Indonesia
NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Pertemuan di sudut gelap kota

"Kau membawa anak kecil bersamamu?" tanya Tuan Valian dingin sambil memperbaiki posisi duduknya. "Aku ingat sudah menegaskan untuk tidak membawa orang lain."

"Dia bisa dipercaya," jawab Cedric, berusaha tetap sopan meskipun suaranya terdengar tegang. "Arlen yang pertama kali menemukan tanaman yang kita bicarakan."

Tuan Valian mengernyitkan dahi, namun tidak memperpanjang masalah itu. Tangannya terarah ke meja kosong di hadapannya. "Keluarkan apa yang kau janjikan. Biar aku lihat apakah perjalananku ke kota ini tidak sia-sia."

Sebelum Cedric bergerak, Arlen sudah melangkah maju lebih dulu. Arlen meletakkan bungkusan kain tebal yang dibawanya ke atas meja, lalu membukanya tanpa ragu. Di dalam kain itu, tergeletak sebatang tanaman Daun Perak Dingin lengkap dengan gumpalan tanah hitam yang masih melekat pada akarnya. Tanaman itu sangat segar, daun-daunnya yang hijau pekat berurat perak tampak berkilau di bawah cahaya lampu ruangan yang remang.

Mata Tuan Valian melebar. Pria tua itu langsung berdiri, mengabaikan rasa sakit pada kakinya yang pincang, lalu mendekatkan wajahnya untuk memeriksa tanaman tersebut. Tangannya yang kurus terangkat, menggantung di udara di atas daun-daun itu. Dia tidak berani menyentuhnya, seolah takut gesekan kecil saja bisa merusak khasiatnya.

"Ini... sungguh Daun Perak Dingin yang tumbuh alami," gumam Tuan Valian dengan suara yang sedikit bergetar karena takjub. "Biasanya tanaman jenis ini akan layu dalam beberapa jam setelah dicabut dari habitatnya. Tapi yang ini... masih sangat segar seperti baru saja dipetik."

Tuan Valian menoleh tajam ke arah Cedric, sebelum akhirnya tatapannya terkunci pada Arlen yang sejak tadi berdiri tegak tanpa rasa takut.

"Dari mana kau mendapatkan ini?" tanya Tuan Valian menuntut.

"Bukankah dalam kesepakatan awal, kita tidak boleh mempertanyakan asal-usul barang?" potong Arlen sebelum ayahnya sempat bersuara. Suaranya tenang, namun nadanya mutlak. "Tuan Valian hanya perlu memastikan apakah kualitas tanaman ini sesuai dengan yang kau cari atau tidak."

Tuan Valian terdiam. Dia terkejut mendengar kalimat sedewasa dan seberwibawa itu keluar dari mulut seorang anak kecil. Setelah beberapa detik hening, sebuah senyuman tipis muncul di wajah pria tua itu—perpaduan antara rasa penasaran dan rasa hormat yang mendadak muncul.

"Benar. Kesepakatan tetap berlaku," ujar Tuan Valian sambil kembali duduk di kursi besarnya. Dia mengambil sebuah kantong kain berat dari bawah meja dan menjatuhkannya ke atas kayu hingga menimbulkan suara dentingan yang berat. Di dalamnya, tampak kilauan koin emas dan perak dalam jumlah besar.

"Uang ini lebih dari cukup untuk melunasi seluruh utang pajak keluargamu," kata Tuan Valian sambil menatap Cedric. "Namun, aku punya satu pertanyaan penting. Apakah masih ada lebih banyak tanaman seperti ini di tempat kau menemukannya?"

Cedric baru saja ingin membuka mulut untuk menjawab, tetapi Arlen kembali mengambil alih pembicaraan.

"Tanaman ini tidak mudah tumbuh dan membutuhkan perawatan yang sangat spesifik. Saat ini jumlahnya masih terbatas. Tetapi jika situasinya tetap aman, kami bisa menyediakannya lagi di masa depan."

Tuan Valian mengangguk perlahan, mencoba mencerna jawaban tersebut sambil terus memperhatikan Arlen lekat-lekat, seolah ingin menembus isi kepala bocah itu.

"Kau tahu... di masa lalu, tanaman ini diburu bukan hanya karena khasiat obatnya," ucap Tuan Valian dengan suara yang merendah. "Konon, Daun Perak Dingin hanya bisa hidup di tanah yang menyimpan sisa-sisa energi Kuno yang mulai terlupakan. Banyak yang mengira tempat seperti itu sudah musnah ribuan tahun lalu."

Pria tua itu menjeda kalimatnya sejenak, lalu mendorong kantong uang di atas meja ke hadapan Cedric.

"Ambil uang ini, Tuan Ashford. Transaksi kita selesai. Namun ingat peringatanku: tanaman ini terlalu berharga dan terlalu berbahaya jika diperdagangkan secara ceroboh.

