"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sejarah pohon keramat
"Gue jemput anak anak dulu ya, kata papa kalau jadi, Daddy Langit dan Opa Sagara juga akan ikut, mungkin gue akan sampai malam hari, kami akan menginap dulu di resort baru besok pagi kami ke sini" ucap Hamka yang akan berangkat ke resort untuk menjemput keluarga mereka bersama Liam.
"Anga itut" rengek Kenanga
"Bahaya, kamu tunggu di sini, nanti tidur dengan Laily ya, aku besok akan bawakan kamu susu kotak rasa coklat dan strawberry" bujuk Liam
"Oti itu ulat"
"Iya, roti bulat juga, donat kan" jawab Liam dan Kenanga mengangguk
Tidak biasanya Sagara minta di jemput, bahkan Aurora tidak di ijinkan ikut karena pasti akan minta Laily di bawa ke jakarta sementara tugas Laily adalah mendampingi Lintang di rumah itu. Miqdad juga sudah berada di resort bersama Mahira dan dua anak bocil yang akan di bawa ke sana.
"Ayo mumpung masih terang, kalau tidak hujan kita bisa sampai di gerbang resort pukul enam Maghrib" ajak Hamka
Tiba tiba saja PoMat bercahaya, dia meminta Liam untuk tinggal, mereka sempat bingung karena motor Sagara juga rusak dan tidak mungkin Hamka berjalan kaki sendirian di hutan meski Hamka sering melakukan itu saat pertama datang ke kampung Mahoni.
"Gue nggak apa apa kan pergi dari tempat ini? Gue kan katanya nggak boleh pergi kecuali tugas gue sudah selesai" ucap Liam yang baru ingat pesan dari nenek Sutinah dan juga Adrian.
"Lalu apa gue aja sendiri ke sana untuk jemput mereka?" tanya Hamka
"Iya iya iya"
"Diam Popon" ledek Hamka karena Kenanga sering meniru kata kata Ipin di serial kembar botak.
"Jaat!" pekik Kenanga
"Lo nggak apa apa sendiri, gue bukan nggak mau ikut, tapi lihat PoMat, dia bilang gue jangan ikut" ucap Liam menunjuk daun PoMat yang bertuliskan Liam tinggal.
"Nggak apa apa, tiap bulan juga kan gue pulang sendiri, udah enam kali begitu dan nggak apa apa" jawab Hamka
"Ya sudah, gue berangkat ya" pamit Hamka memeluk semua orang di sana.
"Aka, cucu otat cama oti ulat" ucap Kenanga
"Kalau ingat, aku sering lupa kalau sama jajanan kamu" jawab Hamka segera berlari dari sana.
"Hamka jahat!" teriak Kenanga mendekat di depan pohon keramat
"Huaaa Liam, Kenanga mau roti bulat itu, seperti yang ada di televisi" rengek Kenanga
"Iya, Hamka pasti bawa ko, dia kan suka usil, paling juga bohongin kamu" bujuk Liam menghapus air mata Kenanga dan memeluknya.
"Nanti mau ke rumah bapak"
"Iya, nanti ke sana setelah pulang sekolah ya, ayo bersiap sekolah, masuk ke dalam, bawa tas kamu dan kita berangkat" jawab Liam kembali menyimpan tas miliknya yang tadinya akan dia bawa untuk menjemput Sagara.
Di perjalanan, Hamka masih terlihat tenang karena hari masih terang, dia berangkat setelah shalat Ashari dan sudah mempersiapkan semuanya termasuk garam dari nenek Sutinah yang selalu dia bawa.
"Hamka, kamu mau ke mana? Tidak mengajar?" tanya Panca yang akan ke kampung cadas untuk membeli beberapa peralatan memasak yang sudah rusak di rumahnya.
"Opa Sagara dan Daddy akan ke sini, katanya minta di jemput, nggak tahu kenapa" jawab Hamka
"Kalau tidak salah jadwal kunjungan pak Sagara itu lusa kan?" tanya Panca
"Iya, lusa, tapi katanya di percepat karena ada urusan yang harus di selesaikan" jawab Hamka
"Mau sama sama?" tawar Panca
"Kak Panca mau ke mana?" tanya Hamka
"Ke kampung cadas, nanti di pertigaan hutan, kita berpisah di sana" jawab Panca
"Ayo kalau begitu" jawab Hamka senang karena ada teman mengobrol di jalan.
