Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Ardi meletakkan kembali cangkir kopinya ke atas meja dengan suara dentingan pelan yang terasa seperti palu godam di telinga keluarga Rajawali.
"Ternyata kabar buruk menyebar dengan sangat cepat di kalangan orang tua sepertimu ya, Tuan Bramantyo," ucap Ardi memecah kesunyian.
"Tuan Ardi, tolong kembalikan perusahaan saya, itu adalah warisan leluhur keluarga kami," mohon Bramantyo sambil merangkak maju.
"Saya bersedia mematahkan kedua kaki Bastian detik ini juga sebagai permintaan maaf, asalkan Anda mengampuni bisnis kami Tuan!" tawarnya dengan kejam.
Bastian seketika menangis histeris mendengar ayah kandungnya sendiri berniat mengorbankannya demi harta.
"Ayah jangan yah! Ardi, tolong maafkan aku Ardi, aku janji tidak akan pernah menampakkan wajahku lagi di depanmu!" isak Bastian ikut bersujud mencium karpet.
Ardi mendecih pelan melihat drama keluarga yang sangat menjijikkan di depannya ini.
Brak!
Ardi melemparkan map tebal berwarna cokelat dari tangannya ke atas meja kaca dengan keras.
Map itu terbuka, memperlihatkan tumpukan dokumen resmi berstempel merah yang membuat mata Bramantyo membelalak ngeri.
"Ini... ini adalah buku besar keuangan rahasia milikku!" seru Bramantyo dengan suara bergetar nyaris pingsan.
"Bagaimana mungkin berkas yang kusimpan di brankas baja bank Swiss bisa ada di tanganmu Tuan!"
"Di duniaku, tidak ada satu pun rahasia yang tidak bisa kubeli dengan uang Tuan Bramantyo," jawab Ardi dengan kebohongan yang sangat meyakinkan.
Ardi mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap tajam ke mata pria tua yang sudah kehilangan harapan itu.
"Di dalam map itu ada bukti penggelapan pajak sebesar ratusan miliar, suap pejabat, dan pencucian uang selama belasan tahun," bisik Ardi mematikan.
"Jika aku menyerahkan map ini ke kejaksaan siang ini, kalian berdua akan membusuk di penjara dengan hukuman mati menanti."
Bramantyo seketika menangis tersedu-sedu dan memukuli kepalanya sendiri dengan kedua tangannya.
"Tolong jangan lakukan itu Tuan, saya mohon, apa yang harus saya lakukan agar Anda mau melepaskan kami?" isak Bramantyo menyerah total.
"Sangat mudah, serahkan sisa empat puluh sembilan persen saham perusahaanmu padaku sekarang juga secara gratis," perintah Ardi tanpa ampun.
"Setelah itu, kalian berdua harus angkat kaki dari kota ini hanya dengan pakaian yang menempel di badan kalian."
Bastian langsung mendongak dengan wajah penuh air mata dan ingus yang menjijikkan.
"Itu artinya kami akan menjadi gembel tunawisma Ardi! Kau tidak bisa sekejam itu pada kami!" protes Bastian dengan sisa-sisa suaranya.
"Apakah kau lupa bagaimana kau menghina Lidya semalam dan berniat memaksanya tidur denganmu?" balas Ardi dengan tatapan sedingin es kutub.
"Kekejaman yang kuberikan ini masih terlalu murah untuk membalas mulut kotormu itu Bastian."
Bramantyo dengan cepat membungkam mulut Bastian dengan tangannya agar anaknya itu tidak membuat keadaan semakin parah.
"Kami setuju Tuan Ardi! Kami akan menandatangani semuanya detik ini juga asal Anda tidak memenjarakan kami!" teriak Bramantyo mengambil keputusan cepat.
Bramantyo tahu betul bahwa menjadi gembel masih jauh lebih baik daripada harus menghadapi eksekusi mati di penjara.
Ardi menjentikkan jarinya ke arah Lidya yang sedari tadi menonton pertunjukan epik itu dengan mata berbinar-binar kagum.
Lidya segera melangkah maju dan menyodorkan surat perjanjian pengalihan aset mutlak yang sudah disiapkan Ardi sebelumnya.
