Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 32 - Semakin ditatap
Malam semakin larut tetapi Nadine belum juga mampu menenangkan pikirannya. Ia masih berada di kamarnya dengan ponsel yang terus berada di genggaman, sesekali menyalakan layar hanya untuk memastikan apakah ada pesan atau panggilan yang masuk dari Tante Aluna.
Namun sampai sekarang, tidak ada apa-apa.
Nadine mengembuskan napas panjang, kemudian meletakkan ponselnya di atas meja. Beberapa detik kemudian ia kembali mengambil benda tersebut, berharap dengan menatap layarnya lebih lama sebuah kabar akan muncul dengan sendirinya. Tapi ternyata tetap saja nihil.
"Kenapa Tante Aluna belum menghubungiku?" gumam Nadine pelan.
Seharusnya jika Mommy Aluna benar-benar datang ke mansion Ethan, wanita itu akan segera mengetahui tentang Ashlyn. Nadine bahkan sudah membayangkan bagaimana perdebatan mereka nantinya.
Tante Aluna jelas akan marah dan mempertanyakan mengapa Ethan menyembunyikan pernikahannya. Lalu meminta pernikahan itu untuk segera diakhiri, karena Ashlyn hanyalah wanita bodoh di samping Ethan.
"Harusnya sekarang Tante Aluna sudah bertemu dengan wanita itu," gumam Nadine lagi.
Bayangan gadis yang ditemuinya tadi siang kembali muncul di dalam pikirannya. Wajah polos, tatapan kosong, cara berbicara seperti anak kecil, dan bagaimana gadis itu terus memanggil Ethan dengan sebutan suami.
"Menjijikan." Nadine mengepalkan tangannya.
Jika Tante Aluna sudah bertemu dengan Ashlyn, apa yang terjadi?
Apakah Ethan sudah menjelaskan semuanya?
Apakah keluarga Harold akan membuang wanita asing itu begitu saja?
Atau justru sebaliknya?
Nadine menggigit bibir bawahnya cukup kuat, begitu banyak pertanyaan di dalam benaknya sekarang. Ia sebenarnya ingin sekali menelepon Tante Aluna dan menanyakan apakah wanita itu jadi mengunjungi mansion Ethan atau tidak. Namun tangannya yang sudah sempat membuka kontak Aluna kembali berhenti.
Tidak.
Nadine bersikeras tidak boleh melakukan itu. Jika ia tiba-tiba bertanya, maka akan semakin terlihat mencurigakan.
Ethan sudah memperingatkannya dengan begitu jelas. Nadine tidak ingin memberikan alasan apa pun kepada pria itu untuk menganggap dirinya sengaja ikut campur dalam kehidupan pribadi Ethan.
"Aku harus menunggu," ucap Nadine. Tapi matanya Nadine kembali menatap layar ponsel.
Tidak ada pesan.
Tidak ada panggilan.
Tidak ada kabar apa pun.
Nadine kemudian berjalan menuju jendela kamar dan menatap langit malam yang gelap. Perasaannya benar-benar tidak tenang.
"Kalau Tante Aluna sudah bertemu dengannya, pasti keluarga Harold saat ini sedang kacau," ucap Nadine.
Bagaimana mungkin tidak?Ethan tiba-tiba memiliki seorang istri yang tidak pernah diketahui siapa pun. Wanita itu bahkan berasal dari perbatasan dan memiliki kondisi yang membuatnya bertingkah seperti gadis bodoh.
Semua ini terlalu mendadak dan mengejutkan.
"Semua ini karena wanita bodoh itu," gumam Nadine dengan tatapan yang perlahan mengeras.
Saat ini Nadine merasa dia hanya perlu bersabar. Orang yang dikirimnya ke perbatasan akan segera membawa jawaban dan Tante Aluna seperti bola panas yang siap meledak.
......................
Sementara itu suasana di mansion Ethan kini sudah terasa begitu tenang. Sebagian besar lampu sudah dimatikan dan para pelayan telah kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, seluruh penghuni mansion perlahan tenggelam dalam kesunyian.
Di salah satu kamar Ashlyn bahkan sudah terlelap sejak beberapa waktu lalu.
Tubuhnya berbaring nyaman di atas ranjang, selimut menutupi sebagian tubuhnya. Rambut panjang Ashlyn sedikit berantakan di atas bantal, sementara wajahnya yang biasanya dipenuhi berbagai ekspresi kini terlihat begitu damai.
Napasnya teratur.
Tidak ada lagi senyum lebar.
Tidak ada pertanyaan polos yang membuat Ethan harus berpikir keras untuk menjawab.
Ashlyn benar-benar tertidur pulas.
Namun berbeda dengan gadis itu, Ethan justru masih terjaga. Pria itu berbaring di sisi lain ranjang sambil menatap langit-langit selama beberapa saat. Sejak pertama kali Ashlyn dibawa ke mansion hingga sekarang, mereka memang selalu tidur di ranjang yang sama.
Awalnya Ethan melakukan itu karena Ashlyn tidak mau tidur sendirian. Gadis itu selalu merasa takut ketika Ethan meninggalkannya.
Maka Ethan akhirnya membiarkannya dan entah sejak kapan keberadaan Ashlyn di sampingnya pada malam hari mulai terasa seperti sebuah kebiasaan.
Ethan perlahan memiringkan tubuh, tatapannya jatuh kepada Ashlyn yang ada di sampingnya. Tanpa sadar Ethan memperhatikan wajah tersebut cukup lama.
Wajah polos itu.
Bibir yang sedikit terbuka ketika tidur.
Rambut yang menutupi sebagian pipinya.
Semuanya terlihat begitu berbeda ketika Ashlyn tidak sedang berbicara atau bergerak kesana-kemari.
Ethan menghela napas pelan. "Bagaimana kalau nanti kamu sembuh?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Ethan.
Tentu saja Ashlyn tidak menjawab. Gadis itu bahkan tidak bergerak sedikit pun dan Ethan menatapnya semakin lama.
Mom Aluna tadi sudah menanyakan hal yang sama. Kalau Ashlyn sembuh, bagaimana? Tapi bagi Ethan tetap sama, ia menganggap pertanyaan itu masih terlalu jauh untuk dipikirkan sekarang. Masih banyak hal yang harus dilakukan sebelum sampai pada tahap tersebut.
Entah karena risih sendiri atau bagaimana, tiba-tiba salah satu tangan Ethan bergerak untuk merapikan rambut Ashlyn. Rambut yang menutupi pipinya ia sampirkan di telinga.
Semakin ditatap Ashlyn terlihat semakin cantik sekali. 'Astaga, apa yang aku pikirkan,' batin Ethan.
Ethan bukanlah pria yang tak bermoral, ia paling anti memanfaatkan seseorang hanya untuk membuat dirinya sendiri merasa puas.
Setelah menghela nafasnya kasar, Ethan pun mengelus puncak kepala Ashlyn perlahan. "Tidurlah dengan nyenyak, aku akan melindungimu... Aku akan membuatmu sembuh."
Rasakan ya permainan baru saja dimulai ... ini masih awal untuk selanjutnya pasti akan lebih mengejutkan lagi ...
kira kira begitulah yang dirasakan Ethan pada Ashlyn saat perubahan itu ada pada Ashlyn....
aslyn ga kenal anda yah
jadi jangan coba2 mendekati aslyn