"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"
Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.
Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.
Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...
siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 : GOSIP KUBIKEL & ANAK EMAS
Angga menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Ia memajukan tubuhnya perlahan lalu bertumpu pada kedua siku di atas meja.
Pandangannya mengunci Lulu tanpa berkedip sedikit pun, begitu tatapan tajam khas seorang manajer yang sanggup menembus pertahanan siapa saja.
"Macet?" Bisik Angga dingin, sebuah senyum miring nan skeptis terukir tipis di bibirnya.
"Jam sepuluh pagi di jalur utama kota itu jalur lengang Lulu.... Kamu pikir saya baru sehari dua hari tinggal di kota ini?"
Jantung Lulu rasanya mau melompat keluar dari dada. Ia mendadak panik seketika meremas tali tasnya semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"M..maksud saya... tadi ada sedikit kendala di jalan, Pak....Saya benar-benar minta maaf" Ucap Lulu begitu lirih.
"Lulu..." Angga memotong kalimat itu dengan suara berat dan dalam. Pria itu berdiri dari kursinya. Langkah kakinya yang mantap mengikis jarak di antara mereka, berputar melewati meja kerja besar itu hingga kini ia berdiri persis di hadapan Lulu.
Jarak mereka begitu dekat hingga membuat Lulu bisa menghirup aroma woody maskulin dari parfum Angga yang selalu menenangkan, namun kali ini terasa sangat mengintimidasi.
Angga menundukkan sedikit tubuhnya, menyejajarkan tingginya dengan Lulu.
"Kamu nggak pinter berbohong..."Tatap Angga tajam tepat ke manik mata di balik kaca mata tebal itu.
"Tangan kamu gemetar, napas kamu berburu dan kamu bahkan nggak berani tatap mata saya saat saya lagi bicara...."
Hawa di ruangan itu terasa seperti mendidih. Lulu mematung dan dadanya naik turun tak beraturan.
Jarak yang sangat dekat ini membuat napas hangat Angga terasa menyapu keningnya dan membakar seluruh syaraf di tubuhnya dengan rasa debar yang luar biasa.
"Saya nggak peduli kamu kena macet atau apa pun itu" Bisik Angga, suaranya melembut namun menyisakan ketegangan yang pekat.
"Tapi saya benci dikacaukan... Kamu tahu berapa kali saya melirik jam dan keluar masuk ruangan cuma karena staf saya belum ada di kubikelnya?" Ucap Angga membuat Lulu mendongak kaget dan matanya membelalak atas perkataan managernya tersebut.
"P..Pak Angga... nungguin saya?" Tanya Lulu.
Angga tersentak pelan, sadar jika kalimatnya barusan terlalu terbuka dan menelanjangi rasa khawatirnya. Pria itu langsung memalingkan wajahnya sejenak. Ia berdeham keras dan mencoba menguasai kembali gengsinya yang hampir runtuh.
"Bukan kamu..." Sangkal Angga cepat dengan nada dingin yang dipaksakan. Ia melangkah mundur satu tapak, membelakangi Lulu.
"Saya menunggu laporan.... kemarin pimpinan sudah menyetujui penambahan tim untuk proyek baru ...Vika, Indah dan kamu. Dan Saya juga butuh kamu segera berkoordinasi sama mereka...."
Lulu menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokan antara lega karena lolos dari interogasi, namun juga ada rasa kecewa tersembunyi mendengar penyangkalan pria itu.
"B...baik, Pak. Saya akan koordinasikan sekarang..." Jawab Lulu terbata-bata.
Sebelum Lulu sempat memutar badan untuk kabur dari ruangan yang terasa menyesakkan itu, suara Angga kembali menghentikan langkahnya.
"Lulu...."
Lulu menoleh perlahan... Angga masih berdiri membelakanginya, namun tangannya terkepal di samping tubuh.
"Lain kali..." Ujar Angga pelan hampir seperti bisikan.
"Kalau ada masalah yang bikin kamu takut atau panik seperti tadi.... bilang pada ku dan jangan ditanggung sendiri, Kamu paham?"
