Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.
Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.
Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.
Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.
Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.
Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.
Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Black Rose
Leon tertegun selama beberapa saat. Tatapannya masih terpaku pada pola hitam yang hanya terlihat sebagian di balik kerah piyama Elena.
Tanpa berpikir panjang, Leon menarik kerah baju Elena sedikit ke bawah untuk melihat tato tersebut dengan lebih jelas.
Tapi, Elena yang menyadari gerakannya langsung bereaksi.
Sikunya bergerak kuat ke belakang , menghantam tepat ke perut Leon.
Bukh!
"Akh!"
Leon meringis dan refleks melepaskan cengkeramannya.
Elena segera berbalik sambil menarik kembali kerah piyamanya agar menutupi bahunya.
"Apa yang kamu lakukan, hah?"
Leon membungkuk sedikit sambil mengusap perutnya yang terasa nyeri.
"Kenapa kamu memukulku?"
"Itu karena kamu mesum!"
"Apa?" Leon menatap Elena tidak percaya.
Elena melengos, sama sekali tidak berniat memperpanjang perdebatan. Ia mengambil bantal dan selimut dari ranjang.
"Kamu memang keterlaluan," seru Elena sambil berjalan menuju sofa. "Malam ini aku akan tidur di sini."
Ia meletakkan bantal di atas sofa, kemudian membentangkan selimut. "Tapi, jangan berharap aku akan terus mengalah seperti ini."
Setelah itu, Elena langsung membaringkan tubuhnya dan membelakangi Leon.
Leon masih berdiri di tempatnya. Ia tidak peduli lagi pertengkaran kecil mereka.
Pikirannya justru kembali tertuju pada apa yang baru saja ia lihat.
Tato itu... Meski hanya terlihat sebagian, bentuknya terasa begitu familiar.
Leon menyipitkan mata, mencoba mengingat-ingat seolah-olah pernah melihat simbol yang sama di suatu tempat.
Tapi, semakin ia berusaha mengingatnya, semakin samar ingatan tersebut.
Leon kembali menatap Elena yang kini sudah memejamkan mata di sofa.
Wanita itu benar-benar tenang, seolah tidak ada apa pun yang perlu dikhawatirkan. Dan hal itu membuat kecurigaannya terhadap Elena semakin besar.
Dan, tato yang tersembunyi di balik baju wanita itu, mungkin saja bisa menjadi petunjuk untuk mengungkap siapa sebenarnya istrinya.
***
Keesokan harinya, Elena merasa kesal karena Leon pergi tanpa memberitahunya.
Bukan karena ia merasa diabaikan sebagai seorang istri. Tapi, yang membuatnya kesal adalah karena pria itu meninggalkannya sendirian untuk menghadapi keluarga Bianchi.
Victor dan Maria memang lebih banyak diam. Namun, Viona yang memiliki mulut setajam pisau membuat kesabarannya terus menipis.
Belum lagi Daniel.
Alih-alih menghentikan Viona, pria itu justru melontarkan komentar yang membuat suasana semakin panas.
Sejak sarapan dimulai, Viona tidak berhenti menyudutkan Elena.
Asal usulnya, statusnya di masa lalu, hingga bagaimana seorang mantan pelayan bisa menjadi istri Leon, semuanya dijadikan bahan sindiran.
"Kamu benar-benar beruntung, Elena," ujar Viona dengan senyum mengejek. "Dulu, hanya seorang pelayan, sekarang bisa duduk satu meja dengan keluarga Bianchi sebagai nyonya muda."
Elena hanya tersenyum tipis. Ia sebenarnya bisa membalas semua ucapan wanita itu. Tapi, ia memilih diam.
Bukan karena tidak mampu melawan, melainkan karena ia tahu, ucapannya tidak akan membuat wanita itu berhenti. Tapi, justru semakin menjadi.
Untungnya, Maria segera menyadari suasana yang semakin tidak nyaman. Ia segera meredakan suasana.
"Sudahlah, Viona. Kita sedang sarapan."
Maria kemudian menoleh pada Elena. "Bagaimana kalau setelah ini kita pergi berbelanja? Ada beberapa barang yang ingin Mommy beli."
"Tentu, nyonya." Elena langsung mengangguk, menerima ajakan itu dengan senang hati.
