"Aku tidak butuh pernikahan. Tak ada satupun wanita yang bisa menggantikan posisi cinta pertamaku.”
Di usianya yang sudah matang, Arsen Winston, pewaris tunggal Winston Group berada di puncak kejayaan. Namun, tekanan keluarga menuntutnya untuk segera berumah tangga. Menolak menyerah pada pendirian sang putra, Adrian, sang ayah, merancang rencana gila dengan menyewa seorang wanita malam demi mendapatkan keturunan.
Namun, sebuah kesalahan fatal terjadi. Wanita yang menghabiskan malam dengan Arsen bukanlah wanita sewaan sang ayah, melainkan seorang gadis misterius yang menghilang tanpa jejak.
Lima tahun berlalu…
Di atas kapal pesiar mewah, sebuah insiden mengerikan hampir merenggut nyawa seorang bocah perempuan. Arsen bertindak cepat untuk menyelamatkannya. Namun, saat tatapan mereka bertemu, jantung Arsen seolah berhenti berdetak.
Anak menggemaskan itu memiliki garis wajah yang sangat identik dengannya, bahkan punya alergi sepertinya.
“Hai bocah, kamu tidak suka kacang?”
“Ndak cuka, bikin gatal-gatal badan Lupia. Paman Endut ndak cuka kacang juga?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kakek?
“Mateo, bagaimana keadaan anak itu?”
Arsen yang sudah pulih dan mengenakan pakaian kasual menghampiri asistennya yang berdiri cemas di depan ruang rawat Luvia.
“Masih ditangani tim medis, Bos. Kondisinya sepertinya cukup serius,” jawab Mateo.
“Orang tuanya?”
“Masih dalam pencarian.”
Arsen mendecakkan lidah. Bukan pada timnya, melainkan karena geram pada orang tua Luvia yang begitu lalai membiarkan anak sekecil itu berkeliaran tanpa pengawasan. Terutama pria yang mendorong Luvia telah masuk ke dalam daftar hitamnya.
Mateo melirik ragu, lalu memberanikan diri bersuara.
“Bos… kenapa harus mempertaruhkan nyawa? Tim penyelamat seharusnya bisa menanganinya sendiri.”
Arsen menajamkan tatapannya. “Nyawanya sama berharganya dengan nyawa saya. Terlambat sedikit saja dia bisa mati tenggelam, Mateo.”
Ia mendadak tertegun, lalu bibirnya tertarik membentuk senyum tipis yang sangat langka terlihat. “Lagipula, anak itu sempat menghibur saya malam ini.”
‘Cecama olang endut ndak boleh cetless.’
Sebelum Mateo sempat mencerna maksud atasannya, pintu ruang rawat terbuka. Seorang dokter keluar. Arsen langsung melangkah maju dan berdiri tepat di sebelah Mateo, membuat perbedaan postur badan mereka terlihat sangat mencolok di mata sang dokter.
Awalnya, dokter itu melirik Arsen, tetapi akhirnya ia beralih menatap Mateo. “Maaf, apa Anda ayahnya?”
Mateo panik dan langsung membantah. “Bukan! Saya bahkan belum pernah menikah.”
Dokter beralih menatap Arsen yang sudah bersiap memberikan jawaban, namun pria paruh baya itu justru berbalik badan begitu saja untuk pergi.
“Eh, Dokter! Tunggu!” protes Arsen dengan nada kesal karena diabaikan.
“Ya?” dokter itu menoleh memaksakan senyum tipis.
“Kenapa saya tidak ditanya juga?”
“Maaf, Tuan Winston. Tanpa ditanya pun, kami tahu Anda belum pernah menikah, apalagi punya anak,” jawab dokter itu tenang.
Arsen mendengus sinis. Tanpa buang waktu, ia mendorong sang dokter ke samping hingga menempel ke tembok, lalu menerobos masuk ke dalam ruangan. Mateo bergegas meminta maaf kepada sang dokter yang hanya bisa mengelus dada memaklumi CEO Winston Group yang Arogan itu. Mateo buru-buru menyusul, khawatir Arsen akan menginterogasi Luvia dengan kasar.
Namun, pemandangan yang menyambutnya di dalam justru jauh dari bayangannya. Arsen tampak duduk anteng, menatap Luvia yang sedang asyik melahap bubur hangat dengan sangat lahap.
Mendengar pintu terbuka, Luvia mendongak. Begitu melihat Mateo, gadis cilik itu langsung menaikkan sebelah alisnya.
“Paman Endut, ciapa olang becal ini? Cio tambang yang menyamal kaya dlacin kolea itu?”
Luvia menunjuk Mateo dengan sendoknya, lalu berbisik kepada Arsen. “Paman Endut kelja cama olang ini, ya? Kalau benal, bantuin Lupia bial jadi cuami balu buat Mommy. Bantuin culik juga ndak papa. Nanti Lupia kenalin sama Nenek di lumah.”
Mendengar celotehan itu, mata elang Arsen membelalak sempurna.
‘Otak anak ini benar-benar sudah korslet! Masa aku yang seorang CEO dijodohkan dengan Neneknya?’ batinnya tidak percaya.
Mateo pun berusaha mendekat. “Nona kecil, bagaimana bisa sampai di sini? Apa kamu diam-diam kabur dari rumah?”
Arsen menatap tajam asistennya. “Mateo, anak ini bukan Amoera. Dia anak yang lain.”
