Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Alicia Eclair Linfort, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Pertempuran Melawan Tiga Monster Tingkat Tinggi 2
Isabella merasa dia harus segera menghentikan pertarungan ini, lalu Ia menghentakkan kakinya ke tanah.
"Earth Wall!"
BUUM!
Dinding tanah raksasa menjulang dari permukaan bumi, berdiri kokoh tepat di hadapan semburan api hitam.
Api itu menghantam dinding dengan ganas, tetapi Isabella terus memperkuat struktur tanah tersebut menggunakan mana miliknya.
Ketika serangan lawan mulai melemah, ia menggerakkan kedua tangannya.
"Earth Prison!"
Tanah di bawah monster api hitam mendadak berguncang. Pilar-pilar tanah menjulang dari segala arah, membentuk penjara kokoh yang mengurung monster tersebut di dalamnya.
Monster itu menggeram dan berusaha menghancurkan kurungan tersebut.
Sayangnya, Isabella tidak memberinya kesempatan.
"Lightning Strike!"
Kilatan petir menyambar dari langit, kemudian merambat melalui pilar-pilar tanah yang mengelilingi monster itu.
KRAAAAKK!
Petir menyambar tubuh monster dari berbagai arah.
Raungannya mengguncang hutan ketika tubuhnya kejang akibat sengatan listrik yang terus menghantam tanpa henti.
Tak lama kemudian, gerakannya mulai melambat.
Monster api hitam itu akhirnya roboh di dalam penjara tanahnya.
Satu musuh berhasil disingkirkan.
Namun, Isabella tidak sempat bersantai karena monster lainnya telah bergerak menuju posisinya.
Monster tersebut melompat tinggi, lalu menerjang dengan kekuatan fisik yang luar biasa.
Isabella menyeringai tipis.
"Kau pikir aku hanya memiliki sihir tanah dan petir?"
Ia mengayunkan tangannya ke samping.
"Quicksand!"
Permukaan tanah di bawah monster itu seketika berubah menjadi pasir hisap.
Monster tersebut kehilangan pijakan, tubuhnya perlahan tenggelam ketika pasir hisap menariknya semakin dalam, membuat setiap upayanya untuk meloloskan diri justru memperburuk keadaan.
Monster itu meraung marah dan meronta-ronta.
Isabella mengangkat satu tangannya, lalu membentuk lingkaran sihir di atas pasir hisap tersebut.
"Flame Burst!"
Api menyembur dari dalam pasir, membungkus tubuh monster yang telah terperangkap.
Raungan kesakitan terdengar begitu keras hingga beberapa burung yang bersembunyi di pepohonan langsung terbang menjauh.
Monster itu terus berusaha melepaskan diri, tetapi semakin keras ia bergerak, semakin dalam tubuhnya terbenam.
Beberapa saat kemudian, raungannya perlahan menghilang.
Isabella menurunkan tangannya.
Dua monster telah tumbang.
Kini hanya tersisa satu.
Monster berkekuatan kegelapan.
Monster yang sejak awal paling menarik perhatiannya.
Monster itu berdiri tidak jauh dari sana, menatap Isabella dengan mata yang dipenuhi kebencian. Energi hitam di sekitar tubuhnya semakin pekat, sementara cakarnya memancarkan kilatan gelap yang mengerikan.
Dalam sekejap, tubuhnya kembali menghilang.
Isabella langsung memutar tubuh, berusaha membaca pergerakan mana lawannya.
Namun, monster itu muncul di sisi kirinya dan langsung mengayunkan cakar.
Isabella menghindar dengan menekuk tubuhnya, tetapi monster itu segera melancarkan serangan kedua.
Kali ini, Isabella tidak mundur.
Ia justru menghentakkan kakinya dengan keras ke permukaan tanah.
DUUM!
Retakan besar menjalar dengan cepat, membelah tanah tepat di bawah monster tersebut.
