"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana ke Wonorejo
Malam itu juga, Raka membicarakan rencananya kepada Bu Sulastri, menceritakan semua yang terjadi pada Adit dalam beberapa hari terakhir. Bu Sulastri mendengarkan dengan seksama, wajahnya menunjukkan keprihatinan mendalam mendengar kabar tentang keluarga Adit yang ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia duga.
"Ya ampun, Nak Adit... pantes akhir-akhir ini keliatan beda," gumam Bu Sulastri, mengelus dada. "Baiklah, kalau begitu, Ibu bakal telepon dulu ke Bu Marto—Neneknya Adit—buat mastiin kondisinya, sekaligus minta izin kalau kalian mau berkunjung."
Malam itu, panggilan telepon antara Bu Sulastri dan nenek Adit berlangsung cukup lama. Raka duduk gelisah di ruang tamu, menunggu hasil pembicaraan yang akan menentukan apakah rencana mereka bisa terwujud atau tidak.
Setelah menutup telepon, Bu Sulastri menghela napas panjang, tersenyum lembut kepada Raka. "Bu Marto bilang, Adit memang lagi berat banget kondisinya. Katanya, semenjak sampai di sana, dia jarang ngomong, cuma mengurung diri di kamar. Bu Marto malah senang kalau ada teman-temannya yang mau berkunjung, mungkin bisa bantu Adit terbuka lagi."
Raka merasakan kelegaan sekaligus kekhawatiran mendengar kabar itu—lega karena akhirnya mendapat izin, namun khawatir mendengar kondisi Adit yang ternyata lebih buruk dari yang mereka bayangkan.
"Kebetulan, akhir minggu ini Ibu emang ada rencana kirim pesanan kue ke pelanggan di daerah sana," lanjut Bu Sulastri. "Jadi sekalian aja, Ibu antar kalian berdua ke Wonorejo naik mobil bak pinjaman dari Pak Somad. Tapi cuma sehari, ya, harus pulang lagi sore harinya."
Raka langsung memeluk ibunya, mengucapkan terima kasih berkali-kali, sebelum bergegas mengabari Naya lewat telepon dengan suara penuh semangat yang sudah lama tidak ia rasakan sejak kepergian Adit.
Sabtu pagi, Raka, Naya, dan Bu Sulastri berangkat menuju Wonorejo, menempuh perjalanan sekitar tiga jam melewati jalanan berkelok dan pemandangan sawah hijau yang membentang luas di kanan-kiri jalan.
Sepanjang perjalanan, Naya tampak gelisah, menggenggam sebuah kotak kecil berisi kue kesukaan Adit yang sengaja ia beli sebagai oleh-oleh. "Menurutmu, dia bakal seneng kita dateng, atau malah marah karena ngerasa diganggu?"
"Adit itu orangnya nggak enakan," jawab Raka, mencoba menenangkan. "Aku yakin, di dalam hatinya, dia pasti seneng kita dateng, meskipun mulutnya mungkin bakal bilang 'ngapain jauh-jauh ke sini'."
Naya tertawa kecil membayangkan reaksi khas Adit itu, meski kekhawatiran masih terlihat jelas di matanya.
Sesampainya di sebuah rumah sederhana beratap genteng tua di pinggiran Wonorejo, mereka disambut oleh seorang wanita tua yang ramah—Bu Marto, nenek Adit—yang langsung memeluk Bu Sulastri erat seperti sahabat lama yang sudah puluhan tahun tidak berjumpa.
"Ayo, ayo masuk," ajak Bu Marto, mempersilakan mereka masuk ke rumah yang sederhana namun terasa hangat. "Adit ada di kamar belakang, dari tadi pagi belum keluar-keluar. Coba deh kalian yang ajak ngobrol, mungkin lebih didengerin kalau sama teman sebayanya."
Raka dan Naya saling pandang, menguatkan diri sebelum melangkah menuju kamar belakang yang ditunjuk Bu Marto, tidak tahu kondisi seperti apa yang akan mereka temui di baliknya.
Ketika Naya mengetuk pintu kamar itu perlahan, tidak ada jawaban dari dalam. Ia mengetuk sekali lagi, kali ini memanggil nama sahabatnya dengan suara yang bergetar menahan cemas.
"Dit? Ini aku, Naya. Sama Raka juga di sini."
Hening beberapa saat, sebelum akhirnya terdengar suara langkah kaki pelan mendekati pintu dari dalam kamar.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan