Indonesia
NovelToon NovelToon
Trauma Ranjang

Trauma Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Drama di Kampus

Pukul sembilan pagi, suasana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pelita Bangsa tampak sibuk seperti biasa. Mahasiswa berlalu-lalang menenteng buku teks, berkumpul di taman fakultas, atau bergegas menuju ruang kuliah masing-masing. Di tengah hiruk-pikuk akademik yang kaku dan teratur itu, kehadiran sesosok pria berjas hitam tailored-fit yang amat rapi mendadak mengubah atmosfer koridor utama menjadi riuh dalam sekejap.

Xander Wiryawan melangkah pasti memasuki area kampus. Sebagai CEO Wiryawan Corporation yang kerap menghiasi majalah bisnis nasional, pesona pria berusia 36 tahun itu memang luar biasa mencolok. Tubuhnya yang tinggi tegap, rahangnya yang tegas, potongan rambut klimis bergaya pompadour, serta kacamata hitam berdesain mewah yang bertengger di hidung mancungnya memancarkan aura dominasi yang kuat. Bisik-bisik kekaguman langsung bergemuruh di antara para mahasiswi yang kebetulan berpapasan dengannya.

​“Eh, itu kan Pak Xander Wiryawan? Suaminya Bu Evita, kan?”

"Gila, ganteng banget aslinya! Kayak aktor drama Korea. Ngapain dia ke kampus siang-siang begini?”

​“Duh, beruntung banget Bu Evita punya suami CEO kaya raya begitu...”

​Berbagai pujian dan tatapan memuja meluncur deras dari arah koridor. Namun, Xander sama sekali tidak memedulikannya. Ekspresi wajahnya terlihat dingin, keras, dan diliputi kecemasan yang mendalam. Langkah kakinya tetap konstan meniti lantai keramik koridor lantai dua, mengabaikan setiap pasang mata yang memandangnya dengan takjub.

Pikiran Xander hanya terpusat pada satu hal: Evita.

​Sejak insiden memalukan di kamar tidur mereka kemarin sore, Evita benar-benar menghilang bagai ditelan bumi. Ponsel wanita itu tidak aktif, pesannya di WhatsApp centang abu-abu tanpa balasan, dan panggilan teleponnya selalu langsung dialihkan ke mailbox. Xander sempat mendatangi rumah orang tua Evita, namun mertuanya mengatakan Evita belum datang berkunjung. Satu-satunya tempat terakhir yang mungkin didatangi istrinya adalah tempat ia mengabdikan diri sebagai dosen tetap: kampus ini.

****

Xander mengeluarkan ponsel dari saku celananya, mencoba kembali menghubungi istrinya untuk kesekian kalinya. Nada sambung berdering lama, sebelum akhirnya suara operator seluler kembali menyapa telinganya.

​"Sial!" maki Xander tertahan di balik gigi yang terkatup rapat. Ia memasukkan kembali ponselnya dengan gerakan kasar.

Ia mempercepat langkahnya menuju ruang dosen tempat Evita biasanya bersiap sebelum mengajar. Hatinya diselimuti rasa tidak tenang. Bayangan air mata Evita di ranjang kemarin, dipadu dengan provokasi liar dari Viola Sanustika di rumah, membuat Xander merasa berada di ujung tanduk. Ia harus menjelaskan semuanya. Ia harus membujuk Evita pulang agar skandal busuk ini tidak mencoreng reputasi sosial dan bisnis yang sudah ia bangun bertahun-tahun.

Namun, belum sempat Xander mencapai pintu ruang dosen, langkahnya mendadak terhenti.

​Di ujung koridor dekat persimpangan menuju ruang kuliah auditorium, sesosok wanita berblazer abu-abu dipadu rok pensil hitam selutut tampak berjalan anggun namun cepat. Rambut panjangnya digelung rapi ke belakang dengan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajah cantiknya. Di tangan kanannya, wanita itu menenteng sebuah laptop tipis dan setumpuk berkas materi perkuliahan.

​Itu Evita. Istrinya.

Wajah Evita tampak sangat tenang, dingin, dan tanpa pulasan emosi—berbeda jauh dengan wanita yang kemarin menangis histeris di kamar mereka. Aura profesional seorang dosen senior terpancar kuat dari setiap langkah kakinya.

​"Evita!" panggil Xander dengan suara berat yang sengaja ia tinggikan agar terdengar di tengah kebisingan koridor.

​Panggilan itu sontak membuat beberapa mahasiswa yang berada di sekitar sana menoleh kaget, lalu berbisik-bisik kembali sambil melihat ke arah pasangan suami istri tersebut.

****

​Evita menghentikan langkahnya. Ia tidak langsung berbalik badan. Wanita itu menarik napas perlahan, meresapi debaran jantungnya sendiri yang sempat bergemuruh mendengar suara pria yang paling ia benci di muka bumi ini saat tersadar. Dengan gerakan anggun, Evita memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah Xander yang kini sudah berdiri beberapa langkah di hadapannya.

​Xander sedikit terengah-engah, seolah habis berlari maraton. Ia melepas kacamata hitamnya, menyimpannya di saku dada jasnya, lalu menatap sang istri dengan sorot mata memohon campur lega.

​"Evita... Syukurlah aku bisa nemuin kamu," ucap Xander dengan napas sedikit memburu, tangannya terulur hendak menyentuh bahu istrinya. "Kenapa ponselmu mati? Kenapa kamu pergi dari rumah tanpa pamit? Kamu bikin aku panik setengah mati, Sayang."

​Mendengar kata-kata itu, sudut bibir Evita terangkat sebelah. Senyuman sinis yang amat dingin terukir jelas di wajah cantiknya. Ia melangkah mundur satu langkah, menghindari sentuhan tangan Xander dengan gerakan jijik yang sangat kentara.

​"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Xander," suara Evita mengalir tenang, namun bernada tajam bagaikan silet yang siap mengiris kulit.

"Dan berhenti memasang wajah panik seolah-olah kamulah korban yang paling tersiksa di sini. Akting murahanmu itu membuatku semakin mual."

****

Xander tersentak kecil. Tangannya yang terulur menggantung di udara. Ia tidak menyangka Evita akan berbicara dengan nada setajam itu di tempat umum. Beberapa mahasiswa yang berdiri agak jauh mulai memperhatikan interaksi tegang tersebut dengan rasa penasaran.

​"Evita, please... Jangan di sini kita ngobrolnya," bisik Xander dengan nada suara tertahan, berusaha mendekat kembali. "Ini area kampus. Jangan bikin malu. Kita bicarakan semua ini baik-baik di rumah. Pulanglah, Sayang. Kemarin itu... kemarin itu hanya salah paham. Viola hanya wanita iseng yang datang ke rumah saat aku sedang stres berat, tidak ada apa-apa di antara kami—"

"Salah paham?" potong Evita cepat, memotong kalimat pembelaan busuk suaminya dengan tatapan mata yang menyalang tajam. Suaranya meninggi satu tingkat, cukup untuk membuat Xander terdiam kaku.

​"Kamu bilang itu salah paham, Xander Wiryawan?!" lanjut Evita, suaranya bergetar bukan karena sedih, melainkan karena gelombang kemarahan yang sudah meluap-luap di dalam dadanya. "Kalian berdua tidak berbusana, bergelut di atas ranjang tidur kita, di atas seprai putih yang kita beli bersama saat hari pernikahan kita! Dan sekarang dengan tanpa dosanya kamu berdiri di hadapanku, di tempat kerjaku, dan mengatakan itu hanya salah paham?!"

****

"Evita, kecilkan suaramu!" desis Xander panik, rahangnya mengeras saat ia melihat beberapa mahasiswa mulai melirik penasaran ke arah mereka. Reputasi dan harga diri seorang CEO besar dipertaruhkan di sini.

​"Kenapa? Takut malu?" Evita justru tersenyum dingin, menatap suaminya dari atas sampai bawah dengan pandangan penuh penghinaan. "Kamu tidak punya malu saat mengkhianatiku di rumah kita sendiri, Xander. Kenapa sekarang giliran orang lain tahu kelakuan biadabmu, kamu mendadak jadi pria yang menjaga imej?"

​Xander mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Emosinya mulai terpancing. Selama ini, sebagai seorang CEO yang terbiasa dihormati dan dituruti bawahannya, ia tidak pernah dipermalukan sedemikian rupa di hadapan publik—terutama oleh istrinya sendiri.

​"Aku sudah bilang aku minta maaf, Evita!" sergah Xander dengan suara tertahan penuh penekanan. "Manusia bisa berbuat salah. Aku khilaf! Tapi bukan berarti kamu bisa mempermalukan aku di sini seperti ini! Rumah tangga kita sudah berjalan enam tahun, Evita! Enam tahun! Apakah semudah itu kamu ingin menghancurkannya hanya karena sebuah kesalahan sesaat?"

​Mendengar kalimat itu, tawa hambar yang sinis lepas dari bibir Evita. Ia menggelengkan kepalanya pelan, menatap pria yang pernah ia cintai sepenuh hati itu dengan tatapan penuh rasa kasihan yang memuakkan.

​"Kesalahan sesaat, katamu?" Evita mendengus tajam. Ia melangkah maju mendekati Xander, memaksa suaminya sedikit mundur ke belakang. "Kesalahan itu bukan khilaf, Xander. Itu adalah pilihan sadar yang kamu ambil. Kamu menikmati setiap detik pengkhianatan itu di hadapan mataku sendiri. Dan ketahuilah satu hal..."

Evita berhenti sejenak, merapatkan jarak wajahnya dengan Xander, lalu berbisik dengan nada suara yang begitu dingin namun menghujam jantung pria itu:

​"Aku tidak punya waktu sedetik pun untuk meladeni omong kosongmu hari ini. Mahasiswaku sudah menunggu di ruang kuliah lantai tiga. Urusanku denganmu sudah selesai. Ceraikan aku, atau aku sendiri yang akan menyeretmu ke pengadilan agama dengan membawa semua bukti perselingkuhanmu dengan wanita simpananmu itu."

1
Ma Em
Evita balas perbuatan Xander dan jalang nya buat mereka menyesal karena sdh berani bawa selingkuhan ke rumah tempat Evita tinggal .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!