Ruangan itu mendadak hening total. Kata-kata terselubung penuh perhatian itu menyengat dada Lulu, meninggalkan getaran hebat yang membekas di hatinya.
...****************...
Pintu kaca ruangan manajer tertutup pelan di belakangnya. Begitu menginjakkan kaki kembali di area kerja, Lulu menarik napas panjang yang terasa bergetar dan berusaha menguasai detak jantungnya yang berkejaran tanpa kendali.
Perasaannya saat ini benar-benar campur aduk dan sulit dijelaskan. Ada sisa rasa takut karena hampir saja diamuk atas keterlambatannya, namun di atas semua itu ada luapan debar hebat yang membakar dadanya.
Bayangan tatapan mata Angga yang intens dari jarak sedekat tadi hingga bisikan kalimat terakhir pria itu“Jangan ditanggung sendiri” masih bergelung hangat di telinganya membuat seluruh persendian Lulu terasa lemas dan salah tingkah.
"Kenapa Pak Angga harus ngomong kayak gitu, sih?" Bisik Lulu dalam hati.
Lulu melangkah pelan menuju kubikelnya dengan pandangan sedikit melamun.
Jika Pak Angga terus-menerus memberikan perhatian-perhatian kecil seperti ini, Lulu sadar dirinya bisa jatuh lebih dalam ke dalam perasaan yang tidak seharusnya.
Benaknya dipenuhi kebingungan. Mengapa manajernya itu akhir-akhir ini terkesan begitu peduli padanya? Padahal malam lalu ia hanya menemaninya ke pesta ulang tahun adiknya dan itu terasa begitu singkat. Rasanya sangat tidak masuk akal jika seorang Pak Angga yang dikenal tegas, disiplin dan dingin di kantor, tiba-tiba menaruh hati padanya hanya dalam waktu semalam.
Langkah kaki Lulu terhenti tepat di depan mejanya. Ia menepuk kedua pipinya pelan, memaksa kesadarannya kembali menapak di tanah.
"Nggak mungkin.." Tegurnya pada diri sendiri.
" Lulu, jangan kelewat percaya diri!"
Ingatan Lulu seketika terlempar pada kejadian pada malam itu di butik mewah, saat ia mendengar perkataan staf di butik tersebut kepadanya. Staf itu mengatakan dengan jelas bahwa Pak Angga sudah memiliki seorang kekasih yang sangat cantik dan seorang wanita sempurna yang amat dicintainya, bahkan kabarnya mereka berdua sudah bertunangan.
Kenyataan pahit itu bagai air dingin yang menyiram seluruh angannya. Lulu menghembuskan napas pelan lalu tersenyum sumbang menertawakan kebodohannya sendiri.
Sudah pasti ini hanya perasaannya saja yang berlebihan. Sikap Pak Angga tadi murni bentuk kepedulian seorang atasan kepada bawahannya dan tidak lebih.
Lulu menepis rapat-rapat semua debaran liar di dadanya dengan segera Lulu meletakkan tas di atas meja dan duduk di kursinya dan berusaha fokus menyusun dokumen penugasan tim yang baru saja diperintahkan oleh Angga.
Sementara itu, rekan kerja yang lain nampak begitu khawatir dan begitu cemas dengan keadaan Lulu. Terlebih lagi saat Lulu meninggalkan area depan ruangan manajernya tersebut dengan raut wajahnya yang pucat dan tatapan matanya yang kosong membuat rekan-rekan sekerjanya langsung menghampiri.
Lulu terlihat seperti baru saja melihat hantu atau lebih tepatnya rohnya baru saja dicabut paksa dari raga akibat berhadapan dengan Pak Angga.
Rama dan Vika yang sejak tadi paling cemas menggelengkan kepala dan langsung melangkah cepat mendekati kubikel Lulu.
" Hey... stttt...Lu! Kamu nggak apa-apa, kan?" Bisik Rama setengah berteriak, matanya membelalak penasaran.
