⚠️ PERINGATAN
Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.
Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst
Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.
Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:
Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.
Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.
Ketika seseorang telah memiliki segala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JALAN KETIGA YANG BELUM TENTU ADA [POV FRAGMEN KELIMA: FANG KUANG]
Fang Kuang membawa idenya pada hari keenam dari tujuh hari yang ia miliki sebelum harus memberi jawaban pada utusan Heilong.
Ia mengumpulkan ayahnya dan Fang Lin di tenda yang sama tempat percakapan tentang warisan itu dimulai, lengannya masih dibalut meski sudah tidak seketat sebelumnya, duduk dengan postur yang selalu tegak meski satu tangannya tidak lagi berfungsi penuh.
"Aku punya usulan," Fang Kuang berkata, tidak membuang waktu dengan basa-basi. "Bukan jawaban penuh yang kau minta, Ayah. Tapi sebuah jalan yang mungkin bisa membuat kita berdua mendapatkan sebagian dari apa yang kita inginkan."
---
"Aku mendengarkan," Fang Zhen berkata, meski nada suaranya sudah menunjukkan kewaspadaan terhadap apa pun yang terdengar seperti jalan pintas.
"Fang Lin," Fang Kuang berkata, menoleh pada sepupunya, "kau selalu punya pikiran taktis yang lebih baik daripada aku. Kau memperhatikan hal-hal yang kulewatkan. Kau memimpin pertahanan di sisi timur saat Serigala Bertanduk menyerang, bahkan sebelum aku kembali. Bagaimana kalau kau yang dilatih sebagai pewaris, bersamaku, atau bahkan menggantikanku kalau suku menerimanya? Aku akan tetap pergi mencari kekuatan yang kubutuhkan, kembali secara berkala untuk membantu, tapi tidak harus menjadi satu-satunya jawaban atas kekhawatiran Ayah."
---
Keheningan yang mengikuti kata-katanya terasa lebih lama daripada yang ia harapkan.
"Kau ingin menjadikanku alasan agar kau tidak perlu memilih," Fang Lin akhirnya berkata, suaranya tajam, tidak sedikit pun tersentuh oleh apa yang mungkin dimaksudkan sebagai penghormatan terhadap kemampuannya.
"Itu bukan maksudku," Fang Kuang berkata, meski bahkan bagi dirinya sendiri, kata-kata itu terdengar kurang meyakinkan begitu diucapkan keras-keras.
"Bukan?" Fang Lin bertanya, menatapnya tajam. "Kau datang kemari dengan usulan yang secara kebetulan membiarkanmu pergi mencari Heilong minggu depan, sambil merasa sudah menyelesaikan masalah warisan dengan menyerahkannya padaku. Itu terdengar persis seperti caramu menghindari keputusan, dibungkus sebagai penghormatan."
---
Fang Kuang tidak punya jawaban cepat untuk tuduhan yang, semakin ia pikirkan, semakin sulit ia bantah sepenuhnya.
"Apakah kau tidak menginginkannya?" ia bertanya, mencoba mengalihkan fokus. "Menjadi pewaris, maksudku. Kau selalu punya bakat untuk itu."
"Itu bukan pertanyaan yang kau berhak tanyakan padaku sebagai balasan atas rencanamu sendiri," Fang Lin berkata tegas. "Tapi baiklah, aku akan menjawabnya. Aku tidak tahu apakah aku menginginkannya. Aku baru kehilangan penggunaan penuh lenganku tiga bulan lalu. Aku masih belajar siapa diriku sekarang, dengan tubuh yang berbeda dari yang kukenal seumur hidupku. Aku tidak butuh beban tambahan menjadi pewaris suku hanya karena sepupuku terlalu takut mengecewakan ayahnya untuk memutuskan sendiri."
---
Fang Zhen, yang sejak tadi diam mendengarkan, akhirnya angkat bicara.
"Ada juga masalah yang lebih praktis," ia berkata. "Suku ini belum pernah dipimpin seseorang yang bukan petarung terkuat dalam sejarah kami. Sebagian tetua akan menentang keras gagasan pewaris yang, maafkan aku mengatakannya langsung, Fang Lin, tidak lagi bisa bertarung penuh dengan kedua lengannya."
