebih santai. Risa meletakkan kedua tangannya di atas meja, napasnya perlahan menjadi lebih tenang. Rasa gugup yang tadi masih tersisa kini mulai memudar, tergantikan oleh rasa nyaman melihat sikap Regan yang tidak membuatnya merasa tertekan.

Regan menatapnya dalam diam sejenak, sorot matanya lembut dan penuh perhatian, tidak ada rasa ingin tahu yang memaksa. Ia teringat kembali obrolan singkat semalam di dalam mobil, saat Risa menyampaikan dengan tenang bahwa ia sedang dalam proses perceraian.

‎‎"Risa," panggilnya perlahan, suaranya rendah dan lembut. "Maaf kalau saya lancang bertanya."

‎‎Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin hati-hati, seolah takut menyentuh luka yang masih tersisa.

‎‎"Kalau kamu tidak keberatan, bolehkah saya tahu alasan kamu dan suami kamu memilih untuk bercerai?"

-

-

-

‎Bersambung...

1
Heny
Bagus risa pergi yg jauh biar waktu yg menentukan mrk akan menyesal
Turi77 Turi77
selesai ini km akan menyesali semua perbuatan mu raga,
fatmiatun sahono
begitu suami nya pergi ke luar kota. mending lah tinggal pergi saja itu suami nya
toh barbuk sdh ditangan
lsg cerai....wanita skrg hrs kuat percaya diri dan mampu berdiri di atas kaki sendiri...hehhehehe💪
Edy Sulaiman
inilah yg namanya manusia serakah SDH merusak rmh tangga orang tapi masih tetap m rasa kurang
Edy Sulaiman
masih menyimak saja dulu nmpknya bagus nih cerita.
Ranny
Amelia dasar perempuan perek murahan gampangan lobang mu itu sdh seperti wc umum ya 😄😄😄
Ranny
mandul teriak mandul 😄😄😄 nanti setelah terbongkar kalau dia sendiri yg mandul malu gak ya 🤭
Ranny
dasar pak Harun ortu lucnat ayah kandung berasa ayah tiri woiii punya otak kagak kok malah membela anak mantu tak beradab yg suka obral perkututnya his jijik deh dengan kelakuan mu itu
Ranny
Amelia kau mau dapat kecebong dr mana...paling kau akan dapat dr selingkuhan ya soalnya sekali kau merebut suami orang pasti akan ketagihan dan penasaran mau merasakan burung perkututnya pria lain lagi 😄😄😄
Ranny
lah dah betul kan perkiraan ku kalau Regan itu cucunya Oma yg hampir di tabrak dan di tolong Risa ☺️
🔥Violetta🔥: /Ok//Ok//Grin/
total 1 replies
Reni Setia
makasih untuk novelnya ya
🔥Violetta🔥: Sama-sama kakak 🙏😁
total 1 replies
Ranny
mungkinkah Regan ini cucunya Oma yg hampir di tabrak oleh Risa
Murni Sumiarti
Dibawah kendali asisten suami kok di noveltoon nggak ada?
🔥Violetta🔥: Iya kakak... saya hapus dulu karena kemarin sempat gak lolos kontrak.. mau direvisi total. Nanti saya up ulang kalau sudah direvisi 🙏😁
total 1 replies
Violet
Bersyukurlah utk para wanita yg bisa merdeka bercerai dr suami modelan Raga. Tetangga kompleks rumah sini ada sprti Risa yg sehat tp dicaci maki mandul pdhal sp*rma suaminya encer, nikah 20thn pilih cerai mlh ditekan mentalnya oleh suami & kluarga mlh sang ortu wanitanya jg ga dukung, smuanya blg kalo cerai ga ada yg bakalan mau sama janda yg ga bisa kasih anak. Sedih bgt tiap kali didoktrin gitu menciut lg nyalinya utk cerai 😭
🔥Violetta🔥: Amin... Kita doakan sama-sama untuk kakaknya yang disana... semoga diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menjalani ujian kehidupan 🙏😊
total 3 replies
Khansa Andini
kak buatin versi Raga untuk bisa nemuin wanita tulus lagu
🔥Violetta🔥: Nanti coba ya kak 😁🙏
total 1 replies
Agus Tina
Kamu menjaga harga diri suami kamu tapi kamu tifak jujur padanya Risa, seharusnya kamu jujur pada suamimu duku baru outuskan untuk menutupi semuanya pada mertuamu ...
Yunita Asep
uuhh serru..! author kerren..., suxes dan sehat slalu, lov yu...
🔥Violetta🔥: Terimakasih kakak 😁🙏
total 1 replies
Yunita Asep
ahaay deh., jadi malu2.., Gas langsung Regaann...!
Yunita Asep
lanjuutt..
Yunita Asep
syukurriin... makanyaa jangn ambil suami orang..!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!