“Anak lain? Maksudnya… Nyonya Arshy punya anak rahasia?”
“Jangan bicara sembarangan!” potong Arsen dingin. “Adik saya orangnya setia! Jangan sampai rumah tangganya rusak gara-gara ucapanmu ini, Mateo.”
Belum sempat Mateo meminta maaf, Arsen tiba-tiba membisikkan sesuatu yang membuat asistennya itu terkejut. “Mateo… sepertinya anak ini adalah anak saya.”
“Anak? Tapi Bos belum pernah menikah!” bisik Mateo bingung sambil menggaruk kepalanya.
Arsen mendesis. “Lima tahun lalu saya dijebak gadis gila. Kamu ingat gadis yang dulu kamu selidiki?”
Mata Mateo membelalak. Seketika suasana di ruangan itu berubah tegang. Luvia yang baru saja menghabiskan makanannya mengerutkan kening melihat dua pria dewasa di depannya mendadak terdiam.
“Paman Endut, bicik-bicik apa? Celius amat campai ndak ajak-ajak Lupia,” protes Luvia polos.
Arsen melunak, berusaha tersenyum ramah.
“Bocah, kalau boleh tahu, siapa nama Ibumu?”
Luvia mengerjap, lalu tersenyum manis. “Adela Zapiana, Paman.”
Dua pria di hadapannya langsung membisu. Keterangan itu terlalu kuat untuk diabaikan.
“Lalu… Ayahmu?” tanya Mateo hati-hati.
Senyum di wajah Luvia seketika pudar. Ia menunduk lesu menatap mangkuk kosong di pangkuannya. “Lupia ndak punya Ayah, Paman. Mommy cudah tujuh taun beljanda. Cuami Mommy olangna jahat, makana Mommy celalu kabul.”
Arsen dan Mateo kembali bertatapan. Dugaan mereka makin mendekati kepastian. Namun, Arsen tahu ia harus membuktikannya lewat tes DNA agar Adara tidak bisa mengelak.
Belum sempat Arsen berbicara, Luvia hendak turun dari ranjang. “Lupia mau pulang dulu. Mommy pacti lagi caliin Lupia. Makacih cudah celamatkan Lupia, Paman.”
Arsen sigap menahan lengan kecil itu. “Mau ke mana? Jangan kabur lagi. Ikut saya, nanti saya telepon Ibumu untuk menjemput.”
Mateo ikut membujuk. “Nona kecil, tenang saja. Kami tahu di mana ayah kandungmu berada.”
Mata Luvia langsung berbinar penuh harap. “Daddy kandung Lupia kenal Paman?”
“Sangat-sangat kenal. Bahkan dia seorang CEO Besar di Ibu Kota Jakarta. Jika Nona kecil bersedia, saya bisa membawa Anda bertemu dengannya.”
“Daddy Lupia gimana olangna? Ganteng? Baik? Maco ndak, Paman?” tanya Luvia tanpa sadar membuat Arsen merasa tersindir. Ia melirik gelisah gumpalan lemak di perutnya.
“Anda akan tahu sendiri setelah bertemu dengannya. Mau?” bujuk Mateo berusaha menyakinkan gadis cilik nan polos itu.
“Mau! Tapi Lupia mau kacih tau Bang Lucky dan Bang Lucian dulu.”
Arsen mengernyit tak suka mendengar nama asing itu. “Lucky dan Lucian? Siapa lagi mereka? Apa mereka anak dari mantan suami Ibumu?”
Luvia menggeleng cepat dengan polosnya. “Bukan! Melaka caudala kembal Lupia, Paman Endut! Bukan anak Paman jahat.”
Arsen dan Mateo terperanjat bersamaan.
“APA? KALIAN KEMBAR?!”
Arsen memegang dadanya yang berdegup cepat karena malam panas itu memberinya tiga bayi sekaligus. Tanpa basa-basi lagi, Arsen dengan sigap mengangkat tubuh mungil nan gempal itu membuat Luvia memekik kaget.
“Paman Endut, mau bawa Lupia kemana? Mau ke Mommy?” tanya Luvia polos.
Dengan lembut, Arsen membelai rambut hitam Luvia sehingga gadis itu tersentak merasakan kehangatan yang tidak pernah ia rasakan. Mata bulatnya mendadak berkaca-kaca. Ingin sekali ia menangis tapi berusaha ditahan agar tidak kelihatan lemah.
“Bertemu Nenek dan Kakekmu.”
“KAKEK? Lupia macih ada Kakek?”
“Ya, dan dia sangat galak. Tapi kamu tenang saja, Paman akan melindungimu.”
“Cenangna hati Lupia macih ada Ayah dan Kakek. Makacih, Paman Endut. Nanti Lupia kacih nomol Nenek Oca buat Paman deh! Tapi Paman lancing dulu bial Nenek Oca mau nikah cama Paman.”
“Tidak usah! Saya tidak butuh seorang istri.”
“Pfft… Nona kecil, Anda sangat lucu,” tawa Mateo geli ingin mencubit pipi Luvia tapi seketika bergidik ngeri menerima tatapan maut Sang CEO Posesif.
"Kalau Bos sudah kecintaan begini aura kejamnya langsung keluar! Menakutkan!"
ntah lah, padahal cerita nya sgttt bagus dan kami para pembaca sgttt menikmati dan slalu menunggu update yg byk,,, semoga lancar yea thourr 👍👍👍💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰🥰