Kebencian adalah awal dari kehancuran yg akan ku persembahkan kepada langit, dendam yg terpendam akan ku ukir setajam pedang pusaka, terkadang takdir memang sungguh lucu, dengan sebilah pedang di tangan akan ku tunjukkan kepada langit , dengan sebilah pedang di tangan aku akan menentang takdir langit, dengan sebilah pedang akan ku hancurkan para dewa, dengan sebilah pedang akan ku ukir namaku, dengan sebilah pedang di tangan akan ku ukir namaku sebagai legenda kultivator iblis, kultivator yg paling menakutkan dan paling kejam yg pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusub Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Pedang Yang Menakutkan
Xuan kembali memperhatikan Siluman itu dengan teliti, sepertinya dia baru menyadari sesuatu. Tanduk siluman banteng berkepala lima itu terlihat palsu, dia menyadari itu setelah salah satu tanduk mengeluarkan asap tipis.
"Racun pelumpuh saraf. Apakah mereka pikir dengan racun murahan itu bisa membunuhku? Elang merah tidak pernah gagal dalam pengintaian." ucap Xuan geram. Elang merah mengatakan siluman di lembah tersebut hanyalah siluman palsu. Awalnya Xuan ragu kini dia baru percaya.
"Sepertinya kalian memang tengkorak hitam. Apakah nama kalian semenakutkan jurus tengkorak ku?" Kata Xuan sambil kembali menyerang. Kali ini dia tidak main-main lagi.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya elang merah mengirim suara melalui telepati. Elang merah mengatakan bahwa ada tiga orang mengintai Xuan dari kejauhan.
"Waktunya sudah tiba." gumam Xuan singkat.
Xuan mengganti pedang hitam di tangannya dengan pedang berlian sambil berkata." Tunjukkan kekuatanmu, tunjukkan seperti apa Dewa Keadilan menghukum manusia manusia yang serakah."
NERAKA MEMBAKAR LANGIT
Jurus kesepuluh dari tehnik perusak jiwa telah dilepaskan.
Xuan menebaskan pedangnya, selarik cahaya sepanjang sejengkal keluar dari ujung pedang. Selarik cahaya seperti kilat mengejar siluman yang ketakutan itu. Kemanapun siluman itu pergi selarik cahaya sepanjang sejengkal itu terus mengejarnya. Setelah siluman itu kabur hingga Lima ratus meter selarik cahaya itu mengenai tubuh siluman itu.
BOMM
Ledakan keras tercipta. Tubuh siluman itu meledak dan berubah menjadi abu lalu menghilang di udara. Asap yang membumbung kelangit tidak bisa menutupi penglihatan Xuan. Dia menyaksikan siluman itu berubah menjadi abu. Lembah siluman bergetar hebat saat ledakan terjadi. Saat Asap menghilang siluman pun ikut menghilang. Lembah siluman sekitar lima hektar rata dengan tanah bahkan kayu-kayu yang ada berubah menjadi debu dan menghilang.
Tempat ledakan energi sejengkal itu tercipta lubang yang dalam sekitar satu hektar.
"Sial, Aku tidak mengharapkan seperti ini." Rambut panjangnya yang biasanya berwarna hitam sekarang berubah menjadi warna putih dan mengerut seperti keriting , tubuhnya bergetar hebat, Wajahnya terlihat tua, fisiknya bahkan berubah menjadi kurus.
Xuan hanya ingin melihat seperti apa ketajaman pedang berlian milik Dewa Keadilan menegakkan keadilan di berbagai alam.
'Kitab terlarang dan tehnik perusak jiwa adalah satu kesatuan dengan pedang ini.' pesan elang merah.
Xuan tidak pernah menduga bahwa jurus pamungkas dari tehnik perusak jiwa sangat menakutkan menggunakan pedang berlian. Karena baru pertama kalinya dia melepaskan jurus kesepuluh menggunakan pedang berlian tersebut.
Xuan langsung teringat lagi kata-kata elang merah.
