Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Di sebuah aula besar riuh dengan tepuk tangan dari ratusan peserta yang hadir, perlahan suara riuh itu mulai meredup di gantikan dengan kesibukan panitia yang mulai membereskan kabel-kabel dan mikrofon.

Panitia juga mulai merapikan kursi tempat para peserta webinar yang hadir.

Di dinding panggung utama dengan layar monitor dari bayangan proyektor, sebuah layar monitor LED raksasa warna biru terang menampilkan tulisan, “Terima Kasih, Webinar Budaya Selesai”.

Asri sudah menyelesaikan tugasnya siang ini sebagai pembicara utama dalam acara diskusi webinar kebudayaan nasional.

Wanita ini bisa bernapas dengan lega, setelah menyelesaikan tugasnya.

Hari ini tubuhnya mengenakan kemeja berbahan rayon berwarna hijau tua, yang di padukan dengan celana resmi warna navy (navy blue).

Rambutnya yang hitam legam, nampak diikat setengah membiarkan sisa gerai di bawahnya menutupi pundak.

Kini Asri tengah berdiri dekat barisan kursi penonton dengan sisa ketegangan yang masih melekat, meski dirinya akan keluar negeri untuk menghilangkan rasa traumanya.

Pikiran Asri selalu memikirkan soal Angga, yang dua hari lalu ke rumahnya---apa ini yang disebut dengan 'Stockholm Syndrome'

Sebuah gejala yang dimana korban kekerasan seksual jatuh cinta pada pelakunya, hal yang dialami Asri saat dua hari lalu Angga ke rumahnya hanya untuk meminta maaf.

Asri hendak melangkah menuju ruang transit untuk melepas mikrofon nirkabel yang terletak di pinggang kanannya, namun langkahnya terhenti saat ada wanita yang menghalangi jalannya.

Wanita dengan tubuh semampai berpenampilan kasual, dengan aura seorang model profesional.

Mata Asri menatapnya, dari kaki sampai kepala----Alina, tubuhnya mengenakan tanktop warna sky blue atau biru langit, luarnya di lapisi kardigan rajut tipis warna biru tua.

Warna yang senada dengan celana kulot yang di kenakannya, warna hitam.

Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai lurus membingkai wajah eksotisnya yang tampak begitu serius.

"Ma-maaf Mbak siapa ya?" tanya Asri.

"Webinar udah selesai," ujar Asri dengan mengerutkan keningnya heran.

Alina berdiri tepat di hadapan Asri, perbedaan fisik di antara dua wanita itu terlihat.

Postur tubuh Alina tinggi semampai karena sebagai model internasional, membuat badan Asri tingginya hanya mencapai leher Alina.

"Saya Alina, tunangannya Angga," jawabnya.

Deg.

Mendengar itu hati Asri langsung mencelos, bibirnya membentuk huruf O. Seolah sudah ketakutan jika Alina akan membuat keributan di aula ini.

"Mbak Alina...saya nggak bermaksud---" ucapan Asri di potong oleh Alina.

"Kita perlu bicara, bisa di kopi kenanga depan?" tunjuk Alina.

Asri hanya menganggukkan kepalanya, dirinya ingat jika pernah bertemu Alina di kantor imigrasi saat mau membuat paspor.

"Iya Mbak, kita bisa bicara tapi saya mau mengembalikan mikrofon dulu," pinta Asri dengan suara bergetar.

Alina hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, Asri memejamkan matanya seolah ketakutan, jika Alina akan melabraknya dan memperingatkannya menjauhi Angga.

Kalo sampai hal itu terjadi, Asri akan mengatakan jika dirinya----akan keluar negeri dan akan menjauh dari hidup Angga.

Memang bukan niat Asri untuk mengacaukan pertunangan orang lain, toh dirinya disini juga korban.

Di Kopi kenangan depan gedung melati 4.

Aroma kopi menyeruak tajam, berpadu dengan manisnya gula aren seolah memenuhi cafe siang ini.

