Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Baru
Sinar matahari pagi merayap hangat menembus celah-celah daun pohon mangga di pekarangan rumah Pak Suryo. Hawa dingin yang biasanya menyelimuti desa setelah hujan deras kini berganti dengan desir angin sepoi-sepoi yang menyegarkan. Burung-burung gereja berkicau riang di atas atap seng, seolah menyambut lembaran baru yang bersih bagi keluarga yang baru saja melewati badai besar tersebut.
Aroma harum nasi uduk dan sambal goreng tempe menyeruak dari arah dapur. Bu Sumi yang tadinya hanya bisa berbaring lemah dan menangis, pagi ini tampak jauh lebih bugar. Senyum yang sempat hilang dari wajah keriputnya kini kembali terukir saat ia menata piring-piring kaleng di atas meja makan kayu yang sederhana.
Di teras depan, Pak Suryo duduk di kursi rotan kesayangannya. Pria tua itu tidak lagi memegang koran bekas dengan raut muka tegang. Kacamata tebalnya bertengger rapi, dan di tangannya ada secangkir kopi hitam panas yang asapnya mengepul tipis.
Di hadapannya, Devan duduk santai dengan kaus oblong hitam polos dan celana jins tua.
Tidak ada lagi ketakutan atau prasangka di mata Pak Suryo saat menatap menantunya. Tato naga yang melilit di rahang dan lengan Devan tak lagi terlihat mengerikan, melainkan tampak seperti simbol ketangguhan seorang pelindung yang dikirimkan Tuhan untuk keluarganya.
"Nak Devan ..." Pak Suryo membuka suara, meletakkan cangkir kopinya pelan-pelan. Suaranya serak namun penuh hangat. "Bapak masih merasa seperti bermimpi. Kejadian dari semalam sampai kemarin siang di balai desa ... benar-benar di luar jangkauan pikiran Bapak."
Devan mengulas senyum tipis yang renyah. Ia membetulkan posisi duduknya, menatap sang mertua dengan rasa hormat yang tulus. "Semua sudah jalan Takdir, Pak. Saya hanya menjalankan peran yang kebetulan dititipkan pada saya."
"Tapi penyamaranmu sebagai perwira dan pengusaha ..." Pak Suryo menggeleng-gelengkan kepalanya terkagum-kagum. "Bapak tidak menyangka orang sedemikian tinggi mau duduk di teras rumah kayu yang kusam ini, minum kopi sisa kemarin, dan mau dipanggil menantu oleh petani tua seperti Bapak."
Devan terkekeh pelan. "Pak Suryo, pangkat dan jabatan itu cuma baju dinas yang saya pakai saat bertugas. Di rumah ini, di depan Bapak dan Ibu, saya cuma Devan. Suaminya Devi yang kebetulan suka minum kopi buatan Ibu."
Raka keluar dari dalam rumah membawa baki berisi piring-piring nasi uduk. Pria muda yang dulunya paling keras menentang Devan itu kini melangkah dengan canggung. Ia meletakkan piring di atas meja teras, lalu menatap Devan dengan tatapan serba salah.
"Devan ..." panggil Raka pelan, menggunakan panggilan Mas yang jauh lebih hormat. "Nasi uduknya sudah siap."
Devan menengadah, menyadari kecanggungan kakak iparnya. Pria bertato itu tertawa kecil seraya menepuk bahu Raka agak kencang. "Kenapa mukamu kaku begitu, kak Raka? Santai saja. Mana Raka yang semalam mau mengajak saya duel di belakang gubuk?"
Wajah Raka seketika merona merah karena malu. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Aduh, Devan ... jangan ingatkan soal itu lagi. Saya benar-benar minta maaf. Saya pikir kamu ini preman pasar yang mau merusak Devi."
"Seorang kakak yang protektif pada adiknya itu tanda laki-laki bertanggung jawab," puji Devan tulus. "Saya justru senang Devi punya kakak seperti kamu."
Raka tersenyum lega, rasa canggung yang menghimpit dadanya cair seketika.
Tak lama kemudian, Devi melangkah keluar dari dalam rumah. Gadis itu mengenakan gamis sederhana berwarna hijau muda dengan jilbab selendang yang disampirkan rapi di bahunya. Wajahnya yang polos tampak bersih, tanpa selapis pun rasa cemas yang biasanya membebani matanya. Ia membawa nampan berisi teh manis hangat dan kerupuk.
