Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabar, Mas Bara
Bab 22
Ruby melepas pelukan di lengan Bara lalu menoleh ke belakang arah tangga. “Udah mas, udah nggak lihat si nila. Ck, bener-bener jin dasim calon valakor.”
“Apanya yang sudah?”
Ruby menatap Bara. “Ya pura-pura nya dong. Emang mas Bara tadi mau gimana, kangen-kangenan sama ipar yang katanya mirip mendiang istri.
“Siapa bilang Nilam mirip Naomi?”
“Lah, dia ngakunya gitu. Dulu kalian sedekat apa sih?”
“Saya tidak dekat dengan Nilam atau perempuan mana pun, Cuma sama kamu sekalinya didatangi langsung jadi istri.”
Ruby mencebik. “Ini muji atau nyindir.” Akan melangkah menjauh untuk kembali ke lantai bawah, tapi ditahan oleh Bara.
“Mau ke mana?”
“Ke bawah mas, masa ke istana negara,” sahut Ruby dengan polosnya.
“Bukannya kamu ngajak ke kamar untuk obat kangen, besok saya tinggal.”
Tangan Ruby menggeplak lengan Bara juga mencolek dagu suaminya itu. “Kaku amat sih, itu kan Cuma akting. Menjauhkan kamu dari valakor.” Ruby terkekeh kembali melangkah, tapi tangan Bara meraih pinggangnya. “Eh, mas Bara.”
“Kita ke kamar sesuai permintaan kamu. Kangen-kangenan dan ambil hadiah saya yang tadi gagal.”
“Mas, ya ampun, aku bercanda.” Nyatanya tenaga Ruby kalah, sulit melepas tangan Bara yang ada di pinggangnya.
Bara menghimpit tubuh Ruby di balik pintu lalu mengikis jarak.
“Eh, mau ngapain ini?” Tangan Ruby menahan dada dan wajah Bara agar menjauh.
“Ambil hadiah saya.”
“Tadi ‘kan udah aku kasih di pipi.”
“Kamu pikir mencium bayi. Saya mau ambil sendiri hadiah saya.”
Tangan Ruby masih menjauhkan wajah Bara. “Mana ada begitu mas, bisa bangkrut semua toko kalau caranya kayak mas Bara. Masa aku ke toko channel, ambil tas terbaru bilangnya mau ambil hadiah.”
“Ssstt!”
Bara tidak ingin ada gangguan lagi. Entah setan apa yang merasuk, rasanya ia tidak pernah melakukan hal sekonyol ini yang menjatuhkan image dan wibawanya. Namun, kehadiran Ruby benar-benar membuatnya gila.
“Mas ….”
Bibir Bara akhirnya mendarat di bibir yang sejak tadi mengoceh dengan sembrono bahkan sering menggoda serta memancing hasrat kelelakiannya.
Kedua mata Ruby terbelalak karena ulah sang suami, tidak menolak apalagi berontak macam tadi. Membiarkan saja Bara melum4t bibirnya. Bukan hanya bersilaturahmi bibir, tubuh mereka sudah saling menempel.
Rasanya … aneh, kenapa jantungku deg-degan begini. Tunggu, apa ini kenapa keras, batin Ruby.
Dengan mudah tangan Bara menyingkirkan kimono dan menurunkan tali tank top dari bahu Ruby yang seputih pualam. Lalu berpindah turun mencum-bu leher dan ....
“Mas,” ucap Ruby lirih, menjadi pengingat bagi Bara untuk sadar.
“Astaga.” Dengan nafas terengah menahan sesuatu Bara menyandarkan keningnya pada bahu Ruby lalu memeluk gadis itu. “Maaf, seharusnya saya perlakukan kamu dengan baik bukan begini.”
“A-ku belum siap, mas Bara tolong sabar.”
Suara Ruby masih lirih dan tanpa emosi. Mungkin baru kali ini Bara mendengar istrinya bisa serius tanpa candaan.
“Hm.” Bara mengurai pelukan lalu menaikan kembali kimono menutupi tubuh istrinya.
“Aku sempat ragu kalau mas Bara normal, karena lempeng-lempeng aja. Kelihatan nggak tertarik sama perempuan."
“Maksud kamu?”
“Kirain mas Bara nggak normal, nggak bisa tegang. Taunya bisa keras juga, nggak kebayang bentuk aslinya kayak mana.”
Dahi Bara berkerut mendengar itu. “Mau lihat bentuk asli nya.”
“Eh, nggak ya.” Ruby mendorong Bara menjauh menuju toilet.
“Saya bilang jangan menggoda dan memancing saya.”
Merasa diikuti dan takut hal tadi terjadi lagi, Ruby malah berlari dan mengunci pintu toilet. “Mas Baranya aja gampang kepancing.”
“Saya normal Ruby.”
Ruby berdiri di belakang pintu toilet, meraba bibirnya dengan debaran jantung yang belum normal. “Ya ampun bibirku sudah ternoda.”
“Buka Ruby.”
“Apaan sih, aku mau mandi.”
“Saya juga. Kamu tahu teori efektifitas, kita bisa buktikan dengan mandi bersama. Lebih hemat waktu dan air.”
“Dosen sinting, mana ada contohnya mesum begitu. Sana mas, aku lagi merenung nih. Kamu udah nodai bibir aku.”
“Ck, ternoda? Saya sudah pernah merasakan sebelumnya, jujur lebih enak dilakukan saat kamu sadar.”
Hening karena Ruby dan Bara terdiam, lalu ....
“Mas Bara!”
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
Awas ya kamu .....🤭