"Asli.....Lu, muka kamu kayak orang abis kena interogasi kepolisian! Sebenernya ada kejadian apa di dalem?" Ucap Rama Kembali menatap cemas rekannya tersebut. Namun belum sempat Lulu menjawab, Vika sudah menimpali dengan raut tak kalah panik.
"Iya, Lu! Pak Angga ngamuk parah, ya? Kamu dikasih hukuman apa lagi kali ini? Potong gaji? Atau disuruh lembur seminggu penuh?"
Lulu menggeleng pelan, mencoba menguasai kembali fokusnya yang sempat terbawa terbang oleh perkataan Angga. Ia membetulkan posisi kacamatanya lalu tersenyum tipis.
"Enggak kok, guys... Nggak ada hukuman apa-apa...."Jawab Lulu menenangkan.
"Pak Angga cuma pesen tegas aja biar aku nggak ngulangin keterlambatan ini lagi...."
"Hah? Beneran?!" Rama dan Vika berseru serempak, menangkupkan tangan di depan dada sambil menghembuskan napas lega yang luar biasa.
"Alhamdulillah ya Allah... mukjizat banget! Kirain Pak Angga bakal berubah jadi naga pagi ini" Gumam Rama sambil mengelus dadanya.
Mendengar hal tersebut, Lulu tertawa kecil melihat tingkah rekannya itu sebelum akhirnya teringat perintah utama dari sang manajer.
"Oh iya, Vika... Rama... tadi Pak Angga sekalian nyuruh aku koordinasi. Katanya tim kita dapet tugas tambahan buat proyek baru. Nanti yang masuk tim itu ada aku, kamu Vik , kamu Ram dan juga Indah"
"Hah?! Siapa, Lu? Indah?!" Tanya Rama tersentak kaget. Matanya membelalak bukan karena senang atau keberatan dapet tugas tambahan, melainkan karena satu nama yang baru saja diucapkan Lulu. Dengan gaya kocaknya yang dramatis sembari Rama memegang bahu Vika dan mengguncangnya pelan.
"Vik, tolong jelasin ke gue! Logika dari mana ini? Kenapa Indah yang anggun nan menawan itu bisa mendadak diikutkan ke dalam penderitaan tugas kita ini?!" oceh Rama heran karena tahu betul kemampuan Indah.
Vika hanya memutar matanya malas, ikut menghela napas panjang.
"Mana saya tahu.....Rama! Jangan tanya saya.... saya bukan dukunnya Pak Angga!" Ucap Vika lalu kemudian menoleh ke arah Lulu dan berbisik makin pelan, mewakili keheranan seluruh isi ruangan.
"Jujur ya... dari kemarin-kemarin aku juga bingung banget sama Si Indah itu... Sepengetahuanku sampai detik ini, dia itu nggak jelas ngerjain apa di kantor. Datang, duduk manis... eh...terus tau-tau hilang melenggang pergi entah ke mana..."
"Bener banget!" Timpal Rama bersemangat.
"Mana waktu pekerjaan lagi numpuk-numpuknya nih kemarin....Pak Angga malah jelas-jelas ngasih arahan langsung ke saya buat TIDAK ngasih tugas sekecil apa pun ke Indah! Pak Angga lebih milih ngelimpahin semua jobdesk ke rekan yang lain ketimbang membuat Indah menyentuh satu lembar kertas apapun di kantor!" Ucap Vika kembali di susul dengan Rama yang mengangguk setuju.
"Makanya aneh banget kan kalau sekarang Pak Angga mendadak masukin nama Indah ke tim proyek baru ini? Ada udang di balik bakwan ini mah..." Ucap Rama.
Lulu yang mendengar celotehan kedua rekannya itu hanya bisa terdiam dan makin bertanya-tanya dalam hati. Kehadiran Indah di kantor memang selalu menyisakan misteri dan keputusan Pak Angga kali ini makin membuat situasi di tim mereka terasa makin penuh tanda tanya.