Saat pandangan mata Devi beradu dengan mata Devan, pipi gadis itu mendadak merona merah. Sejak terbongkarnya identitas asli Devan kemarin sore, hubungan di antara mereka terasa berubah. Ada selapis rasa canggung yang manis, bercampur dengan rasa hormat dan getaran asing di dalam dada Devi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Diminum tehnya, Mas Devan ..." bisik Devi pelan seraya meletakkan cangkir di meja.
"Terima kasih, Istriku," sahut Devan dengan nada suara yang sengaja dibuat agak dalam dan goda.
Sapaan Istriku itu sukses membuat Devi makin salah tingkah. Gadis itu buru-buru membalikkan badan dan kembali ke dalam rumah dengan langkah terburu-buru, memicu tawa renyah dari Devan, Raka, dan Pak Suryo di teras.
Pukul sepuluh pagi, suasana di sepanjang jalan gang Dukuh Parang mendadak ramai.
Kabar mengenai terbongkarnya penyamaran Devan sebagai Kolonel TNI dan pemilik holdings besar telah menyebar luas bagaikan api menyambar jerami kering. Warga yang kemarin malam ikut berteriak-teriak di pos ronda kini merasa sangat malu dan ketakutan. Banyak warga yang pura-pura sibuk menyapu pekarangan hanya untuk mencuri pandang ke arah rumah Pak Suryo.
Tiba-tiba, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar di depan pagar tanaman teh-tehan.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi dan napas terengah-engah muncul di pintu pagar. Wanita itu adalah Bu Rini, penyelia gudang PT Buana Raya yang kemarin begitu kejam mencaci maki Devi.
Di belakang Bu Rini, berdiri Pak Hendro yang mengenakan kemeja batik terbaiknya dengan wajah sangat memelas.
Raka yang sedang membersihkan sepeda motor di halaman langsung menegakkan tubuhnya, menatap kedua tamu itu dengan pandangan curiga. "Mau cari siapa?"
Bu Rini menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, tubuhnya membungkuk-membungkuk panik. "M-Mas Raka ... kami mau ketemu Mbak Devi dan Pak Kolonel Devan ... Tolong, Mas ..."
Devan dan Devi melangkah keluar ke teras. Begitu melihat sosok Devan, Pak Hendro dan Bu Rini hampir saja berlutut di atas tanah pekarangan jika Devan tidak mengangkat tangannya memberi isyarat berhenti.
"Ada apa lagi, Bu Rini? Pak Hendro?" tanya Devan dengan nada datar namun penuh wibawa.
"P-Pak Kolonel ... Mbak Devi ..." kata Bu Rini dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca. "Saya ... saya datang ke sini sesuai janji saya kemarin. Saya mau minta maaf yang sebesar-besarnya dari lubuk hati saya yang paling dalam atas kelakuan dan mulut saya yang kurang ajar kemarin di pabrik."
Pak Hendro ikut membungkuk dalam-dalam. "Saya juga minta maaf, Pak Kolonel, Mbak Devi! Saya orang bodoh yang tidak tahu aturan dan langsung memecat Mbak Devi tanpa periksa kebenaran! Saya sungguh menyesal, Pak!"
Devi menatap kedua atasannya itu. Rasa sakit hati dari cemoohan kemarin memang masih membekas, namun melihat penyesalan yang begitu nyata dari wajah kedua orang paruh baya di hadapannya, hati polos Devi tidak tega untuk memelihara dendam.
Devi melangkah maju satu tapak, memandang Bu Rini dan Pak Hendro dengan lembut. "Sudahlah, Bu Rini, Pak Hendro. Saya sudah memaafkan semuanya dari kemarin."
Bu Rini mendongak, matanya membelalak tak percaya. "M-Mbak Devi ... beneran memaafkan saya?"
"Iya, Bu," senyum Devi tulus. "Kita semua cuma manusia yang bisa salah paham. Yang penting sekarang semuanya sudah jelas."
Bu Rini menyapu air mata kebahagiaan di pipinya, meratapi betapa mulianya hati gadis yang pernah dihinanya tersebut.
"Terima kasih banyak, Mbak Devi ... Terima kasih! Surat pembatalan pemecatan dan kenaikan jabatan Mbak Devi jadi staf administrasi resmi di kantor pusat sudah disetujui Dirut pagi ini!"
Devi tersentak, melirik Devan. Devan hanya mengedipkan matanya pelan seraya tersenyum tipis.
"Soal jabatan itu nanti diatur lagi," potong Devan tenang. "Yang penting kalian berdua sudah menunjukkan adab yang baik. Sekarang kalian boleh kembali ke pabrik dan bekerja dengan jujur."