'Kesempurnaan dari kitab terlarang tehnik perusak jiwa ketika jurus kesepuluh dari tehnik perusak jiwa di lepaskan menggunakan pedang berlian, maka energi yang keluar dari pedang itu hanya sebesar kelereng.'
Namun dia yakin energi sebesar kelereng itu bisa menghancurkan satu benua jika kekuatannya setara dengan elang merah dan itu berada di alam langit.
Xuan sebenarnya masih ingin bermain-main dengan siluman itu namun dia tidak menyangka pada akhirnya pertarungan berakhir tidak terduga. Dia ingin memasukkan pedang berlian kedalam cincin di jari tangannya namun pedang itu malah memantul dan terlempar begitu saja.
"Apa yang terjadi? energiku! Dasar pedang sialan." Xuan mengutuk keteledorannya. Pedang berlian tergelatak di tanah begitu saja. dia hanya memandang pedang itu dengan wajah kesal.
Dia merasa jika menggunakan pedang itu untuk saat ini, hal itu akan mengubah tubuhnya menjadi kerangka. Bahkan saat melepaskan jurus kesepuluh dengan pedang berlian tersebut energi kehidupannya tersedot.
"Benar-benar menakutkan, hampir saja tadi aku berubah menjadi kerangka." gumam Xuan geram. Hal inilah membuatnya malas mempelajari tehnik tersebut walaupun elang merah memarahinya.
Biasanya, lawan-lawannya yang berubah menjadi kerangka namun kali ini Xuan yang hampir berubah menjadi kerangka. Saat ini satu tetes pun energi tidak sisa di dalam lautan energinya.
"Bagaiman bisa Dewa Keadilan memiliki jurus terlarang seperti itu?"
Saat Xuan berlutut dan termenung karena tidak kuat lagi berdiri, tiba-tiba perangkap besi terbang kearahnya. Perangkap itu langsung mengurungnya secara otomatis.
"Jangankan untuk melawan, bergerak saja aku tidak sanggup lagi." gumam Xuan dengan suara lemah. Asap tipis keluar dari tiang-tiang perangkap tersebut.
"Racun pelumpuh energi." Xuan menghirup racun itu dengan santai lalu pingsan.
"Hahaha.... jangan berlagak sok kuat anak muda, semua kekutan ada batasnya. Seperti inilah kami orang-orang lemah ini memperbudak orang-orang kuat. Semua Kitab hebat, semua tehnik hebat, bisa di kuasai manusia namun pada akhirnya pemiliknya pun akan mati juga. Ratusan seperti mu ada di penjara kami. Satan pasang segel di perangkap itu?" Pria brewok yang memiliki bekas luka menyilang di wajahnya memberi perintah. Perangkap pemberian ketuanya sudah menangkap ratusan buruan.
"Baik Ketua. Wang zi bantu aku memasang segel. Kultivator yang satu ini agak spesial. Dia sangat kuat, kita harus berhati-hati sebelum tiba di penjara." jawab pria Kumal kepada ketuanya. Lalu mengajak seorang pria botak bernama Wang zi.
"Baik Kumal. Ketua besar pasti sangat senang kepada kita karena mendapat buruan yang menggangu lembah ini. Kumal Apakah masih perlu bantuanku? Bukankah racun pelumpuh energi telah bekerja?" jawab pria botak bernama Wang zi lalu bertanya kembali dengan Satan si pria Kumal.
"Botak, jangan main-main dengan pemuda ini, Apakah kamu tidak melihat kekuatannya? Kamu belum rabun bukan? Aku tidak yakin ketua besar sanggup melawannya ketika anak muda ini dalam kondisi prima. Sebelum kita tiba di penjara untuk menjinakkan buruan ini, sebaiknya kita tetap waspada." ucap Kumal dengan tegas.
"Itu benar. Apakah kamu buta? lihat lembah ini dan isinya, semuanya telah punah. Kita Tidak memiliki pion lagi untuk menyerang Kekaisaran ini, Semua hewan buas telah binasa." ucap pria brewok.
