Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karma?
Setangkai bunga mawar menghiasi gelas kaca. Aromanya tercium samar, pada Vivian yang duduk tenang di atas meja kerjanya.
Tangannya membolak-balikan lembar dokumen yang sudah ia lihat lebih dari sepuluh kali. Sesekali matanya mencuri pandang, pada pria yang memasang wajah serius di depan.
"Kak Raynor, ada yang bisa aku kerjakan lagi?" tanya Vivian, kepalanya bersandar malas di atas meja.
"Yah..." jawabnya datar. Membuat Vivian tak merasa puas.
"Aku harus ngapain lagi kak?" suaranya melemah, ia mulai menguap kecil di sana.
"Duduk diam, dan patuh lah!"
Vivian hendak membuka mulut, tapi pria itu berjalan ke arah jendela kaca dengan ponsel di telinga.
Ia mendengkus kesal, rasa bosan mulai menerpa. Hari pertama ia kerja sebagai sekretaris kakaknya di kantor pusat benar-benar jauh berbeda dari yang ia kira. Ia pikir di sini akan semakin sibuk, nyatanya ia malah di landa kebosanan hampir seharian.
Vivian menatap punggung tegap Raynor dari belakang, seketika hatinya menghangat, jantungnya bergetar hebat. Pria itu yang selama ini memberinya perlindungan serta kenyamanan.
Waktu berlalu, akhirnya Vivian menemukan kesibukannya, dengan mencorat-coret kertas kosong di meja. Di seberang sana, Raynor berkali-kali mencuri pandang ke arah Vivian. Ia sengaja menempatkan meja gadis itu di dalam ruangannya, agar lebih leluasa mengawasinya.
Hingga jam makan siang telah tiba, namun Raynor tampak tak berniat beranjak sedikit pun, tangannya masih sibuk membolak-balik berkas yang belum selesai ia tandatangani.
Vivian melangkah pelan, mendekat, membawa kotak makan siang yang telah disiapkan sejak pagi.
"Kak, istirahat dulu yuk," ucapnya lembut, suaranya memecah keheningan ruangan yang ber-AC sejuk. "Udah jam makan siang, nanti sakit lho, kalo kerja terus tapi nggak mau istirahat."
Raynor mengangkat wajah, menatap Vivian dengan sorot mata lembut. "Makanlah, ini belum selesai."
Vivian menggeleng pelan, lalu menarik kursi miliknya hingga berada tepat di samping pria itu. Ia membuka kotak bekal berisi nasi putih, lauk kesukaan Raynor, dan buah potong yang tersusun rapi, yang sebelumnya telah disiapkan oleh pekerja di rumahnya.
"Aku nggak mau makan kalo kakak juga nggak makan," jawabnya pelan, lalu menyendok nasi dan lauk, mengangkatnya perlahan ke arah bibir Raynor.
"Aaa... buka mulutnya kak, biar aku suapin yah, sambil kak Raynor lanjutkan saja kegiatannya."
Raynor tertegun sejenak, lalu senyum hangat merekah di wajahnya. Ia menurut, membuka bibirnya perlahan menerima suapan dari tangan gadis itu.
Di luar jendela, matahari siang bersinar terang, namun di dalam ruangan itu, kehangatan yang tercipta terasa jauh lebih lembut dan menenangkan, seolah waktu berhenti berputar hanya untuk mereka berdua.
Selesai makan siang, Vivian kembali ke kursinya. Tanpa banyak tugas yang harus dikerjakan, ia meraih kembali buku sketsa miliknya.
Jemarinya lincah menggoreskan pensil di atas kertas putih, menciptakan lekuk garis siluet gaun dan kebaya modern yang tumbuh dari imajinasinya sendiri.
Namun, seiring berjalannya waktu, keheningan ruangan perlahan membuai kesadarannya. Mata Vivian terasa semakin berat, hingga akhirnya ia tertidur pulas di meja, kepala bersandar di lengan yang terlipat.
Raynor yang tengah menelaah dokumen sekilas melirik. Melihat gadisnya terlelap begitu tenang, ia tersenyum kecil, lalu bangkit perlahan, berjalan mendekat tanpa suara.
Dengan hati-hati ia mengangkat tubuh ringan Vivian, memindahkannya ke sofa empuk di sudut ruangan, menyelimutinya dengan jaket hangat agar tak kedinginan di bawah hembusan AC.
