"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Tawaran Dari Pria Misterius
Uhuk!
Dengan tenang, Alva mengambil tisu dari atas meja. Tangan kokohnya mengelap cokelat hangat yang tersembur dari mulut Humaira dan mengenai jasnya.
Humaira tidak peduli dengan hal itu. Ia menggeser cangkir cokelatnya menjauh, lalu menatap pria di hadapannya dengan pandangan tajam penuh amarah.
"Anda menyelidiki saya, Pak! Anda sungguh tidak sopan!" ujar Humaira geram. Matanya menatap Alva dengan tatapan menusuk.
Alva hanya menyunggingkan senyum tipis, hampir tak terlihat. Dengan santai, ia menyimpan tisu bekas itu kembali ke atas meja.
"Kau pikir, aku pria yang mau begitu saja dijodohkan? Kau pikir aku mau membuang waktuku datang ke sini jika aku tidak menyelidikimu terlebih dahulu?"
Panas.
Dada Humaira bergejolak hebat. Ia langsung berdiri dari kursinya.
"Anda sudah tahu kan kalau saya sudah menikah? Bahkan saya sedang hamil! Maka dari itu, saya sengaja datang kemari hanya untuk menghentikan kegilaan ini, bukan untuk menerima perjodohan! Karena saya masih terikat pernikahan!" tegas Humaira.
Alva menyandarkan punggungnya di kursi tempat ia duduk. Pria itu menyeringai ke arah Humaira, memancarkan aura dominan yang seketika membuat Humaira sedikit merinding.
"Duduklah, Humaira. Kita belum selesai bicara."
"Tidak ada yang perlu dibahas lagi, Pak Alva. Saya harus segera pulang!" tegas Humaira seraya membalikkan badan.
"Saya punya tawaran menarik untukmu."
Saat ingin melangkahkan kakinya, Humaira terhenti.
Ia kembali menoleh ke arah Alva.
Pria itu memberi kode dengan isyarat mata supaya Humaira kembali duduk.
Humaira mengerti dan akhirnya kembali duduk di depan Alva.
Setelah Humaira duduk, Alva mengambil sebuah berkas dokumen dari kursi di sebelahnya.
Pria itu meletakkannya di atas meja lalu mendorongnya pelan ke hadapan Humaira.
Humaira hanya melirik kertas itu dengan tatapan sama sekali tidak berminat, sebelum kembali menatap pria di hadapannya.
"Aku punya tawaran yang cukup menguntungkan untukmu," ujar Alva dengan suara tenang namun penuh penekanan.
"Aku tahu kau tidak mencintai suamimu dan kau hanya terikat di sana karena keadaan. Jika kau mau menerima tawaranku, aku akan mendapatkan kembali sertifikat rumah ibumu.
Aku juga akan menanggung seluruh biaya rumah sakit adikmu, mencarikan dokter terbaik, bahkan bila perlu membawanya berobat ke luar negeri. Bukan hanya itu, aku akan membantumu mendapatkan apa pun yang kau inginkan, asalkan..."
Alva sengaja menggantung ucapannya.
"Asalkan apa?" tanya Humaira, menuntut kejelasan.
Alva memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya mendekati meja. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Humaira
"Kau mau menikah denganku."
Humaira tersenyum getir. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari pria tampan itu.
"Anda sudah tahu saya masih terikat pernikahan resmi. Dalam agama kita, seorang wanita baru bisa menikah lagi setelah bercerai dan menyelesaikan masa idahnya. Bukan cuma itu, Pak... saat ini, saya sedang ham--" tegas Humaira, menahan emosi yang makin membakar dadanya.
Sebelum Humaira menyelesaikan kalimatnya, Alva mengangkat satu tangannya, menyela.
"Aku tidak butuh semua alasan itu. Aku ingin menikah denganmu bukan karena menginginkan tubuhmu," potong Alva dingin. Matanya menatap intens saat melanjutkan kata-katanya. "Aku hanya ingin bayi yang ada dalam kandunganmu."
