Indonesia
NovelToon NovelToon
TAI CHU : KITAB TAKDIR

TAI CHU : KITAB TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Spectree Je

Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 - KEMBALI KE SARANG PENGEMIS DAN DUEL SEHARI SEMALAM DI HUTAN BAMBU

Desa Batu Kuning.

Angin membawa bau darah dan tanah hangus.

Tiga topeng hantu putih dengan gambar tengkorak tertawa tergeletak pecah di tanah. Di balik topeng itu, wajah tiga orang yang bahkan tidak sempat berteriak.

Tiga Bayangan Tak Bersuara dari Paviliun Angin Hitam — Bayangan Bulan dengan dua pedang bulan sabit patah, Bayangan Bintang dengan bola besi berduri pecah menjadi dua, dan Bayangan Malam dengan kuku hitam beracun yang masih meneteskan cairan ungu — semuanya mati.

Tidak ada luka luar yang besar. Hanya ada satu lubang telapak tangan yang menghitam di dada masing-masing. Lubang yang pinggirannya hangus seperti terbakar matahari, tapi di dalamnya membeku seperti es.

Itulah 18 Tapak Penakluk Naga milik Pengemis Utara jika sudah mencapai 10 tapak ke atas. Panas dan dingin menjadi satu.

Hong Wei Jun, Pengemis Utara, menarik kembali telapak tangannya. 18 naga emas yang tadi mengaum pelan di belakang punggungnya perlahan-lahan masuk kembali ke dalam tubuhnya. Wajahnya yang biasanya mabuk dan tertawa kini serius.

Ia menatap mayat tiga bayangan itu, lalu menginjak topeng hantu putih itu sampai hancur.

"Paviliun Angin Hitam... 36 Aliran Hitam... Kaisar sialan itu... sudah mulai bergerak. Lebih cepat dari yang kuduga."

Ia menoleh pada Mu Chen yang masih mematung di belakangnya, memeluk kitab emas Tai Chu yang dibungkus kain goni. Wajah Mu Chen pucat. Ini pertama kalinya ia melihat orang mati dibunuh tepat di depan matanya. Bukan mati karena sakit, tapi mati karena jurus.

"Ketua... Guru... mereka..."

"Mereka adalah pembunuh bayaran Istana," kata Hong Wei Jun, suaranya rendah, tidak ada lagi nada bercanda. "Harga kepalamu 50.000 tael emas. Harga kepalaku 10.000 tael. Murah sekali. Aku, Pengemis Utara, hanya dihargai 10.000? Setidaknya 100.000 baru pantas!"

Ia mengambil labu araknya, menuangkan arak ke tanah, ke arah tiga mayat itu. Bukan penghormatan, tapi untuk membersihkan racun yang mungkin masih tersisa.

"Bocah, dengarkan Guru. Dunia Wulin Putih yang kau lihat di Huashan kemarin, dengan suling, bunga persik, dan janji 7 tahun yang indah itu... itu hanya permukaan. Di bawahnya, ada dunia yang lebih hitam. Dunia di mana Istana membeli nyawa dengan emas. Jika tadi yang datang adalah Tiga Bayangan, besok yang datang bisa jadi Tujuh Pisau Darah, atau bahkan Ketua Paviliun Angin Hitam sendiri. Dan Guru tidak bisa melindungimu selamanya jika hanya berdua di jalan seperti ini."

Hong Wei Jun menarik tangan Mu Chen, sangat kencang.

"Kita tidak jadi ke Junshan lewat jalan besar. Kita potong lewat Gunung Liar. Kita harus cepat-cepat kembali ke Sarang Pengemis."

Mu Chen bingung. "Sarang Pengemis?"

"Markas Besar Sekte Pengemis! Di Danau Dongting! Di sana ada 10.000 pengemis! Ada 8 Tetua 9 Kantung! Ada Anjing-anjing Kuning yang bisa mencium pembunuh dari jarak 10 li! Dan yang paling penting..." Hong Wei Jun mengedipkan mata, sifat pengemisnya kembali sedikit, "...di sana ada gudang ayam panggang yang tidak pernah habis! Selama kau di sana, bahkan pasukan Istana tidak berani masuk! Karena jika mereka membunuh satu pengemis, 10.000 pengemis akan mengemis di depan istana mereka sampai istana itu bangkrut!"

Tanpa menunggu jawaban, Hong Wei Jun mengangkat Mu Chen seperti mengangkat karung beras, meletakkan di punggungnya, dan kakinya menghentak tanah.

Wusss!

Ilmu meringankan tubuh Pengemis Utara — Xiao Yao You — yang katanya diciptakan oleh pengemis mabuk yang meniru gerakan anjing mengejar ekornya, ternyata sangat cepat. Dalam sekejap, dua sosok itu sudah hilang dari Desa Batu Kuning, hanya meninggalkan tiga mayat dan bau arak.

Tujuannya satu: Danau Dongting. Sarang Pengemis. Tempat di mana Mu Chen akan benar-benar belajar apa itu 18 Tapak Penakluk Naga, bukan hanya kentut naga seperti kemarin.

Sementara itu, jauh di selatan.

Hutan Bambu Hitam di kaki Gunung Song. Hutan yang bahkan siang hari gelap karena bambu yang terlalu rapat. Tempat di mana para biksu Shaolin biasanya mencari bambu untuk membuat tongkat.

Seorang biksu muda berjubah saffron berjalan pelan di tengah hutan. Kepala plontos 6 titik bakaran, wajah bulat dan jujur, tongkat pendek di punggung, dan di tangannya... masih memegang mangkuk air yang kini airnya sudah tidak beku lagi, tapi masih dingin.

Hui Chen, 18 tahun, jenius Shaolin yang turun gunung untuk mencari jawaban dari tiga pertanyaan: apa itu kosong, apa itu benar dan salah, apa itu keinginan.

Sudah 3 hari ia berjalan. Ia sudah melihat pasar yang ramai, melihat orang berebut uang, melihat orang kaya memukul pengemis, melihat ibu memberi makan anaknya yang lapar. Tapi jawaban itu belum datang.

Ia berhenti di tengah hutan bambu. Hutan itu terlalu sepi. Bahkan suara burung tidak ada. Hanya suara angin yang menggesek bambu, berbunyi seperti pedang yang diasah.

Kitab di dalam hatinya — yang diajarkan Jueyuan — berbisik: ada niat membunuh.

"Keluarlah," kata Hui Chen dengan tatapan tenang, suaranya pelan tapi bergema di antara bambu. "Hutan bambu ini sudah kosong sejak pagi. Burung-burung pergi karena ada orang yang membawa besi. Besi itu haus darah."

Dari balik tiga rumpun bambu hitam yang berbeda, keluar satu orang.

Bukan tiga. Hanya satu. Tapi satu orang ini auranya sama dengan tiga Bayangan Tak Bersuara tadi digabungkan.

Pria berumur sekitar 30 tahun, jubah biru tua sederhana seperti sarjana, wajah tampan tapi pucat, membawa pedang panjang biasa yang sarungnya terbuat dari kayu bambu hitam juga. Di pinggangnya ada token emas kecil dengan tulisan: Yu.

Jiang Yu. Salah satu dari 8 Pendekar Langit Istana. Pendekar hebat kiriman Istana yang langsung di bawah komando Kaisar Zhuo Tian. Bukan pembunuh bayaran Aliran Hitam yang dibayar emas. Ini adalah anjing pemburu asli milik Kaisar.

Jiang Yu menatap Hui Chen, tersenyum tipis. Senyum sarjana yang ramah.

"Biksu kecil dari Shaolin. Hui Chen, 18 tahun, murid langsung Jueyuan. Harga kepalamu... tidak ada. Karena kau tidak masuk dalam daftar buruan. Daftar buruan hanya 4: Zhuo Fan, pemilik 9 Yang, pemilik 9 Yin, dan pemilik Tai Chu. Tapi..."

Ia menghunus pedangnya pelan. Pedangnya bukan pedang besi yang berkilau. Pedang itu hitam kusam, seperti terbuat dari bambu yang dibakar 100 tahun. Tapi saat terhunus, seluruh hutan bambu bergetar.

"Tapi Guru Jueyuan adalah penghalang Istana selama 20 tahun. Jika aku membunuh murid jeniusnya di sini, Guru Jueyuan pasti akan marah dan turun gunung. Dan saat ia turun gunung... Paviliun Angin Hitam akan membakar Shaolin. Jadi... maafkan aku, Biksu kecil."

Hui Chen menatap pedang itu dengan tatapan tenang. Ia tidak mengambil tongkat pendeknya. Ia hanya meletakkan mangkuk airnya di atas batu.

"Apakah membunuhku itu benar atau salah?" tanya Hui Chen, tatapannya tetap tenang, seperti sedang bertanya tentang cuaca.

Jiang Yu tertawa. "Di dunia ini tidak ada benar atau salah, hanya ada perintah Kaisar. Perintah Kaisar adalah benar."

"Jika perintah Kaisar adalah benar," Hui Chen mengangkat kepalanya, "lalu mengapa 15 tahun lalu Kaisar memerintahkan membunuh anaknya sendiri, Pangeran Zhuo Fan? Apakah itu benar?"

Wajah Jiang Yu yang ramah langsung berubah dingin. "Kau tahu terlalu banyak untuk seorang biksu kecil yang baru turun gunung 3 hari."

Ia melesat.

Tidak ada cahaya. Tidak ada auman naga. Hanya satu garis hitam. Garis pedang bambu hitam yang bergerak seperti bayangan bambu yang tertiup angin.

Hui Chen juga bergerak. Tongkat pendeknya akhirnya terhunus. Bukan tongkat kayu biasa, tapi tongkat dari Bambu Hitam 100 tahun yang direndam di dalam minyak emas Shaolin selama 10 tahun. Tongkat itu berdentang saat bertemu pedang.

TRANG!

Duel dimulai.

Di Hutan Bambu Hitam, tidak ada yang melihat duel itu. Tidak ada penonton seperti di Huashan.

Hanya ada bambu yang tumbang. Satu per satu. Tebasan pedang Jiang Yu memotong 10 bambu sekaligus tanpa suara. Pukulan tongkat Hui Chen menghancurkan 10 bambu sekaligus dengan suara menggelegar.

Hari berganti siang, siang berganti sore, sore berganti malam, malam berganti pagi lagi.

1 hari 1 malam.

Mereka berduel selama 1 hari 1 malam tanpa henti. Tanpa minum, tanpa makan.

Kungfu Jiang Yu adalah Bambu Hitam Tanpa Bayangan, ilmu pedang Istana yang diciptakan untuk membunuh tanpa terlihat. Cepat, senyap, mematikan.

Kungfu Hui Chen adalah Jiu Yang Shaolin yang belum sempurna dan Tongkat Iblis Penakluk yang baru ia pelajari setengah. Panas, keras, jujur.

Setara. Benar-benar setara.

Saat matahari pagi hari kedua muncul, menyinari Hutan Bambu Hitam yang kini setengahnya sudah rata menjadi tanah kosong karena tebasan dan pukulan mereka, keduanya berdiri terengah-engah, berjarak 10 langkah.

Jubah saffron Hui Chen robek di 3 tempat, darah keluar dari bahu. Pedang bambu hitam Jiang Yu retak di ujungnya, darah keluar dari sudut bibirnya.

Mereka saling menatap dengan tatapan yang sama: kaget dan hormat.

"Kau... kuat," kata Jiang Yu, menyeka darah di bibirnya. "Seumur hidupku, belum pernah ada biksu di bawah 20 tahun yang bisa menahan 108 tebasan Bambu Hitamku."

Hui Chen memegang mangkuk airnya yang ternyata masih utuh di atas batu, tidak pecah meski hutan di sekitarnya rata. Air di dalam mangkuk itu kini hangat karena hawa pertarungan mereka.

"Ilmu pedangmu... tidak ada keinginan untuk membunuhku. Hanya ada keinginan untuk menjalankan perintah. Jadi pedangmu ragu-ragu."

Jiang Yu terdiam lama. Lalu ia memasukkan kembali pedang bambu hitamnya yang retak ke dalam sarung.

"Hari ini aku tidak bisa membunuhmu. Tapi lain kali, jika kita bertemu lagi, mungkin aku sudah tidak ragu-ragu lagi."

Hui Chen mengangguk pelan, tatapan tenangnya kini ada sedikit cahaya pemahaman.

"Jika lain kali kita bertemu, saya akan bertanya lagi: apakah perintah Kaisar itu benar atau salah? Dan saya harap... saat itu kau sudah punya jawaban."

Jiang Yu tidak menjawab. Ia berbalik, kakinya menginjak bambu yang tumbang, dan dalam beberapa lompatan, hilang di dalam kabut hutan.

Hui Chen duduk bersila lagi di depan mangkuk airnya. Air yang tadinya dingin, kini hangat. Ia meminum air itu seteguk.

Untuk pertama kalinya, ia merasa... kosong itu bukan tidak ada. Kosong itu adalah... mangkuk yang bisa diisi air hangat setelah pertarungan.

Dan jauh di timur, Hong Wei Jun dan Mu Chen terus berlari menuju Danau Dongting, Sarang Pengemis, tempat di mana 10.000 pengemis menunggu kedatangan murid baru mereka.

Perburuan Kaisar telah gagal untuk pertama kalinya. Tapi 36 Aliran Hitam masih banyak. Dan 8 Pendekar Langit Istana masih ada 7 orang lagi.

1
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuutt...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuttt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Laaaaannnjjuuttt..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Maaaannnttaapp..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!