Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Di saat yang sama, antarmuka cahaya emas Sistem muncul melayang tepat di depan wajah Ardi.
[Notifikasi Sistem Flash Sale Rp1]
[Mendeteksi adanya sabotase bisnis dari pihak agensi pesaing tingkat nasional.]
[Sistem membuka penawaran khusus untuk menelan perusahaan musuh secara utuh.]
[Item: Kepemilikan 100 Persen Saham Galaxy Entertainment beserta Bukti Kasus Pemerasan Tuan Leo.]
[Harga Spesial: Rp1.]
Ardi tersenyum lebar menatap penawaran yang sangat tepat waktu itu.
"Beli sekarang juga," perintah Ardi di dalam hatinya tanpa ragu sedetik pun.
[Memproses transaksi pengambilalihan paksa...]
[Pembelian Berhasil. Saldo rekening Anda telah terpotong Rp1.]
[Anda kini adalah pemilik mutlak dari Galaxy Entertainment.]
"Halo. Anak baru. Kenapa kau diam saja hah. Apakah kau sedang menangis memikirkan kerugianmu." ejek Leo dari telepon karena Ardi tidak kunjung menjawab.
"Aku tidak sedang menangis Leo, aku hanya sedang berpikir," jawab Ardi dengan nada yang mendadak berubah menjadi sangat dominan.
"Berpikir apa. Berpikir untuk menyerahkan Tiara padaku secepatnya." tawa Leo menggema dari pengeras suara.
"Aku berpikir betapa lucunya mendengar seorang pengangguran mencoba memeras bos besarnya sendiri," jawab Ardi mematikan tawa Leo seketika.
"Pengangguran. Apa maksud ucapan gilamu itu bocah." bentak Leo merasa terhina.
"Coba periksa email komputermu sekarang juga Leo, atau tunggu panggilan dari bank pusatmu," saran Ardi dengan senyum iblis.
Belum sempat Leo memaki lagi, terdengar suara dering telepon lain yang sangat nyaring dari ujung sambungan Leo.
"Tunggu sebentar, ini telepon dari dewan komisarisku," ucap Leo dengan nada panik lalu terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa.
Ardi dan Anton mendengarkan dengan seksama drama kehancuran yang sedang terjadi di seberang sana.
"Halo Tuan Komisaris, ada apa menelepon saya siang-siang begini." sapa Leo dengan nada yang sangat menjilat.
"Leo kau bajingan tolol. Apa yang baru saja kau lakukan sampai membuat saham mayoritas kita dibeli paksa." teriak suara komisaris itu bocor ke telepon Anton.
"D-dibeli paksa. Apa maksud Bapak." tanya Leo dengan suara bergetar hebat.
"Kau resmi dipecat dengan tidak hormat detik ini juga Leo. Kemasi barangmu dan keluar dari perusahaanku." bentak komisaris itu lalu menutup teleponnya.
Suara ponsel yang jatuh ke lantai terdengar jelas dari ujung telepon Leo.
"T-tidak mungkin, ini pasti cuma mimpi buruk," gumam Leo dengan napas memburu dan panik luar biasa.
"Bagaimana Leo, apakah menjadi pengangguran di siang bolong terasa menyenangkan," sapa Ardi menyadarkan Leo dari lamunannya.
"K-kau. Kau yang melakukan semua ini." jerit Leo menyadari identitas monster di balik telepon itu.
"Tuan Ardi, tolong maafkan saya. Saya bersumpah tidak akan mengganggu film Anda lagi." tangis Leo langsung memohon ampun tanpa sisa harga diri.
"Saya mohon kembalikan jabatan saya Tuan, saya punya hutang miliaran di bank yang harus dibayar bulan ini." isak Leo terdengar sangat menyedihkan.
"Anton, tutup teleponnya, telingaku gatal mendengar tangisan nyamuk ini," perintah Ardi dengan wajah bosan.
Anton yang sedari tadi mematung kaku langsung memutus sambungan telepon itu dengan tangan gemetar.
Pria paruh baya itu menatap Ardi seolah sedang melihat dewa turun dari langit.
Menghancurkan perusahaan raksasa sekelas Galaxy Entertainment hanya dengan diam minum kopi di ruangan.
"Tuan Ardi, Anda sungguh baru saja membeli agensi pesaing kita itu." tanya Anton menelan ludahnya dengan susah payah.
"Tentu saja, perusahaan itu sekarang milikku sepenuhnya," jawab Ardi santai meletakkan kedua tangannya di belakang kepala.
"Kirim orang-orangmu ke markas Galaxy Entertainment siang ini juga Anton." perintah Ardi merencanakan langkah selanjutnya.
"Ambil alih semua kamera terbaik mereka, gunakan semua properti dan lokasi syuting mereka secara gratis untuk film kita."
"Baik Tuan Ardi. Ini adalah berita yang sangat luar biasa." teriak Anton kegirangan karena masalahnya selesai dalam lima menit.
"Dan pastikan nama Leo masuk dalam daftar hitam seumur hidup di semua agensi hiburan, biarkan dia memulung sampah untuk melunasi hutangnya," tambah Ardi tanpa ampun.
"Laksanakan Tuan. Saya akan mengurus pemusnahan karirnya detik ini juga." jawab Anton membungkuk sangat dalam.
Pintu ruangan direktur tiba-tiba terbuka pelan dan Tiara melongok ke dalam dengan wajah khawatir.
Gadis itu mengenakan gaun putih sederhana yang membuatnya terlihat seperti bidadari tanpa sayap.
"Tuan Ardi, apakah syuting kita benar-benar dibatalkan." tanya Tiara dengan mata berkaca-kaca sedih.
Ardi tersenyum hangat dan melambaikan tangannya menyuruh gadis itu masuk ke dalam ruangan.
"Siapa yang bilang dibatalkan Tiara, syutingmu akan dimulai siang ini juga dengan anggaran yang dinaikkan dua kali lipat," jawab Ardi membuat mata Tiara berbinar terang.
"Bahkan, kita baru saja mendapatkan kamera-kamera terbaik dari agensi sebelah yang secara sukarela menyumbangkannya untukmu." canda Ardi membuat Anton ikut tertawa pelan.
Tiara berlari kecil dan kembali memeluk lengan Ardi dengan sangat erat tanpa mempedulikan ada Anton di sana.
"Kau benar-benar pahlawanku Tuan Ardi, kau selalu bisa menyelesaikan semua masalah," bisik Tiara dengan pipi merona merah bersandar di bahu Ardi.
"Bersiaplah Tiara, setelah film ini tayang, seluruh dunia akan meneriakkan namamu," ucap Ardi membelai rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang.
Ardi menatap ke luar jendela kaca ruang kerjanya, melihat kota Jakarta yang luas di bawah kakinya.
Dunia hiburan telah sepenuhnya jatuh ke dalam genggamannya, dan legendanya sebagai miliarder tak terkalahkan akan segera memasuki babak baru yang lebih menantang.