Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM TERKUAT: Evolusi Manusia Tanpa Batas

SISTEM TERKUAT: Evolusi Manusia Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ganendra

Adam Highstein tadinya hanya orang biasa, hingga sebuah sistem misterius memilihnya secara acak dan membangkitkan bakat serta atribut yang tak pernah terbayangkan oleh siapa pun.

​Satu dari sekian banyak kemampuannya saja sudah cukup untuk membawa seseorang ke puncak kekuasaan. Adam sadar dia harus tetap merendah. Namun, mampukah dia menyembunyikan kekuatan itu selamanya?

​Di tengah dunia yang dipaksa berevolusi, Adam bertekad merintis jalannya sendiri menuju puncak dengan menaklukkan berbagai rintangan, baik dari dalam Federasi maupun ancaman luar.

​Sayangnya, alam semesta punya rencana yang jauh lebih besar dan mengerikan untuk Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

05. Perayaan!

Adam melangkah masuk dengan mantap, auranya penuh kepercayaan diri. Senyum lebar langsung terkembang saat ia menghampiri orang tuanya yang berada di dapur.

"Sepertinya seseorang sedang sangat bahagia." Jenny berdiri dan menyambut putranya dengan tatapan lega. "Tadi kau sempat membuat Ibu khawatir setengah mati." Ibu dan anak itu pun berpelukan erat, menghapus sisa-sisa kecemasan dari kejadian sebelumnya.

"Hehe, kurasa rasa sakitnya sepadan," ujar Adam sambil melepas pelukan, senyumnya tetap terjaga. "Tapi jangan khawatir, Bu. Aku baik-baik saja. Bahkan, jauh lebih baik dari yang kubayangkan."

"Begitu, ya," Jenny terkekeh pelan sambil mengusap rambut putranya dengan penuh kasih sayang. Bagi Jenny, selama Adam selamat dan bahagia, tidak ada lagi yang ia harapkan.

"Selamat, Nak," Jon menepuk bahu putranya mantap. "Dan selamat ulang tahun."

"Selamat ulang tahun, Adam," timpal Jenny sambil menoleh ke arah meja yang sudah penuh dengan hidangan dan kue ulang tahun. "Ayo, ucapkan keinginanmu."

Adam menarik kursi lalu duduk, diikuti oleh kedua orang tuanya. Ia menatap kue di depannya sejenak, memikirkan sesuatu dengan saksama. Saat matanya kembali fokus, kilatan tajam tampak di iris cokelatnya, seolah ia telah menetapkan target masa depan.

"Yey..." Jenny bertepuk tangan riang saat Adam selesai meniup lilin. "Anakku benar-benar sudah menjadi seorang pria."

Jon memerhatikan dengan seringai bangga, tangannya bersedekap di dada. Sebagai seorang ayah, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada melihat istri dan putranya bersukacita. Ia mengamati saat Jenny memandu Adam untuk memotong kue pertama mereka.

Jenny, yang tampaknya paling antusias merayakan hari itu, terus bertepuk tangan. Ia memotong kue untuk mereka bertiga, sengaja menyajikan potongan terbesar untuk Adam.

Di tengah sarapan yang hangat, Adam mulai menceritakan sedikit tentang "kebangkitannya". Ia menjelaskan bahwa ia memiliki dua afinitas sekaligus: yang pertama adalah afinitas fisik, dan yang kedua adalah multi-elemen.

Adam sengaja tidak menjabarkan semuanya. Ia merasa belum sepenuhnya menguasai kemampuan afinitas keduanya. Istilah multi-elemen cukup luas, dan ia memilih label itu sebagai kedok yang sempurna.

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Banyak orang memiliki bakat elemen yang beragam, dan mengkategorikannya di bawah payung multi-elemen adalah taktik yang cerdas. Itu memberinya alasan untuk menunjukkan kekuatan besar sekaligus menyembunyikan potensi asli yang mungkin ia kembangkan—atau setidaknya, menjaga rahasia itu sampai ia benar-benar kuat.