Asri dan Alina duduk berhadapan, dua gelas kopi di depan mereka.

Asri meremas sendiri jarinya di bawah meja, menahan napasnya seolah siap jika Alina mengeluarkan amarahnya.

Namun, tujuan Alina menemuinya bukan untuk marah atau melabraknya---ada hal lain yang mesti Alina bicarakan.

Di sini baik Asri atau Alina tak ada yang berani memulai pembicaraan, karena masih terlalu canggung.

"Mbak Alina... maaf, saya benar-benar nggak bermaksud untuk—" Asri mencoba membuka suara dengan nada parau yang gemetar, bersiap menerima badai kemarahan.

"Kamu bisa nikahin tunangan saya," potong Alina cepat.

Pernyataan singkat yang terlontar dari bibir Alina seolah menjadi hantaman badai di hati Asri, hal yang amat tak di percayainya sama sekali.

Otak Asri mendadak macet total, tidak mampu mencerna kalimat gila yang baru saja ia dengar.

"A-apa? Mbak Alina...itu nggak mungkin...saya----" kalimat Asri terpotong, saat Alina memotongnya cepat.

"Saya tahu soal kamu dan tunangan saya, kamu di p*rkosa oleh Angga. Tapi kenapa kamu tak mau melapor ke kesatuannya?" tanya Alina dengan mengerutkan keningnya heran.

Alina menghela napas, lalu menyesap kopi di depannya.

"Mbak tapi saya nggak maksud ngerebut Angga dari kamu, bahkan saya berencana pergi dari Angga selamanya."

Asri bicara kepada Alina, entah karena takut atau hal lain---intinya Asri akan menjauh dari kehidupan Angga.

"Jadi kamu ke kantor imigrasi kemarin mau buat paspor?" tanya Alina dengan mata menyipit.

Asri hanya menganggukkan kepalanya dengan yakin, seolah dirinya tak akan kena marah oleh Alina.

Alina hanya tersenyum, sembari menghembuskan napas panjangnya.

"Saya dulu tak pernah menginginkan pernikahan ini, Pertunangan ini hanyalah bagian dari ambisi egois papa saya yang seorang jenderal, yang menolak keras anak-anaknya keluar dari lingkungan militer...," jelas Alina dengan lirih.

Mendengar ini Asri menggelengkan kepalanya tak percaya, kenapa dirinya harus terlibat dalam masalah petinggi militer ini.

"Saya sebenarnya sudah memiliki kekasih orang UK, namanya Robert. Kami saling mencintai, tapi papa saya melarang keras saya menikah dengan pria asing non-militer."

Alina menambahkan, sementara Asri hanya diam membisu---entah kenapa batinnya mengatakan ini kesempatannya mendekati Angga.

Namun, logikanya berjalan dirinya harus pergi menjauhi Angga---antara hati dan logika saling berbenturan.

"Nikahi Angga Asri...saya lihat sendiri Angga selama beberapa hari terakhir sangat frustasi selalu memikirkanmu," ujarnya.

Mendengar kalimat itu, pertahanan batin Asri akhirnya runtuh---ingatan akan malam menjijikan kembali hadir memenuhi otaknya.

Matanya berkaca-kaca, sebelum dirinya bicara.

"Saya nggak bisa nikahin pria itu Mbak, saya nggak bisa menikahi orang yang udah memperkosa saya! setiap kali saya melihat dia, dia itu kaya pemangsa," jelas Asri dengan mata berkaca-kaca.

Tangis Asri pecah, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Alina langsung mendekatinya lalu menenangkannya, sebagai sesama wanita tentu dirinya harus bisa mengerti perasaan wanita lain.

Asri tak sadar jika takdirnya akan semakin dekat, semakin dirinya berusaha menjauh maka tuhan punya rencana untuk mendekatkannya dengan takdir itu.

1
Salmah Salmah
bagus sekali
Putri Sabina: udah lanjut kak, sehari sekali yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!