Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Aku Menang Lagi
Senyum di wajah Jordan terhenti sesaat.
"Kau boleh mundur di tengah permainan, tapi seluruh kerugian peserta setelah ini harus kutanggung. Itu aturannya. Sayang, kau tahu berapa biaya untuk menutup satu permainan seperti ini?"
Livia tidak menjawab lagi.
Jordan sudah bertahun-tahun hidup di antara pesta dan perempuan. Ketertarikannya kepada Livia baru sebatas rasa ingin mempermainkan sesuatu yang segar. Kata-kata manisnya hanya mengandung sedikit ketulusan dan lebih banyak rayuan.
Ucapan bahwa ia merasa sayang juga tidak benar-benar berarti Jordan rela membayar harga sangat besar untuk membawa Livia keluar dari permainan.
Menang atau kalah, Livia hanya bisa mengandalkan diri sendiri.
Suasana di antara mereka langsung menegang. Kedekatan semu yang sebelumnya terasa menggantung ikut mendingin.
Jordan memandang gadis polos di hadapannya. Cahaya yang baru muncul di mata Livia meredup sedikit demi sedikit.
Telunjuk pria itu mengetuk botol di tangan Livia. Kelembutan dalam suaranya telah berkurang.
"Permainan berlanjut."
Ronde-ronde berikutnya hampir berubah menjadi pertunjukan pribadi Diana dan ajang eliminasi kejam bagi peserta lain.
Kepingan taruhan di atas meja kaca semakin menumpuk menyerupai bukit kecil. Setiap musik panas mulai dimainkan, pertunjukan di panggung batu tengah kolam kembali dibuka, membakar suasana, lalu berakhir dengan peserta lain tersingkir.
Livia terus berada di urutan ketiga.
Setelah lima botol minuman masuk ke perut masing-masing, hanya tersisa Keenan, Jordan, dan seorang pemuda kaya yang tidak dikenal Livia.
Berdasarkan hasil sebelumnya, jika tidak ada kejutan, Livia akan menjadi peserta berikutnya yang tersingkir.
Tangannya yang menggenggam botol bergetar tipis.
Walaupun menunduk, ia bisa merasakan semua orang sedang menatapnya.
Desahan kagum dan siulan terdengar bahkan sebelum ronde dimulai. Beberapa pria yang lebih berani langsung mendekati meja dan menjilat Jordan.
"Perempuan Bang Jordan benar-benar luar biasa."
"Setelah diberi kesempatan melihatnya hari ini, aku rela melakukan apa saja untukmu."
"Kalau suatu hari Bang Jordan sudah bosan, bolehkah kami ikut mencicipi?"
Suara-suara kotor saling bersahutan. Jordan menerima semua sanjungan itu dengan santai, sehingga perkataan para pria tersebut semakin vulgar.
Jemari Livia perlahan mengencang pada botol.
Luka di telapak tangannya kembali berdenyut tajam. Pada akhirnya, ia tak tahan lagi dan menghantamkan botol ke meja.
Brak!
Suara keras itu membuat semua orang langsung diam.
Akhirnya si kecil marah.
Keenan mengangkat mata pada saat bersamaan. Bibirnya melengkung ketika memandang Livia, lalu ia bertanya dengan nada seolah sedang menikmati keadaan.
"Nona Livia, kau tidak ingin bermain lagi?"
Pertanyaannya terdengar biasa, tetapi Livia melihat ejekan di dasar matanya.
Seolah Keenan sedang bertanya: inikah Jordan yang terus kau puji itu?
Livia tahu Keenan menunggunya mengucapkan kata tidak.
Ia juga yakin, selama menyatakan bahwa dirinya tidak bersedia, pria itu akan langsung membawanya pergi.
Keenan tidak pernah menjanjikan hal tersebut, tetapi entah mengapa Livia sangat yakin.
Namun jika menerima pertolongannya dan pergi bersama di hadapan semua orang, itu sama saja mempermalukan Jordan sekaligus mengumumkan bahwa ada hubungan tersembunyi antara dirinya dan Keenan.
Setelah itu, ia mungkin tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari pria tersebut.
Livia menekan perasaan dalam hati dan tersenyum malu kepada Keenan.
"Tuan Keenan salah paham. Aku hanya sedikit pusing dan tadi tidak memegang botol dengan benar. Bang Jordan sangat memanjakanku dan membiarkanku kalah sesuka hati. Mana mungkin aku mundur pada saat penting? Lanjutkan saja."
Ia melihat Diana yang tetap duduk stabil di sisi Keenan, kemudian melirik perempuan di sebelah kanan yang tubuhnya sudah bergoyang dan matanya kehilangan fokus.
Minuman buah yang disiapkan Jordan memang berkadar alkohol tinggi. Orang biasa tidak mungkin bertahan setelah beberapa botol.
Baru setelah sejauh ini, keunggulan Livia mulai terlihat.