Jika kau ingin menjualnya lagi nanti, datanglah hanya kepadaku. Jangan pernah tunjukkan pada pedagang lain, terutama pada orang-orang yang mengenakan jubah dengan lambang lingkaran emas."

Saat menyebutkan ciri-ciri lambang tersebut, nada bicara Tuan Valian berubah menjadi peringatan yang sangat serius.

"Orang-orang itu memburu segala hal yang berkaitan dengan masa lalu yang dihapus. Jika mereka sampai tahu tentang hal ini, kau tidak hanya akan kehilangan tanamanmu, tetapi juga nyawa seluruh keluargamu."

Jantung Cedric berdegup kencang. Dia mengangguk cepat sambil mengamankan kantong uang tersebut ke balik pakaiannya. "Terima kasih atas peringatannya, Tuan Valian. Kami akan sangat berhati-hati."

Arlen tetap diam, tetapi matanya sedikit menyipit. Pria tua ini ternyata tahu tentang sejarah yang dihapus itu. Berarti, dia tahu lebih banyak daripada yang dia perlihatkan.

Sebelum mereka melangkah pergi, Tuan Valian memanggil Arlen. Dia mengeluarkan sebuah batu pipih berwarna abu-abu gelap dengan ukiran pola sulur yang rumit, lalu menyerahkannya kepada Arlen.

"Bawa ini," kata Tuan Valian pelan. "Jika suatu hari kau atau ayahmu berada dalam bahaya besar dan tidak tahu harus bersembunyi di mana, tunjukkan batu ini kepada penjaga di gerbang timur kota. Dia akan membawamu langsung kepadaku.

Ingat, gunakan ini hanya saat situasi benar-benar mendesak."

Arlen menerima batu tersebut dan menyimpannya dengan aman. "Terima kasih."

"Pergilah sebelum malam tiba," perintah Tuan Valian memberi isyarat dengan tangannya. "Dan awasi langkah kalian. Kota ini berubah menjadi tempat yang sangat berbeda bagi orang yang membawa banyak uang."

Keduanya melangkah keluar, kembali menyusuri gang sempit yang mulai gelap. Begitu pintu kayu kedai tertutup rapat, Cedric menghela napas panjang seolah beban besar baru saja diangkat dari punggungnya. Dia mendekap kantong uangnya erat-erat, masih tidak percaya bahwa ancaman yang menghantui keluarganya kini sudah selesai.

Namun, Arlen tidak menurunkan kewaspadaannya. Sejak melangkah keluar dari kedai, dia bisa merasakan ada sepasang mata yang mengintai gerakan mereka dari kegelapan.

"Ayah, cepatlah berjalan dan ikuti aku mengambil jalan memutar," bisik Arlen sambil menarik ujung baju Cedric. "Ada yang mengikuti kita sejak tadi."

Cedric langsung menegang. Meskipun dia sendiri tidak merasakan keanehan apa pun, dia sudah mulai terbiasa mempercayai insting putranya yang tidak biasa. Cedric mengangguk singkat dan mempercepat langkahnya, mengikuti rute berliku yang dipilih Arlen.

Sialnya, saat mereka tiba di ujung sebuah gang mati yang sepi, tiga pria bertubuh besar mendadak muncul dan memotong jalan keluar. Wajah mereka ditutupi kain hitam, sementara tangan mereka memegang tongkat kayu kayu berujung tajam dan belati.

"Tinggalkan kantong uang itu di tanah jika kau dan anakmu masih ingin pulang dengan bernapas," gertak salah satu dari mereka dengan suara serak.

Cedric langsung bergerak cepat, mendorong Arlen ke belakang punggungnya demi melindungi bocah itu. Kedua tangan Cedric mengepal erat. Dia bersiap untuk bertarung mati-matian, meskipun saat ini dia tidak memegang senjata apa pun.

Di belakang punggung ayahnya, Arlen berdiri diam dengan tatapan mata yang mendadak berubah menjadi sangat dingin. Peringatan Tuan Valian ternyata terbukti lebih cepat dari perkiraan.

Arlen mulai memusatkan pikirannya, memicu aliran energi hangat di dalam tubuhnya. Aura tingkat Perunggu miliknya langsung bangkit, siap untuk diledakkan keluar kapan saja.

Satu entakan aura sudah cukup untuk melumpuhkan saraf mereka sekaligus, batin Arlen menilai situasi dengan tenang. Masalahnya, aku harus menahan kekuatanku agar tidak membunuh mereka di depan Ayah.

Urusan dagang memang sudah selesai, tetapi malam ini, Arlen dihadapkan pada pilihan mutlak: tetap berpura-pura menjadi anak kecil yang tidak berdaya dan membiarkan ayahnya terluka, atau melepaskan kekuatannya yang selama ini dia sembunyikan untuk meratakan para penjahat ini dalam sekejap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!