"Baik, Pak Kolonel! Terima kasih banyak, Pak! Terima kasih, Mbak Devi!" seru Pak Hendro dan Bu Rini bergantian sebelum akhirnya pamit mundur dengan wajah lega yang luar biasa.
Siang harinya, setelah rombongan tamu dari pabrik dan beberapa pengurus desa lainnya pergi membawa permohonan maaf, suasana rumah Pak Suryo kembali tenang.
Di dalam kamar depan yang sederhana, Devan tampak sibuk merapikan kemeja-kemeja dinas dan dokumen yang baru saja dibawakan oleh anak buahnya dari mobil taktis. Kamar mandi kecil berdinding papan itu kini dihiasi oleh beberapa tas seragam militer yang tertata rapi di sudut ruangan.
Devi melangkah masuk membawa segelas air putih dingin. Ia meletakkan gelas itu di atas meja kayu kecil di samping tempat tidur.
"Mas Devan ..." panggil Devi pelan.
Devan membalikkan badannya, menghentikan aktivitasnya merapikan berkas. "Ya, Devi?"
Devi menundukkan kepalanya, menyilangkan jemari tangannya di depan gamisnya. "Soal ... soal penyamaran kamu yang sudah selesai ini ... apa itu artinya kamu bakal langsung kembali ke Jakarta?"
Pertanyaan Devi keluar sangat halus, namun di dalamnya tersimpan rasa takut akan kehilangan yang mendalam. Devi tahu, Devan adalah seorang pejabat tinggi dan komandan pasukan yang punya dunia sangat luas di luar sana, dunia yang sangat jauh berbeda dari gubuk dan sawah Dukuh Parang.
Devan menatap raut cemas di wajah istrinya. Pria bertato itu melangkah pelan mendekati Devi, mengikis jarak di antara mereka hingga Devi bisa merasakan aroma wangi maskulin khas Devan yang menenangkan.
"Misi penyamaran saya membongkar mafia tanah memang sudah selesai dengan ditangkapnya Juragan Broto tadi pagi,"
bisik Devan dengan suara yang sangat dalam dan lembut.
Devi mendongak, menatap mata hitam Devan yang memancarkan kejujuran mutlak.
"Tapi ..." Devan tersenyum tipis, tangannya terulur dengan pelan dan ragu-ragu, lalu menyentuh sisi jilbab Devi dengan kehangatan yang membuat dada Devi berdebar kencang, "...misi terbesar saya baru saja dimulai."
"Misi ... apa?" bisik Devi bingung.
"Misi membahagiakan kamu dan menjadi suami yang sebenarnya untuk kamu," jawab Devan tulus tanpa selapis pun kebohongan. "Pernikahan siri kita semalam memang berawal dari takdir yang mendadak. Tapi rasa tanggung jawab dan keinginan saya untuk melindungi kamu... itu murni dari hati saya, Devi."
Air mata haru menyelinap di sudut mata Devi. Seluruh penderitaan, hinaan warga, dan ketakutan akan masa depan yang sempat meremukkan jiwanya seketika sirna ditelan kalimat manis dari pria di hadapannya ini.
"Kamu ... tidak malu punya istri anak petani miskin seperti aku?" tanya Devi bergetar.
Devan tertawa kecil, menggelengkan kepalanya mantap. "Justru saya yang beruntung bisa mendapatkan wanita setabah dan sekuat kamu. Di mata saya, kamu jauh lebih berharga dari seluruh jabatan dan kekayaan yang saya punya."
Devan mengulurkan jemarinya, menggenggam erat telapak tangan Devi yang kurus dan halus. Devi tidak menarik tangannya; ia membalas genggaman tersebut dengan sentuhan yang mantap, menyalurkan rasa percaya dan cinta yang mulai bersemi kuat di dalam dadanya.
Dari luar jendela kamar, pendar sinar matahari siang menembus kaca kusam, menerangi dua insan yang disatukan oleh takdir tak terduga di bawah gubuk hujan deras. Badai telah berlalu, desas-desus telah musnah, dan di atas tanah Dukuh Parang ini ... sebuah kisah cinta sejati baru saja dimulai.
semoga aja Devi mencerna baik baik
ingat loh, anak gadis di arak telanjang
kek manaa coba
rasanya mau bunuh diri saja
devan sudah menyelamatkan anak gadismu
dari pada keliling desa
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan
milih nikah aja