Di antara tiga perempuan tersisa, hanya dirinya yang masih tidak menunjukkan tanda mabuk. Posisi ketiga pada ronde berikutnya belum tentu menjadi miliknya.
Dengan tenang, Livia kembali menggenggam botol.
Pelayan menekan penghitung waktu.
Diana masih tampil kuat. Walaupun lebih lambat daripada ronde sebelumnya, ia tetap menghabiskan satu botol dalam dua puluh satu detik dan mempertahankan urutan pertama.
Semua tatapan langsung berpindah kepada Livia serta perempuan terakhir.
Kecepatan Livia tidak banyak berubah. Selisih di antara mereka hanya sekitar empat atau lima detik. Keduanya saling mengejar sangat ketat.
Ketika isi botol hampir habis, Livia masih belum berhasil menyusul.
Cahaya tajam melintas di mata Keenan. Ia mendadak berdiri dari kursinya.
Pada saat hampir bersamaan, perempuan lawan Livia memutar mata dengan wajah kesakitan. Botol terlepas dari tangannya, lalu ia muntah tepat ke pakaian pemuda kaya di sebelahnya.
Wajah pemuda itu langsung pucat.
"Aaah!"
"Sial! Pergi kalau mau muntah!"
"Cepat bawa dia keluar! Bau sekali!"
Situasi berubah kacau.
Livia memanfaatkan kesempatan untuk menghabiskan minumannya. Ia membungkuk, mengambil botol lawan yang jatuh dan masih berisi, kemudian mengangkatnya tinggi agar semua orang bisa melihat.
"Aku menang!"
Dari sudut mata, ia melihat Keenan sudah berdiri tanpa diketahui sejak kapan.
Wajah pria itu begitu suram hingga tidak lagi mampu mempertahankan ketenangan. Ia menatap Livia tanpa bergerak. Ada amarah, keterkejutan, kekecewaan, dan rasa sakit samar di matanya.
Tatapan itu membuat jantung Livia mencelos.
Jangan takut, Via. Sedikit lagi.
Kalau terus seperti ini, Keenan akan segera kehilangan minat kepadamu.
Livia berkali-kali meyakinkan diri. Ia memasang ekspresi santai, lalu menoleh kepada Jordan dengan senyum manis.
"Bang Jordan, tinggal satu ronde terakhir."
"Hebat sekali, Sayang!"
Minat Jordan terhadap Livia sebenarnya jauh lebih besar daripada hasil permainan. Ia tidak pernah berharap gadis itu akan bertahan sampai akhir.
Namun sekarang, semangatnya ikut terpengaruh. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar ingin mengetahui hasil pertandingan.
Jordan bersandar dan mendongak kepada Livia.
"Kau selalu berhasil mengejutkanku."
"Ronde berikutnya juga begitu."
Tatapan mereka bertemu.
Di seberang, Keenan perlahan duduk kembali. Ia mengangkat tangan kanan.
Reza segera maju dan membungkuk.
Keenan membisikkan beberapa perintah dengan mata gelap. Isi perintah itu membuat jantung Reza berdebar. Ia refleks melihat Livia dan Jordan, tetapi tidak berani ragu.
"Baik, Tuan Keenan. Akan segera saya atur."
Perempuan yang menempati posisi ketiga sudah sangat mabuk. Namun kelompok tersebut tetap tidak membiarkannya pergi.
Atas isyarat Jordan, beberapa pengawal menyeretnya ke panggung batu. Dua pria membantu menyelesaikan "pertunjukan" yang tidak lagi sanggup ia lakukan sendiri.
Livia memalingkan wajah. Pemandangan itu membuat perutnya terasa mual, tetapi ia tetap menekan keinginan untuk lari.
Kini permainan memasuki babak terakhir.
Diana, yang sejak awal bahkan tidak sudi berbicara kepada lawan, akhirnya membuka mulut dengan tenang.
"Kemampuan minummu lebih baik dariku. Sayang sekali, pertandingan ini tidak hanya menilai jumlah, tetapi juga kecepatan. Bertemu denganku berarti keberuntunganmu memang buruk."
Livia malas membalas kesombongannya.
Ia juga tidak memberi tahu Diana bahwa setelah lawan-lawan lain tersingkir, ronde terakhir justru merupakan bagian termudah baginya.
"Langsung mulai."
Livia mengangkat botol sebagai isyarat.
Pelayan mengangguk dan menekan penghitung waktu.
Livia tidak langsung minum. Ia menggenggam botol dan memutarnya berlawanan arah jarum jam selama satu detik. Cairan di dalam membentuk pusaran kuat.
Kemudian ia mendongak. Mulut botol diposisikan lurus sehingga minuman mengalir mengikuti pusaran tanpa terputus.
Hanya enam detik.
Satu botol telah kosong.
Sorakan tak terkendali meledak di sekelilingnya.
Livia meletakkan botol dengan ringan dan menatap botol Diana yang masih terisi separuh.
Ia tersenyum.
"Aku menang lagi."