Sebelum makhluk itu sempat melompat keluar, tanah di bawah kakinya runtuh, membuat tubuhnya terperosok ke dalam celah yang semakin melebar.
"Sudah kubilang, jangan terlalu mengandalkan kecepatanmu." Kata Isabella mengejek.
Isabella lalu menggerakkan jemarinya.
Dari dasar retakan, sulur-sulur tanaman menjalar dengan cepat. Sulur itu melilit kedua kaki, tubuh, hingga lengan monster tersebut, menahannya agar tidak dapat bergerak bebas.
Monster itu menggeram dan berusaha memotong sulur-sulur tersebut menggunakan cakarnya.
Namun, Isabella tidak memberinya kesempatan.
Ia mengangkat tangannya, dan nyala api langsung berkumpul di telapak tangannya.
"Kalau begitu, mari kita akhiri ini."
Dengan satu gerakan, Isabella melepaskan semburan api yang menyelimuti seluruh tubuh monster tersebut.
WHOOOOSSHH!
Api berkobar di dalam retakan tanah, membakar monster yang telah terjerat sulur-sulur tanaman.
Monster itu meraung kesakitan. Ia berusaha melepaskan diri, tetapi sulur-sulur tersebut terus menahannya dengan kuat.
Isabella tetap berdiri dengan tenang, mengendalikan apinya hingga energi kegelapan yang menyelimuti monster itu perlahan menghilang.
Akhirnya, raungan mengerikan itu berhenti.
Tubuh monster tersebut terkulai lemas di dasar retakan.
Pertempuran pun berakhir.
Lalu Isabella kembali menghentakkan kakinya ke tanah, kemudian retakan tanah itu akhirnya tertutup tampa celah kembali seperti sedia kala.
Kini hutan yang sebelumnya dipenuhi suara raungan dan ledakan sihir kembali sunyi. Hanya suara dedaunan yang bergesekan tertiup angin terdengar di antara pepohonan yang rusak.
Isabella mengembuskan napas panjang, lalu menurunkan tangannya.
"Fiuh. Akhirnya selesai juga."
Ia menepuk-nepuk pakaiannya yang sedikit terkena debu, seolah-olah baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah biasa, bukan pertarungan melawan monster-monster mengerikan.
Di sisi lain, Kael dan Aeron hanya bisa berdiri mematung.
Keduanya menatap Isabella dengan ekspresi yang sulit digambarkan.
Mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana Isabella menghadapi ketiga monster tersebut. Wanita itu tidak hanya mampu mengendalikan sihir api, angin, air dan es, tetapi juga sihir tanah, petir, bahkan sulur-sulur tanaman dan yang lebih parah Isabella mampu menciptakan sebuah pasir yang bisa menghisap lawannya dan membelah tanah.
Yang lebih mengejutkan lagi, Isabella menggunakan setiap elemen dengan penguasaan yang luar biasa, seolah-olah semua jenis sihir itu telah menjadi bagian dari dirinya sejak lahir.
Aeron menelan ludah.
"Tunggu sebentar...."
Ia menunjuk Isabella dengan wajah tidak percaya.
"Isabella, sebenarnya berapa banyak elemen sihir yang bisa kau gunakan?" Tanya Aeron, rasanya dia seperti baru saja di bangunkan dari mimpi panjanh, ternyata tuannya ini memiliki kekuatan yang jauh dari perkiraannya selama ini.
Kael juga menatapnya lekat-lekat.
"Benar! Aku tahu kau kuat, tetapi aku tidak pernah menyangka kau bisa menggunakan begitu banyak elemen sekaligus!" Kata Kael, kemudian dia juga mengingat jika Isabella juga memiliki sihir penyembuh yang sangat jarang di miliki oleh para penyihir bahkan penyihir tingkat tinggi sekalipun, karena sihir penyembuh hanya dimiliki oleh para saintess saja, tapi para saintess juga hanya memiliki sihir penyembuh dan cahaya saja dalam diri mereka, mereka tidak bisa menggunakan sihir elemen lain.