Prama terus mendesak Panca untuk bertanya tentang Mahira, tapi Panca terlalu malu untuk menanyakan hal itu, apalagi dia tidak mau kalau sampai Hamka curiga dengannya yang mengenal Mahira.
"Apa Hanya pak Sagara yang datang?" tanya Panca
"Ada Daddy, adik dan anak Hamka, ada Om Miqdad juga yang katanya mau ikut untuk melihat sekolah" jawab Hamka
"Oh.. Bu Aurora dan istri kamu tidak ikut?" tanya Panca
"Tidak, mungkin karena akhir akhir ini banyak gangguan dari mahluk halus, makanya Opa meminta hanya beberapa orang saja yang ikut" jawab Hamka
"Ah.. Iya, Mahira juga di ajak, supaya dia bisa melihat alam di Mahoni" ungkap Hamka membuat Panca berhenti dan memegang kalungnya lagi.
"Kenapa kak?" tanya Hamka
"Oh.. Tidak, hanya saja kak Panca baru ingat kalau kak Panca harus ..."
"Kak Panca harus beli minyak kayu putih dan juga minyak telon untuk para bayi di kampung, jadi dia ikut kamu saja sekalian ya, mau beli bedak bayi juga yang di minta Mbah Rumi, katanya bedak dari kota kualitasnya bagus" potong Prama langsung di pelototi Panca.
"Kalau begitu ayo bareng Hamka saja, Hamka senang ada temannya, tapi ya jangan kaget kalau Hamka nggak bisa seperti Liam ataupun Lintang yang akan ajak kak Panca tertawa" ungkap Hamka
"Tidak apa apa, kak Panca saja kaku, sudah sana, itu pertigaannya, biar Prama saja yang ke kampung cadas" bujuk Prama mendorong Panca agar berjalan dengan Hamka.
Mereka berpisah, Panca diam sepanjang perjalanan dan Hamka menyadari kegugupan Panca, Hamka yakin kegugupan Panca itu pasti menyangkut tentang Mahira.
"Pohon Keramat setiap hari selalu memperlihatkan banyak hal" ucap Hamka memulai topik pembicaraan sambil terus berjalan, karena mereka sudah setengah jam berjalan tanpa bicara apapun.
"Apa saja misalnya?" tanya Panca
"Dia bilang kalau dia itu adalah seorang Dewi" jawab Hamka membuat Panca terkekeh.
"Benarkah? Bagaimana bisa?" tanya Panca
"Dia bilang, dulu dia di kutuk menjadi pohon yang akan tumbuh seratus tahun sekali karena sudah berani mencintai manusia biasa, mereka hidup bahagia selama bertahun tahun, tapi sang Dewi ini di khianati karena dia tidak bisa memiliki anak, si manusia menikah lagi dengan orang lain agar dia punya keturunan dan meninggalkan sang Dewi dalam kesedihan dan kesendirian"
"Dalam kesedihan itulah, Sang Dewi di datangi ayahnya, dia meminta Ingin kembali ke alamnya lagi, tapi tidak bisa karena sang Dewi sudah ternodai, jadilah sang ayah memberikan kutukan padanya dengan menjadi sebuah pohon keramat"
"Pohon itu akan tumbuh seratus tahun sekali dengan satu buah yang akan jadi bahan rebutan para makhluk, dan jika dia berhasil menumbuhkan buah yang akhirnya jatuh ke tangan yang tepat, maka dia akan bisa berubah kembali menjadi sosok Dewi dengan wujud aslinya" jawab Hamka
"Lalu apa hubungannya dengan keluarga Danendra?" tanya Panca
"Karena manusia yang sudah di cintai sang Dewi itu adalah Leluhur keluarga Danendra, kami menjaga pohon itu adalah sebagai permintaan maaf keluarga kami pada sang Dewi yang sudah di rusak oleh salah satu leluhur kami, cinta tulus dari orang yang menjaga lah yang akan membuat sang Dewi memaafkan leluhur Danendra" jawab Hamka