Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:15
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 020 - Sepasang Kupu-Kupu

Empat hari setelah menerima cincin, aku mengenakan gaun pengantin tanpa calon suami di sisiku.

Studio foto di lantai tiga pusat perbelanjaan hampir kosong pada pagi hari. Seorang penata rias merapikan rambutku, sementara fotografer perempuan mengatur kain putih panjang yang jatuh dari bahuku.

"Tunangannya terlambat?" tanyanya.

"Dia tidak tahu aku di sini."

Fotografer itu menatap cincin bunga merah di jariku melalui cermin. "Kejutan?"

"Semacam itu."

Sebenarnya aku sendiri tidak tahu mengapa datang. Mungkin aku ingin melihat seperti apa diriku jika janji Arkana benar-benar menjadi masa depan. Mungkin aku sedang mengumpulkan bukti bahwa selama beberapa hari, aku pernah percaya kebahagiaan bisa difoto dan disimpan sebelum seseorang merenggutnya.

Lampu kilat menyala.

Aku berdiri di depan latar taman buatan. Pada foto pertama, senyumku tampak kaku. Pada foto kedua, fotografer itu memintaku membayangkan lelaki yang menunggu di ujung lorong pernikahan.

Arkana muncul terlalu mudah dalam pikiranku.

Jas hitam. Tatapan tajam. Tangan terulur hanya kepadaku.

Senyumku akhirnya menjadi nyata.

"Nah, itu dia," kata fotografer itu sambil memeriksa layar kamera. "Sekarang terlihat seperti pengantin yang sedang jatuh cinta."

Aku menyentuh cincin di jari manis. "Aku memang jatuh cinta."

Setelah sesi selesai, fotografer itu menunjukkan dua puluh foto. Aku memilih satu foto seluruh badan dan satu potret dekat saat aku menoleh ke arah cahaya. Keduanya akan dicetak dan disimpan di studio sampai kuambil.

"Boleh aku menitipkan pesan?" tanyaku.

"Untuk tunangan rahasia itu?"

Aku menulis nama Arkana di sebuah kartu, lalu memasukkannya ke amplop bersama nomor teleponku.

"Jika suatu hari ada lelaki tampan datang mencariku, berikan ini kepadanya."

Fotografer itu tertawa. "Seberapa tampan?"

"Dia akan terlihat seperti ingin membeli gedung ini hanya karena menunggu terlalu lama."

"Mudah dikenali. Apa yang harus kukatakan?"

Aku menatap foto pengantin di layar untuk terakhir kali.

"Katakan, aku mencintainya. Aku menunggunya setiap malam."

Fotografer itu berhenti tersenyum. Mungkin nada suaraku terdengar lebih mirip pesan terakhir daripada kejutan pernikahan.

"Kau akan kembali mengambil fotonya, kan?"

"Tentu."

Kebohongan kembali keluar dengan lancar.

Aku mengganti pakaian, menyimpan gaun putih dalam tas pakaian, lalu berjalan tanpa tujuan melewati toko-toko. Di depan sebuah butik pria, dasi berwarna merah gelap menarik perhatianku. Warnanya menyerupai berlian di cincinku.

"Hadiah untuk suami?" tanya pramuniaga.

"Belum."

"Calon suami?"

Aku tersenyum. "Semoga."

Aku membeli dasi itu dan meminta kotak hitam tanpa pita. Arkana tidak menyukai hiasan yang tidak berguna, tetapi dia menyimpan semua benda kecil pemberianku, termasuk gantungan kunci murah berbentuk serigala yang kubeli saat berusia lima belas tahun. Benda itu masih tergantung di laci meja kerjanya, meski salah satu telinganya telah patah.

Menjelang malam, sebuah pesan masuk.

Arkana: Pakai sesuatu yang nyaman. Aku menjemputmu pukul tujuh.

Tidak ada pertanyaan tentang keberadaanku seharian. Itu justru membuatku semakin yakin dia sudah tahu.

Restoran Lumière berada di lantai tertinggi sebuah hotel, dikelilingi kaca dari lantai sampai langit-langit. Kota menyala di bawah kami seperti hamparan bintang yang jatuh. Arkana telah memesan meja di dekat piano, tetapi restoran tidak dikosongkan. Para tamu lain tetap berbicara pelan, sendok dan gelas berdenting di antara alunan musik.

Ia mengenakan kemeja hitam tanpa dasi.

"Aku membawa sesuatu," kataku sambil menyerahkan kotak.

Arkana membukanya. Jemarinya menyentuh kain merah gelap, lalu matanya beralih ke cincinku.

"Warnanya sama."

"Supaya orang tahu kau milikku."

"Mereka sudah tahu."

"Kesombonganmu tidak pernah mengambil cuti."

"Aku sedang berusaha rendah hati."