Usai memastikan Vivian nyaman, Raynor kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya, menyelesaikan setiap berkas dengan fokus ganda, satu demi satu, hingga seluruh tugas hari itu tuntas sepenuhnya.
Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Raynor akhirnya menutup laptopnya. Ia berjalan mendekati sofa, menatap wajah Vivian yang masih terlelap damai.
Cahaya lampu ruangan yang lembut menyinari wajah gadis itu, membuatnya tampak begitu tulus dan rapuh.
Raynor mengusap pipinya perlahan dengan rasa gemas dan sayang. Pikirannya sempat terbayang ingin mengecup bibir itu sekilas, namun ia menggeleng pelan menepis keinginan itu biarkan ia terlelap tenang tanpa gangguan.
Dengan lembut ia mengangkat tubuh Vivian, membawanya keluar menuju mobil. Sepanjang perjalanan pulang, Vivian tak terusik, rasa lelah merenggut kesadarannya sepenuhnya.
Sesampainya di rumah, Raynor kembali menggendongnya masuk hingga ke kamar gadis itu, membaringkannya di atas kasur, lalu menyelimutinya sebatas dada . Sebelum benar-benar pergi, ia menunduk singkat, mengecup kening Vivian dengan mata terpejam.
Pintu kamar ditutup perlahan. Raynor berdiri sejenak di lorong, lalu meraih ponsel dari saku celananya. Di layar tertera satu panggilan masuk. Suara di seberang membuatnya tersenyum miring.
****************
Renika terbangun di sebuah tempat asing, perlahan ia menyesuaikan semuanya. Ringisan kecil tercipta, semuanya benar-benar terasa menyiksa. Kepalanya berat, badannya remuk redam tak tertahan.
Ia membuka mata dengan susah payah, menatap langit-langit rumah tua yang berdebu dan suram. Tubuhnya lemas, dan rasa pusing yang berdenyut tajam masih membelenggu, sisa efek alkohol yang dipaksa masuk ke tenggorokannya semalam.
Saat pandangannya mulai jelas, ia menoleh ke samping. Di sana, di atas kasur tipis yang tergelar di lantai, Bila terbaring tak berdaya, wajahnya pucat pasi, rambutnya kusut tak beraturan, pakaiannya berantakan tak terurus.
Kondisi adiknya tampak jauh lebih parah darinya, napasnya terdengar lemah dan berat, seolah benar-benar tak berdaya menahan segala penderitaan yang dipaksakan pada mereka.
Ingatan Renika berputar kacau. Bayangan pria asing yang tiba-tiba muncul, membekap mulutnya serta Bila hingga mereka kehilangan kesadaran, lalu membawa mereka ke rumah tua ini.
Mereka tidak disakiti secara fisik, tak ada pukulan, tak ada kekerasan, tak ada luka yang tercipta. Namun mereka diikat erat di kursi kayu tua, dipaksa menelan berbotol-botol minuman beralkohol hingga kesadaran mereka perlahan hilang ditelan pusing dan rasa mual yang menyiksa.
Detail kejadian itu kabur di ingatannya, seolah terselubung kabut tebal yang tak bisa ia tembus.
Amarah dan keputusasaan seketika meledak di dadanya. Renika mengepalkan kedua tangannya kuat, kuku-kukunya nyaris menancap ke telapak tangannya sendiri.
"Aakh... Sialan!"
Ia meremas perutnya yang terasa panas dan perih, seolah ada api kecil yang terus membakar dari dalam.
Huek...
Rasa mual mulai mendera, tanpa bisa ditahan cairan bening membanjiri mulutnya dan tumpah ruah.
Tangannya mengusap perutnya perlahan, walau sedikit gemetar, dingin dan gerakannya lemah nyaris tanpa tenaga.
"Anakku..." suasana berubah pilu, sekelebat bayangan Satria tiba-tiba datang.
Kepalanya menunduk dengan air mata yang mulai tercipta, ia mencintai Satria, dan ia sangat menyayangi anak yang ada dalam kandungannya.
Walau kehadirannya tak diinginkan, walau pria itu tak pernah mengharapkan, tapi ia berjanji akan menjaganya, selayaknya seorang ibu yang menyayangi anaknya.
Air mata Renika semakin deras, jatuh membasahi pipinya yang kusam. Ia meremas perutnya semakin erat seolah ingin melindungi satu-satunya hal berharga yang tersisa di tengah reruntuhan hidupnya.