Isabella menoleh kepada mereka berdua, melihat ekspresi keduanya, ia hanya mengerutkan alisnya.
Isabella pikir, sihir yang dia gunakan itu hanyalah sihir biasa saja, dia hanya membayangkan lalu membaca mantra asal dan akhirnya terjadi. Isabella pikir semua orang di dunia ini juga seperti itu.
"Memangnya kenapa? Apa itu aneh?" Tanya Isabella menatap keduanya bingung.
Aeron dan Kael langsung terdiam.
Aneh?
Tuan mereka itu bertanya seolah itu hanya hal biasa baginya, padahal itu adalah sihir yang sangat jarang terlihat di dunia ini. Sihir petir, sihir es adalah sihir yang sudah tidak ada lagi di dunia ini, sedangkan sihir mengendalikan tanaman hanya dimiliki oleh para elf, para penyihir tidak bisa melakukannya, apalagi sihir pasir hisap, mereka bahkan baru saja melihat sihir seperti itu. Sihir perisai Isabella juga, awalnya dia menggunakan sihir perisai es, lalu perisai air, lalu perisai angin, awalnya mereka masih menganggap wajar karena Isabella juga memiliki kekuatan itu lalu tiba-tiba wanita itu menggunakan sihir Kuba kristal yang kekuatannya sangat luar biasa.
Satu lagi di dunia ini, kebanyakan penyihir hanya mampu menguasai satu elemen. Mereka yang memiliki dua elemen saja sudah dianggap berbakat luar biasa, sedangkan orang yang mampu mengendalikan tiga elemen biasanya menjadi incaran keluarga bangsawan maupun kerajaan.
Namun, Isabella baru saja menunjukkan kemampuan yang jauh melampaui standar tersebut.
Ia menguasai berbagai elemen dengan begitu mudah, bahkan mampu mengombinasikan beberapa jenis sihir dalam satu pertempuran.
Kael menatap Isabella dengan sorot mata yang semakin rumit.
"Siapa sebenarnya wanita ini?" Batin Kael, dia jadi penasaran siapa orang tua Isabella. Apakah Isabella memiliki darah campuran antara kaum elf dan penyihir.
Pertanyaan itu muncul begitu saja di benaknya.
Semakin lama ia mengenal Isabella, semakin ia menyadari bahwa wanita tersebut menyimpan terlalu banyak rahasia.
Kekuatan fisiknya luar biasa, penguasaan sihirnya nyaris tidak masuk akal. Belum lagi ketenangan dan insting bertarungnya yang membuatnya seolah-olah telah melewati ratusan pertempuran hidup dan mati.
Aeron pun memiliki pemikiran yang sama.
Ia menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepala dengan pasrah.
"Sepertinya, aku memang tidak akan pernah berhenti terkejut jika berada di dekatmu." Kata Aeron.
Isabella hanya tertawa kecil mendengar perkataannya.
"Kalau begitu, biasakan diri kalian." Kata Isabella santai.
Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan mulai berjalan menuju rumah tempat anak-anaknya berada.
Namun, baru beberapa langkah, Isabella tiba-tiba berhenti.
Tatapannya beralih ke arah hutan yang terbentang di kejauhan.
Senyum tipis di wajahnya perlahan menghilang, sepertinya mulai saat ini dia harus jauh lebih berhati-hati dan sepertinya sudah saatnya dia juga melatih ketiga anaknya dan martha bertarung. Mereka harus bisa melindungi diri mereka sendiri, karena isabella tidak bisa terus berada di samping mereka.
Isabella juga menjadi penasaran, siapa yang sudah mengendalikan monster-monster itu. Tapi Isabella berjanji dia akan menemukan orang itu dan akan membuatnya menyesal telah terlahir di dunia ini.
Bersambung
Selamat membaca & terimakasih untuk semua yang udah baca novel ini🥰🤗
Lanjut besok lagi ya🤗