Indonesia
NovelToon NovelToon
Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Khumairah

"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."

Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.

Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.

Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.

Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.

Namun Diandra sudah terlanjur terluka.

Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Buktikan Cintamu, Mas

Bastian menatap Diandra beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Aku dan Serly itu berbeda.”

“Berbeda bagaimana?”

Bastian terdiam. Ia mencoba mencari alasan yang terdengar masuk akal, tetapi tidak satu pun kata berhasil keluar dari bibirnya.

Diandra mengangkat alis. “Nggak bisa jawab, kan?”

Ia menghela napas, lalu menatap suaminya dengan sorot penuh tantangan.

“Sekali lagi aku tegaskan, aku dan Sean hanya seperti kakak dan adik. Jadi kalau suatu hari aku bersikap akrab dengannya seperti kamu kepada Serly, jangan salahkan aku kalau aku menganggap itu hal yang biasa.”

Diandra baru saja hendak beranjak ketika Bastian tiba-tiba menariknya dan mengangkat tubuhnya. Dalam sekejap, Diandra sudah berada di atas ranjang.

“Bastian!”

Diandra berusaha bangkit, tetapi suaminya menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Diandra bisa merasakan hangat napas Bastian.

“Turun, kamu berat!”

Bastian justru terkekeh. “Kamu pikir kamu ringan?”

“Ya tetap saja. Minggir.”

Bastian akhirnya mengurangi tekanannya, tetapi senyumnya belum juga menghilang.

“Aku cuma suka dekat sama kamu.”

Diandra memalingkan wajah. “Kumat lagi.”

“Kamu yang bikin aku begini.”

“Nyalahin aku lagi?”

Bastian mendekat, tetapi Diandra segera menghindar. Bukannya kesal, Bastian malah tertawa kecil.

Diandra menatapnya heran. “Kenapa malah ketawa?”

“Karena kamu lucu.”

“Lucu dari mana?”

“Kamu kelihatannya galak, tapi setiap kali aku mendekat, kamu malah salah tingkah.”

Diandra mendengus dan mendorong bahu suaminya pelan.

“Jangan geer.”

Bastian tersenyum. “Kalau begitu, kenapa kamu selalu menghindar sambil tersenyum?”

Diandra terdiam. Wajahnya perlahan memanas.

Bastian hanya menatapnya penuh kemenangan.

“Ketahuan, kan?”

“Siapa yang mau? Aku nggak mau.”

“Kalau begitu, biar aku yang mau.”

“Nggak mau, Mas. Ih!”

Meski terus mendapat penolakan, Bastian sama sekali tidak tersinggung. Justru senyumnya semakin lebar melihat Diandra yang terus berusaha menjauh darinya. Entah sejak kapan menggoda istrinya terasa begitu menyenangkan.

Bastian menatap Diandra lekat-lekat.

“Kenapa kamu nggak mau dekat denganku? Aku ini suamimu.”

Diandra terdiam sejenak. Tatapannya berubah serius.

“Aku mau, Mas… tapi bukan hanya karena kamu menginginkan aku.”

Bastian mengernyit.

“Aku ingin tahu satu hal,” lanjut Diandra lirih. “Kamu masih mencintaiku?”

Pertanyaan itu membuat Bastian bungkam.

Senyum Diandra perlahan menghilang. Ia sudah mendapatkan jawaban dari diamnya sang suami.

“Diamnya kamu sudah cukup menjawab.”

Mata Diandra mulai berkaca-kaca.

“Kamu masih mencintai Serly, kan? Aku bisa melihatnya dari caramu memandangnya. Sementara ketika kamu mendekatiku seperti ini, aku merasa kamu hanya menginginkan aku karena dorongan sesaat.”

Diandra menarik napas panjang.

“Bastian, aku nggak mau menjadi seseorang yang hanya kamu cari ketika kamu menginginkan kedekatan.”

Bastian tetap berada di dekatnya, tetapi kali ini ekspresinya berubah serius.

“Aku ingin kamu,” katanya pelan.

Diandra menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Yang kamu inginkan itu aku… atau hanya tubuhku?”

Pertanyaan itu membuat Bastian terdiam cukup lama.

“Aku memang sangat tertarik padamu,” jawabnya akhirnya. “Tapi aku tahu itu bukan satu-satunya hal yang kamu butuhkan dariku.”

Diandra menundukkan wajah. Dadanya terasa sesak.

“Kalau begitu, buktikan kalau aku bukan sekadar seseorang yang kamu inginkan ketika sedang membutuhkan pelukan.”

“Lakukan.”

Diandra menatap Bastian dengan mata yang sudah kehilangan semangat. Kedua tangannya terangkat menutupi sebagian wajahnya.

“Lakukan apa pun yang kamu mau, Mas. Kalau memang itu yang kamu inginkan, jangan pikirkan perasaanku lagi.”

Kalimat itu justru membuat Bastian membeku.

Beberapa saat lalu, ia masih dikuasai emosi dan keinginan untuk mendekat kepada istrinya. Namun kini semua itu seolah lenyap. Yang tersisa hanya rasa bersalah ketika melihat wajah Diandra yang penuh luka.

Bastian diam cukup lama.

“Kenapa diam?” suara Diandra bergetar. “Bukankah tadi kamu ingin dekat denganku?”

“Jangan bicara seperti itu.”

“Lalu aku harus bicara bagaimana?”

Air mata mulai mengalir di pipi Diandra.

“Selama ini yang kamu tinggalkan untukku cuma luka, Mas. Yang paling menyakitkan, kamu tahu aku terluka, tapi kamu tetap diam.”

Bastian menatap air mata yang jatuh satu per satu. Dadanya terasa sesak.

“Diandra…”

“Kamu benar-benar ingin aku pergi dari hidupmu?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Bastian. Ia sendiri takut mendengar jawabannya, tetapi jauh di dalam hati, ia membutuhkan kepastian.

Diandra tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap mata suaminya, kemudian perlahan mengangkat tangan dan menyentuh pipi Bastian. Jemarinya mengusap wajah pria itu dengan lembut.

“Aku nggak ingin pergi dari hidup kamu, Mas.”

Bastian terdiam.

“Tapi kamu sendiri yang membuatku merasa seolah-olah aku nggak punya tempat di sisimu.”

“Aku nggak pernah benar-benar ingin kamu pergi.”

“Lalu kenapa sikapmu selalu membuatku merasa sebaliknya?”

Bastian menarik napas panjang.

“Aku akan belajar.”

Diandra mengernyit. “Belajar apa?”

“Belajar mencintaimu dengan cara yang seharusnya.”

Diandra menatapnya lama.

“Dua tahun belum cukup?”

“Beri aku kesempatan lagi.”

“Sampai kapan?”

Bastian kembali terdiam.

Diandra tersenyum getir.

“Itu masalahmu, Mas. Kamu selalu ragu. Kadang mendekat, lalu menjauh. Kadang membuatku berharap, kemudian membuatku merasa nggak berarti.”

“Diandra…”

“Mungkin memang kita nggak berjodoh. Mungkin—”

“Kita berjodoh.”

Bastian langsung memotong perkataannya.

“Aku nggak mau berpisah denganmu.”

“Kalau begitu, buktikan.”

“Aku akan berusaha.”

Diandra menatapnya dengan mata sembap.

Bastian kemudian berbaring di sampingnya dan menarik Diandra ke dalam pelukan. Kali ini tidak ada gurauan atau sikap menggoda. Hanya pelukan erat yang seolah ingin meyakinkan istrinya bahwa ia masih ingin mempertahankan rumah tangga mereka.

Diandra tidak menolak.

Namun air matanya tetap mengalir dalam diam.

Seharusnya pelukan itu membuatnya merasa tenang. Seharusnya ia bahagia mendengar Bastian berkata ingin mempertahankan pernikahan mereka.

Tetapi luka yang sudah terlalu lama tersimpan membuatnya sulit percaya begitu saja.

Diandra memejamkan mata dalam pelukan suaminya.

Untuk pertama kalinya, Bastian menyadari bahwa mengatakan cinta ternyata jauh lebih mudah daripada membuat seseorang percaya bahwa cintanya benar-benar nyata.

Sejujurnya, Bastian sendiri belum sepenuhnya memahami isi hatinya.

Ia masih mencoba memilah perasaannya. Apakah rasa yang pernah ia miliki untuk Serly masih tersisa, atau sebenarnya semua itu hanya kenangan yang belum sepenuhnya ia lepaskan?

Namun, ada satu hal yang mulai diyakininya.

Ia tidak ingin kembali kepada Serly.

Masa lalu tetaplah masa lalu. Kini, ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Diandra dan menjadikan perempuan itu bagian dari masa depannya.

---

“Gimana semalam? Gagal, ya?”