"Aku tahu itu," Fang Lin berkata, tidak terluka oleh kejujuran itu, hanya mengakuinya sebagai kenyataan yang sudah lama ia pertimbangkan sendiri. "Aku sudah memikirkan hal yang sama sejak lenganku terluka. Bukan hanya soal apakah aku ingin memimpin. Soal apakah suku ini bahkan bisa menerima kepemimpinan yang tidak datang dalam bentuk tinju terkuat."
---
"Jadi usulanku tidak akan berhasil," Fang Kuang berkata, sesuatu yang mendekati kekecewaan muncul dalam suaranya—meski ia sendiri tidak yakin apakah kekecewaan itu karena usulannya gagal, atau karena ia terpaksa kembali menghadapi pertanyaan yang sama tanpa jalan keluar mudah.
"Aku tidak bilang itu tidak mungkin," Fang Zhen berkata. "Aku bilang itu akan sulit, dan butuh waktu lebih lama daripada seminggu untuk meyakinkan tradisi yang sudah berakar puluhan generasi. Kalau kalian berdua benar-benar menginginkan jalan seperti ini, itu perjalanan panjang, bukan solusi cepat untuk keberangkatanmu minggu depan."
---
"Aku tidak keberatan dengan perjalanan panjang," Fang Lin berkata, mengejutkan mereka berdua. "Tapi aku keberatan kalau ini hanya jadi alasan bagi Fang Kuang untuk pergi tanpa benar-benar memikirkan konsekuensinya sendiri. Kalau aku setuju dilatih sebagai kemungkinan pewaris, bersamamu atau menggantikanmu, itu bukan berarti kau bebas dari tanggung jawabmu sendiri terhadap suku ini. Itu hanya berarti beban itu dibagi, bukan dipindahkan sepenuhnya."
---
Fang Kuang menatapnya lama, menyadari Fang Lin baru saja menawarkan sesuatu yang lebih rumit daripada yang ia bayangkan saat pertama kali mengusulkan ide ini—bukan pembebasan penuh dari kewajibannya, tapi kemitraan yang tetap menuntutnya untuk hadir, untuk berkomitmen, hanya dengan cara yang berbeda dari yang dibayangkan ayahnya.
"Aku masih akan pergi minggu depan," ia akhirnya berkata, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada mereka berdua. "Aku sudah berjanji pada Heilong, dan aku masih butuh pertarungan itu untuk alasan yang bahkan aku sendiri tidak sepenuhnya bisa jelaskan."
"Aku tidak memintamu membatalkannya," Fang Zhen berkata. "Aku hanya memintamu pulang dengan pikiran yang lebih jernih tentang apa yang akan kau lakukan setelahnya, bukan terus menunda pertanyaan ini sampai aku terlalu tua untuk bertanya lagi."
---
"Dan aku," Fang Lin menambahkan, "akan mulai belajar apa pun yang perlu kupelajari untuk kemungkinan ini, bukan karena aku sudah memutuskan aku menginginkannya, tapi karena aku ingin punya pilihan nyata kalau saatnya tiba, alih-alih dipaksa memutuskan tergesa-gesa seperti kalian berdua sekarang."
Fang Kuang mengangguk, menyadari percakapan ini tidak menyelesaikan apa pun secara pasti—ia masih akan pergi, Fang Lin masih belum memutuskan apakah ia ingin peran itu, ayahnya masih menghadapi ketidakpastian tentang siapa yang akan memimpin suku setelahnya, dan tradisi suku masih berdiri sebagai hambatan yang belum tentu bisa diatasi.
---
Ia meninggalkan tenda malam itu dengan lebih sedikit kepastian daripada yang ia harapkan saat memasukinya, tapi juga dengan sesuatu yang terasa sedikit lebih jujur daripada rencana rapi yang ia bawa masuk—pengakuan bahwa tidak ada jalan ketiga yang benar-benar membebaskannya dari harus memilih pada akhirnya, hanya jalan yang menunda pilihan itu sedikit lebih lama, dengan syarat ia benar-benar menggunakan waktu tambahan itu untuk berpikir, bukan sekadar lari lebih jauh dari pertanyaan yang sama.
Minggu depan, ia akan berangkat menuju kampanye Heilong seperti yang sudah direncanakan.
Tapi untuk pertama kalinya, keberangkatan itu terasa seperti awal dari sesuatu yang harus ia selesaikan saat kembali, bukan pelarian dari sesuatu yang bisa terus ia hindari selamanya.