( upload Senin - Sabtu= 6× dalam seminggu )
( jam upload 3 sore )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny
Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.
Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.
Ater. Mala. Angis. Evir.
Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.
Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.
Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.
Kemudian semuanya berubah.
Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.
Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
{Chapter 10 }:{secret journey }
Akhirnya Sora sampai di istana Kerajaan Api. Ia langsung menuju tempat keberadaan Raja Api. Sora menahan tangisan dalam hati yang paling dalam saat melihat rakyatnya memperhatikan.
Sora sampai di tempat Raja Api.
“Raja Api, apa yang kau inginkan? Kau menyiksa rakyat dengan keji.”
Raut wajah Sora menahan amarah.
“Ketua Sora, kau kembali.”
Raut wajah Raja Api seperti baru melihat kematiannya sendiri.
Raja Api, dengan kebodohannya, menyambut Sora dengan serangan tanpa henti.
“Raja Api, jangan memulainya. Aku bisa saja langsung menghabisimu dalam satu serangan.”
Saat Sora akan membalas, Raja Api dengan licik menyandera seorang anak kecil.
“Berhenti, Sora! Kalau kau tak berhenti, akan kuh abisi anak ini.”
“Kau sangat menjijikkan, Raja Api. Kau monster yang berwujud manusia.”
“Ingat, saat kau cacat, kau hanya bisa diam saja.”
“Cukup, Sora! Kalau kau tak ingin anak ini mati, tunduk padaku. Cepat tunduk dan berlutut!”
Dengan panik, Raja Api berteriak keras,
“Prajurit! Cepat rantai dia dengan rantai sihir!”
“Tapi, Raja Api, itu Ketua Sora, penjaga Bangsa Api.”
“Diam! Apa mau kau melihat anak dan keluarga menjadi abu?”
“Baik, Raja Api. Maafkan kami, Ketua Sora.”
Setelah Sora dipakaikan rantai sihir, Sora kehilangan tenaganya.
“Lepaskan dia. Aku sudah dirantai. Lepaskan anak itu.”
Dengan tanpa rasa kasihan, Raja Api langsung membakar anak itu di hadapan Sora.
“Tidak! Apa yang kau lakukan, Raja Api?”
“Aku tak akan membuatmu lolos dari kehancuran saat ini juga. Aku tak menyangka negeri ini memiliki raja seperti monster.”
“Diam, Sora! Aku raja. Aku akan kuasai semua negeri.”
Tawa Raja Api membuat Sora kehilangan kesabaran, namun ia masih dapat menahannya.
“Raja Api, kau sudah melewati batasmu.”
Raja Api tertawa terbahak-bahak.
“Apa kau tahu artinya batasan, Sora? Kau pergi dari negerimu sudah sangat lama. Kau yang hancur karena cinta dan menghilang lama. Tahu apa kau tentang batasan?”
Ia mengatakannya sambil tertawa dengan wajah licik.
Sora mendengar jeritan dari dalam maupun luar kerajaan. Orang-orang yang tidak patuh dihukum. Air mata Sora menetes bebas mendengar itu.
Teriakan demi teriakan seperti luka yang terus membesar. Sora semakin hancur.
Tanpa disadari Raja Api, ia berkata,
“Sora, kau tahu siapa yang membunuh Dewi Bulan itu? Aku sendiri, dengan tanganku sendiri. Dan aku memang mengincar Dewi Bulan karena kau tak mau memilih putriku.”
Raja Api langsung menghajar wajah Sora dan menyiramnya dengan air kotor di kandang hewan peliharaan.
Namun, sebelum air itu menyentuh tubuh Sora—
“Benar kau lakukan itu, Raja Api?”
Tiba-tiba, air, tanah, angin, dan tanah mengerumuk seperti akan muncul sesuatu yang besar.
Saat Raja Api melihat ke arah Sora, Sora sudah berada dalam Mode Ilahi.
“Raja Api, kau akan berakhir di tanganku.”
Wajah Raja Api mengeluarkan keringat yang membasahi tubuhnya, hingga ia terjatuh dari keangkuhannya.
Sora langsung terlepas dari rantai sihir.
Dengan satu kedipan mata, Raja Api diangkat dan dibawa terbang ke atas langit.
“Kau tak layak lagi hidup, Raja Api.”
Sora langsung membanting Raja Api berkali-kali dari atas langit ke tanah.
“Kau belum layak untuk pergi tanpa merasakan siksaan.”
Sora langsung dengan kekuatannya mengangkat ribuan pedang dan mengarahkannya ke arah Raja Api. Suara ribuan pedang melesat dengan cepat, memotong tubuh Raja Api menjadi debu. Api langsung membakar tubuh yang sudah hancur itu.
Tiba-tiba Sikir dan Asta muncul dan menyerang Sora.
“Mengapa kau menyerangku, Asta, Sikir?”
“Diam kau, Sora! Kau harus tahu, aku mengawasimu di balik pepohonan saat kau dan Dewi Bulan di hutan. Aku sudah tidak akan sembunyi lagi soal hal ini. Aku dan Asta bekerja sama dengan Raja Api untuk menghabisi Dewi Bulan.”
“Sebelum kau kenal Dewi Bulan, aku lalu Asta... Namun, dia menolak dan memilih kau, Sora.”
Sora yang tak percaya dengan semua ini ternyata sangat membuatnya tak terkendali.
“Maka kau akan mengikuti Raja Api ke neraka.”
Asta dan Sikir langsung menyerang tanpa henti ke arah Sora hingga Sora terpental sangat jauh.
“Kau harus mati, Sora,” ucap Asta. “Kau tak layak lagi untuk menjadi penjaga Artefak.”
Kekuatan Asta dan Sikir menghantam Sora.
Saat Asta dan Sikir akan mendekat dan menyerang Sora, Sora bangkit dan dalam sekejap mata mengeluarkan semburan api yang begitu besar kepada Sikir dan Asta.
“Ayo kita akhiri ini semua, Asta.”
“Baik, Sikir.”
“Awas!”
“Asta, berani kau, Sora! Melawan kita? Kau sendirian. Kita berdua, bisa apa kau?”
Sora hanya tersenyum dan langsung mengeluarkan Burung Api yang sangat besar, lalu langsung menghantam Sikir dan Asta.
“Cepat, lawan aku! Bangkit kalian! Aku tak akan melihat kalian sebagai penjaga Artefak lagi. Aku akan memandangmu sebagai pengkhianat.”
Tubuh Asta dan Sikir bergetar. Keringat keluar tanpa henti, seperti tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir mereka.
Sikir mengeluarkan tornado berpetir dan ditambah dengan kekuatan Asta, guncangan yang begitu hebat hingga banyak kehancuran di mana-mana.
“Kau akan mati, Sora.”
Dua kekuatan besar itu menghantam keras ke arah Sora. Namun, Sora dapat menghindarinya.
“Asta, Sikir, kalian sudah melewati batas. Kalian akan bersatu dengan Raja Api di neraka.”
Asta dan Sikir yang panik karena serangannya gagal pun mencoba melarikan diri ke Alam Roh.
“Namun, kau akan pergi ke mana? Kalian akan merasakan kematian yang sangat buruk.”
Sora langsung membakar Asta dan Sikir. Mata Sora mengeluarkan api dari langit. Asta dan Sikir akhirnya lenyap.
Di sisi lain, Zeo mulai memahami pola saat Dewi Bulan tiada dan memutuskan untuk kembali.
Tanpa disadari Zeo, ia sudah berada di dalam Alam Roh sekitar 200 tahun dunia fana. Namun, waktu yang dihabiskan Zeo di Alam Roh baru 20 tahun.
Zeo yang merasa baru pergi ke Alam Roh berumur 20 tahun, saat ia kembali ke dunianya yang kini berumur 220 tahun, namun umur aslinya 40 tahun di Alam Roh.
Waktu di Alam Roh 1 tahun setara 10 tahun di alam fana atau dunia asli.
Di sisi lain, Sora sangat merasa bersalah dan hancur melihat semua bangsa mengalami kehancuran yang sangat besar.
Tangisan di seluruh negeri terdengar seperti kepedihan yang tak bisa disembuhkan. Alam yang indah kini hancur tak tersisa. Tinggal puing-puing tanpa bentuk.
Sora akhirnya mengumpulkan semua bangsa dari seluruh negeri dan Sora berkata,
“Maafkan kami. Sebagai penjaga kedamaian, kami membuat kalian merasa tidak aman dan merasakan ketakutan dan kehilangan.”
“Ketua Sora, berikan kami petunjuk agar kami tidak tiada.”
Di Alam Roh yang kini hancur, Sora berpikir keras, memikirkan keselamatan semua bangsa.
jangan putus di tengah jalan ya💪💪💪
buat yang mau baca mampir
💪💗💗
dan maaf bilah kurang haku
ayo teman teman kita dukung setiap ada karya baru. biar mereka bisa berkembang dalam setiap langkah nya . dan meningkatkan alur cerita nya