Diandra yang baru saja memasuki dapur langsung mendapati Serly sudah berada di sana.

Ia sebenarnya tidak perlu heran. Perempuan itu memang sering muncul di rumah tersebut sejak pagi.

Diandra tidak menanggapi. Ia memilih membantu Bi Lastri menyiapkan sarapan.

Serly tersenyum mengejek.

“Nggak usah pura-pura kuat, Diandra. Mata kamu sembap begitu masih mau bilang semuanya baik-baik saja?”

Diandra tetap diam.

“Semalam pasti kamu menangis, kan? Jangan-jangan rencana kalian berdua malah gagal gara-gara ada yang mengganggu.”

Serly tertawa kecil. Ia tahu persis bagaimana membuat Diandra tersulut emosi.

Namun kali ini Diandra tidak tertarik meladeni.

Bi Lastri yang mendengar ucapan Serly justru terlihat kesal. Ia sudah bertahun-tahun bekerja di rumah itu dan mengenal berbagai sifat orang yang pernah tinggal di sana.

Selama bertahun-tahun, Bi Lastri bertahan terutama karena sudah terlanjur menyayangi anak-anak di rumah tersebut.

Berbeda ketika bekerja bersama Diandra. Suasana terasa jauh lebih nyaman karena Diandra memperlakukan semua pekerja dengan baik.

Serly mulai kehilangan kesabaran.

“Diandra, aku lagi bicara sama kamu!”

Diandra akhirnya menoleh.

“Kalau aku jawab, nanti kamu bilang aku membentak. Setelah itu kamu akan mengadu kepada Bastian, lalu menangis dan merasa paling tersakiti.”

Ia tersenyum tipis.

“Pola seperti itu sudah terlalu lama dipakai. Jadi, aku malas meladeninya.”

Bi Lastri spontan menahan tawa.

Serly langsung menatap tajam.

“Kamu tertawa, Lastri?”

Bi Lastri mengangkat wajah dengan tenang.

“Memangnya kenapa? Saya cuma merasa ucapan Non Diandra ada benarnya.”

“Kamu berani sekali!”

Serly menunjuk Bi Lastri dengan marah.

“Awas kamu! Kalau aku kembali menjadi nyonya di rumah ini, orang pertama yang akan aku pecat adalah kamu!”

Bi Lastri sama sekali tidak gentar.

“Memangnya sekarang Ibu punya wewenang memecat saya?”

Serly terdiam.

Bi Lastri kemudian melirik Diandra.

“Majikan saya sekarang Non Diandra. Jadi selama beliau masih mengizinkan saya bekerja di sini, saya akan tetap bekerja.”

“Kurang ajar!”

Serly mengepalkan tangan.

“Lihat saja nanti! Kalau aku kembali ke rumah ini, kamu pasti menyesal!”

Bi Lastri hanya menghela napas, sementara Diandra kembali melanjutkan pekerjaannya.

Kali ini, ancaman Serly sama sekali tidak membuatnya gentar.

Karena Diandra mulai menyadari satu hal: orang yang benar-benar memiliki tempat di rumah itu tidak perlu berteriak untuk membuktikan kedudukannya.

“Pecat saja. Aku nggak takut.”

Bi Lastri bahkan sempat menunjukkan ekspresi mengejek yang membuat Serly semakin tersulut.

“Kamu benar-benar—”

Serly hendak meraih lengan Bi Lastri. Namun, Bi Lastri refleks mengangkat spatula yang masih digunakannya untuk memasak sebagai pelindung.

Tanpa sengaja, tangan Serly menyentuh bagian spatula yang panas dan masih terkena minyak.

“Ah!”

Serly langsung menarik tangannya.

“Panas! Panas!”

Ia buru-buru membuka keran dan membasuh tangannya dengan air.

Keributan itu membuat Bastian yang baru saja turun dari kamar langsung datang ke dapur. Ia tadi terbangun dan mendapati Diandra sudah tidak ada di sampingnya. Karena biasanya Diandra menyiapkan sarapan, ia pun menyusul ke dapur.

“Ada apa?”

Diandra menahan senyum.

“Drama pagi dimulai.”

Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi berikutnya.

Bi Lastri segera menjelaskan, “Maaf, Tuan. Tadi tangan Bu Serly tidak sengaja terkena spatula saya. Saya mengangkatnya karena beliau hendak menarik tangan saya.”

Serly langsung memasang wajah memelas.