Aku tertawa. Untuk beberapa menit, kami tampak seperti pasangan biasa yang membicarakan makanan, jadwal kuliah, dan dasi. Lalu pelayan menuangkan air dan meninggalkan kami. Arkana meletakkan garpu dengan sangat hati-hati.

"Larasati."

Nada itu membuat senyumku menghilang.

"Apa?"

"Hubungan tidak dapat hidup bersama kebohongan."

Udara di restoran seakan menipis. Tanganku turun ke pangkuan, menutupi cincin.

"Kau ingin menanyakan sesuatu?"

"Aku ingin kau mengatakan sesuatu."

"Apa?"

"Kebenaran yang selama ini kausimpan."

Tatapannya tenang, terlalu tenang. Aku tidak tahu seberapa banyak yang telah ia temukan. Tentang pisau? Tentang keluargaku? Tentang alasan aku bertahan di sisinya sambil menghitung setiap dosa yang mungkin dia lakukan?

"Kalau aku belum siap?"

"Aku menunggu." Arkana mengulurkan tangan di atas meja. "Tapi jangan menunggu sampai kebenaran memilih cara paling kejam untuk muncul sendiri."

Aku meletakkan tanganku di atas tangannya. "Apakah kau akan meninggalkanku jika mendengarnya?"

"Tidak."

"Kau bahkan belum tahu apa itu."

"Aku tahu lebih banyak daripada yang kaupikirkan."

Jantungku berhenti satu ketukan.

Arkana tidak menjelaskan. Dia hanya membalik tanganku dan mencium cincin bunga merah, seperti pada malam ia memasangkannya.

"Makanlah," katanya. "Malam ini aku tidak akan memaksamu."

Makan malam berlanjut, tetapi setiap bunyi garpu terasa seperti hitungan mundur. Ketika makanan penutup tiba, pianis restoran berdiri untuk beristirahat. Piano hitam di dekat meja kami dibiarkan kosong.

Aku bangkit.

"Mau ke mana?" tanya Arkana.

"Memberikan sebagian kebenaran."

Aku duduk di bangku piano. Beberapa tamu menoleh. Jemariku menemukan tuts pertama dari melodi yang kutulis bertahun-tahun lalu, dua tema yang saling mengejar, berpisah, lalu bertemu kembali pada nada yang sama.

Arkana pernah mendengarnya dari balik pintu ruang musik. Malam ini, untuk pertama kalinya, aku memberinya nama.

"Judulnya Sepasang Kupu-Kupu," kataku.

Nada pertama mengalun.

Tema di tangan kiri bergerak berat dan gelap, seperti sayap yang pernah terbakar. Tema di tangan kanan menjawab lebih ringan, tetapi tidak pernah benar-benar bebas. Keduanya saling menghindar, bertabrakan, lalu belajar terbang dalam arah yang sama.

Restoran perlahan hening.

Saat nada terakhir menghilang, aku tidak langsung berdiri. Arkana menatapku dari meja dengan ekspresi yang tidak dapat kubaca. Di antara para tamu, seseorang mulai bertepuk tangan. Yang lain menyusul.

Aku kembali ke meja, tetapi seorang perempuan lanjut usia di dekat piano tersenyum kepadaku.

"Lagu itu untuk tunanganmu?"

Aku memandang Arkana. Lelaki yang ditakuti seluruh kota itu tampak tidak nyaman menjadi pusat perhatian. Anehnya, itu membuatku lebih berani.

"Ya," jawabku cukup keras untuk didengar meja-meja terdekat. "Di mata orang lain, mungkin dia bukan lelaki baik. Tapi di mataku, dia adalah lelaki terbaik."

Tepuk tangan terdengar lagi. Arkana menunduk sebentar, menutupi emosi dengan menyentuh gelasnya. Ketika aku duduk, dia menarik kursiku mendekat tanpa memedulikan siapa pun yang melihat.

"Kau sengaja mempermalukanku," katanya.

"Wajahmu tidak merah."

"Aku terlatih."

"Kau menyukainya?"

"Lagunya atau pengakuanmu?"

"Keduanya."

Arkana menggenggam tanganku. "Aku menyukai bahwa kedua kupu-kupu itu akhirnya memilih arah yang sama."

Di luar kaca, awan gelap bergerak menutupi cahaya kota. Aku teringat pisau di dasar laci, foto pengantin yang kutinggalkan, dan pertanyaan yang belum kujawab. Semua kebohonganku masih hidup. Hanya saja malam itu, mereka mulai kehilangan tempat untuk bersembunyi.

Aku meremas tangan Arkana.

"Aku berjanji," kataku, menatap langsung ke matanya. "Mulai sekarang, tidak akan ada lagi kebohongan."

Dia mencium keningku seolah mempercayai janji itu.

Sementara di kejauhan, kebenaran sedang berjalan ke arah kami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!