"Woi botak, kenapa kalian menangkap ku? Aku hanya berburu hewan buas di wilayah ini untuk di tukar dengan koin emas." tanya Xuan pura-pura lemah.
Wang zi si botak tiba-tiba terlonjak kaget. Dia tidak menyangka buruannya malah membentaknya." Diam kau, jika bukan karena kami kekurangan anggota untuk di jadikan budak dan akan menyerang Kekaisaran ini aku sudah membunuhmu dari tadi." Bentak si botak marah. Dia pikir buruannya telah pingsan namun masih sanggup menggertak nya.
Saat Xuan di kerangkeng di dalam perangkap besi dan akan di bawa menuju bagian terdalam lembah siluman, dia diam-diam memasang segel perusak jiwa kepada Meraka bertiga dan juga menandainya. Xuan juga menandai lokasi yang di lewatinya. Mereka tidak menyadarinya karena asap yang keluar dari perangkap besi tersebut sedikit menutupi penglihatan mereka.
Namun dia harus membakar energi kehidupannya untuk melakukan hal tersebut karena memang energinya benar-benar sudah habis. Dia juga memasukkan pedang berlian kedalam cincinnya secara diam-diam. Kemudian mengambil sumber daya yang di butuhkan dari dalam cincin penyimpanannya.
Semua itu di saksikan oleh elang merah dari kejauhan namun dia tidak bergeming. Sesuai rencana mereka, elang merah kali ini bekerja dari balik layar.
"Apakah mereka memiliki kitab penjinak siluman dan hewan buas?" batin Xuan. Saat di perjalanan dia memperhatikan mereka memanggil beberapa hewan buas tingkat rendah yang tersisa sambil membisikkan sesuatu.
Setelah beberapa jam memasuki lembah siluman bagian terdalam, akhirnya mereka tiba di sebuah pemukiman manusia. Xuan menyaksikan ratusan orang sibuk minum arak dengan perawakan yang berbeda dari kekaisaran selatan. Dia menyaksikan mereka minum arak dan tertawa terbahak-bahak ditemani gadi-gadis yang nyaris telanjang sambil menari untuk menghibur mereka.
"Bajingan, Jika bukan karena ingin menyelidiki para tahanan aku sudah meremukkan kalian semua." gumam Xuan geram. Wajahnya memerah menahan amarah yang meluap-luap. Dia menyaksikan jiwa para gadis-gadis itu seolah-olah telah meninggalkan tubuhnya.
Saat mereka melewati orang-orang yang menikmati arak tersebut, seorang pria gemuk yang tidak memiliki daun telinga sebelah kiri berbicara dengan kendi arak di tangan kirinya." Kamu memang hebat Mo Gin. Dari mana kalian mendapatkan buruan itu? tapi untuk apa kalian menangkap pria tua jelek dan kurus seperti itu? Apakah dia masih layak bergabung dengan kita?" Tanya pria itu sambil mendengus.
Yang lainnya malah tertawa terbahak-bahak sambil memperhatikan Xuan. Mereka seolah- olah tidak melihatnya." Apakah pria itu tidak pernah makan?" Seorang pria kurus akhirnya membuka suara.
"Apa bedanya dia denganmu ?" jawab si botak sambil tertawa terbahak-bahak dan yang lainnya malah ikut menertawakan si kurus.
"Jangan tertipu dengan wajahnya dan badannya yang kurus, jika kami tidak menangkapnya hari ini, satu pohon pun tidak ada lagi yang berdiri di lembah siluman ini. Dia bahkan membunuh raja banteng milik ketua besar ." ucap Mo Gin sambil menggelengkan kepala.
"Apa? Apakah kamu tidak membual?" jawab si telinga satu dengan kaget.
"Untuk apa aku membual, kalian bisa memeriksanya sendiri, aku tidak tau apakah kita masih bisa menyerang Kekaisaran ini saat bulan purnama nanti? Soalnya peliharaan kita semua sudah di habisi olehnya." Jawab Mo Gin sambil mendesah. Dia yakin pasti mereka akan mendapat hukuman.