“Sakit, Bastian. Kamu harus memecat dia. Dia sengaja menyakitiku.”

Diandra menghela napas.

“Bi Lastri cuma melindungi diri karena kamu tadi mau menarik tangannya.”

Serly menggeleng cepat.

“Bohong! Dia sengaja melakukannya.”

Air mata mulai menggenang di mata Serly. Ia tahu betul bahwa Bastian biasanya tidak tega melihat seseorang menangis.

“Bastian, pecat dia.”

Namun, Bastian justru menghela napas panjang.

“Serly, bisa berhenti membuat keributan untuk sehari saja?”

Serly terdiam.

Diandra menatap suaminya, lalu kembali berkata dengan nada datar, “Aku sudah capek mendengar tuduhan seperti ini.”

Serly langsung menyambar, “Aku nggak mengada-ada! Bi Lastri sengaja menyakitiku. Atau jangan-jangan kamu yang menyuruhnya?”

Diandra menatapnya tidak percaya.

“Kalau aku memang ingin menyakitimu, menurutmu aku akan menggunakan cara seperti itu?”

Serly terdiam sesaat.

“Sudahlah,” kata Diandra. “Bi, kita pergi saja. Aku nggak mau sarapan sambil mendengarkan drama.”

Diandra kemudian menggandeng tangan Bi Lastri dan hendak meninggalkan dapur.

Namun, baru beberapa langkah, Bastian menahan tangan Diandra.

Diandra menoleh.

“Aku percaya sama kamu.”

Kalimat sederhana itu membuat langkah Diandra terhenti.

Ia menatap Bastian dengan tatapan terkejut.

Di sisi lain, Serly membeku.

Matanya berkedip beberapa kali, seolah memastikan dirinya tidak salah dengar.

Bastian benar-benar memilih mempercayai Diandra.

Dan untuk pertama kalinya, Serly menyadari bahwa pengaruhnya terhadap Bastian mungkin sudah tidak sebesar dulu.

“Kamu lebih percaya dia daripada aku, Mas?” Serly bertanya dengan suara dibuat selembut mungkin.

“Tentu saja aku percaya istriku.”

Serly tertegun. “Jadi kamu menganggap aku berbohong?”

“Aku nggak bilang begitu.”

Serly mengangkat tangannya yang kemerahan.

“Lihat sendiri. Tanganku sampai seperti ini. Sakit sekali, Bastian.”

“Aku tahu kamu kesakitan. Tapi aku juga tahu Bi Lastri mungkin tidak sengaja.”

“Dia sengaja!”

Serly kembali menunjuk ke arah Bi Lastri.

“Bi Lastri memang ingin menyakitiku. Bahkan Diandra juga—”

“SERLY, CUKUP!”

Bentakan Bastian membuat dapur mendadak sunyi.

Serly terdiam dengan wajah penuh keterkejutan.

“K-kamu membentakku?”

“Aku nggak bermaksud—”

“Kamu jahat!”

Serly meraih tasnya yang diletakkan di atas kursi, lalu bergegas meninggalkan dapur.

Diandra sempat mengira Bastian akan mengejarnya.

Namun, pria itu hanya berdiri diam.

Bi Lastri menundukkan kepala.

“Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak bermaksud mencelakai Bu Serly. Saya hanya melindungi diri ketika beliau hendak menarik tangan saya. Saya juga bersumpah Non Diandra tidak pernah menyuruh saya menyakiti beliau.”

Bastian mengangguk.

“Saya percaya, Bi. Bibi boleh kembali bekerja. Sekarang saya ingin bicara dengan istri saya.”

“Baik, Tuan.”

Bi Lastri tersenyum kecil kepada Diandra sebelum meninggalkan dapur.

Setelah mereka berdua tinggal, Diandra kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Sepertinya mobil Serly belum pergi,” ucapnya tanpa menoleh. “Kamu nggak mau mengejarnya?”

Bastian tidak menjawab.

Diandra melirik dari sudut matanya. Ia bisa melihat kegelisahan di wajah suaminya.

“Kalau kamu masih mengkhawatirkannya, pergilah.”

Bastian tetap diam.

“Daripada nanti kamu menyesal.”

Diandra kemudian membalikkan badan dan kembali memotong sayuran untuk sarapan.

Namun, beberapa detik kemudian, ia tiba-tiba terkesiap.

Sepasang tangan melingkar di pinggangnya dari belakang.

Diandra membeku.

Bastian mendekat tanpa mengatakan apa-apa untuk beberapa saat.