"Wow... Ibu tidak menyangka kau begitu berbakat hingga semesta memberimu anugerah sebesar ini," gumam Jenny, matanya membelalak tak percaya. "Kau tidak hanya memiliki bakat fisik, tapi bakat itu juga memperkuat tubuhmu untuk menanggung beban elemen yang besar."

Teringat kembali saat suaminya dulu berkelakar bahwa mereka mungkin telah melahirkan seorang jenius, Jenny sempat menganggapnya sebagai lelucon. Ternyata, prediksi suaminya tepat sasaran. Meskipun Adam sendiri merasa status "jenius" itu didapatkannya terlalu mudah, bagi orang tuanya, itu adalah sebuah pencapaian luar biasa.

Bagaimanapun, jumlah orang dengan bakat multi-elemen sangatlah langka—bisa dihitung dengan jari.

"Aku bangga padamu, Nak," ucap Jon dengan tenang, menatap lekat ke dalam mata putranya. Jon sadar bahwa ada sesuatu yang lebih mendalam dari sekadar afinitas Genesis yang diceritakan Adam. Kemampuan putranya dalam menyusun taktik penyamaran diri semacam ini jauh lebih membanggakan daripada sekadar kekuatan kasar. "Tapi ingat... jangan sampai kesombongan menguasaimu."

"Ayahmu benar, Sayang," tambah Jenny seraya mengangguk. "Banyak orang jatuh justru karena terlalu jemawa dengan kemampuan mereka sendiri. Jangan sampai itu terjadi padamu."

"Aku mengerti," jawab Adam tegas. "Ayah sudah menanamkan ini sejak hari pertama latihan."

"Dan aku akan terus mengingatkanmu," balas Jon dengan senyum tipis. "Untuk hari ini saja, nikmatilah keberhasilanmu."

Jenny tertawa kecil, menikmati momen kebahagiaan yang jarang dirasakan di tengah ketatnya pelatihan. Ia senang melihat ikatan antara suami dan putranya yang kian erat.

"Sudah, ayo habiskan makanannya sebelum dingin. Perlu usaha besar untuk menyiapkan ini semua," ucap Jenny sambil tersenyum pasrah, mengetahui sesi latihan berat akan segera menanti setelah ini.

"Hehe, Ibu memang tahu jadwal kami," sahut Adam.

Sembari melanjutkan sarapan, pembicaraan mengalir santai hingga sampai ke rencana masa depan Adam. Kali ini, Jon terdiam. Sebuah pikiran krusial berkelebat di benaknya.

'Akademi di kota ini mungkin tidak lagi cukup untuknya,' pikir Jon sambil melirik Adam. 'Dengan perawakan, keterampilan unik, dan bakatnya yang luar biasa, Adam jelas berada di kelas yang berbeda.'

Meskipun bangga, Jon merasa khawatir. Dunia saat ini sangat keras bagi individu berbakat jika mereka tidak memiliki dukungan atau koneksi yang tepat. Jon tahu ia harus berbuat sesuatu. Ia punya akses ke atasannya; jika Adam mampu menunjukkan performa yang cukup di tes awal, ia yakin bisa mendorong anaknya masuk ke akademi terbaik di tingkat pusat.

'Kami harus bicara panjang lebar segera.'

Jon bertekad melakukan segalanya agar Adam mendapatkan pendidikan dan pelatihan terbaik. Bakat alami memang penentu, namun evolusi seorang petarung ditentukan oleh lingkungannya. Dia merasakan insting kuat bahwa putranya ditakdirkan untuk hal-hal besar. Yang perlu dilakukan Adam sekarang hanyalah disiplin dan bekerja keras.

Di sisi lain, Adam justru sedang membayangkan betapa menyenangkannya saat nanti ia bisa sedikit "memamerkan" kekuatannya kepada teman-temannya. Rekan-rekannya mungkin telah lebih dulu bangkit sebelum dirinya, tetapi kini Adam yakin, ia sudah melampaui mereka semua.

'Ini akan sangat menyenangkan.'

*

1
Ardi ansyah
The Artefact Of The Past And The Chosen One'S Destiny support k
Eka P
v
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!