Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Brummm.

Suara mesin Scoopy hitam itu terdengar sangat halus saat Akbar memasuki pelataran minimarket.

Jam di layar spidometer menunjukkan tepat pukul dua belas siang.

Akbar melihat Risa baru saja keluar dari pintu kaca minimarket sambil menenteng tas ransel kecilnya.

Gadis itu sudah mengganti seragam kasirnya dengan kemeja flanel biru muda dan celana jeans panjang yang pas di kakinya.

Rambut hitam sebahunya dibiarkan terurai bebas tertiup angin siang yang cukup sejuk.

"Wah, tepat waktu sekali kamu Bar jemputnya," sapa Risa sambil tersenyum manis menghampiri Akbar.

"Tentu saja Mbak Risa, masa iya aku membiarkan bidadari kampung ini menunggu lama," goda Akbar santai.

Wajah Risa langsung bersemu merah mendengar pujian blak-blakan dari pemuda di depannya ini.

"Gombalanmu itu lho Bar, bikin merinding mendengarnya dari mulutmu yang biasanya diam saja."

"Kan aku sudah bilang, Akbar yang lama sudah hanyut terbawa arus sungai semalam."

Akbar menyerahkan helm hitam bawaan dealer yang masih baru itu kepada Risa.

"Pakai ini Mbak, soalnya kita mau jalan agak jauh ke arah jalan lintas kabupaten."

"Kita mau ke mana memangnya siang-siang begini Bar?" tanya Risa sambil memakai helm tersebut sampai bunyi klik terdengar.

"Kita cari makan enak di restoran pinggir kota, kebetulan aku lagi banyak rezeki hari ini," jawab Akbar sambil tersenyum misterius.

"Wah asyik, kebetulan aku juga belum makan siang dari tadi pagi cuma sarapan roti saja."

Risa langsung naik ke boncengan motor Akbar dengan gerakan luwes dan duduk menyamping.

"Sudah siap Mbak?" tanya Akbar memastikan posisi duduk Risa sudah aman.

"Sudah Bar, ayo jalan sekarang keburu perutku makin keroncongan."

Brummm.

Akbar memutar tuas gasnya perlahan dan motor itu melaju keluar dari area minimarket.

Jalanan kampung siang itu cukup sepi karena sebagian besar warga sedang berada di sawah atau di dalam rumah.

Angin siang menerpa wajah mereka berdua membawa aroma tanah kering yang khas.

"Eh Bar, kudengar tadi pagi kamu ribut ya sama gengnya si Dion di depan rumahmu?" Risa membuka percakapan dari belakang.

"Iya Mbak, biasa anak kades manja itu tidak terima kalah undian dari aku semalam."

"Terus katanya dia sampai mandi air got segala gara-gara kualat kepadamu, itu benar ceritanya?"

Akbar tertawa pelan mendengarnya, ternyata gosip di kampung ini menyebarnya lebih cepat dari sinyal internet.

"Benar banget Mbak, dia mau melempar botol isi air got kepadaku tapi anginnya tiba-tiba berbalik arah."

"Ya ampun, syukurlah kalau begitu, aku sampai kaget tadi waktu dikasih tahu ibu-ibu yang belanja."

Risa secara tidak sadar memajukan posisi duduknya sedikit lebih dekat ke punggung Akbar.

"Dion itu memang kelakuannya sudah kelewatan batas Bar, kamu harus hati-hati sama dia."

"Tenang saja Mbak Risa, mulai sekarang tidak akan ada yang berani macam-macam lagi sama kita."

Motor melaju semakin jauh meninggalkan batas desa dan mulai memasuki jalanan aspal yang menghubungkan antar kecamatan.

Kiri dan kanan jalan ini dipenuhi oleh pohon jati yang rimbun dan hamparan sawah hijau yang luas.

Suasana jalanan ini cukup sepi karena bukan merupakan jalur utama provinsi.

Ngeeeng.

Tiba-tiba terdengar suara raungan knalpot bising dari arah belakang mereka.

Akbar melirik dari kaca spion dan melihat ada tiga motor sport modifikasi sedang melaju kencang mengejar mereka.

Motor-motor itu ditumpangi oleh enam orang pemuda berandal dengan jaket kulit kusam dan rambut diwarnai norak.

"Siapa mereka Bar? Kok bawa motornya ugal-ugalan begitu?" tanya Risa mulai merasa cemas sambil berpegangan pada pundak Akbar.

"Mbak Risa pegangan yang erat ya, sepertinya kita ada tamu tak diundang," jawab Akbar sangat tenang.

Sret.

Ketiga motor berandal itu langsung menyalip dan memotong jalur Akbar dari depan, kiri, dan kanan.

Cittt.

Akbar terpaksa menarik rem cakramnya secara mendadak agar tidak menabrak motor yang sengaja berhenti di depannya.

"Hoooi berhenti kau anak kampung!" teriak salah satu berandal yang memakai tindik di hidungnya.

Enam pemuda kasar itu turun dari motor mereka dan langsung mengepung motor Akbar di tengah jalan sepi tersebut.

Mereka semua mengeluarkan batang besi dan rantai motor dari balik jaket mereka.

Risa langsung memeluk pinggang Akbar dengan sangat erat karena ketakutan setengah mati melihat senjata tumpul tersebut.

