Indonesia
NovelToon NovelToon
Salman Prakarsa

Salman Prakarsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."

Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

modal dari si yatim piatu

Rasa lelah yang menggelayuti tubuh Karsa seolah menguap begitu saja, digantikan oleh energi baru. Selesai mandi di rumah, dia tidak langsung tidur. Dengan mengerahkan sisa tenaga setelah lima hari memanen padi bersama Budi, dia mengangkut karung-karung berisi gabah kering seberat puluhan kilogram itu ke atas boncengan belakang sepeda ontelnya. Dia mengikatnya kuat-kuat menggunakan tali karet dari ban dalam bekas agar tidak terjatuh di jalan. Karsa bersiap menuntun sepedanya menuju ke tengkulak.

Saat menuntun sepedanya melintas di depan pekarangan rumah Budi yang tak jauh dari rumahnya, Karsa melihat sahabatnya itu sedang berdiri santai di teras. Budi tampak segar, sudah rapi mengenakan kaus oblong dan celana pendek setelah membersihkan diri dari sisa-sumber lumpur sawah sore tadi.

Melihat Karsa bersusah payah menahan keseimbangan sepeda yang sarat muatan, Budi langsung melangkah mendekati pagar bambunya dan menegur, "Eh, mau dibawa ke tengkulak sore-sore begini, Kar?

"Karsa menghentikan langkah sepedanya dan menoleh sembari menyeka sisa keringat dingin di dahinya. "Nah, kebetulan banget kamu lagi santai, Bud!" seru Karsa.

Budi bersandar pada tiang pagar, memandangi karung padi di atas boncengan sepeda dengan heran. "Kebetulan kenapa? Kamu mau minta tolong aku gotong karung itu lagi ke tempat Cak Dullah?

Wah badanku sudah mau patah semua ini, Kar," seloroh Budi sambil memijat bahunya, meski matanya tetap memancarkan candaan khasnya.

"Bukan itu," kata Karsa sembari tersenyum geli. "Aku mau pergi jual padi ini dulu, Bud. Karena beberapa hari ini kamu sudah bantu aku memanen dari pagi sampai sore tanpa pamrih, aku mau membagi hasil penjualan ini sama kamu nanti. Anggap saja upah kerja keras kita berdua."

Budi mengernyitkan dahi, heran melihat sahabatnya yang mendadak sangat bersemangat di sore hari yang melelahkan ini. "Tumben langsung dijual sekarang? Biasanya kan kamu kumpulkan dulu sampai terkumpul banyak baru dijual.

Ada apa sih?

Lagian.... pakai acara mau bagi hasil segala.

Aku kan murni bantu kamu sebagai sahabat, Kar.

"Karsa terkekeh pelan, matanya berkedip penuh arti. "Nanti malam kan ada acara dangdutan di lapangan desa. Kamu tahu kan?"

"Iya, tahu. Tapi apa hubungannya sama padi yang mau kamu jual sore ini?" Budi masih kelihatan bingung.

"Tadi aku dari warung Ningsih. Nah, Ningsih sama Dewi ngajak pergi bareng nanti malam ke lapangan. Ningsih bilang, dia juga mengajak kamu lewat aku," bohong Karsa sedikit demi memancing sahabatnya itu agar mau ikut.

Mendengar nama "Dewi" disebut, mata Budi yang tadinya sayu karena kelelahan langsung melotot lebar. Wajahnya yang tadinya tenang mendadak berubah agak salah tingkah dan memerah seketika.

"H-hah?

Dewi?

Dewi beneran ikut dan ngajak aku?" tanya Budi memastikan, suaranya mendadak naik satu oktaf.

"Hehe, mantap kan? Makanya, ya sudah Bud, aku mau pergi jual padi ini dulu ke tempat Cak Dullah. Biar aku ada pegangan uang, dan kamu juga harus terima bagianmu! Masa iya kita jalan sama anak gadis orang tapi dompet kita kosong melompong.!" kata Karsa sembari menepuk karung padi di sepedanya dengan bangga.

Budi tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya yang merekah sampai ke telinga. Rasa lelah akibat bekerja di sawah berhari-hari lenyap tak berbekas, digantikan oleh debaran antisipasi yang membuncah.

"Haha! Betul itu, Sa! Harus ada modal!" seru Budi sambil tertawa lepas, menepuk pundak Karsa yang berdiri di luar pagar. "Ya sudah, cepat kamu jual padi itu. Tapi soal uang upah, tidak usah dibagi dua. Kamu simpan saja buat modal mendekati Ningsih. Aku pakai uang simpananku sendiri saja.

Yang penting...

biar nanti malam tidak memalukan di depan Dewi!"

Karsa tertawa melihat tingkah sahabatnya yang mendadak salah tingkah itu. "Siap, Bud! Jangan lupa jam delapan kurang sedikit kamu sudah harus ada di rumahku ya. Kita berangkat bareng pakai sepeda!"

"Beres, Sa! Jangan telat ya!" balas Budi sembari melambaikan tangan penuh semangat, sementara Karsa kembali menuntun sepeda ontelnya menyusuri jalan desa yang mulai temaram.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!