“Aku sudah mengikuti kata hatiku.”

Diandra terdiam.

Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sikap Bastian terasa begitu berbeda dari biasanya.

Alih-alih merasa bahagia, justru muncul rasa waswas dalam benaknya.

Kenapa tiba-tiba Bastian bersikap selembut ini?

Apa yang sebenarnya sedang dipikirkan suaminya?

Diandra hanya bisa berdiri diam dalam pelukan itu, sementara pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang belum memiliki jawaban.

“Kamu nggak takut Serly marah karena kamu nggak mengejarnya?”

“Nggak.”

Bastian tersenyum santai.

“Aku justru lebih takut kamu yang marah. Kalau Diandra sudah marah, auranya bisa bikin satu rumah ikut tegang.”

Diandra mendengus. “Berlebihan.”

Bastian tertawa pelan, lalu mengecup pipi istrinya dari belakang.

Diandra berusaha tetap tenang, tetapi jantungnya justru berdetak lebih cepat. Sikap Bastian pagi ini benar-benar berbeda. Terlebih setelah pria itu memilih membelanya di depan Serly.

Diam-diam, hati Diandra terasa hangat.

“Kamu tahu nggak,” ujar Bastian, “aku sering membayangkan seperti ini.”

“Seperti apa?”

“Kamu sedang menyiapkan sarapan, lalu aku datang dan memelukmu dari belakang.”

Diandra menoleh sedikit.

“Cuma itu?”

Bastian tersenyum jahil. “Kalau diteruskan, nanti kamu pasti marah.”

“Memang biasanya kamu nggak pernah bikin aku marah?”

“Berarti aku harus lebih hati-hati.”

Diandra mencubit lengannya pelan.

“Pagi-pagi sudah mulai.”

Bastian terkekeh dan kembali merangkul pinggangnya.

“Pagi adalah waktu yang menyenangkan untuk dekat dengan istri sendiri.”

“Kalau versi kamu, dekat itu selalu ada maksud lain.”

“Tidak selalu.”

“Bohong.”

Bastian tertawa.

“Ya sudah, kamu masak saja. Aku nggak akan mengganggu.”

Namun, pelukannya justru semakin erat.

Diandra menghela napas, lalu mematikan kompor dan berbalik menghadap suaminya.

Bastian mengangkat alis.

“Kenapa? Mau kasih aku kesempatan mencium kamu?”

Diandra segera menahan wajah Bastian dengan telunjuknya ketika pria itu hendak mendekat.

“Apa sebenarnya yang kamu rencanakan?”

Bastian mengernyit. “Rencanakan?”

“Kenapa tiba-tiba kamu berubah?”

“Berubah bagaimana?”

“Biasanya kamu cuek. Biasanya kamu juga lebih sering membela Serly daripada aku. Tapi tadi kamu membelaku, bahkan sampai membentaknya.”

Bastian menghela napas panjang.

“Aku sudah bilang, aku ingin berubah.”

Diandra menatapnya tanpa berkedip.

“Mulai sekarang, aku ingin lebih memperhatikan kamu. Aku ingin lebih peduli dengan perasaanmu dan berhenti membuatmu merasa sendirian dalam pernikahan ini.”

Diandra terdiam.

“Dan aku ingin kamu tahu satu hal,” lanjut Bastian. “Aku nggak mau lagi membuatmu merasa harus bersaing dengan masa laluku.”

Tatapan Diandra perlahan melembut.

“Jadi kali ini kamu serius?”

Bastian mengangguk.

“Aku serius.”

Diandra tersenyum tipis, masih belum sepenuhnya percaya.

“Yakin? Nanti kalau Serly kembali menangis atau mengaku kesakitan, kamu pasti lupa dengan semua ucapanmu dan langsung menghampirinya, kan?”

Bastian menghela napas lalu menyentil dahi istrinya dengan gemas.

“Kamu ini. Suamimu sedang berusaha berubah, bukannya didukung malah terus dicurigai.”

“Aku bukan menuduh, Mas.”

Diandra menatapnya serius.

“Aku cuma belajar dari pengalaman. Ini bukan pertama kalinya kamu mengatakan ingin berubah. Berkali-kali kamu berjanji, tapi setelah itu semuanya kembali seperti semula.”

Bastian terdiam.

“Kamu selalu mengatakan aku penting,” lanjut Diandra, “tapi ketika Serly membutuhkanmu, aku selalu menjadi orang terakhir yang kamu pikirkan.”