Deg.
Humaira membeku di tempatnya. Untuk kesekian kalinya malam ini, ia dibuat terkejut setengah mati oleh keinginan pria misterius di hadapannya itu.
"Anda benar-benar tidak waras! Sekalipun saya memiliki masalah sebanyak 99,99%, saya tidak akan pernah menyerahkan bayi saya kepada orang lain. Sedikit pun tidak akan!" ujar Humaira dengan nada tegas menolak.
Sebelum akhirnya kembali berdiri dan berbalik badan ingin melangkah pergi.
Namun baru dua langkah Humaira berayun, suara berat Alva kembali terdengar.
"Saat kau melangkahkan kaki keluar dari tempat ini, kau akan kehilangan semuanya."
Kaki Humaira terhenti seketika. Kali ini ia tidak menoleh, hanya diam mendengarkan seksama.
"Di luar sana, 99,99% masalah sedang menantimu," lanjut Alva dingin. "Rumah ibumu terancam disita dan digadaikan. Anak dalam kandunganmu bahkan tidak diketahui oleh suamimu sendiri."
Tangan Humaira mengepal kuat di sisi tubuhnya. Ia sungguh tak menyangka pria itu bisa mengetahui hidupnya hingga sedetail mungkin.
"Dan suamimu... dia tidak akan pernah bisa memilih antara dirimu atau tantemu," sambung Alva.
"Kalau pun suamimu akhirnya memilih, dia sudah pasti akan memilih cintanya, kau hanya akan menjadi buih yang tidak berharga sama sekali, dengan julukan anak haram yang melekat padamu.
Kau hanya akan menjadi tokoh yang dikesampingkan, melahirkan anakmu sendirian, dan menambah beban hidupmu beserta keluargamu yang saat ini sudah berada di ambang batas toleransi." Lanjut
Alva, kemudian pria itu ikut berdiri dari kursinya.
"Namun, saat kau memilih bertahan dan menyetujuinya, 99,99% masalahmu akan aku selesaikan secara tuntas. Di dalam perjanjian pernikahan nanti, aku juga akan memberikan sebagian hartaku sebagai kompensasi."
Alva melangkah perlahan mendekati Humaira yang membelakanginya. Pria itu berdiri tepat di samping wanita itu, lalu memiringkan jemarinya untuk menyelipkan sebuah kartu nama dan nomor telepon ke dalam saku pakaian dinas Humaira.
"Aku memberimu sedikit waktu. Aku tidak akan pernah memaksamu," ujar Alva. "Dan soal kau menyangka aku akan merebut anakmu... sepertinya kau salah paham. Aku tidak berniat memisahkan kalian. Karena jika kau menikah denganku, kau tetap bisa membesarkan anakmu sendiri. Aku hanya butuh status dan pewaris."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Alva melepas jas mewahnya, lalu menyampirkan dan menutup punggung Humaira yang kedinginan dengan jas hangat tersebut.
Aroma parfum maskulin yang mahal dari jas itu seketika tercium sangat jelas di indra penciuman Humaira, yang berdiri membiar perlakuan Alva.
"Di luar sedang hujan deras. Kau bisa kedinginan kalau keluar hanya memakai pakaian tipis ini," ujar Alva.
"Jika kau sudah memikirkannya dengan matang, kau bisa mencariku." Ucap Alva menutup kalimatnya mulai melangkah pergi.
Tapi tiba-tiba, pria itu kembali menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Humaira.
"Humaira..." Panggilnya.
Humaira mendongak melihatnya.
"Kau bukan anak haram. Kau seorang gadis yang sangat bernilai dan tidak ternilai harganya. Hanya saja, orang-orang di sekelilingmu tidak tahu nilaimu," ujar pria itu, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Humaira terdiam membeku. Untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya, ada seseorang yang menganggap dirinya bernilai.
Tes.
Tanpa sadar, bulir bening menetes hangat membasahi pipinya.
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