"Bar, mereka siapa? Kok pada bawa besi segala?" bisik Risa dengan suara gemetar di telinga Akbar.

"Tenang Mbak, jangan turun dari motor, biar aku saja yang bereskan sampah-sampah ini," jawab Akbar santai.

Akbar menstandarkan motornya dan turun perlahan tanpa ada raut ketakutan sedikit pun di wajahnya.

Dia menatap satu per satu wajah berandal bayaran itu dengan tatapan datar dan meremehkan.

"Pasti si Dion pengecut itu yang menyewa kalian untuk mencegatku di sini kan?" tebak Akbar langsung pada intinya.

Pemuda bertindik yang sepertinya adalah pemimpin geng itu meludah ke aspal dan tertawa kasar.

"Kau pintar juga anak miskin, Bos Dion sudah membayar kami mahal untuk mematahkan kedua kakimu hari ini."

"Bahkan Bos Dion juga bilang kalau ada cewek manis yang ikut denganmu, kami boleh bersenang-senang dengannya."

Mendengar ancaman menjijikkan itu, mata Akbar langsung menyipit tajam menyimpan niat membunuh yang pekat.

Dia tidak peduli kalau orang mau menghinanya, tapi melibatkan orang tidak bersalah seperti Risa adalah kesalahan fatal.

"Kalian baru saja menandatangani surat kematian kalian sendiri siang ini," ucap Akbar dengan nada suara sangat berat dan dingin.

"Sistem, aktifkan Mata Hoki Level Dua sekarang juga!" perintah Akbar di dalam hatinya.

[Mata Hoki Level 2 berhasil diaktifkan. Sisa durasi batas pemakaian hari ini: 20 menit 00 detik.]

Tiba-tiba, pandangan mata Akbar kembali berubah warna menjadi sedikit lebih abu-abu.

Namun kali ini pemandangannya jauh lebih menakjubkan dan mengerikan di saat yang bersamaan.

Di atas kepala keenam berandal itu muncul angka-angka digital yang melayang seperti dalam antarmuka game.

Ada dua warna angka yang muncul, angka hijau untuk tingkat Keberuntungan dan angka merah darah untuk tingkat Kesialan.

Akbar fokus menatap pemimpin geng bertindik itu dan melihat angka di atas kepalanya.

[Kesialan Fatal: 95 Persen. Penyebab: Benda tumpul dari teman sendiri.]

Akbar lalu beralih menatap berandal gemuk di sebelah kanannya yang sedang memutar-mutar rantai motor.

[Kesialan Fatal: 85 Persen. Penyebab: Kehilangan keseimbangan fatal.]

Akbar terus menatap satu per satu angka merah yang menyala terang di atas kepala mereka semua.

Rata-rata angka kesialan mereka saat ini melambung sangat tinggi di atas angka delapan puluh persen.

"Ternyata begini cara kerja Mata Hoki Level Dua," gumam Akbar sambil tersenyum sinis tidak menutupi rasa senangnya.

"Aku bahkan tidak perlu mengotori tanganku untuk membereskan badut-badut jalanan ini."

Pemimpin bertindik itu merasa tersinggung melihat Akbar malah senyum-senyum sendiri di depan mereka.

"Gila kau ya anak miskin? Sebentar lagi kakimu patah masih bisa tersenyum lebar begitu!"

"Banyak omong kau preman murahan, maju sini kalau memang berani," tantang Akbar sambil melambaikan tangan kanannya memanggil.

"Keparat! Hajar dia sampai mampus anak-anak!" teriak pemimpin geng itu memberi komando serangan.

Berandal gemuk dari sisi kanan langsung berlari maju mengayunkan rantai motornya ke arah kepala Akbar.

Wush.

Suara rantai besi itu membelah udara dengan sangat cepat.

Sesuai informasi dari sistem, Akbar sudah tahu persis kalau pria gemuk ini punya nasib kesialan akibat kehilangan keseimbangan.

Akbar hanya perlu menggeser kaki kirinya mundur setengah langkah untuk menghindari sabetan rantai tersebut.

Trang!

Rantai itu meleset dari target dan malah menghantam keras tiang pembatas jalan raya.

Saking kerasnya ayunan itu, rantai besi tersebut melilit kuat di tiang pembatas dan tersangkut tidak bisa ditarik kembali.

Berandal gemuk itu panik dan mencoba menarik rantainya dengan tenaga penuh ke arah belakang.

Prak.

Secara tiba-tiba aspal tempatnya berpijak sedikit retak dan sangat licin akibat lumut sisa hujan semalam.

"Wuaaa!" Berandal gemuk itu terpeleset keras ke belakang dengan posisi tubuh telentang.

Bruk.

Kepala bagian belakangnya membentur aspal jalanan dengan suara yang sangat mengerikan.

Berandal gemuk itu langsung kejang-kejang sebentar sebelum akhirnya pingsan.

"Satu badut tumbang dengan kebodohannya sendiri," ucap Akbar santai sambil menepuk-nepuk tangannya.

"Sialan! Awas kau!" teriak dua berandal lain dari arah depan maju secara bersamaan.

Mereka berdua mengayunkan tongkat besi panjang mengincar perut dan dada Akbar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!