Kata-kata itu membuat Bastian menundukkan wajah.

Ia mulai mengingat berbagai janji yang pernah diucapkannya. Setiap kali berjanji, ia memang sungguh-sungguh ingin menepatinya. Namun, setiap kali Serly terluka atau berada dalam masalah, nalurinya selalu membuatnya mengesampingkan segala hal demi perempuan itu.

Dan tanpa sadar, ia terus melukai Diandra.

Bastian tidak ingin kehilangan istrinya.

Ia tidak sanggup membayangkan Diandra benar-benar pergi dan menemukan kebahagiaan bersama pria lain, terlebih Sean yang selama ini begitu dekat dengannya.

“Kenapa diam?” Diandra bertanya lirih. “Kamu sendiri pasti tahu jawabannya.”

Bastian mengangkat wajah.

“Selama Serly masih memiliki tempat sebesar itu di hatimu, kamu akan selalu kesulitan memprioritaskan aku.”

Diandra berbalik hendak pergi.

Namun, Bastian segera meraih tangannya dan menariknya ke dalam pelukan dari belakang.

“Kali ini aku serius.”

Diandra terdiam.

“Aku akan menepati janjiku. Mulai sekarang, kamu yang akan menjadi prioritas utama dalam pernikahan kita.”

Bastian mengeratkan pelukannya.

“Aku cuma minta satu kesempatan lagi. Tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan semuanya.”

Diandra menunduk.

“Kalau kali ini kamu gagal lagi?”

Bastian terdiam sejenak.

“Kalau aku kembali mengingkari janji, kamu boleh pergi.”

“Aku mau kamu menceraikan aku.”

Bastian menarik napas berat.

“Iya.”

Jawaban itu terasa begitu berat baginya, tetapi ia tahu tidak punya hak untuk meminta Diandra terus bertahan tanpa memberikan kepastian.

Diandra tidak tahu apakah janji Bastian kali ini benar-benar akan berbeda atau kembali berakhir seperti sebelumnya.

Namun, jauh di dalam hatinya, ia masih ingin memperjuangkan pernikahan mereka.

Ia masih mencintai Bastian.

Dan meskipun berkali-kali terluka, Diandra belum benar-benar siap kehilangan pria yang sejak awal ia pilih untuk menjadi pasangan hidupnya.

Mungkin ini akan menjadi kesempatan terakhir.

Bagi Bastian untuk membuktikan cintanya.

Dan bagi Diandra untuk mengetahui apakah pernikahan mereka masih layak dipertahankan.

1
sunaryati jarum
Sherly yang bukan anak Abian,tapi anak Artha dari pria lain
sunaryati jarum
Tak sabar menunggu terjawabnya banyak teka- teki
sunaryati jarum
Mana upnya Thoor
sunaryati jarum
Padahal itu hanya untuk membuktikan, tidak benar ingin membunuhnya
sunaryati jarum
Itu karena salahmu membiarkan Sherly meracuni pikiran Azura.Amibat leluasa masuk rumahmu.Ksmu itu goblok jika benar sakit kanker kamu pernah lihat rekam medisnya atau tanya dokternya? Yang benar itu kantongnya kering karey selingkuhannya tidak royal lagi.
sunaryati jarum
Kamu suami dan lelaki tidak tegas dan mudah dimanipulasi akting wanita tidak tahu malu,Sherly.Kamu juga tidak punya hati dan tidak tahu malu Bastian,masih memberikan perhatian pada mantanmu.Jika tahu tujuannya kamu bakalan menyesal
sunaryati jarum
Baru mampir
Ariany Sudjana
ini Bastian yang bodoh, mengabaikan Diandra demi pelacur murahan seperti Serly 🤣🤣😂😂 dan bodohnya Bastian percaya semua omongan si pelacur murahan itu. dan bodohnya Azura percaya sekali kalau si pelacur murahan itu sayang sama dia dan membenci Azzam. katanya ibu kandungnya, dan mereka kembar, tapi kenapa Serly membenci Azzam ?
Ariany Sudjana
kamu suami yang bodoh, sudah punya istri seperti Diandra, lebih memilih memperhatikan si pelacur murahan, yang hanya bisa playing victim 🤣🤣😂😂
Protocetus
mampir ya ke novelku Remontada
Eneng Farida
mending cerai aja biar kmu bastian menyesal biar diandra punya suami baru yg akan membahagiakan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!