Dengan tangan bergetar hebat dan air mata yang terus menetes membasahi kertas, Bramantyo menandatangani surat itu.
Dia resmi melepaskan kerajaan bisnis yang telah dia bangun susah payah selama tiga puluh tahun hanya dalam waktu lima menit.
"Selesai Tuan, semuanya sudah sah secara hukum," lapor Lidya setelah memeriksa tanda tangan itu.
"Bagus," ucap Ardi bersandar kembali ke kursinya dengan perasaan sangat puas.
"Sekarang, seret dua gembel pengangguran ini keluar lewat pintu belakang kelab agar tidak mengotori karpet depan," perintah Ardi mengusir mereka.
Petugas keamanan yang berjaga di pintu langsung masuk dan menyeret kerah baju Bramantyo serta Bastian secara kasar.
"Terima kasih atas kemurahan hati Anda Tuan Ardi! Kami tidak akan pernah kembali lagi!" teriak Bramantyo sambil diseret paksa keluar dari ruangan.
Sementara Bastian hanya bisa menangis sesenggukan tanpa suara, mentalnya telah hancur sepenuhnya.
Setelah ruangan itu kembali sunyi, antarmuka cahaya emas Sistem tiba-tiba muncul di depan pandangan Ardi.
[Notifikasi Sistem Flash Sale Rp1]
[Tuan Rumah telah berhasil menghancurkan musuh tingkat menengah secara mutlak tanpa sisa.]
[Dendam telah terbalaskan dengan sempurna. Kekuasaan Anda di kota ini semakin tidak terbantahkan.]
[Sebagai hadiah dari pencapaian gemilang ini, Sistem telah meningkatkan otoritas belanja Anda untuk kategori aset langka.]
Ardi tersenyum lebar membaca deretan teks yang melayang di udara itu.
"Sepertinya hari ini akan menjadi hari belanja yang sangat menyenangkan," batin Ardi dengan mata berbinar antusias.
"Tunjukkan padaku penawaran Flash Sale apa yang kau miliki hari ini Sistem," ucap Ardi menantikan kejutan selanjutnya.
[Flash Sale Aset Langka Terbuka!]
[Item: Kepulauan Tropis Pribadi 'Nirwana' di Laut Jawa, lengkap dengan Resor Bintang Tujuh dan Kapal Pesiar Mewah.]
[Harga Spesial: Rp1.]
[Waktu Tersisa: 23 Jam 59 Menit.]
Ardi sampai harus mengucek matanya dua kali melihat layar transparan tersebut.
"Sistem ini benar-benar tidak masuk akal, sekarang aku bahkan bisa membeli pulau pribadi?" tawarnya tertawa lepas tidak percaya.
"Beli sekarang juga," perintah Ardi di dalam hatinya tanpa berpikir panjang lagi.
[Memproses transaksi aset berskala masif...]
[Pembelian Berhasil. Saldo rekening Anda telah terpotong Rp1.]
[Sertifikat hak milik pulau, dokumen operasional resor, dan kunci kapal pesiar telah diteleportasi ke brankas Penthouse Anda.]
[Kapal Pesiar 'Sea King' saat ini sedang berlabuh di Pelabuhan Marina Batavia, menunggu perintah Anda Tuan Rumah.]
Ardi menghela napas panjang menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang karena kegirangan.
Hanya dalam waktu dua hari, dia telah berubah dari staf miskin menjadi dewa kekayaan yang menguasai berbagai perusahaan, properti mewah, dan kini sebuah pulau pribadi.
"Lidya, batalkan semua jadwalku hari ini," ucap Ardi berdiri dari kursinya sambil merapikan jasnya.
"Baik Tuan, apakah Anda akan kembali ke Penthouse untuk beristirahat?" tanya Lidya dengan nada penuh perhatian.
"Tidak, aku mau pergi ke pelabuhan sekarang," jawab Ardi dengan senyum misterius di wajah tampannya.
"Aku tiba-tiba merasa sangat ingin berlayar menyusuri lautan siang ini."
Ardi melangkah keluar dari ruangan VVIP itu dengan aura dominasi yang sangat kuat, meninggalkan masa lalunya yang suram jauh di belakang.
Ini baru permulaan dari legenda sang miliarder Flash Sale yang akan mengguncang seluruh negeri.