Tapi, bukan karena benar-benar ingin berbelanja. Ia hanya membutuhkan alasan untuk menjauh sejenak dari rumah ini dan mengusir rasa penat yang sejak tadi memenuhi pikirannya.
Di tempat lain, tepatnya di markas The Raven, suasana di sana jauh berbeda.
Leon dan Sean duduk di depan sebuah meja yang penuh dengan dokumen lama. Beberapa arsip bahkan sudah menguning karena termakan usia.
Mereka membuka satu per satu dokumen mengenai organisasi-organisasi yang pernah berpengaruh di dunia bawah.
Leon terus mencari arti tato yang ia lihat di bahu belakang Elena.
"Tuan, kita sudah memeriksa hampir semua dokumen." Sean meletakkan beberapa berkas di atas meja. "Kebanyakan organisasi memiliki simbol mereka sendiri. Ada yang menggunakan simbol naga, singa, harimau, ular, dan berbagai hewan lainnya.”
Leon mengusap wajahnya kasar. "Aku tahu." Ia memejamkan mata, berusaha mengingat bentuk tato tersebut.
"Tapi, yang aku lihat semalam bukan simbol hewan. Ada lengkungan halus seperti daun atau mungkin kelopak bunga."
Leon membuka matanya. "Pokoknya, bentuknya seperti itu."
Sean terdiam. Selama ini, ia memang lebih banyak mengenal simbol organisasi dunia bawah yang menggunakan simbol hewan.
Tapi, simbol berupa daun atau bunga, Ia tidak pernah mendengar tentangnya. Kecuali...
Mata Sean tiba-tiba melebar.
"Tuan!"
Leon langsung mengangkat wajah. "Ada apa?"
"Saya mungkin tahu. Tapi, saya tidak yakin," ucapnya terlihat ragu.
Leon mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Sean menarik napas. "Dulu, ayah saya pernah bercerita tentang sebuah organisasi yang sangat berkuasa di dunia bawah."
Leon mulai memperhatikan dengan serius.
"Bahkan, The Raven pernah tunduk pada organisasi tersebut. Tapi, suatu malam terjadi pembantaian besar-besaran," ucap Sean dengan suara yang perlahan merendah.
"Menurut kabar yang beredar, seluruh anggota organisasi itu tewas. Tidak ada yang selamat. Dan, sejak saat itu, organisasi tersebut menghilang begitu saja."
"Pada akhirnya, keberadaan mereka hanya dianggap sebagai legenda."
Leon tidak menjawab. Entah mengapa, dadanya tiba-tiba terasa sesak. Ada perasaan aneh yang muncul setiap kali Sean membicarakan organisasi tersebut.
"Apa kamu ingat nama organisasi itu?"
Sean menggeleng ragu. "Saya tidak begitu yakin, Tuan. Tapi sepertinya... " Sean mengangkat wajah. "The Black Rose."
Tubuh Leon seketika menegang. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Tiba-tiba, sebuah rasa sakit menusuk kepalanya.
"Akh!" Leon terhuyung dan langsung memegangi kepalanya.
"Tuan!" Sean bangkit dengan panik. "Anda tidak apa-apa?"
Leon memejamkan mata sambil menahan rasa sakit yang berdenyut hebat di kepalanya.
Beberapa detik kemudian, ia menggeleng pelan.
"Seperti biasa. Penyakit ini selalu datang tiba-tiba."
Leon menarik napas berat, dan perlahan rasa sakit itu mulai mereda.
Sean terlihat semakin khawatir. "Lebih baik Anda beristirahat dulu, Tuan."
Namun, Leon kembali menggeleng. "Tidak." Ia menatap dokumen-dokumen di atas meja. "Aku harus menemukan arti simbol tato Elena."
"Mungkin saja itu satu-satunya petunjuk untuk mengetahui siapa sebenarnya wanita itu."
Sean mengangguk.
Mereka kembali membongkar arsip-arsip lama. Tapi, belum sempat menemukan petunjuk baru, pintu ruangan tiba-tiba terbuka.
Seorang pria berlari masuk dengan wajah panik.
"Tuan!"
Leon langsung menoleh. "Ada apa?"
Pria itu tampak kesulitan mengatur napas. "Nyonya Besar dan Nyonya Muda..." Ia menelan ludah. "Mereka diserang saat sedang berbelanja."
Leon seketika berdiri. "Apa?"
💖💖💖
nyogok biar dobel up🤭
huh benalu menyusahkan👊